
Audi masih diam ketika Darren berbalik dan melangkah mendekatinya. Bahkan, ia sepertinya kehilangan kekuatan ketika Darren kembali duduk dan menarik tubuh ke arahnya.
"Dar-Darren, kita bisa makan siang sekarang?" Audi mencoba untuk melarikan diri lagi meski saat ini sudah tak ada siapa pun di dekat mereka.
"Kenapa terburu-buru? Bukankah sekarang baru jam dua belas. Zain juga baru akan siapkan makanannya." Darren berkata sembari menjulurkan tangan demi menyentuh wajah Audi.
Desiran di hati Audi kembali hadir saat tangan kokoh milik Darren berhasil menyentuh, lalu membelainya begitu lembut.
"Iya, tapi kita bisa segera bukan?" tanya Audi mencoba memalingkan wajah perlahan supaya tangan Darren terlepas dari wajahnya.
Namun, hal itu sama sekali tidak berhasil karena Darren sudah bersiap dengan tangan satunya lagi.
"Kamu tahu, aku bahagia sekali hari ini."
Perlahan Audi menatap Darren. "Kenapa?"
Senyum lelaki itu sungguh bisa membuat Audi jatuh pingsan sekarang. Jujur saja, baru kali ini Audi merasa jika senyum yang Darren berikan tampak lain menurutnya.
"Karena aku bisa melihat sesuatu yang lain di dirimu."
"Apa itu?"
Darren kemudian menarik Audi agar duduk di atas pangkuannya.
"Darren, tidak perlu seperti ini. Aku bisa duduk di, ah ...!"
Darren rupanya sudah membuat Audi terdiam dengan mengecup leher wanita itu. Kaget adalah respon Audi sebab tidak menduga bila Darren akan melakukan hal itu saat ia sendiri belum benar duduk di atas paha suaminya.
"Aku suka kamu di sini. Entahlah, tapi ini posisi favorit-ku."
"Kenapa?"
"Ehm, ku pikir lebih mudah saja."
Audi mengerutkan kedua alis. 'Lebih mudah apa?'
"Seperti ini?" ucap Darren yang kembali mendekatkan bibir ke sisi wajah Audi. Lalu, mengendus perlahan hingga menuju leher jenjang wanita yang sudah membuat keperkasaannya terbangun tiba-tiba.
"Darren, jangan begini. Bagaimana kalau Mas Zain datang?"
"Kamu pikir aku peduli?"
"Tapi, aku peduli."
"Kamu peduli atau malu?"
"Keduanya," sahut Audi dengan suara serak setelah berusaha menormalkan intonasi suara di saat raganya terperangkap dalam cumbuan Darren.
Darren kemudian menjauh. Ia yang sudah memerah karena gairah yang sudah memenuhi jiwa, mencoba merayu dengan ajakan lain.
"Mungkin kita bisa melakukan appetizer sebelum main course."
Audi tidak menjawab. Ia masih belum sadar maksud perkataan suaminya itu sampai sebuah kalimat lain terlontar, langsung pada intinya.
"Kamu tahu, aku sudah tidak tahan, Honey," bisik Darren membuat Audi bergetar malu.
"Apakah tidak bisa kamu menahan?"
"Kenapa? Kenapa kamu memintaku untuk menahan sesuatu yang amat penting?"
Seolah ingin mengimbangi permainan Darren, Audi lantas memegang kedua sisi wajah Darren supaya bisa menatapnya.
Senyum tipis tersungging di bibir Darren begitu ia mendengar nama Sisi, sepupu Audi tersebut.
"Apakah kamu sedang cemburu? Kamu cemburu pada Sofi juga Sasa?"
"Ini bukan soal cemburu, tetapi bisakah kamu menahan milikmu ini dengan tidak melulu melakukannya setiap saat?"
Terdengar tawa Darren saat mendengar istrinya membicarakan hal sensitif. Audi tak pernah melakukan hal itu.
"Jadi, aku salah karena sudah menilai bahwa kamu cemburu pada Sofi?"
"Sekali lagi, aku bukan cemburu. Tapi, aku tak mau lagi harga diriku diinjak-injak olehnya. Kalau ia memang menginginkanmu, bukan saat aku masih menjadi istrimu. Tapi, ambil saja di waktu yang tepat. Ya ... itu pun tergantung padamu, apakah kamu mau dengannya," bisik Audi lalu memberikan kecupan lembut di telinga Darren, membuat lelaki itu mendesis kaget.
