With My EX

With My EX
Bab 21. Makan Malam Pertama



Makan malam pertama setelah dua tahun meninggalkan rumah megah milik Darren, Audi merasa sedikit canggung. Menu istimewa yang nyatanya adalah makanan kesukaannya, sudah tersaji di atas meja. Begitu banyak sehingga Audi berpikir kalau ia dan Darren tak akan habis jika dipaksa untuk menghabiskan semua makanan tersebut.


"Kenapa diam? Ayo dimakan!" ucap Darren saat melihat sang istri hanya diam dan malah memandangi saja makanan yang ada di depan mereka.


"Eh, Darren, apakah ini tidak terlalu berlebihan? Makanan ini terlalu banyak." Audi akhirnya menyampaikan protesnya.


Namun, respon Darren malah terlihat aneh. Lelaki itu justru tersenyum ketika Audi menyampaikan hal yang tidak disukai.


"Jadi, dari tadi kamu diam hanya karena melihat makanan yang sangat banyak ini?"


"Hem, menurut kamu?"


Darren tampak menggeleng. Ia sungguh heran atas sikap Audi yang menurutnya tak pernah berubah. Selalu mempermasalahkan hal yang menurut Darren adalah sesuatu yang kecil.


"Kalau kamu memikirkan bagaimana nasib makanan ini seandainya kita tidak mampu menghabiskan semua, kamu tak perlu khawatir, pekerja di rumah ini sangat banyak. Mereka bisa menikmati semua makanan yang kita makan sebagai tanda kembalinya kamu ke rumah ini sebagai nyonya Darren."


Sontak saja semua pelayan yang berdiri di belakang kursi makan, terkaget atas berita yang Darren sampaikan.


Hal yang sangat wajar. Karena setelah sekian lama rumah mewah itu sepi tak berpenghuni paska perginya Audi sebab memutuskan untuk berpisah dengan sang tuan, kini setidaknya bertambah satu orang personil yang akan membuat sepinya rumah tersebut dengan keceriaan yang Audi miliki.


Mereka yang sejak awal merasa aneh sebab kehadiran Audi di rumah itu, kini bisa menarik napas lega karena rasa penasaran mereka sudah terbayarkan dengan kabar yang tuan mereka bawa.


Audi dan Darren kembali menjadi pasangan suami istri. Begitu kata hati semua pekerja yang berdiri menemani dua majikan mereka makan.


"Kamu memberi mereka makan sisa? Jahat sekali." Tiba-tiba Audi berkomentar.


"Jangan memancingku, Audi. Kita sedang di meja makan dengan banyak pelayan dan pengawal di dekat kita. Apakah kamu mau kejadian tiga tahun lalu terjadi lagi sekarang?"


Seketika Audi membeku saat Darren mengingatkan dirinya akan satu malam di mana ia dan suaminya tersebut bercinta di atas meja makan.


Saat itu Darren baru pulang dari kantor sampai larut malam. Audi yang sedang mencari makanan di dapur kaget ketika suaminya tiba-tiba memeluk ia dari arah belakang.


Darren yang penat dan lelah bekerja, seperti menemukan semangatnya kembali setelah melihat sosok Audi berdiri di meja makan dengan gaun tidurnya yang tipis dan menggoda. Bersyukur saat itu Zain tidak turun dan memutuskan untuk langsung pulang. Kalau tidak, kesialan bagi Audi karena penampilannya yang seksi juga dilihat oleh orang lain selain suaminya.


"Jangan mengingatkan aku atas sesuatu yang memalukan." Audi tampak terlihat malu. Ia memalingkan wajahnya supaya Darren tidak terus menatap ke arahnya.


Namun, Darren malah tergelak tertawa. Lelaki itu yang sebelumnya duduk berseberangan dengan sang istri, kini beranjak bangun dan memilih untuk duduk di sebelah perempuan itu.


"Kamu yang memancingku, jadi jangan salahkan aku kalau aku mengingatkan kamu atas sesuatu yang ada hubungannya dengan apa yang kamu bicarakan."


"Aku cuma tanya, apakah kamu tega memberi mereka makanan sisa? Kenapa jadi melebar ke mana-mana."


