With My EX

With My EX
Bab 27. Pesan Seorang Ibu



Sudah bisa ditebak jika Sasa setuju untuk menemani Marissa di rumah sakit. Hal itu membuat Audi mencebik dari balik telepon setelah ia menyudahi pembicaraannya dengan sepupunya tersebut.


"Sasa mau, Mah. Nanti sebelum istirahat makan siang dia langsung dari kampus ke sini." Audi memberi tahu sang mama, membuat Bagas mengucap syukur karenanya.


"Syukurlah. Jadi, aku bisa pergi sekarang dengan tenang 'kan?"


Audi menatap sebal adiknya itu. Tapi, mau bagaimana pun di situasi sekarang tak ada pilihan lain selain meminta seseorang untuk menjaga sang mama.


"Nanti aku bawain makanan deh, yah?" Bagas mencoba merayu Audi.


"Makanan apa? Enggak usah kamu tawarin, Darren akan dengan sangat senang hati kasih aku makanan apapun yang aku mau."


"Iya, iya. Tahu deh yang lagi kasmaran. Dasar pengantin baru!" Bagas sengaja sekali menggoda sang kakak.


"Apa? Kasmaran? Pengantin baru?" ucap Audi mengulang kata yang Bagas tadi ucapkan. Seolah apa yang adiknya katakan, ia tidak dengar sama sekali.


'Jangan gila dong! Siapa juga yang mau kasmaran sama tuh orang!' sahut Audi dalam hati. Tak berani ia mengatakan hal tersebut di depan mama dan adiknya, yang bisa dipastikan akan menyampaikan hal itu pada orangnya langsung.


"Ya udah kalo enggak mau, jadinya 'kan duit aku utuh." Bagas pun akhirnya melengos pergi setelah mencium telapak tangan dan kening sang mama. Ia lalu meninggalkan Audi yang menatapnya kesal.


Tak berselang lama setelah kepergian Bagas, muncul seorang dokter dan perawat dengan sebuah tablet yang selalu dibawa di setiap pemeriksaan rutin pasien.


"Selamat pagi, Ibu Marissa. Apa kabarnya pagi ini?" sapa sang dokter yang disambut senyum ramah dari Marissa dan Audi.


"Selamat pagi, Dok. Kabar saya sejauh ini baik dan enggak ada keluhan."


"Ah, begitu. Syukurlah. Kalau gitu biar kami periksa dulu," ucap sang dokter yang kemudian mendekat sembari memasang stetoskop ke telinganya.


Rutinitas sebagai seorang dokter pun lelaki berusia sekitar lima puluhan itu lakukan. Seperti memeriksa tekanan jantung, organ dalam serta beberapa hal lain yang berkaitan dengan kondisi pasien paska operasi menjadi pemandangan Audi dan seorang perawat di dekatnya.


Ada gurat tenang yang tampak di wajah sang dokter, membuat Audi yang masih harap-harap cemas mengetahui kondisi sang mama, setidaknya bisa sedikit bernapas lega.


"Sejauh ini luka paska operasi yang ada berangsur membaik. Tapi, kami masih belum bisa mengizinkan Ibu Marissa pulang sampai kami benar-benar yakin tak ada keluhan di bekas luka jahitan juga efek dari operasi kemarin."


"Iya, Dok. Enggak apa-apa kok. Kalau memang mama saya masih harus dalam pantauan dokter, biar mama saya mendapatkan perawatan sampai kondisinya benar-benar baik atau pulih."


Dokter itu tampak tersenyum. Begitu pun perawat yang berdiri di belakangnya sembari mencatat beberapa poin yang hanya dia sendiri yang tahu, juga tersenyum begitu ramah.


'Entah apa karena rumah sakit ini adalah rumah sakit mahal atau karena mama adalah mertua Darren, semuanya baik dan ramah-ramah sekali,' batin Audi yang malah membicarakan sikap beberapa tenaga medis yang menangani sang mama.


"Baiklah. Apa ada hal lain yang mau ditanyakan?"


Marissa terlihat menggeleng. Sedangkan Audi melihat respon mamanya sembari berkata, "Apa betul-betul enggak ada yang Mama rasain?"


