
Pak Lutfi sudah stand by di garasi ketika Darren dan Audi keluar dari dalam rumah. Pasangan suami istri itu berjalan santai meski ekspresi keduanya terlihat tidak baik-baik saja.
Sebelum Darren masuk ke mobil yang sudah Pak Lutfi buka, lelaki itu berbicara sebentar dengan istrinya.
"Kamu boleh menjenguk mama, tetapi sebelum makan siang kamu sudah harus ada di kantor."
"Apakah kedatanganku tidak mengganggu pekerjaan kamu? Sebab aku tahu sepertinya kamu akan sibuk di hari-hari ke depan," sindir Audi.
Darren menyeringai. Lelaki itu sepertinya tahu ada sesuatu yang tengah sang istri alami, dan entah mengapa ia berpikir jika semua itu ada hubungannya dengan Sofi.
"Tidak sama sekali. Bukankah waktu satu tahun itu sangat singkat? Aku jelas tidak mau menyia-nyiakan waktu yang singkat itu setelah memberimu uang yang banyak bukan?"
Audi mendadak kesal. Kalimat yang suaminya ucapkan seperti sesuatu yang menyentil harga dirinya sebagai seorang perempuan.
'Rupanya ia memang tidak pernah berubah. Jangan baper, Audi. Lelaki itu hanya mau tubuhmu. Bukankah jelas apa yang diminta atas uang yang kamu sudah dapatkan?' Audi seolah memberi tahu dirinya sendiri tentang sosok Darren yang sebenarnya.
Ia sangat yakin perintah Darren supaya dirinya datang ke kantor, tak lain dan tak bukan hanya untuk melampiaskan hasrat birahinya sebagai seorang laki-laki.
"Aku akan naik taksi. Pak Lutfi tidak perlu jemput aku," ucap Audi akhirnya.
"Tidak. Istri dari seorang Darren naik taksi di saat ia bisa memilih mobil mana saja yang akan dinaiki?" tanya Darren, jelas tak setuju.
Audi mengerti itu. Tak bisa ia pungkiri deretan mobil mewah dan mahal terparkir rapi di garasi dalam rumah. Lantas, bagaimana mungkin Darren mengizinkannya naik taksi sedangkan ia sendiri bisa memilih mau naik mobil yang mana saja.
"Ya sudah, biar aku setir mobil sendiri."
Darren menatap tajam Audi. "Apa ada hal yang kamu rencanakan? Kamu bisa pakai supir lain kalau pun memang tidak mau merepotkan Pak Lutfi?"
"Aku tidak hanya mau merepotkan Pak Lutfi, supir yang lain juga. Karena aku tidak mau mereka menunggu lama saat aku menjenguk mama."
"Kalau begitu jangan lama-lama."
Audi berdecak kesal. Ini masih pagi, apakah Darren senang mengajaknya bertengkar?
"Darren ...."
Lelaki itu bisa melihat istrinya kesal. Tapi, justru ekspresi tersebut yang ia sukai. Bukan hanya wajah merah karena malu saja yang membuat hatinya senang, tetapi melihat ekspresi emosi yang tampak di wajah Audi, juga membuat Darren selalu ingin menarik tubuh itu ke dalam pelukannya.
"Baiklah. Hari ini saja aku izinkan kamu membawa mobil sendiri. Tapi, ingat! Sebelum jam makan siang kamu sudah harus ada di kantor."
"Aku tahu."
Setelah perbincangan yang terjadi di antara Darren dan Audi mengenai rencana menjenguk Marissa, kini pengusaha itu pun pamit pada istrinya.
"Jangan melakukan itu di depan orang!" protes Audi setelah Darren mencium bibirnya penuh nafsu.
"Jadi, kalau aku melakukannya saat kita sedang berdua, aku boleh menciummu seperti tadi?" tanya Darren tersenyum.
Audi mendelik menatap suaminya yang selalu saja mesum.
"Bukankah selama ini pun kamu melakukan hal itu! Bahkan lebih." Audi menatap tajam Darren.
Sontak saja lelaki itu tertawa karena ucapan istrinya yang dianggap lucu.
Akhirnya, kembali Darren mencium istrinya setelah berada di dalam mobil.
"Darren, cukup!" pinta Audi benar-benar kesal kali ini.
Namun, lelaki itu malah tersenyum menyebalkan.
"Kamu tahu aku tak pernah akan cukup," ucapnya pelan.
Lalu, Darren pun meminta Pak Lutfi untuk segera jalan di tengah sikap Audi yang menatapnya kesal.
'Kenapa ia selalu bersikap seperti itu? Apakah otaknya yang mesum itu tidak bisa diperbaiki? Ternyata sikap dingin dan angkuh hanya kedoknya di depan orang-orang karena kenyataannya tidak seperti yang dikira,' gumam Audi kesal.
**
"Apakah kamu sudah mendapatkan apa yang aku pinta?" Darren bertanya pada Zain setelah tiba di kantor.
