
Baju tidur yang Audi kenakan setelah makan malam usai, nyatanya malah membuat Darren terpaku sebab warna merah maroon telah memaksa jantungnya berdetak hebat. Istrinya seperti sengaja membuatnya tergoda dan menantangnya agar bermain liar malam itu.
Darren sudah menyiapkan sebuah tali pita berwarna hitam yang akan ia gunakan sebagai alat bantunya demi melampiaskan hasrat yang tertunda siang tadi.
Audi jelas melihat. Tapi, sepertinya ia sama sekali tidak terpengaruh apalagi kaget. Sebab ia merasa jika pita hitam itu pernah juga Darren gunakan di malam-malam tertentu saat pernikahan mereka terdahulu.
"Apakah sudah siap?" tanya Darren sudah berdiri di depan Audi yang tengah duduk di ujung ranjang.
Lelaki itu amat bersusah payah menenangkan pikirannya yang sudah sangat ingin menerjang tubuh sang istri tanpa perlu adanya basa-basi.
Bukan hanya penampilan Audi saja yang menganggu pikiran Darren, ternyata yang wanita itu pikirkan saat ini juga, yakni kegagahan tubuh suaminya yang saat ini sudah bertelanjang dada, hanya menyisakan celana piyama yang menutupi kedua kakinya yang panjang.
Audi sampai kesusahan menelan saliva ketika dada bidang nan atletis itu berada tepat di depan wajahnya, begitu dekat.
"Bukankah aku memang harus siap?"
Benar-benar menantang. Begitu batin Darren bicara saat mendengar jawaban yakin dan penuh ketegasan, yang meluncur lancar dari mulut istrinya.
"Ok, sekarang mundurlah! Kamu tahu apa yang harus kamu lakukan bukan?" Darren menatap Audi dengan tatapan sensual. Membuat sosok sang istri harus memalingkan wajahnya untuk ke sekian kali.
Tanpa perlu banyak bicara, Audi bergerak mundur dengan menyeret tubuhnya ke belakang. Sesuai arahan, yang lagi-lagi ia sangat hafal niat dan rencana Darren, pun ia lakukan dengan baik.
"Begini?" tanya Audi sembari merentangkan kedua tangan ke kanan dan kiri tempat tidur.
Namun, anehnya dugaan Audi keliru. "Bukan. Bukan seperti itu." Darren berkata sambil menggeleng.
Entah apa yang sebenarnya lelaki itu rencanakan, untuk kali ini Audi taluk.
"Apa yang harus aku lakukan?"
"Satu saja."
"Maksudnya?" Audi bertanya tak mengerti.
"Ya, satu saja tangannya. Seperti ini!" ucap Darren sembari mempraktekan.
Audi hanya diam saja menurut. Baginya, apa yang akan Darren lakukan malam ini, tak ada bedanya dengan malam-malam yang sudah ia lalui di malam sebelumnya. Nyatanya, ia sama sekali tidak tahu jika sudah ada kejutan lain yang belum pernah Darren lakukan ketika beraksi.
"Tunggu dulu!" ucap Darren yang baru akan mengikat pergelangan tangan kiri istrinya itu.
"Ada apa?"
"Ehm, aku lupa ini," ucap Darren terkekeh. Aksi yang lelaki itu lakukan, langsung membuat wajah sang istri memerah seperti gaun tidurnya yang kini sudah terlempar ke lantai.
Beberapa saat kemudian yang Darren lakukan hanya melihat dan menatap tubuh Audi yang tampak seksi di depannya. Begitu menggoda dan membuatnya gila.
"AC-nya akan membuat kulitku mengkerut kalo kamu terus diam seperti itu, Darren."
Sontak Darren pun tergelak tertawa. "Ya, kamu benar sekali, Honey. Tapi, sungguh hanya dengan melihat tubuh kamu saja, aku seperti sudah lupa segalanya."
'Tubuh telanjang maksudmu bukan?' batin Audi seolah tahu makna dari ucapan suaminya tadi. Ingin sekali ia menyindir, tetapi Darren hanya malah akan semakin tertawa senang.
