With My EX

With My EX
Bab 17. Ruangan Khusus



Mungkin Audi akan terpojok jika ia menceritakan pertemuannya dengan Sofi yang membuat mood-nya buruk. Karena ia sangat tahu bahwa Darren sangat pandai menginterogasi dan mengorek keterangan apapun yang menurutnya janggal.


Seperti saat ini, Darren yang sudah membuat sang istri duduk di atas pangkuannya, tampak menatap penuh pesona. Membuat Audi harus memalingkan wajah demi menghindari tatapan sang suami yang akan membuatnya terjatuh.


"Jadi, tebakanku benar?"


"Tebakan apa?"


"Kalau kamu sudah cemburu kepada sahabatmu itu."


"Sofi sudah bukan sahabatku. Kamu ikut andil dalam keretakan hubungan kami yang sebelumnya baik-baik saja." Kali ini Audi menatap tajam Darren kesal.


"Ah, benarkah? Memang menurutmu bagian mananya yang membuat kalian berpisah karena aku?"


Audi mencoba untuk turun dari pangkuan Darren sekarang. Ia merasa kurang nyaman ketika membicarakan hal apapun dengan posisi duduk di atas paha suaminya tersebut.


Namun, sepertinya Darren tidak akan melepaskan tubuh wanita itu karena keberadaannya yang memang sangat ia sukai.


"Aku pikir sekarang sudah tak penting lagi kita bahas. Itu sudah lama berlalu. Waktuku terlalu sayang jika harus terbuang sebab membicarakan perempuan itu."


Darren tampak tersenyum. Ia tahu kalau Audi pasti akan menghindari topik yang sudah membuat pernikahan mereka berpisah.


"Kalau memang tidak penting, seharusnya sikapmu tidak seperti ini padaku. Bukankah di dalam surat perjanjian yang kamu tanda tangani, kamu sudah berjanji untuk melakukan apapun keinginanku sebagai suami?"


Seketika Audi menatap suaminya itu. Ia harus kembali diingatkan dengan hal-hal apa saja yang mesti ia lakukan selama kembali hidup bersama.


"Memang aku bersikap seperti apa sehingga kamu harus mengingatkan aku akan kesepakatan yang sudah kita buat?"


Perlahan Darren menarik tubuh Audi agar merapatkan diri, setelah sebelumnya wanita itu menghindar dengan menjauhkan tubuhnya.


"Seperti ini, entah apa yang terjadi sampai kamu bersikap seolah sedang marah padaku dari semenjak kamu datang ke kantor."


"Eh ... aku enggak marah. Siapa yang marah?" ucap Audi yang sekarang malah tergagap.


Siapa yang tak akan dibuat kaku dan membeku dengan aksi Darren yang selalu saja bisa membuat banyak wanita terbuai jatuh.


"Arh!" seru Audi terkejut ketika lelaki itu tiba-tiba menjatuhkan tubuhnya ke atas sofa.


"Darren, kita baru makan," ucap wanita itu lagi yang sebenarnya hanya sedang mencoba membebaskan diri.


"Ya, tapi setahuku belum selesai. Kita belum memakan dessert-nya kalau kamu lupa," sahut Darren dengan bibir tersenyum menakutkan, itu yang terlihat di mata Audi.


"Eh, ka-kalau begitu, kita makan dessert-nya aja," ucap Audi terbata. Tapi, Darren sudah mencengkeram kedua tangannya ketika ia berniat untuk bangun.


"Darren?"


Panggilan itu sangat indah terdengar di telinga sang pemilik nama, hingga kemudian Darren mendekatkan kepalanya dan mendaratkan ciuman di bibir Audi.


Lembut sekali, terasa oleh Audi ketika bibirnya disapa. Darren benar-benar membuat wanita itu bingung atas sikapnya yang sekarang terlihat lain.


Ciuman itu sudah mulai bertambah temponya. Dari yang hanya menempel, lalu menekan penuh kelembutan, sampai sapaan dari sesuatu yang kenyal seolah ingin menembus pertahanan penjagaan.


Audi dibuat terbuai atas aksi Darren yang membuat ruangan ber-AC itu menaik suhunya. Hingga sebuah dorongan yang berhasil lelaki itu lakukan membuat Audi melenguh tanpa sadar sebab sapaan di kedalaman mulutnya. Terlebih saat daging tak bertulang mulai membelit dan bermain lembut, memaksa Audi untuk meliukkan tubuh efek dari respon yang ia rasakan.


'Darren!'


Gumaman yang berasal dari dalam pita suara Audi, bisa Darren dengar dan rasakan. Bergetar menciptakan simfoni yang indah di telinga.


Tak bisa dipungkiri, hal tersebut malah membuat Darren semakin bertindak lebih. Apalagi sejak sampai kantor, bayangan kegiatan semalam terus menari-nari di pelupuk matanya.


"Ah!" desah Audi ketika Darren melepaskan ciumannya.