"Jangan main-main denganku, Di. Kamu tahu kalau aku sedang ingin," geram Darren saat merespon kecupan yang Audi berikan.
Tapi, wanita itu justru malah tersenyum menggoda. Bahkan, tak segan ia menempelkan dadanya pada dada bidang Darren.
"Bukankah kamu ahlinya, ehm?" tanya Audi tersenyum melirik kedua mata Darren yang menatapnya tajam, dan kedua tangan mengusap dada bidang berbalut kemeja dan jas di depannya.
"Sadarkah kalau aku tak pernah bermain-main selama ini? Aku selalu menyelesaikan semua misi kalau saja tidak ada pengkhianatan yang kamu lakukan," lanjutnya yang kini berpindah mengusap wajah Darren.
Sebetulnya Audi meleleh saat harus beradu pandang. Tapi, -seperti halnya Darren yang sedang menahan godaan Audi, wanita itu pun melakukan hal yang sama.
Audi benar-benar gila. Ia tak sadar apa yang sedang ia lakukan terhadap suaminya sekarang. Geraman yang masih keluar dari mulut Darren, seolah tidak ia pedulikan. Bahkan, ia dengan sengaja kembali menggoda dengan memegang milik suaminya yang sudah mengeras.
"Kamu tahu apa akibat ulahmu sekarang, Di?"
"Ehm, mungkin aku tahu. Tapi, aku hanya sedang menantangmu, apakah kamu sanggup untuk tidak membalas apa yang tengah aku lakukan sekarang."
"Bagaimana kalau aku sanggup? Apa reward yang akan kamu berikan padaku?"
Sejenak Audi diam tidak langsung menjawab pertanyaan yang Darren ajukan. Tapi, sedetik kemudian senyum di bibirnya kembali hadir bersamaan dengan ekspresi meledek yang tampak di wajahnya.
Perlahan Audi mendekatkan bibirnya, lalu berbisik di telinga Darren. "Lakukan apa yang ingin kamu lakukan pada tubuhku malam nanti. Aku akan menjadi tawananmu dan tak akan mencoba melepaskan diri meski pun aku ingin."
Seringai tipis muncul di bibir Darren, gantian. "Dengan alat, apakah kamu berani?"
"Tentu. Apapun yang kamu mau, silakan. Tapi, itu kalau kamu berhasil bertahan sampai aku selesai dengan ini," ucap Audi seraya meremas milik Darren yang terasa menegang.
Hal itu membuat Darren melenguh dan mendesis secara bersamaan. Ia memejam dramatis, lalu membuka dan menatap tajam ke arah Audi yang malah tersenyum mengejeknya.
Entah kegilaan apa yang tengah wanita itu pikirkan sampai-sampai ia menantang seorang Darren, yang jelas tak akan pernah mau kalah dalam kompetisi apapun.
"Kamu akan menyesal karena sudah menantang aku, Di."
"Benarkah? Lalu bagaimana dengan ini?" tanya Audi yang perlahan sudah menurunkan resleting celana Darren, dan mengeluarkan sesuatu dari sana tanpa melihatnya, membuat Darren kesal karena merasa dilecehkan.
"Benar-benar akan menyesal. Aku tak akan melepaskan kamu malam nanti, Di." Darren berkata dengan sekuat tenaga. Ia yang tengah kepayahan karena aksi Audi di miliknya, mencoba mengancam.
Darren ingin menyerah sebenarnya ketika Audi masih enggan menyudahi. Kegilaan yang sudah istrinya buat, benar-benar menguji kesabarannya.
Namun, pertahanannya berhasil ia jaga sampai ketukan di pintu terdengar. Audi pun menarik tangannya perlahan. Ia tahu, Zain datang untuk mengabari jika makan siang sudah siap.
Sinis Darren menatap wajah Audi yang cemas sebab kehadiran Zain. Kesempatan itu Darren ambil dengan mencium bibir istrinya di depan sang asisten. Meski Darren tahu kalau Zain tak akan pernah mau menonton aksi mesumnya, tapi tetap ia lakukan.
Mendapat penolakan dari tangan Audi, hal itu tak membuat Darren berhenti. Ia malah menambah tempo hingga tak ada lagi gerakan melawan yang istrinya berikan.
'Ini baru ciuman, Honey. Kamu akan tahu pembalasan apa yang akan aku lakukan nanti malam,' batin Darren masih ******* lembut bibir Audi yang ia pastikan akan menebal sekian mili.
***