"Kalau begitu, aku akan menaikkan suhu pendinginnya sedikit. Lagipula, kita akan kegerahan juga nantinya bukan?" ujar Darren yang sempat mendapat ekspresi protes dari Audi sebab tujuannya.
Namun, Audi hanya diam saja ketika suhu AC dinaikan ke tiga angka. Meski semakin dingin, tapi Audi yakin pendingin udara itu sama sekali tidak akan berpengaruh saat mereka menggila bersama. Eh, tidak bersama. Audi yakin kalau malam ini hanya Darren yang akan menikmati permainannya sendiri.
Setelah semua ritual Darren selesai, yang mana lampu kamar yang menyisakan lampu tidur saja, lalu tangan Audi yang terikat sebelah kiri saja, kini lelaki itu memposisikan tubuh istrinya menantang ke arahnya.
"Jangan gila, Darren! I-ini malah bikin aku malu," ucap Audi tergagap.
Jangankan mendengar kicauannya, Darren justru terlihat melepas celana piyama dan membiarkan sang istri menikmati miliknya yang masih tertutup meski ketegangan sudah tampak terlihat.
Perlahan Darren mendekat, lalu mengulurkan tangan demi menyentuh wajah cantik Audi.
"Darr, aku tidak harus seperti ini," protes Audi lagi yang masih merasa tidak nyaman dengan posisi duduk yang membuka kakinya lebar.
"Kamu tidak tahu apa yang akan terjadi. Jadi, tunggu saja dan nikmati permainan yang akan aku buat."
"Tapi, Darr ...!"
"Shut!" Darren menempelkan jari telunjuk di bibir Audi. Membuat istrinya harus menahan sesak di dada sebab gelenyar aneh yang mendadak muncul tanpa diminta.
"Cup!"
Sebuah kecupan lembut Darren berikan setelah ia melepas jari dari bibir Audi. Membuat sang empunya kaget dan merespon dengan membelalakkan kedua mata.
Tanpa kata, Darren terlihat menarik laci di sisi tempat tidur setelah tersenyum melihat reaksi Audi barusan. Lalu, sebuah alat kecil yang Audi masih belum tahu apa namanya, lelaki itu ambil dari sana.
Warnanya cantik, yakni merah jambu. Tapi, seketika pikiran Audi mulai tak karuan demi membayangkan alat yang ia tahu apa fungsinya.
"Kamu tidak mengatakan akan menggunakan alat itu, Darr," kata Audi masih dengan mata menatap ke tangan suaminya itu. Ia terlihat begitu panik membayangkan bagaimana malam ini akan ia lewati.
"Ya, tapi kamu setuju kalau aku menggunakan alat di malam ini bukan?"
"I-iya. Tapi ...."
"Aku beri tahu, ini tidak akan membuat kamu terluka."
Ya, Audi tahu itu. Meski ia belum pernah memakai alat tersebut dalam hubungan intim mereka, tetapi ia tahu dari teman-temannya yang pernah menggunakan alat tersebut ketika berhubungan dengan pasangan masing-masing. Meski tidak sakit, tetapi alat tersebut akan membuatnya tersiksa, dalam artian lain, dan Audi tak mau itu.
Darren tidak langsung memakaikan alat itu pada Audi. Ia terlihat meletakkan alat itu di sisinya, lalu menatap sang istri yang terlihat semakin cemas.
"Santai, Di. Kamu tahu 'kan alat ini akan membuat kamu menikmati malam panas kita?"
Audi diam tak komentar. Baginya saat ini, berhubungan tanpa foreplay lebih baik dibanding ia harus mengerang keenakan menikmati permainan sang suami.
Entahlah, wanita itu hanya belum siap jika hubungan pernikahan yang keduanya jalani saat ini berjalan selayaknya pasangan suami istri lainnya. Bagi Audi pernikahan karena perjanjian sebab permintaan Darren, masih terngiang-ngiang di kepalanya.
Ketika Audi masih belum bisa santai, tiba-tiba Darren memberinya stimulasi halus di wajahnya. Lelaki itu mencium kening, pipi, juga bibirnya yang terbuka sebab perasaan khawatir yang masih terasa. Hingga ciuman itu berakhir, area jenjang yang terlihat mulus tanpa bercak, menjadi santapan Darren berikutnya.
