
Semua asisten rumah tangga di kediaman Darren tampak terkejut ketika nyonya rumah mereka mengambil alih dapur dan meja makan. Bahkan, tak satu pun dari mereka diizinkan membantu selain menyiapkan bahan yang sang nyonya butuhkan.
Ya, seperti pernikahan terdahulunya, kini Audi kembali menjelma menjadi istri dari seorang Darren yang sesungguhnya. Mencoba berbakti dan menjalani kehidupan pernikahan yang sebenarnya seperti permintaan Darren padanya semalam.
Mengingat semalam, mendadak Audi membayangkan momen gila mereka yang begitu menggairahkan dan liar. Ruangan ber-AC bahkan tidak membuat suhu tubuh mereka mendingin, alih-alih sejuk justru semakin panas membara. Gilanya, Audi turut membalas dan menikmati kegiatan semalam, yang mana membuat Darren semakin terpacu demi kata puas yang akhirnya sama-sama mereka dapatkan.
Kegiatan malam yang masih menempel di otak Audi, seketika membuat teflon di tangannya terjatuh dari atas kompor. Ia yang sedang memanggang sosis terkejut saat teflon terjungkal. Beruntung tidak sampai jatuh ke lantai, tetapi cukup membuat syok beberapa pelayan yang berdiri mengawasinya di belakang.
"Ibu, Anda tidak apa-apa?"
"Biar kami saja yang siapkan!"
Reaksi serta respon sebab perasaan takut jika sampai Darren tahu dan marah, membuat mereka bicara dan meminta Audi untuk menyudahi. Tapi, gelengan dan senyum yang tampak di wajah cantiknya seketika membuat mereka terdiam. Reaksi itu mengandung arti bahwa mereka tidak perlu khawatir.
"Tidak apa-apa. Cuma jatuh sedikit. Aku juga tidak luka. Asalkan kalian diam saja, ok!"
Ketiga orang pelayan yang saat ini berwajah panik, hanya bisa mengangguk lemah.
Sejujurnya mereka masih belum tenang sampai Audi benar-benar selesai dengan semuanya. Mereka takut jika yang nyonya rumah itu lakukan tanpa sepengetahuan Darren, yang mana malah akan membuat mereka berada dalam masalah.
'Kemarin bapak yang mengambil alih dapur, sekarang ibu. Lalu, apakah keduanya tahu dan ini tidak apa-apa?' kata hati semua pelayan yang ditugasi mengerjakan urusan dapur, seolah sama. Mereka sepakat ada sesuatu yang aneh yang terjadi pada dua majikan mereka.
'Apakah mereka sedang sama-sama jatuh cinta? Sebab pernikahan mereka yang karena perjodohan membuat perceraian sempat terjadi dan sekarang kembali?'
Perasaan cemas dan was was yang masih belum hilang dari pikiran para pelayan semakin menjadi kala Darren muncul dari balik ruang makan.
"Ada apa ini? Kenapa kalian berdiri semua di sini?" Pertanyaan Darren sontak membuat ketiga pelayan yang berdiri menghadap Audi, terkejut bukan main.
"Pak, Pak Darren! Selama pagi!" sapa ketiga pelayan yang kompak kaget, tetapi langsung menyapa.
"Ehm. Ada apa? Kenapa kalian semua berdiri dan tidak melakukan apapun?" tanya Darren lagi seraya berjalan menuju ruang makan.
Belum sempat para pelayan yang kena tegurannya di pagi itu menjawab, ia dibuat terkejut dengan keberadaan Audi yang tengah berdiri di balik kompor dengan celemek yang melingkar di leher dan pinggangnya.
"Ma-maaf, Tuan!" ucap salah seorang pelayan saat Darren menoleh ke arah anak buahnya seolah bertanya.
Namun, lelaki itu kemudian meletakkan jari telunjuk ke bibirnya supaya para wanita muda di dekatnya itu diam. Ia sendiri lalu berjalan mendekat, berdiri di belakang Audi kemudian memeluknya.
"Eh!" Audi tampak kaget saat merasakan pelukan tangan Darren di perutnya.
"Apakah aku tidak salah lihat?" ucap Darren di telinga istrinya itu.
"Tidak. Dan seharusnya kamu tidak perlu marah pada asisten rumah."
"Jadi, kamu tahu kalau aku sudah datang?"
"Siapa yang tidak mendengar suara kamu di tengah suasana ruangan yang hening dan tenang."
Cup!
