
Darren sudah selesai dengan rapat bersama para manajer. Semua laporan yang sudah ia terima akan ia pahami dan cermati. Poin-poin yang sudah Zain catat, akan menjadi bahan evaluasinya sebelum ia jadikan laporan ke para dewan direksi.
Saat ini ia sudah bersiap untuk menemui rekan kerja, membahas satu proyek cukup besar yang jika berhasil maka keuntungan milyaran rupiah sudah bisa dipastikan masuk ke kantong perusahaan.
Sosok wanita yang tak lain adalah Sofi, tampak sudah menunggu bersama seorang wanita lain yang terlihat lebih muda darinya. Sofi menunggu di ruangan yang biasa Darren gunakan untuk menjamu tamu atau untuk membahas urusan pekerjaan dengan kolega atau partner kerja.
"Selamat siang, Darren!" sapa Sofi lebih dulu, sayangnya malah mendapat respon kurang mengenakan dari pengusaha itu.
"Mungkin kamu bisa membiasakan diri dengan memanggil nama saya sesuai tempat dan keadaan." Ucapan Darren telak membuat Sofi terkena mental.
"Ah, maaf. Saya hampir lupa. Mungkin karena saya merasa kalau hubungan kita yang sangat dekat sehingga membuat saya khilaf dengan memanggil kamu ... eh, Anda dengan panggilan yang kurang pantas."
Sofi jelas malu, terlebih ketika ia bisa melihat sikap canggung yang tampak pada staf perempuannya yang berdiri di sebelahnya. Juga sosok Zain -yang sebetulnya terlihat biasa cenderung cuek, yang berdiri di sebelah Darren. Bahkan, niatnya yang mau mencium pipi kiri dan kanan Darren, urung ia lakukan.
Namun, Sofi tetaplah Sofi. Seorang wanita yang ambisius. Dari kata-katanya ia masih berusaha ingin menekankan bahwa mereka seolah memiliki hubungan istimewa di luar hubungan kerja sama perusahaan.
"Silakan duduk!" pinta Darren akhirnya meski ia begitu malas saat harus menghadapi Sofi.
Setelah hubungan pernikahannya yang hancur karena tuduhan Audi kepada Sofi, Darren benar-benar mencoba memahami kalau wanita di depannya sekarang ini memang memiliki niat busuk dengan melakukan tindakan-tindakan licik yang bisa membuat hubungannya dengan sang istri kacau. Sehingga sekarang, ia lebih berhati-hati bersikap atau melangkah.
"Jadi, Pak Darren, saya sudah baca email yang Mas Zain kirim kemarin malam. Dan demi proyek kerja sama ini supaya bisa berjalan lancar, kami sudah usahakan dengan me-revisi bagian yang Anda minta." Sofi berkata sembari mengambil sebuah map dari tangan seorang wanita muda di sebelahnya, lalu menyerahkan map itu ke hadapan Darren.
"Silakan Anda periksa terlebih dahulu. Jika masih ada beberapa poin yang dirasa kurang pas, Anda bisa beri tahu kami secepatnya agar proyek kerja sama kita bisa segera kami kerjakan," lanjut Sofi lagi.
Darren kemudian mengambil map yang Zain sudah ambilkan. Ia buka isi dari map tersebut, lalu membaca beberapa baris huruf yang menurutnya sangat penting.
Tak ada suara. Ruangan terasa hening sampai kemudian seorang office boy membawakan minuman untuk mereka.
Semua hanya diam, sembari menunggu Darren memeriksa map yang Sofi bawa, juga memperhatikan sang office boy meletakkan minuman. Tak lama kemudian, sosok lelaki dengan seragam berwarna biru navy itu berbisik pada Zain.
"Saya diminta untuk menyampaikan pesan dari resepsionis kalau ada Bu Audi menunggu di lobi," bisik office boy tersebut.
"Oh iya, terima kasih infonya."
Merasa pekerjaannya sudah selesai, office boy itu pun kemudian pergi meninggalkan ruangan.
"Baiklah. Sepertinya ini sudah cukup. Kalian sudah bisa segera mulai," ucap Darren tiba-tiba seraya mengembalikan map di tangannya ke hadapan Sofi.