Seperti biasanya, Darren selalu senang meninggalkan bercak kemerahan di sana. Tanda yang hanya lelaki itu seorang saja yang berani buat, menjadi bukti jika tubuh Audi memang hanya milik ia seorang.
"Darr," ucap Audi tersengal. Ia selalu kegelian ketika bibir Darren menapak dan menjejak di sana.
Kini Darren sudah menyusuri ke bawah leher, berdiam sekian menit di area favorit seraya memainkan bibir dan tangannya di sana. Aksi yang jelas membuat istrinya menggelinjang tak tahan.
Suara desah sudah pasti mulai memenuhi kamar. Saling menyahut syahdu dengan semilir angin yang memasuki kamar dari jendela yang Darren biarkan terbuka.
Baginya, lantai dua tempat kamarnya berada, tak akan membuat siapapun orang berani mengintip apalagi masuk. Terlebih posisinya yang memang tidak mengarah ke depan rumah atau sisi jalan raya, tidak memungkinkan siapa saja akan dengan lancang mengintip permainan gila yang sedang ia lakukan bersama istrinya.
Audi tampak mendongak ketika Darren kembali menerjang lehernya. Tangan yang terbebas dari tali, ia gunakan untuk menari rambut suaminya itu sebab rasa gila yang sudah melanda.
"Apakah masih belum bisa santai?"
"Darr, mana bisa. I-ini semakin membuatku gila," ucap Audi terengah.
Darren tampak tak peduli, ia kini kembali menikmati dua bongkahan indah yang menantang untuk ia cumbu.
'Darren,' gumam Audi saat rasa geli dan nikmat berkumpul menjadi satu.
Entah apakah ini maksud Darren ketika membiarkan tangan satu Audi terbebas. Yaitu, membiarkan tangan istrinya menjambak atau memegang rambutnya sebab sensasi yang wanita itu rasakan dari cumbuan yang dilakukan.
Darren seperti terpacu sebab penolakan yang Audi berikan di setiap ia menggoda tubuhnya. Sebab ia tahu jika penolakan itu nyatanya sebuah reaksi dari apa yang tubuhnya alami.
Perlahan tapi pasti perut rata Audi menjadi tujuannya, hingga berakhir di ujung pangkal paha lelaki itu pun diam.
"Ini cantik sekali," ucap Darren demi melihat rumput halus yang menutupi lembah berwarna merah muda di baliknya.
Audi mendengar pujian itu. Bahkan, wajahnya sampai memerah saking malunya.
"Kamu selalu merawatnya, Honey. Aku suka."
"Kenapa kamu baru memujinya sekarang, ini bukan permainan pertama kita setelah bertemu lagi bukan?"
"Iya, dan jujur saja setiap aku melihatnya hatiku selalu memuji. Tapi, entah mengapa malam ini aku ingin mengatakannya langsung dari mulutku," ucap Darren kembali membuat Audi terdiam menahan malu.
Sedetik kemudian Darren sudah mengulurkan tangan demi menyentuh lembah di sana. Yang tak lama kemudian melembab dengan sendirinya.
'Darren.' Kembali Audi menggumam. Tangan Darren terlalu ahli tanpa ia ketahui sebelumnya.
"Maafkan aku karena dulu selalu membuatmu sakit hati," ujar Darren tiba-tiba, masih dengan tangan yang tak henti bekerja.
"Maaf untuk apa?" Audi menyahut dengan kesusahan suara dari mulutnya.
"Untuk segalanya. Dari interaksi-ku dengan Sofi yang sudah membuatmu curiga hingga akhirnya meminta cerai, dan terutama dari setiap hubungan intim kita yang selalu membuatmu terluka karena tidak pernah mendapatkan kepuasan."
"A-aku tidak masalah. Bukankah rasa puas yang biasa orang dapatkan karena dasar mencintai dari satu sama lain pasangan."
Audi hanya mampu memejam ketika membalas perkataan Darren karena otaknya masih tidak bisa fokus sebab ada tangan yang masih senang menggoda di bawah sana. Bahkan, ia tidak sampai menyadari reaksi terkejut yang muncul di wajah suaminya akibat kalimat yang diucapkannya barusan.
