With My EX

With My EX
Bab 32. Pertarungan Segera Dimulai



Benar dugaan Darren, Sasa terlihat marah pada Audi karena hanya datang seorang diri saat kembali ke rumah sakit.


"Mbak enggak datang sama Mas Darren?" tanya gadis dua puluh tahun itu dengan tatapan sinis dan kesal.


"Kamu lihat sendiri, enggak ada Darren di belakangku."


Tak perlu Audi jelaskan, Sasa sendiri bisa lihat kalau lelaki itu tidak ada bersamanya. Tapi, yang ingin ia tahu adalah kenapa Darren tidak ikut mengunjungi Marissa. Bukankah kemarin pengusaha itu datang bersama istrinya?


"Apa Mbak yang larang Mas Darren buat ke sini?" tanya Sasa penuh selidik.


"Dih! Buat apa aku larang-larang? Darren itu jauh usianya di atas aku, masa iya dia nurut sama aku yang masih muda ini. Kalo dia mau datang, enggak usah aku larang juga tinggal datang. Aneh deh!"


Audi jelas berbohong karena pada kenyataannya memang ia yang melarang dan mencegah suaminya itu ke rumah sakit. Selain karena memang ia yang tak mau jika Darren sampai meninggalkan kantor hanya untuk urusan sepele, selain itu ia juga memang tak ingin bila sang suami bertemu dengan Sasa, sepupunya.


Kata cemburu yang Darren tuduhkan tidak sepenuhnya benar, tetapi Audi memang tidak suka bila Sasa genit terhadap Darren. Sikapnya yang menurut Audi alay, generasi Z kekinian, membuat Audi gerah bila melihat sentuhan-sentuhan tubuh yang Sasa lakukan terhadap Darren, yang jelas usianya setinggi pohon Redwood, begitu jauh menjulang.


Ucapan gadis kuliahan itu seolah tak pantas bila bersanding dengan Darren. Sasa seperti tidak mengerti atau paham kondisi. Ia hanya merasa jika Darren adalah sepupu iparnya, bukan om-om atau bapak-bapak yang harus ia hormati, baik dari ucapan atau perilaku.


"Aku yakin Mbak Audi yang larang!" seru Sasa yang kemudian memilih untuk pamit pada Marissa, sang tante.


"Makasih, yah, Sasa. Maaf udah ngerepotin."


"Enggak kok, Tante. Santai aja sama aku. Cuma lain kali ajak Mas Darren juga dong, Tan. Atau pas weekend gitu! 'Kan Mas Darren libur yah kerjanya."


"Iya, iya. Nanti Tante kasih tahu kamu kalau ada Darren ke sini. Tapi, memangnya kamu enggak mau do'ain Tante biar cepet pulang dibanding harus terus nginep di sini?"


"Hehe," sahut Sasa sembari cengengesan.


Hal itu membuat Audi kesal sebab gadis itu hanya mau tertawa dan mengobrol santai dengan mamanya saja.


"Enggak kok, Tante. Sasa do'ain biar Tante Marissa cepet pulih biar bisa segera pulang. Ini bukan karena Sasa enggak mau nemenin Tante di sini, yah? Tapi, ini karena permintaan Tante loh."


"Iya, iya. Tante ngerti."


Sasa kemudian mencium tangan Marissa.


"Ya udah, Sasa pergi ke kampus dulu yah, Tan. Udah telat nih!"


"Iya, sekali lagi makasih, yah!"


"Ok, Tante."


Gadis itu kemudian berbalik dan menatap Audi yang sejak tadi hanya diam memperhatikan obrolannya dengan sang tante.


"Pergi dulu, yah, Mbak. Lain kalo mau aku ke sini, kasih hadiah dengan kedatangan Mas Darren dong!" ucapnya begitu santai.


"Tau ah!" sahut Audi yang kemudian menuntun sepupunya itu supaya segera keluar ruangan.


"Ih, enggak ada terima kasihnya udah ditolongin juga," ucap Sasa kesal.


"Kan tadi udah sama Mama."


"Beda tahu!" sahut Sasa nyolot.


"Udah, ah, sana! Nanti kamu makin telat."


Audi benar-benar mendorong tubuh saudaranya itu sampai keluar. Hanya menggeleng ketika melihat sang sepupu menunjukkan tiga jari ke arahnya.


"Dasar!" sungut Audi, tersenyum meski sangat kesal akan tingkah Sasa barusan.


Perempuan itu kemudian menutup pintu ruang perawatan dan berjalan menghampiri ibunya.


"Udah ada kabar terbaru dari dokter, Mah?"


"Belum. Belum ada kabar yang lain selain kabar yang dokter jaga pagi tadi."


"Oh. Terus, apa Mama udah makan dan minum obatnya?" tanya Audi seraya melihat meja kosong di sebelah ranjang sang mama.


