With My EX

With My EX
Bab 13. Hilang Fokus



Darren POV


Jam sepuluh Darren meminta supir pribadinya untuk menjemput Audi di hotel. Ia yang tahu kalau istrinya itu baru bangun, langsung memerintahkan Pak Lutfi meninggalkan parkiran dan mengantar Audi ke rumah sakit.


Pekerjaan yang saat ini masih menjadi fokus utamanya, sesekali terganggu karena bayangan Audi. Malam yang sudah keduanya lewati membuat pikiran Darren terganggu hingga beberapa kali ia harus membaca ulang barisan huruf yang terpampang di layar laptop.


'Sial sekali! Kenapa wanita itu sulit untuk aku lupakan,' batin Darren.


Zain yang baru menyalin rencana proyek yang dikirim dari bagian perencanaan, sesekali menengok ke arah sang atasan.


Lelaki itu bisa melihat dengan jelas kalau suasana hati atasannya sedang tidak baik. Ia pun tahu, pertemuan dengan mantan istri yang sekarang sudah menjadi istrinya kembali, adalah hal yang mengganggunya.


"Permisi, Pak. Izin mau ke pantry," ucap Zain yang sudah selesai dengan pekerjaannya.


Lelaki itu berdiri di depan meja persegi dengan papan nama bertuliskan Darren El Syauqi di atasnya. Terlihat si empu meja mengangkat kepala dan memandangnya.


"Tolong bawakan saya snack atau makanan kecil yang enak dan manis. Sepertinya saya butuh makanan itu sekarang," ucap Darren yang Zain langsung angguki mengerti.


"Apa saja, Pak?"


"Ya, apa saja. Tapi, jangan terlalu banyak karena saya tidak mau kekenyangan saat makan siang nanti."


"Baik, Pak. Kalau begitu saya permisi."


Zain lantas berbalik setelah melihat Darren mengangguk. Di kepalanya sekarang mulai memikirkan makanan apa yang kiranya bisa membuat atasannya rileks dan tidak tegang seperti sekarang.


Sedangkan itu, Darren yang kini ditinggalkan sendiri di dalam ruangan, mendadak menjauhkan pandangannya dari layar laptop yang masih menyala. Pikirannya kembali tertuju pada Audi, mantan istri yang kini kembali berstatus istrinya.


Perasaan bahagia yang Darren rasakan sekarang, mungkin tak ada orang lain yang tahu. Hanya ia sendiri dan Tuhan yang tahu bahwa pertemuannya kembali dengan Audi selama ini adalah hal yang selalu ia nantikan.


Mengingat sedikit waktu ke belakang, Darren yang juga tahu masalah yang menimpa perusahaan milik papa Audi, ingin sekali membantu sang mantan mertua demi memulihkan ekonomi perusahaan. Bahkan ia yang sempat marah ketika mantan mertuanya itu dilaporkan ke pihak berwajib atas tuduhan penggelapan keuangan, merasa gemas dan ingin langsung menemui Kevin atau Audi sekalian.


Namun, Zain melarangnya waktu itu. Asisten pribadi yang tanpa sadar malah merangkap menjadi penasehatnya.


Usia Zain yang di atas Darren membuat pengusaha itu menurut saja ketika sang asisten meminta supaya ia sabar dan menunggu.


"Lebih baik kita menunggu, Pak. Mungkin saja ada hal menguntungkan buat Bapak tanpa harus datang menemui mereka."


"Maksud kamu apa, Zain? Saya ikhlas dan niat membantu. Beliau adalah mantan mertua saya, untuk apa saya meminta balasan darinya? Sama sekali saya tidak mengharapkan imbalan apapun."


"Saya mengerti, Pak."


"Tapi, saya tidak mengerti ucapan kamu yang meminta saya menunggu."


Waktu itu Darren sempat emosi pada Zain. Bagaimana bisa, seorang anak buah menolak keputusannya. Bahkan keputusan itu adalah sesuatu yang baik. Darren yang tak peduli anggapan dan penilaian orang tentangnya yang negatif, benar-benar serius ingin membantu.


Namun, ketika Zain menjelaskan pendapatnya, saat itu juga Darren bungkam dan memilih mengikuti saran sang asisten.


"Ibu Audi baru menanyakan kabar Bapak pada saya. Entah kenapa, saya merasa kalau beliau hendak meminta bantuan kepada Anda, Pak."


