
Darren tiba di rumah sakit tepat di jam enam sore. Jam pulang kantor yang sudah Audi hafal saat masih bersama dulu. Sehingga ia tidak terkejut ketika suaminya itu baru datang saat langit berubah jingga.
"Sore, Semuanya!" seru Darren tanpa sungkan.
Ia lantas berjalan menghampiri ibu mertuanya yang masih terbaring lemah di atas ranjang. Tak mempedulikan sosok Audi yang tengah duduk berbincang dengan Bagas di sudut ruangan, Darren terus berjalan mendekat dengan Zain di belakangnya, mengikuti.
"Bagaimana kabar Mama? Apakah masih ada yang dirasa sakit?" tanya Darren tak terlihat basa basi. Lelaki itu tampak tulus menanyakan kabar mamanya Audi.
"Kabar Mama baik, Darren. Cuma sakit dikit. Menurut dokter itu hal yang wajar." Marissa memberi tahu kondisi tubuhnya pada sang menantu.
"Benarkah? Kalo memang sakit, bilang saja. Enggak usah Mama tutupi atau berbohong. Nanti biar aku bilang ke kepala rumah sakit langsung atau ketua tim dokter yang mengoperasi Mama."
"Eh, enggak, Darren. Mama enggak bohong. Apa yang Mama bilang, itu benar. Kalau enggak percaya, tanya saja Papa," ujar Marissa seraya menengok pada suaminya.
Jelas Marissa tak mau kalau sampai Darren menemui pimpinan rumah sakit hanya karena luka paska operasi. Meski menantunya itu bisa melakukan hal tersebut, Marissa tak mau membuat huru hara hanya karena hal sepele.
Darren lantas menatap Kevin, papa Audi. Lelaki tua itu mengangguk seolah menjawab pertanyaan yang belum Darren sampaikan.
"Betul, Darren. Dokter sudah bolak-balik memeriksa kondisi Marissa, mereka bilang kalau sakit seperti pusing yang Mama kamu rasakan sekarang, itu efek dari obat bius dan operasi yang baru selesai."
Kali ini Darren diam. Lalu mengangguk setelah merasa jawaban yang Kevin sampaikan adalah satu kejujuran. Bukan rekayasa cerita supaya ia tidak mengadu atau memarahi pihak rumah sakit karena ketidakbecusan mereka mengoperasi sang ibu mertua.
'Lihat! Gayanya terlihat sekali mencari perhatian. Kaya yang baru pertama lihat orang dioperasi aja. Kita juga tahu, namanya badan udah dibelek-belek, terus dijahit lagi biar kaya semula, tetep aja mau obat bius semahal apapun, ada sisa rasa nyeri yang pasien rasakan,' gumam Audi di dekat telinga Bagas, adiknya.
Perempuan itu terlihat kesal dan tidak senang saat melihat reaksi Darren yang ia nilai berlebihan.
'Mbak Audi ini kenapa? Ada orang yang perhatian sama mama kok malah dijulidin kaya gitu. Padahal yang dijulidin suami sendiri. Aneh deh!' Bagas membalas dengan gumaman yang sama. Keduanya jelas tak mau kalau sampai obrolan di antara kakak dan adik, didengar oleh orang yang sedang dibicarakan.
'Emang lebay. Enggak lihat apa? Lagian kita anaknya juga enggak gitu-gitu amat.'.
'Ish! Ini orang kenapa sih? Justru seharusnya Mbak itu senang karena punya suami yang perhatian sama papa dan mama. Ini malah ngejelekin. Enggak ngerti!' Bagas terlihat menggelengkan kepala.
Sepertinya baik Audi atau pun Bagas, keduanya tidak menyadari bahwa obrolan mereka yang hanya gumaman, rupanya diawasi oleh sepasang mata yang meskipun berbicara dengan orang lain, tetapi nyatanya telinga mendengar obrolan apa yang terjadi walau dalam volume teramat kecil.
"Kalau begitu, Mama bisa istirahat. Biar nanti aku nemuin dokter dan nitip Mama supaya lebih intens diawasi."
"Tidak perlu repot, Darren. Tanpa harus kamu nemuin mereka, semuanya bekerja dengan baik. Enggak pernah Mama dapat perhatian begitu besar yang didapat seperti di rumah sakit ini. Rumah sakit milikmu ini benar-benar mengikuti prosedur yang berlaku, tetapi tidak menghilangkan sikap baik dan perhatian sebagai pihak yang menjaga dan melindungi pasien yang sakit atau pun berobat."
"Enggak repot kok, Mah. Memang sudah seharusnya begitu. Sebagai seorang menantu, bukankah tugasku sama kaya Audi."