Sebuah kecupan Darren berikan di telinga Audi yang merespon dengan memiringkan kepalanya, kegelian.
"Lalu, kenapa kamu harus berakting kaget ketika aku memelukmu tadi?"
"Aku tidak sedang berakting. Aku pikir setelah kamu datang, kamu akan langsung duduk dan menunggu aku selesai dengan semuanya."
"Dengan membuang kesempatan memelukmu seperti ini? Jangan harap, Nyonya!"
Audi yang sudah selesai dengan peralatan memasaknya, lalu berbalik sembari memegang sepiring sosis yang ia potong kecil yang sudah selesai dipanggang.
"Apakah kamu akan terus menggangguku di setiap waktu memasak seperti ini?"
"Tergantung."
Audi mengerutkan kedua alisnya. 'Tergantung apa?' batinnya bertanya.
"Tergantung, apakah aku juga berada di dapur atau di kantor."
"Sama saja." Audi melengos dan mencoba membebaskan diri dari pelukan sang suami.
Darren membiarkan saat istrinya itu berjalan menuju meja makan. Di seberang sana, ketiga pelayan yang masih setia berdiri, terlihat menunduk dengan sikap sempurna.
"Apakah kamu akan membiarkan para pelayan menganggur?"
Audi yang baru selesai meletakkan piring di atas meja, tersenyum seraya menatap ketiga wanita muda di depannya.
"Hanya sesekali. Kamu tidak rugi tetap menggaji mereka full bukan?" Audi menatap Darren yang kini berjalan mendekat.
Pelukan kembali lelaki itu lakukan, yang juga tetap dibiarkan oleh wanita cantik di depannya itu.
"Apakah kamu berpikir aku orang yang perhitungan?"
"Jujur saja, iya," jawab Audi tersenyum.
Darren tampak terkejut. Ia menatap tajam Audi seperti meminta penjelasan.
Wanita itu lalu mendekatkan wajahnya dan membisikkan sesuatu. "Apakah kamu lupa permintaanku yang kamu balas dengan hidup setahun? Bukankah itu artinya kamu orang yang perhitungan?"
Perkataan Audi bisa Darren tangkap dengan jelas. Maksud dan arah ucapannya, menunjukkan jika kesepakatan semalam masih belum seutuhnya Audi pahami.
"Ehm, ya, aku lupa yang itu," sahut Darren akhirnya, enggan menjelaskan di tengah suasana pagi dengan ada orang lain bersama mereka.
Audi mulai menyukai aksi mesra itu. Sejak Darren memperlakukannya dengan baik dan lembut, Audi sudah mulai berkata dalam hatinya untuk mencoba mengimbangi dan menerima setiap hal yang suaminya lakukan juga berikan terhadap dirinya.
Tak peduli dengan semua asisten rumah tangga yang berdiri di dekat mereka, yang pasangan suami istri itu pun tahu kalau mereka akan menunduk dan tidak berani mengangkat wajah saat momen mesra terjadi di depan mereka. Sehingga ia tak pernah merasa khawatir kalau pun Darren menciumnya penuh nafsu, asal tidak sampai menyibak pakaiannya -meski itu pernah sekali terjadi.
'Kamu candu bagiku, Di,' gumam Darren setelah melepaskan ciumannya. Tampak wajah memerah Audi sebab pasokan udara yang menipis karena aksi Darren padanya barusan.
Sentuhan tangan Darren di pipi Audi, seolah menandakan jika ia masih ingin melakukan hal yang tadi. Tapi, Audi sigap tahu, yang kemudian memilih menarik tangan Darren dan meminta lelaki itu duduk.
"Kamu akan kesiangan kalau tidak segera sarapan. Aku udah nyiapin ini semua dan mau kamu berikan penilaiannya sekarang."
Darren jelas tersenyum. Meski tipis, Audi lihat itu. Ada rasa kebahagiaan yang tiba-tiba muncul menyapa hatinya kala melihat lelaki tampan yang biasanya dingin dan angkuh itu meresponnya dengan sebuah senyuman yang semakin membuatnya tampan.
"Semua makanan yang kamu buat, aku tahu semuanya enak."
"Kamu belum makan, Darr."
"Tapi, aku sudah memakannya waktu itu." Darren mencoba mengingatkan istrinya jika momen seperti ini juga pernah terjadi dulu.
"Ah, iya. Aku lupa. Itu terjadi sebelum kamu ...." Audi tidak melanjutkan kalimatnya. Ia langsung terdiam dan memilih duduk di dekat bangku yang Darren duduki.