Tampak wajah Sofi begitu senang. Akhirnya kerja sama yang sudah lama ia incar, berhasil ia dapatkan. Tentu saja, semua tak lepas dari peran sang ayah dan nama perusahaan ayahnya itu yang mampu membuat Darren mau memasukkan nama perusahaannya ke dalam daftar lelang proyek.
"Saya tunggu salinan laporannya segera."
"Tentu saja, Pak Darren. Kami akan segera kirimkan."
Pertemuan itu nyatanya cepat usai. Darren yang memang meminta Sofi datang untuk memberikan apa yang diminta, tak mau membuang waktu dengan bertele-tele membicarakan hal yang lain.
"Silakan diminum dulu, Bu Sofi dan Mbak Silvi!" ucap Zain kemudian.
Darren lalu melirik pada Zain yang seolah memberinya kode akan sesuatu.
"Ada apa?"
Zain berbicara pelan di dekat Darren ketika tuannya itu mendekatkan kepalanya.
"Bu Audi sudah sampai. Apakah Anda mau memintanya datang sekarang atau nanti setelah Bu Sofi pergi?"
"Baik, saya akan sampaikan ke Cintya."
Di saat Darren dan Zain berbincang serius, rupanya diam-diam Sofi melirik dan ingin mencuri dengar. Meski pada akhirnya ia sama sekali tidak mendapat informasi apapun tentang apa yang kedua lelaki itu bicarakan, tetapi wanita itu yakin ada hal penting yang sedang terjadi sampai-sampai ia diabaikan.
"Maaf, Pak Darren, apakah saya boleh izin ke toilet sebentar?" Mendadak Sofi merasa ingin buang air kecil.
"Oh iya, silakan. Pintu coklat itu adalah toiletnya."
Sofi menengok pada daun pintu yang Zain tunjukkan. Wanita itu pun lantas berdiri, lalu berjalan menuju tempat tujuannya.
"Silakan, Mbak Silvi. Cemilannya juga," ucap Zain pada sosok perempuan muda yang merupakan asisten pribadi Sofi.
"Terima kasih, Mas Zain, Pak Darren. Ini sudah cukup."
Penolakan halus yang perempuan itu berikan sebenarnya sedikit membuat Darren tersinggung. Tapi, mau bagaimana pun ia memaklumi kadar atau batas makanan seorang perempuan yang memilih menjaga berat badannya agar tidak terlihat berisi, mungkin.
Tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk dari luar. Zain pun segera menghampiri untuk membuka pintu.
"Eh, Mas Zain! Bapak masih ada tamu bukan?" Ternyata adalah Audi yang muncul setelah diberi tahu oleh resepsionis di bawah.
"I-iya, Bu. Tapi, Bapak ...."
"Masuk saja!" seru Darren dari dalam seolah mendengar percakapan antara Audi dan Zain.
Zain pun menengok pada Audi kemudian. Ada senyum yang tampak di wajah Zain meski Audi tahu kalau itu adalah sebuah senyum canggung.
"Silakan, Bu. Bapak udah minta Ibu untuk masuk."
"Ehm, kayanya nanti aja deh. Saya enggak enak. Mending saya nunggu Bapak di ruangannya aja, yah?"
Audi sudah akan berbalik ketika suara Darren kembali terdengar.
"Aku sudah menunggu kamu."
Zain dan Audi kembali saling bertatap muka. Hingga helaan napas terdengar oleh Zain -tanda jika sang nyonya sudah menyerah.
Asisten pribadi Darren itu lalu memberi jalan bagi sang nyonya untuk lewat. Sedikit canggung tampak pada sikap Audi sebab ia sebenarnya tak ingin mengganggu urusan pekerjaan suaminya.
Audi kemudian menghentikan langkah saat tersisa sekian jengkal lagi jarak di antara ia dan Darren. Tampak suaminya itu tengah duduk sembari tersenyum menatap ke arahnya.
Di depan lelaki itu, ada seorang perempuan muda dengan pakaian kantor juga tersenyum padanya. Kembali Audi merasa semakin canggung hingga kemudian membalas senyum perempuan muda tersebut.
Audi pun kembali akan melanjutkan langkah ketika tiba-tiba muncul sesosok perempuan lain dari arah sebuah pintu lain.
Sofi, wanita itu muncul, lalu menatapnya kaget.
"Audi?"
'Sofi!' batin Audi mendadak kesal.
***