"Iya, Darren. Apa yang Mama Marissa katakan benar. Semua sudah cukup bagi kami. Justru kami ingin mengucapkan rasa terima kasih yang teramat sangat sama kamu. Karena kamu, keluarga Papa kembali seperti semula. Karena kamu, Papa bebas. Karena kamu, Mama bisa cepat mendapat penanganan medis. Karena kamu juga, Audi kembali ke kamu."
Sontak Audi menengok ketika namanya disebut oleh sang papa. Terlebih kalimat yang diucapkan tidak bisa ia terima karena seolah-olah kembali menjalin hubungan dengan Darren adalah satu hal istimewa yang sangat ia inginkan selama ini.
"Pah, apa maksudnya?" celetuk Audi tak tahan. Apalagi dilihatnya senyum menyebalkan yang bisa perempuan itu lihat di sudut bibir Darren.
'Menyebalkan!' kesal Audi dalam hati.
"Apa maksudnya? Pertanyaan kamu ini aneh. Bukankah ucapan Papa benar? Darren yang menyelamatkan keluarga kita, Audi. Karena Darren akhirnya kamu dan Bagas bisa tertawa lagi bukan?"
"Kok aku juga dibawa-bawa, Pah?" Kali ini Bagas tak setuju namanya dibawa-bawa oleh sang papa dalam perdebatan yang dilakukan bersama sang kakak.
"Sorry, Gas. Tapi, apa yang Papa bilang barusan itu bener 'kan?" Kevin seolah meminta dukungan dari kedua anaknya atas bantuan yang diberikan oleh Darren, menantunya.
"Ya ... tapi enggak gitu juga 'kan. Enggak enak 'kan sama Mas Darren." Bagas terlihat salah tingkah. Tapi, Darren justru bersikap sama, datar dan dingin.
"Ck, apa yang Bagas bilang itu bener, enggak usah segitunya, Pah," sahut Audi langsung tanpa sadar.
'Papa ini, kaya yang enggak ada kerjaan lain aja selain muji,' gumam Audi yang sialnya bisa Darren dengar, dan membuat lelaki itu tersenyum tipis.
"Lagian, pertanyaan aku itu, apa maksud Papa bilang kalau karena Darren akhirnya aku bisa kembali sama dia?"
Kevin menatap Marissa yang tersenyum padanya setelah mendengar pertanyaan dari sang putri.
"Enggak usah Papa jawab, nanti kamu malu sendiri."
"Hah! Maksudnya apa sih? Aku semakin enggak ngerti." Audi terlihat seperti orang bodoh yang sedang dikerjai oleh kedua orang tuanya. Hanya Bagas yang juga menatapnya heran dengan mengangkat kedua bahu tanda tidak paham.
Darren sendiri, seperti biasa gayanya, hanya diam dengan sikap cool-nya. Membuat Audi menatap sinis.
Ia jelas bisa bersikap seperti itu karena ada keluarga yang -walaupun mereka sangat mendukung Darren, tetapi ia merasa sebagai anak yang harus dilindungi.
"Ya sudah, tidak usah diteruskan. Apa yang Papa kamu bilang itu benar. Papa enggak akan bilang karena khawatir kamu malu. Jadi, udah stop sampai sini aja, yah, Di. Pokoknya yang terpenting sekali, kami memang mau berterima kasih sama Darren. Sebab apapun alasan yang kami tidak tahu, dia sudah berbaik hati membantu." Marissa dengan suara pelan, mencoba menengahi dan menyudahi perdebatan antara ayah dan putrinya.
Meski ada sosok yang begitu penasaran akan tema yang Marissa dan Kevin bicarakan, tetapi sayangnya dialog seru itu tidak berlanjut karena Audi yang memilih diam dan menuruti perkataan ibunya.
"Hem, ok."
Beberapa menit kemudian, setelah mereka berbincang tentang hal lain di luar pembicaraan yang sebelumnya sempat menimbulkan ketegangan, Darren pun mengajak sang istri pulang. Yang saat itu terlihat kaget dan melongo, menatap sang suami.
"Pulang? Ke mana?" tanya perempuan itu yang langsung mendapat senggolan siku tangan Bagas.
"Apaan sih, Gas?" tanya Audi melotot, menatap sang adik.
"Lagian masih pakai nanya. Ya, ke rumah Mas Darren lah. Ke mana lagi emangnya? Kalian 'kan udah nikah semalam. Memangnya lupa dan mau balik ke rumah kita gitu?"
Audi benar-benar lupa. Ia sama sekali tak ingat mengenai hal tersebut. Bahkan, saking bingungnya ia kemarin, perihal tempat tinggal setelah ia menikah pun belum dibahas secara jelas. Padahal ia berharap tetap bisa tinggal di rumah keluarganya bersama orang tua dan sang adik.