"Sebelum kamu marah?" tanya Darren membuat bibir istrinya mengerucut.
'Jangan lakukan itu!' pekik Darren demi melihat bibir Audi yang tampak seksi di matanya.
Akhirnya momen makan pagi itu pun berlangsung dalam diam. Tugas Audi kembali diambil alih oleh para pelayan yang memang menjadi tugas mereka. Suasana ruang makan yang hening, hanya sesekali ucapan keluar dari mulut Audi saat Darren meminta beberapa makanan yang sudah ia siapkan.
**
Audi mengantar Darren sampai ke garasi. Pak Lutfi sudah berada di samping mobil saat majikannya bersiap pergi ke kantor.
Lelaki itu kemudian membukakan pintu mobil supaya Darren masuk. Namun, ia tinggalkan ketika majikannya meminta pergi.
Darren tidak langsung masuk, ia malah berbalik menatap Audi yang saat itu masih memegangi tas kerjanya.
"Apakah hari ini kamu memintaku ke kantor lagi?" tanya Audi saat Darren sudah bersiap membuka mulutnya.
"Tidak perlu."
"Benarkah?" Ada raut bahagia yang tampak di wajah Audi saat mendengar kata tidak yang Darren katakan. Tapi, sedetik kemudian ekspresi-nya berubah ketika ia melihat Darren mengangguk.
"Kenapa?"
"Karena aku ada meeting dengan klien sekalian makan siang."
"Dengan klien yang mana? Apakah Sofi?"
Pertanyaan Audi yang bernada sedikit ketus itu, Darren sikapi dengan senyuman.
"Dengan PT. Ali Cemerlang."
"Oh."
Darren tahu kalau istrinya cemburu. Namun, wanita itu masih menutupi semuanya dengan sikap gengsi dan pura-pura.
"Apakah di pikiranmu cuma ada Sofi dan Sofi?" tanya Darren yang sudah menarik tubuh Audi dan kini merengkuhnya begitu mesra.
"Apakah pertanyaan itu tidak salah. Seharusnya aku yang bertanya bukan?"
"Tapi, nyatanya tidak. Klien juga rekan bisnisku tidak hanya dengan PT. Ganada saja. Kamu tahu itu bukan?"
Audi tidak menjawab. Tak perlu memberikan jawaban, Darren pasti sudah tahu. Tapi, entah mengapa ia enggan mengakui. Sebab hatinya masih saja kesal atas keberadaan Sofi yang kini begitu gembira karena bisa bekerja sama dengan perusahaan milik suaminya itu.
Darren lalu memeluk tubuh istrinya itu. Memberikan sentuhan lembut dengan membelai punggung yang tertutup dress berwarna ungu muda. Begitu wangi tubuh Audi, sejenak membuat Darren lupa kalau saat sekarang bukan waktunya menjatuhkan tubuh istrinya itu ke atas ranjang.
"Aku sudah memintamu untuk tinggal bersamaku bukan? Jadi, selama kita masih hidup bersama, tak akan ada perempuan lain yang akan menemaniku di atas ranjang selain kamu."
Kalimat yang sebenarnya biasa saja, malah terdengar mesum di telinga Audi. Membuat debaran jantungnya memacu cepat tanpa ia beri aba-aba.
"Aku akan mencoba mengerti dan menerima," kata Audi kemudian.
Pelukan hangat di pagi itu pun terlepas. Darren lalu memberi kecupan di kening Audi, yang sempat menolak ketika akan mendarat di bibirnya.
"Akan lama, Darr!"
"Baiklah. Kalau begitu aku pergi dulu." Darren lalu masuk ke mobil. Duduk di bangku penumpang masih belum menutup kaca jendela.
"Kamu mau langsung ke rumah sakit?" tanya lelaki itu sebelum meminta supir untuk berjalan.
"Iya. Bolehkan?" Audi balik bertanya.
"Tentu saja. Tapi, jangan lupa untuk melepas roll rambut di poni kamu."
Senyum tampak di wajah Darren sebelum ia menutup kaca jendela mobil. Membiarkan Audi kaget dan bengong, kemudian memegang keningnya yang tadi Darren kecup. Bahkan, ia sempat melihat bayangan di kaca mobil yang Darren tutup sebelum mobil melaju pergi.
"Kenapa ia enggak bilang dari tadi!" pekik Audi kesal, merasa begitu malu.
'Bodoh!'
***