"Bagaimana kalau kita mencoba menumbuhkan perasaan itu?" tanya Darren yang kali ini berhasil membuat Audi membuka mata. "Aku akan menebus setiap rasa sakit hati yang pernah kamu rasakan dulu."
"Kenapa?" Audi berkata seperti orang bodoh. Ia masih belum paham dengan permintaan Darren yang ingin menumbuhkan perasaan cinta di hati mereka.
"Karena aku ingin," jawab Darren yang kemudian mendekat, lalu mencium bibir Audi penuh kenikmatan.
Aksi Darren seketika membuat Audi lupa akan tangan yang bermain di lembahnya. Ia malah terhanyut pada bibir Darren yang ******* bibirnya begitu lembut dan mesra.
'Tuhan, apakah yang Darren katakan adalah satu kebenaran? Ia tidak main-main dengan ucapannya barusan bukan?' batin Audi yang kini membalas ciuman Darren, membuat lelaki itu sedikit kaget sebab lidah yang membelitnya lembut.
Aksi itu membuat Darren semakin bergairah. Ia jelas tak akan menyia-nyiakan momen indah dan langka tersebut dengan menjadikan ciuman itu menjadi ******* yang akan membuat istrinya ketagihan.
Darren berhasil. Audi seolah tak ingin ciuman itu terlepas begitu saja sebelum napas yang dihirupnya kehabisan pasokan.
"Kamu suka?" tanya Darren setelah menjauhkan bibirnya. Ia melihat warna kemerahan pada wajah Audi dengan titik keringat yang mulai terlihat.
"Suka," jawab Audi asal meski ia tidak tahu kata suka yang suaminya maksud.
"Aku akan membuatmu semakin suka."
Setelah berkata demikian meski Audi sendiri belum paham kemana arahnya, lelaki itu kini menunduk dan melakukan sesuatu setelah menjauhkan tangan dari lembah di bawah sana.
"Darren!" pekik Audi tertahan saat merasa ada tusukan lembut menyentuh miliknya.
Tangannya yang terbebas menggapai kepala Darren yang masih tertunduk. Hanya tampak rambut lebat yang bisa Audi lihat, yang kemudian ia jambak reaksi dari rasa yang menggila di sana.
Tak ada yang mampu Audi katakan selain menyebut nama Darren berkali-kali. Lalu, desah suara yang terus menciptakan simfoni indah keluar dari mulutnya diiringi lenguhan yang terdengar di telinga Darren, membuat awal aksi itu menjadi sesuatu yang akan terus dikenang oleh keduanya.
Darren masih senang menggoda. Melakukan hal yang belum pernah ia lakukan dulu, yang ia yakin akan membuat istrinya tersiksa dalam kenikmatan.
"Darren, hentikan!" pinta Audi ketika Darren masih senang mencumbu miliknya.
Audi mungkin sudah tidak akan sanggup bertahan, tapi Darren malah menyudahi dan menjauhkan kepalanya dari sana.
"Darr ...," ucap Audi tampak kecewa.
Namun, hal lain yang tidak Audi sangka kini terjadi. Darren ternyata sudah menyiapkan alat itu untuk digunakan sekarang.
Ya, lelaki itu perlahan memakaikan alat berwarna pink itu sebagai pengganti tangan dan mulutnya. Tali yang juga berwarna pink, Darren pegang. Lalu, ia tekan perlahan saat merasa bahwa Audi sudah merasa tenang.
Darren bisa melihat ekspresi Audi. Perlahan ekspresinya berubah detik demi detik. Dari biasa, lalu berubah menjadi menegang dengan warna kemerahan diiringi suara desah yang dari pelan semakin kencang.
"Darren, ini ...."
Audi jelas tersiksa. Ketika ia mencoba menahan rasa yang menggila, tangan yang tidak diikat itu perlahan bereaksi dengan menyentuh juga meraba seluruh tubuhnya sendiri.
Sebuah pemandangan indah yang ternyata memang Darren rencanakan. Yakni, melihat gelinjang penuh kenikmatan yang istrinya alami sebab alat yang ia pakaikan.
"It's so beautiful, Honey!"
"Darren, aku udah enggak tahan."
"Lepaskan saja, Di! Aku menunggu."
***