Kedua pasang mata saling menatap seiring napas yang tersengal akibat ciuman panas yang baru terjadi. Kali ini sepertinya Darren cukup puas karena Audi bisa mengimbangi. Hal itu terlihat dari ekspresi Darren yang tampak tersenyum sembari mengusap wajah sang istri.


"Kedatanganmu membuatku ingin, Honey."


Audi sudah bisa menebak hal selanjutnya yang akan terjadi setelah panggilan kesayangan untuknya terucap dari mulut Darren.


"Ehm, ya. Itu benar. Sebab itu aku menginginkanmu. Aku pikir, aku sudah memilih dessert apa yang aku mau nikmati sebagai makanan penutup siang ini."


Setelah itu Darren kembali melabuhkan ciumannya. Berubah ******* seiring balasan yang Audi lakukan. Membuat ia semakin bersemangat sehingga ia tak sungkan ketika melepas baju sang istri dari tubuhnya.


Wanita itu benar-benar mengimbangi aksi suaminya setelah ia berpikir untuk melakukan kesepakatan selayaknya air yang mengalir. Tak perlu menolak atau menghindar sebab ia sudah terlanjur menceburkan diri.


"Darren, ini di kantor. Kita belum pernah melakukannya di sini," ucap Audi setelah ia berhasil mengambil pasokan udara sebanyak-banyaknya saat Darren melepas pagutan.


"Ya, aku tahu. Jadi, ini akan menjadi pengalaman pertama kita."


Bukannya menghentikan aksinya, ide bercinta di kantor seperti sesuatu yang mengasyikan bagi Darren.


"Tapi?"


"Tenang saja. Sepertinya ini akan berjalan seru."


Tak mau membantah, Audi akhirnya memilih diam dan mengikuti permainan Darren. Sedikit kaget ketika lelaki itu malah mengangkat tubuhnya yang sudah setengah polos, lalu berjalan menuju sebuah pintu.


Entah sejak kapan pintu berdaun coklat tua di depan Audi itu ada. Setahunya ketika ia datang kemarin, ia tidak melihat ada pintu di dekat toilet.


Audi tetap diam sampai Darren membuka pintu, lalu membukanya, mendorong dengan kakinya.


Sebuah ruangan cukup luas kini menjadi pemandangan yang Audi lihat. Di mana ada sebuah ranjang berukuran sedang, lengkap dengan sebuah kamar mandi yang terbuka dari luar sebab hanya kaca yang jadi sekatnya.


Masih bungkam, Audi merasakan tubuhnya dibaringkan di atas ranjang. Dilihatnya Darren yang kini melepaskan kemeja putihnya hingga memperlihatkan dadanya yang atletis dan bidang. Lalu, lelaki itu kembali mengungkung tubuhnya Tak lupa memberikan kecupan di pipi dan kening.


"Sejak kapan ada ruangan seperti ini di dalam kantor kamu?" tanya Audi saat Darren tengah menatapnya sembari menyunggingkan senyum di bibirnya.


"Sejak aku pindah ke ruangan ini."


Kapan tepatnya? Mungkin itu yang ingin Audi tanyakan. Tapi, mulutnya malah diam dan tidak sampai bertanya lebih jauh.


"Di ruangan lama seingatku tidak ada."


"Memang. Aku khusus meminta arsitek untuk membuat satu ruangan lain di sini."


"Untuk apa?"


"Untuk apa? Kamu pikir apakah ada jawaban lain selain untuk istirahat?"


Audi tidak lagi bertanya. Meski ia tak mengerti, kenapa tiba-tiba Darren menginginkan sebuah kamar di ruangan kantornya? Kenapa tidak dari dulu ia membuatnya.


"Tapi, aku rasa ada kegunaan lainnya sekarang."


"Apa itu?" Kali ini Audi menatap penasaran.


Darren malah tersenyum sekarang. Hal itu membuat Audi was was. Apalagi saat sekarang Darren mendekatkan bibirnya dan berbisik.


"Tempat ini bisa kita gunakan untuk bercinta."


'Ap-apa? Apakah ia serius?' batin Audi yang mendadak merasa ngeri.


"Aku pikir tidak hanya di ranjang rumah saja kamu akan menemaniku tidur. Tapi, mulai hari ini, di tempat ini, ketika aku butuh seseorang untuk sejenak melepas penat karena pekerjaan, ada kamu yang akan menemani," ujar Darren dengan suara lirih.


Ditatapnya lelaki itu, yang sungguh menggoda di mata sang istri. Membuat wanita itu tak mampu membalas dan hanya diam dengan posisi berada tepat di bawah kungkungannya.


"Tentu saja, kita akan sambil menikmati dessert sebelumnya."


Audi tahu kemana arah kalimat yang Darren katakan. Sejenak wanita itu pun hanya bisa menarik napas saat tangan Darren sudah mulai menarik celana panjang yang ia kenakan keluar dari kedua kakinya.


"Here we go, Honey!"


***