Darren terlihat mengulurkan tangannya, lalu membelai pipi Audi perlahan.


"Apakah kamu lupa, apa yang para pelayan hidangkan pastinya sama dengan makanan yang mereka siapkan di belakang. Jadi, tanpa kamu mengatakan bahwa ini akan menjadi sisa, mereka sudah menyisihkan makanan yang juga sisa dari kepantasan hidangan yang disajikan."


Darren sudah membuat bulu kuduk Audi meremang meski hanya dengan sebuah usapan lembut di kedua pipinya. Hingga membuat perempuan itu pun menghindar dengan memalingkan wajah.


"Ya, sudahlah. Baik, baik. Aku yang salah. Jadi, dari pada kita membicarakan hal yang enggak penting, lebih baik sekarang kita makan."


Audi segera mengambil nasi dan meletakkannya di atas sebuah piring. Hal yang tak pernah berubah, ia mengutamakan suaminya terlebih dahulu.


"Kamu mau makan sayur apa?"


Dengan senyum yang tersungging di bibirnya, Darren pun menjawab.


"Capcay."


"Lauknya?"


Kali ini Darren diam. Tatapannya sudah tidak lagi ke arah meja makan, tetapi menatap Audi sehingga membuat istrinya itu bereaksi salah tingkah.


"Kamu tahu apa yang aku suka. Jadi, aku akan makan lauk yang kamu ambilkan untukku."


Meski terdengar romantis, tetapi bagi Audi apa yang Darren katakan tak ubahnya sebagai sebuah percakapan basa basi atau sikap sok mesra yang ingin lelaki itu tunjukkan di depan banyak pelayan.


Audi menilai bahwa apa yang Darren lakukan hanya sebuah ajang pamer bahwa dirinya tidaklah sedingin apa yang orang lain lihat. Meski kenyataan yang Audi tahu memang begitu orangnya.


Audi pun mengambil lauk yang selama ini ia tahu adalah masakan favorit suaminya itu. Tak banyak bertanya, lalu diberikan piring yang sudah penuh dengan nasi beserta lauknya kepada Darren.


"Terima kasih."


Waw! Sepertinya Audi kaget begitu mendengar ucapan terima kasih yang Darren ucapkan.


Ketika ia hendak bertanya, lelaki itu sudah terlihat menyantap makanan. Seolah ia tidak melakukan kesalahan apapun yang membuat istrinya heran.


'Dia mengatakan apa tadi? Terima kasih? Sungguh hal yang sangat jarang terjadi,' batin Audi yang kini sudah fokus mengambil makanan untuk dirinya sendiri.


"Ngomong-ngomong, apakah besok aku boleh menemui mama?" Audi yang ingin menemani sang mama selama mendapatkan perawatan di rumah sakit, meminta izin pada Darren sebelum ia mendapat kemarahan lelaki itu karena bersikap kurang ajar dengan melangkahinya tanpa bicara.


"Ehm, ya. Setelah aku pergi ke kantor maksimal sampai jam makan siang."


"Apakah enggak boleh sampai sore?" Audi tampak merayu.


"Aku pulang cepat dan aku tidak mau ketika sampai rumah tidak ada istriku yang menyambut."


"Sebelum kamu sampai rumah, aku sudah akan berada di sini. Aku janji!"


Kali ini sepertinya Darren tidak setuju meski ia sudah berjanji pada dirinya sendiri, untuk mengubah sifat posesif-nya dulu kalau mau mempertahan hubungan pernikahan yang dibangun di atas surat kerja sama.


"Kita ini masih menikmati momen pengantin baru. Jelas aku mau ketika aku pulang sampai rumah, kamu sudah siap dengan penampilan terbaikmu, dan bukan masih berada di kamar mandi membersihkan diri."


'Apa maksudnya?' Audi membatin dalam hati.


"Kamu tahu maksudku tanpa harus aku jelaskan lebih detail," ucap Darren seolah tahu pertanyaan di dalam benak Audi.


Lelaki itu nyatanya tetap santai dengan posisinya menikmati santap makan malam tanpa menoleh sedikit pun ketika merespon tadi.


'Sial sekali. Kenapa aku merasa kalau ia semakin mesum sekarang.'


***