
Makan siang di kantor Darren terjadi dalam diam. Hanya suara dari mulut pasangan suami istri yang mengunyah makanan ala Western siang itu. Tak ada yang bicara, bahkan untuk sekedar menawarkan makanan setelah masing-masing piring habis, tak jua keduanya lakukan. Sampai akhirnya sebuah panggilan berasal dari ponsel Audi berdering, membuat dua orang itu saling menatap.
Audi lalu mengelap tangan dengan napkin sebelum mengambil ponsel dari dalam tas. Sebuah nama terpampang di layar ketika ia sudah memegang ponsel dengan logo apel tergigit -ponsel baru yang Darren berikan sebagai hadiah pernikahan mereka yang kedua.
"Siapa?" tanya Darren akhirnya membuka suara.
Audi menengok dan melihat ekspresi Darren yang penasaran. Jangan lupakan aura-nya yang dingin sedingin es di pegunungan Himalaya, lelaki itu sama sekali tidak tersenyum meski Audi memberi senyum meledek.
"Papa."
Satu nama Audi sebut yang seketika membuat Darren berpaling seolah lega.
"Iya, hallo, Pah!" sapa Audi yang juga memalingkan wajahnya menatap ke arah lain. Sebelumnya ia mencebik pada Darren setelah ia menyebut nama sang papa padanya.
'Kamu balik lagi ke rumah sakit enggak, Di?'
"Kenapa gitu, Pah? Memangnya Papa belum selesai urusan di kantor?"
'Belum, Di. Kayanya Papa sampai sore. Beberapa masalah masih ada yang harus Papa urus.'
"Oh gitu. Ehm, gimana yah, Pah. Sebenarnya Darren cuma kasih aku izin jenguk pagi sampai siang aja," ucap Audi sembari melirik pada Darren, yang sialnya malah terlihat cuek seperti tidak mendengar namanya disebut dalam percakapannya bersama sang papa.
'Oh. Ya udah, coba kamu kontek Bagas. Barangkali dia udah selesai ujiannya.'
"Ya udah, nanti Audi coba hubungi Bagas kalo gitu." Audi menjawab sedikit kesal. Sebenarnya ia tahu kalau Bagas tidak bisa meninggalkan kampus secepat itu.
'Ok, Di. Papa tutup dulu, yah. Nanti kamu kabari Papa kalo Bagas bisa dihubungi.'
"Iya, Pah."
Audi menyudahi panggilannya dengan Kevin. Ia kemudian mencoba men-scroll list kontak untuk mencari nama Bagas di sana.
"Ada apa?" tanya Darren saat Audi sudah akan menekan tombol panggil pada kontak bernama 'adik luknut'.
"Papa enggak bisa balik cepat karena masih ada urusan di kantor. Sedangkan mama enggak ada yang jaga dari siang sampai papa pulang nanti," jawab Audi sembari menempelkan ponsel di telinganya.
"Bukannya ada Sasa? Kamu minta dia datang 'kan?"
"Iya, tapi Sasa bilang jam dua harus pergi. Katanya ada urusan di kampusnya juga," sahut Audi yang terlihat menarik ponsel dari telinga karena panggilannya tak kunjung diterima oleh Bagas.
"Ya udah, kamu aja yang nemenin Mama Marissa."
Seketika Audi terdiam ketika untuk kedua kalinya ia menempelkan ponsel ke telinga.
"Bukannya kemarin kamu enggak izinin?" tanya perempuan itu masih menunggu panggilannya diangkat.
"Ya ... situasi sekarang menurutku darurat. Kalau semua enggak ada yang bisa kembali ke rumah sakit, siapa yang akan menunggu Mama kamu."
Audi menarik kembali ponselnya. Bagas sepertinya benar-benar sibuk sampai tak sempat mengangkat panggilan darinya.
"Ya sudah kalo memang kamu izinin. Aku yang akan nemenin mama sampai papa atau Bagas balik."
Audi sudah akan beranjak bangun ketika Darren juga ikut berdiri.
"Kamu mau ngapain?" tanya Audi heran.
"Ya, nemenin kamu di rumah sakit. Apalagi?"
"Eh, enggak, enggak. Buat apa?"
"Buat apa? Ya nemenin."
Audi terlihat mendorong suaminya supaya kembali duduk.
"Kamu ini kenapa sih? Aneh." Darren menatap istrinya bingung.
"Biar aku aja yang nemenin mama, enggak perlu ditemenin sama kamu. Lagian, ini baru jam berapa kok malah mau ninggalin kantor." Audi tampak protes, yang membuat Darren tersenyum.
"Kenapa senyum-senyum? Enggak ada yang lucu tahu!"