Wanita itu menengok sang putri, "Enggak ada, Di. Ya ... kalau cuma perih-perih sih ada. Tapi, enggak terlalu parah. Masih bisa ditahan."


"Yang mana yang sakit, Bu?" Tiba-tiba dokter bertanya khawatir.


"Eh, yang itu, Dok." Marissa tampak kaget dengan reaksi sang dokter yang sepertinya panik begitu mendengar penuturannya.


Begitu juga Audi yang menatap heran dokter serta perawat yang menangani sang mama.


"Bekas jahitan operasi. Tapi, enggak sakit-sakit banget kok, Dok. Masih wajar menurut saya."


"Tolong beri tahu kami kalau memang Ibu betul-betul mempunyai keluhan, baik sakit paska operasi atau sakit apapun yang membuat Ibu tidak nyaman."


"Baik, Dok. Saya mengerti." Marissa berkata sembari mengangguk.


Setelah dagelan yang membuat Audi mendadak terhibur, sebab ia sangat yakin bila semua ada hubungannya dengan Darren -sang suami, kedua orang itu pun memutuskan pergi untuk memeriksa pasien VIP yang lain.


"Terima kasih, Dok," ucap Audi kala dokter dan sang perawat keluar dari ruangan.


Audi kemudian kembali mendekati sang mama. Tersenyum saat wanita yang sudah melahirkannya itu tertawa kecil kepadanya.


"Darren sangat berpengaruh rupanya," ucap Marissa.


"Mereka mungkin takut dipecat." Audi merespon asal.


Meski tak suka pada karakter Darren, tak bisa dipungkiri Audi bersyukur sebab keberadaan mamanya di tempat tersebut mendapat perhatian penuh dari pihak rumah sakit karena sosok lelaki itu sebagai seorang pemilik.


"Jujur saja Mama sangat bersyukur."


"Untuk apa?"


"Ya, tentu saja untuk kembalinya kamu ke Darren."


Audi terlihat tak suka. Semua keluarganya begitu menyukai Darren. Bahkan Bagas, lelaki yang selama ini kerap meledeknya jika ada lelaki yang berusaha mendekatinya, begitu senang tanpa perlu Audi dengar dari mulut adiknya itu.


"Sebenarnya apa sih yang kalian suka dari Darren?" Audi bertanya sembari duduk di sisi ranjang sang mama.


Marissa bisa melihat sang anak terdiam dengan raut muka sedih.


"Apakah kamu begitu membenci Darren? Apakah sama sekali enggak ada perasaan cinta yang kamu punya ke suami kamu?" Marissa bertanya seperti sedang mengetes kejujuran Audi. Karena hati kecilnya merasa yakin kalau sebenarnya sang putri sudah jatuh cinta pada menantunya itu.


Audi masih diam tak menjawab. Meski pertanyaan yang mamanya lontarkan belum pernah sama sekali ditanyakan oleh siapa pun selama ini.


"Kalau kamu enggak mau jawab juga enggak apa-apa. Itu hak kamu, Sayang. Tapi, satu pesan Mama yang semoga bisa kamu dengar dan renungkan."


Audi mengangkat kepala dan menatap mamanya dengan ekspresi penasaran yang terlihat.


"Jangan membohongi diri sendiri sebelum kamu menyesal nanti."


Audi sangat mengerti maksud perkataan sang mama. Membohongi yang dimaksud adalah mengenai perasaannya kepada Darren. Audi tahu kalau sang mama pasti menyangka jika ada rasa cinta yang ia punya untuk suaminya itu.


Tapi, apakah betul? Audi sendiri seperti belum yakin. Atau sebetulnya ia tengah mengingkari hati yang sebenarnya ia malah sudah jatuh terperosok pada pesona dan karisma seorang Darren.


Marissa melihat Audi masih diam. Seperti dugaannya, sang putri memang sudah jatuh cinta pada suaminya sendiri tanpa ia sadari.


"Hallo, selamat pagi menjelang siang!"


Di saat Audi masih diam tak bersuara, juga Marissa yang memilih untuk membiarkan putrinya itu merenungi hati dan perasaannya terhadap sang suami, tiba-tiba muncul seorang gadis yang berpakaian begitu modis dari balik pintu.


"Sasa!"


***