Feeling-nya yang mengatakan bahwa ada nama Sofi di balik sikap enggan Audi adalah penyebabnya. Dan itu ternyata benar.
"Bu Audi bertemu Ibu Sofi di lobi kemarin. Bu Sofi yang baru bertemu kita membicarakan proyek kerja sama, ternyata bertemu dengan Bu Audi ketika akan keluar lift. Rekaman CCTV menunjukkan bahwa sempat ada percakapan yang terjadi meski Bu Audi lebih memilih untuk pergi."
Darren menghela napas kesal. "Jadi, perempuan itu rupanya yang memberi tahu Audi tentang hubungan kerja sama yang terjalin antara perusahaan kita dengan papanya."
Zain menatap tuannya tak mengerti. "Apakah Bu Audi tahu tentang hal itu?"
"Ya. Audi menolakku semalam."
Ada senyum yang tersungging di bibir Zain, dan bisa Darren lihat meski tipis.
"Kamu mengejekku?"
"Ah, maaf, Pak. Saya tidak berani."
Darren kembali melempar pandangan ke arah lain setelah melihat ekspresi Zain yang sudah kembali normal.
"Aku pikir pasti ada yang terjadi. Dan tadi pagi saat kami akan sarapan, ia sendiri yang bilang tentang kerja sama tersebut. Sempat aku berpikir kalau kamu adalah orang yang memberi tahunya. Tidak aku sangka, rupanya perempuan ular itu masih saja pantang mundur."
Zain terkejut mendengar penuturan Darren. Bagaimana bisa bosnya itu menuduh ia jadi serigala berbulu domba dengan mau menyampaikan apa saja mengenai rahasia yang dimiliki.
"Mana mungkin saya melakukan hal itu, Pak."
"Ya, maaf. Mana aku tahu kalau bukan karena Audi sendiri yang membongkarnya dengan sikap cemburu yang begitu kentara."
"Apa Anda merasakan perubahan sikapnya sekarang?" Kali ini Zain bisa tersenyum sebab kebahagiaan yang tampak di wajah Darren.
Sang tuan menatapnya kemudian. Ada senyum bahagia yang jelas tergambar di sana.
"Ya, aku bisa lihat itu. Hanya saja, gara-gara perempuan ular itu sekarang sikap istriku tidak lembut dan penurut seperti dulu."
Zain tahu Darren dilema sebab perasaanya sendiri. Melihat sikap Audi yang kini lain, mungkin sang tuan merasa kehilangan akan sesuatu. Tapi, bukankah itu akan membuat hubungan cinta mereka terasa lain sebab ada bumbu yang menyertai.
"Anda lebih suka Bu Audi yang dulu atau yang sekarang?"
Sejenak Darren berpikir. Lalu, sekian detik kemudian ia pun menjawab.
"Jujur saja aku menyukai sosok Audi yang sekarang. Perempuan itu lebih ceria dan berenergi. Tidak lemah dan manja seperti dulu. Tapi, bila itu menyangkut hubungan mesra kita di atas ranjang, sikapnya sekarang menyulitkan aku untuk mendapat momen panas itu, Zain. Kamu mengerti maksudku bukan?"
Aneh sekali, di saat Darren mengeluh akan sikap enggan Audi sekarang, Zain justru malah merespon dengan tawa. Hal itu jelas membuat Darren naik darah dan ingin memarahi sang asisten tanpa ampun.
"Kamu mau karirmu sebagai seorang asisten pribadi yang sangat berdedikasi tamat saat ini juga?" tanya Darren yang sama sekali tidak membuat Zain terdiam, lain dengan reaksi lelaki itu sebelumnya.
"Maaf, Pak Darren. Tapi, bolehkah saya memberikan gambaran atau pendapat pada Anda?"
Darren masih menatapnya kesal. "Kalau pendapatmu hanya akan membuat aku semakin emosi, lebih baik tidak usah."
"Baiklah, saya rasa tidak. Begini, kalau dihitung-hitung pengalaman, saya lebih unggul dari Anda bukan untuk urusan ranjang? Secara saya sudah punya anak tiga dan masih harmonis hubungan saya dengan istri di rumah."
"Kamu mau mengejekku? Mati saja!"
"Tidak, tidak sama sekali, Pak. Saya cuma mau bilang ...." Zain mulai menurunkan volume suaranya seolah di ruangan tersebut ada banyak orang selain mereka, yang khawatir akan mendengar ucapannya.
"Perempuan yang bersikap melawan atau menolak ketika akan diajak berhubungan, itu lebih membuat adrenalin kita sebagai seorang laki-laki tertantang dan terpacu. Sebab yakinlah kalau sebenarnya perempuan pun sama mau, terlebih bila kita berhasil menyentuh titik-titik sensitif-nya, dijamin Anda akan ketagihan dengan aktingnya yang pura-pura enggan itu."
***