"Ayo! Kita akan terlambat sampai rumah kalau terlalu malam," ucap Darren tiba-tiba mengajak sang istri.
Audi yang sebelumnya tengah melamun sebab kesal pada dirinya sendiri, terlihat sedikit enggan dan ragu.
"Eh, sekarang?" tanyanya seperti mengulur waktu.
Darren mengangguk. "Ya. Biar Bagas nemenin Papa dan Mama di sini."
Audi seketika menengok ke arah Bagas, yang malah terlihat menggodanya dengan permainan mata. Lalu, melihat papa dan mamanya yang hanya diam dan tersenyum.
'Ya Tuhan! Apakah kalian tidak tahu kalau saat ini aku itu sedang bersiap masuk ke kandang harimau?' batin Audi nelangsa.
Nyatanya ia memang sangat berlebihan padahal sudah dua kali ia kembali bercinta dengan sang mantan, sekaligus suaminya itu, tapi saat ini seperti khawatir dan takut sendiri.
"Pah, Mah, kami pamit dulu yah? Besok kalo ada sedikit waktu luang, kami akan kembali menengok kalian."
"Jangan dipaksakan kalau tidak bisa. Doakan Mama saja supaya cepat pulih." Kevin berkata seraya memeluk tubuh menantunya itu ketika hendak mencium tangan.
"Kalau itu pasti, Pah. Kalian berdua sudah aku anggap sebagai orang tua sendiri. Jadi, kesembuhan dan kesehatan Mama adalah prioritasku sekarang."
Bergantian Marissa memeluk Darren setelah lelaki itu memberinya genggaman lembut.
"Mama titip Audi, yah? Tolong jaga dia baik-baik, dan jangan biarkan cerita lalu kembali terjadi," ucap Marissa kali ini berbisik. Ia sengaja menitip pesan penting pada menantunya itu supaya tidak didengar oleh putrinya sendiri.
"Pasti, Mah. Aku akan jaga Audi baik-baik."
Audi sekilas menengok pada suaminya itu. Entah apa yang dibicarakan dengan sang mama, perempuan itu memilih untuk duluan pergi setelah memberi pelukan yang sama pada Kevin dan Marissa.
"Jangan ngambek melulu!" seru Bagas saat sang kakak pamit padanya dengan lidah yang dijulurkan seperti sedang meledek. "Dihabisi tahu rasa!" lanjut Bagas membuat Darren tersenyum gembira. Membuat lelaki itu semakin penasaran dengan apa yang kedua mertuanya sembunyikan tadi.
"Kamu ini mau ke mana?" tanya Darren ketika langkah Audi begitu cepat berlalu.
Di belakangnya, Zain pun turut tersenyum melihat tingkah sang nyonya yang hari itu mirip seperti anak kecil. Namun anehnya, Zain bisa melihat senyum di bibir sang tuan.
'Lagi-lagi aku melihat Anda bahagia karena Bu Audi, Pak. Sungguh aku ikut bahagia karenanya.'
**
Di depan Audi sekarang adalah rumah berlantai tiga yang tampak megah dan pastinya mewah. Rumah yang mirip sebuah mansion ala Eropa yang berdiri di kawasan ibukota, adalah milik Darren yang pernah Audi tempati selama dua tahun. Tampak tak berubah, sama seperti yang Audi lihat ketika ia memutuskan keluar dari rumah tersebut.
Di depannya juga sudah berdiri beberapa asisten rumah tangga yang berbasis rapi demi menyambut kedatangannya.
"Selamat malam, Bu Audi. Senang bisa bertemu dengan Ibu kembali," ucap seorang wanita paruh baya bernama Laksmi. Ia adalah kepala rumah tangga yang memimpin para asisten di rumah besar tersebut.
"Selamat malam, Bu Laksmi. Saya juga senang bisa bertemu kalian lagi."
Sejenak ada keharuan yang Audi rasakan saat bisa bertemu dan melihat para pembantu yang bekerja di kediaman Darren. Sebagian dari mereka, terutama Bu Laksmi adalah orang yang menjadi saksi akan perjalanan rumah tangga Audi dan Darren selama dua tahun lamanya.
"Ayo!" ajak Darren yang sejak tadi diam dan memperhatikan sikap Audi.
Perempuan itu pun menoleh dan mengangguk perlahan. Ia tengah mencoba menenangkan hati dan pikirannya sebelum kembali memasuki tempat yang pernah membuatnya kerasukan setan. Marah-marah pada Darren di satu malam, dan meminta berpisah saat itu juga.
Di tengah perasaan Audi yang berkecamuk, sosok Darren tiba-tiba menggenggam tangannya. Audi pun menoleh, tetapi laki-laki itu tetap dengan ekspresinya, dingin.