"Apakah kamu masih cemburu sama Sasa?"
"Hah! Apa? Cemburu sama Sasa?"
"Hem!" jawab Darren mengangguk.
"Mana ada. Sasa kok dicemburuin. Enggak banget." Audi terlihat komat kamit seolah sedang membicarakan sifat sepupunya itu.
"Kalo gitu, kenapa kamu enggak izinin aku ke rumah sakit? Itu karena kamu enggak mau aku ketemu sama Sasa 'kan?"
"Ih, apaan sih! Tebakan kamu itu salah. Ini enggak ada hubungannya sama Sasa atau masalah cemburu-cemburuan. Kamu masih harus kerja demi perusahaan kamu ini. Jangan mentang-mentang bos, terus kamu seenaknya aja gitu?"
"Loh, kenapa enggak? Aku CEO di sini, saham terbesar perusahaan ini juga aku yang pegang. Sesekali izin demi menjaga mertua, bukan sebuah dosa."
Audi berekspresi meledek saat Darren berkata demikian.
"Papa juga sama. Merasa yang memegang perusahaan sampai akhirnya dikhianati orang kepercayaannya sendiri dan kemudian bangkrut. Apakah kamu mau nasib kamu kaya gitu?"
Darren terdiam saat melihat keseriusan dalam perkataan istrinya barusan. Hingga ia kemudian berkata, "Apa aku harus menyampaikan ucapan kamu ke Zain?"
Audi mengerjap kedua mata seolah tak mengerti maksud ucapan suaminya itu.
"Apa maksud kamu, kenapa Mas Zain dibawa-bawa?"
Darren kembali berdiri, lalu menghadap Audi seraya menarik tubuh wanita itu ke dalam pelukannya.
"Eh!"
"Zain adalah satu-satunya orang kepercayaan aku sejak kedua orang tuaku masih hidup. Ucapan kamu tadi tentang perusahaan yang orang tua kamu pegang, jelas akan membawa nama Zain sebagai anak buahku."
Audi melengos ketika Darren menyampaikan satu fakta yang ia lupa.
"Tidak begitu maksud yang ingin aku sampaikan. Intinya aku enggak mau kamu selalu pergi nemenin aku. Fokus saja sama kerjaan kamu, dan aku akan fokus sama apa yang aku lakukan."
"Tapi, aku tidak mau seperti itu. Apapun yang kamu lakukan pastinya harus melewati aku terlebih dahulu."
"Selama ini pun begitu."
Audi membalas tatapan Darren padanya. Ia yang mungkin saja akan kalah dalam beradu pandang, mencoba menelusuri makna dari ekspresi kedua mata suaminya itu.
"Baiklah, kali ini aku tak akan menemani kamu ke rumah sakit. Biar gadis itu marah padamu karena tidak berhasil membawa aku ke sana."
"Eh, bagaimana kamu tahu kalo Sasa minta aku buat bawa kamu?" Audi menatap seram suaminya.
Namun, balasan Darren justru malah tertawa hingga tanpa sadar ada setetes air mata jatuh di sudut mata elangnya.
"Aku tahu karena sepupu kamu itu sudah menyukai aku sejak dulu. Jadi, bukan hal aneh kalo aku tahu apa permintaannya padamu sebelum meninggalkan rumah sakit tadi. Ia pasti sangat berharap akan kedatanganku di sana, yang sayangnya mendapat penolakan dari sepupu tercinta," ucap Darren menyindir Audi.
"Itu bukan urusanku!" seru Audi yang kemudian berusaha melepaskan diri dari rengkuhan Darren padanya.
Namun, aksi itu tak berhasil karena lelaki itu kembali menarik tangan istrinya, lalu mendaratkan ciuman tanpa aba-aba.
"Darr ...!" gumam Audi dalam bungkaman mulut Darren padanya.
Hingga sebuah ketukan di pintu membuat ciuman itu terlepas menyisakan tatapan tajam dari sang wanita.
"Kamu akan merusak penampilanku kalo terus menciumku seperti tadi!" protes Audi kesal.
Tapi, Darren malah tersenyum menggoda sembari berkata, "Sayangnya ciuman itu paling aku sukai."
Audi membalas tatapan Darren yang tampak sekali ingin menerjangnya. Tak peduli di mana dan kapan pun, tatapan memangsa sudah terlihat di wajahnya sekarang.
"Kamu harus menepati janji!" seru Audi mencoba melarikan diri seiring suara ketukan di pintu untuk kedua kalinya.
"Tentu saja. Pastikan dirimu tidak lelah saat kita memulai nanti!" sindir Darren kemudian menyuruh orang di luar masuk.
***