"Terus, memangnya kenapa? Bukankah itu bagus."


Darren masih belum mengerti sama sekali mengenai rencana Zain tersebut. Sampai ketika sebuah panggilan dari seorang petugas resepsionis memberi tahu bahwa Audi datang ke kantornya, saat itu sang asisten langsung memberi tahu rencana besarnya.


"Tapi, itu pun kalau Bapak setuju. Seandainya tidak dan menganggap saran saya salah, semua dikembalikan ke Bapak lagi."


Entah bagaimana bisa seorang Zain yang Darren rekrut karena kebaikan hati dan kecerdasannya, memiliki saran brilian tapi juga 'jahat'.


"Saran kamu cukup bagus. Saya terima kali ini dan mungkin sedikit akan saya tambahi."


Entah apa saran yang Zain berikan, tetapi ketika tebakan sang asisten bahwa kedatangan Audi karena ingin meminta bantuan benar adanya, seketika itu pula Darren mengimprovisasi saran yang Zain berikan, yang sebelumnya sudah ia anggap jahat.


Kini ia sudah berhasil membuat Audi menjadi miliknya kembali. Masa dua tahun tanpa sosok wanita itu yang menghangatkan ranjang serta tubuhnya, akhirnya bisa kembali ia rasakan semalam, setelah wanita itu sah menjadi istrinya.


'Ah, betapa bahagianya. Sungguh tak pernah terpikirkan kalau kamu akan kembali berada dalam pelukanku, Honey,' batin Darren demi mengingat kegiatan yang mereka lewati semalam.


'Kamu masih saja mempesona, bahkan lebih dari apa yang aku bayangkan selama ini. Terlebih ketika kamu cemburu pada wanita lain, sungguh terlihat begitu menggemaskan.'


Kalimat-kalimat pujaan terhadap sosok sang istri, terus mengisi kepalanya. Seolah tak cukup Darren melewati malam pertamanya setelah malam-malam hampa ia lalui, kini ia seperti sudah tak tahan untuk bisa kembali menyentuh atau memeluk tubuh wanita itu.


Di saat Darren masih melamun dan membayangkan sosok Audi, tak berapa lama terdengar suara ketukan di pintu. Darren tahu kalau itu pasti Zain yang telah kembali dari pantry.


"Masuk!"


Sosok lelaki itu muncul dengan seseorang di belakangnya. Seorang office boy yang datang membawa nampan dengan bungkusan makanan di atasnya.


"Permisi, Pak Darren," ucap sang office boy seraya meletakkan nampan di atas meja setelah Zain perintahkan.


Setelah itu, lelaki muda dengan seragam biru tua tersebut kembali mengangguk hormat dan keluar dari ruangan.


"Makanan apa yang kamu bawa? Cepat sekali?" tanya Darren seraya beranjak bangun dan mendekati meja.


"Cepat? Saya bahkan sempat marah-marah sama penjualnya karena lambat membuat pesanan. Hampir satu jam saya menunggu, Pak." Zain berkata heran.


Apa yang dikatakannya memang benar. Zain tidak berbohong ketika ia hampir memarahi kurir yang pastinya tidak tahu apa-apa. Kurir hanya menjalankan tugas mengantar pesanan setelah pesanan selesai dibuat. Kendalanya hanya padatnya jalanan ibukota di suasana siang menjelang waktu istirahat kantor.


Namun, rupanya Darren menganggap waktu hampir satu jam tadi terlalu cepat. Padahal Zain sudah khawatir setengah mati sebab jam makan siang akan segera datang.


"Ini Baklava. Karena ramai pengunjung restoran, mereka sedikit terlambat membuat pesanannya."


Darren sepertinya tidak membutuhkan penjelasan Zain. Ia memilih duduk dan menikmati makanan khas negara Ottoman itu dengan perasaan sedikit kesal karena lamunannya tentang Audi terganggu.


Lelaki itu berpikir, waktu sendirinya tadi sempat membuat pikirannya yang suntuk tentang pekerjaan yang menumpuk sedikit rileks dan tenang. Cukup terobati hanya dengan membayangkan betapa menggoda tubuh sang istri yang polos dalam balik selimut ketika pagi tadi ia tinggalkan.


'Sialnya aku malah ingin sekarang!'


***


Yuk, tinggalin jejak kalian di kolom komentar biar aku semakin semangat lanjutin part-nya. Makasih... :-)


***