'Aneh. Kamu ini kalau sedang bagaimana sih bisa tersenyum atau tertawa. Ekspresi yang aku lihat saat kita bersama selalu seperti ini. Sok cool, cuek, bahkan kerap mengintimidasi,' batin Audi kesal.
Langkah keduanya terhenti di sebuah ruangan luas dengan segala furnitur lengkap dan mewah sebagai penghias ruang. Audi melepas genggaman tangan Darren, lalu melangkah menuju sebuah sofa berwarna putih yang tampak mahal.
Ia ingat, di tempat itu dirinya emosi dan memarahi Darren setelah mendapat sebuah pesan yang dikirim oleh Sofi.
"Aku sudah membuang dan mengganti sofanya. Maaf karena tidak memberi tahumu lebih dulu," ucap Darren tanpa Audi tanya.
Seolah tahu ada sejarah dari sebuah sofa yang seharusnya berwarna abu-abu tersebut.
Audi pura-pura tak mendengar ucapan Darren. Ia hanya melirik dari sudut matanya dan mendengar apa yang suaminya jelaskan.
"Ayo! Aku antar ke kamar untuk istirahat sambil menunggu makan malam disiapkan," ucap Darren yang langsung mendapat anggukan dari Audi.
"Eh, iya."
Wanita itu lantas mengikuti suaminya menaiki tangga. Masih ada Zain yang kemudian pamit setelah pasangan suami istri itu berjalan menaiki anak tangga sampai ke lantai dua.
Lelaki itu lalu mendekati Bu Laksmi dan beberapa anak buahnya untuk mengatakan sesuatu.
"Apakah makan malam yang saya minta sudah siap, Bu?"
"Sudah, Mas. Tinggal disajikan saja. Setelahnya Bapak dan Ibu bisa turun."
"Baiklah. Makasih untuk kerja samanya. Sajikan saja sekarang. Kalau sudah langsung kabari saya. Saya akan berada di ruang kerja bapak."
"Baik, Mas. Segera Ibu dan yang lainnya akan sajikan."
Zain pun mengangguk. Mereka berpisah untuk mengerjakan urusan masing-masing.
Sedangkan di dalam kamar utama, terlihat Audi masih berdiam berdiri. Mematung di balik pintu.
"Kenapa? Apakah ada sesuatu yang mengganggumu di kamar ini?"
Audi hanya menggeleng.
"Lalu, kenapa kamu terlihat syok seperti itu? Apakah karena aku tidak mengubah interior kamar yang pernah kamu tempati ini?"
Kali ini Audi diam.
"Maafkan aku kalau kamu tidak suka dan berharap apa yang pernah kamu lihat diubah keasliannya. Sejujurnya aku memang tidak mau menghapus semua kenangan yang pernah terjadi di antara kita. Termasuk apa yang ada di dalam kamar ini. Tapi, kalau kamu tidak suka dan merasa terganggu, aku akan meminta Zain untuk mengganti atau mengubahnya sesuai keinginan kamu."
"Eh, enggak. Enggak usah. Enggak perlu seperti itu. Ini kamarmu, rumah kamu. Semuanya milikmu. Jadi, jangan melakukan apapun hanya karena orang lain."
Ada raut tak suka di wajah Darren ketika Audi bicara seperti tadi. Membuat lelaki itu kemudian menghampiri dan memeluk tubuh sang istri dari belakang.
"Eh, kenapa?" Terhenyak Audi sebab pelukan yang tiba-tiba suaminya lakukan.
"Kamu itu istriku. Apapun akan aku lakukan demi kamu."
"Kesepakatan kita hanya satu tahun."
Sejenak Darren diam. Tak membalas perkataan Audi barusan.
"Setidaknya aku bisa memaksimalkan waktu satu tahun tersebut. Termasuk mengubah desain kamar," ucap Darren, lalu mengecup pipi Audi.
Kemudian, lelaki itu pun memutar tubuh sang istri agar bisa saling berhadapan. Tampak wajah cantik di usia dua puluh delapan tahun yang selalu membuat pikirannya dipenuhi wajah perempuan di depannya itu.
Kali ini Darren seolah kesulitan menahan hasratnya. Ia lalu mendekatkan kepala dan mendaratkan kecupan di bibir Audi.
Ya, hanya kecupan. Tapi, akibat yang ditimbulkan membuat bayangan aksi mereka tadi siang mendadak muncul seiring sentuhan bibirnya di bibir sang istri.
"Pergilah mandi! Karena kalau tak segera, aku tidak akan menjamin kita akan makan malam tepat waktu."
Perintah yang Darren berikan, tentu saja bisa Audi mengerti. Ia pun buru-buru melepaskan diri dari pelukan sang suami setelah dadanya tiba-tiba berdebar hanya karena laki-laki itu mengecup keningnya.
'Ada apa denganku?'
***