"Udah. Udah semua. Sasa yang bantu Mama tadi."


"Jadi, sekarang tinggal istirahat tidur bukan?"


Audi sudah bersiap akan menarik selimut demi menutupi tubuh ibunya itu.


"Tapi, Mama belum ngantuk, Di."


Audi kini tersenyum menatap sang mama. Ia lalu memilih duduk dan menggenggam tangan wanita paruh baya di dekatnya itu.


"Kalo Mama mau cepat sehat dan pulih, Mama harus banyak-banyak istirahat."


"Mama udah kebanyakan istirahat dari pagi. Tuh, buktinya Mama diam aja di atas ranjang ini enggak ke mana-mana."


"Beda dong, Mah. Ini 'kan tidur. Jangan 'kan orang sakit, orang yang sehat aja disarankan untuk istirahat tidur minimal satu jam di siang hari."


"Iya, Mama tahu. Tapi, kalo enggak ngantuk gimana dong! Masa mau dipaksa, 'kan susah."


"Hem!" Audi terdengar menghela napas. "Ya udah, kalo gitu Mama mau apa sekarang? Mau Audi temenin ngobrol? Apa sama Sasa tadi Mama enggak diajak ngobrol sebenarnya?"


"Sasa kok enggak ajak ngobrol, enggak mungkin banget 'kan?"


"Ya makanya itu. Audi tahu Sasa bukan tipe orang yang pendiam. Jadi, Audi yakin banget kalo Mama udah pusing dengerin dia ngoceh sepanjang pagi sampai siang tadi," ucap Audi terkekeh.


"Iya, kamu tahu aja. Ya udah, Mama usahain tidur kalo gitu. Kamu, mau istirahat juga?"


"Audi akan duduk nemenin Mama di sofa sana. Kalo nungguin Bagas atau papa kelamaan, nanti juga Audi tidur sendiri."


Marissa tampak tersenyum menanggapi ucapan putri sulungnya itu. Ia lantas menarik selimut yang Audi tarik, dan mencoba memejamkan mata.


"Bangunin Mama kalo papa kamu udah datang."


"Iya."


Audi kemudian beranjak bangun dan meninggalkan sang mama tertidur. Ia sendiri memilih untuk tiduran di sofa panjang dengan kepala menatap ranjang di mana ibunya berbaring.


'Ah, nyaman sekali. Sungguh laki-laki itu memang betul-betul memberikan semua yang terbaik,' gumam Audi.


Sedetik kemudian ia teringat sesuatu. "Tunggu! Semua yang lelaki itu berikan tidak gratis. Rumah sakit ini aku bayar dari uang yang dia berikan dengan imbalan setahun tidur bersamanya?" ucap Audi pelan.


"Iya, betul. Mana mau rugi seorang pengusaha sepertinya. Apapun akan ia lakukan demi uang. Miris sekali! Dan sialnya aku harus terjebak dalam kehidupan si lelaki miris tersebut."


Audi terus mengoceh dalam hati. Semua yang ia rasakan mengenai Darren, suaminya, seolah tak henti berputar di kepala. Tak ada yang terlewat satu kejadian pun sampai ia akhirnya lelah sendiri, lalu tertidur beberapa waktu kemudian. Menyusul sang ibu yang ternyata sudah lebih dulu mengeluarkan dengkuran halus dalam tidurnya.


Tidur yang lumayan bagi perempuan itu, sebab ia sampai tak sadarkan diri ketika Darren datang dan duduk di depan sofanya.


"Ka-kamu ngapain ke sini?" tanya Audi masih berusaha mengerjapkan matanya yang sepat karena terlelap.


Di ruangan itu sudah ada juga sang papa yang duduk sembari mengobrol dengan mamanya.


"Aku mau menjemputmu pulang."


"Aku 'kan bawa mobil sendiri dari rumah. Emang kamu lupa?"


Darren tersenyum menatap istrinya yang kini perlahan bangun dan merentangkan kedua tangannya ke samping kanan dan kiri. Tak ketinggalan ia juga menguap dengan telapak tangan yang tak lupa menyembunyikan aroma tak sedap yang pasti keluar dari mulutnya.


"Aku jelas tidak lupa. Zain bisa membawa mobil yang kamu bawa dan kamu naik ke mobilku."


"Hem, ribet banget. Padahal kamu enggak usah repot kaya gitu."


"Aku tidak merasa direpotkan. Bukankah sesuatu yang seru akan segera tiba dan itu membutuhkan effort luar biasa?"


Ucapan Darren seketika membuat Audi membeku.


'Tuhan! Ia ternyata ingat permainan kita siang tadi!' pekik Audi dalam hati, yang langsung Darren respon dengan senyum mengerikan di bibirnya seolah berkata, 'Aku tidak mungkin lupa, Honey!'


***