With My EX

With My EX
Bab 35. Mengawali Hari



Pagi-pagi sekali Audi sudah terbangun. Teringat akan janji yang sudah ia buat semalam kepada suaminya, mulai hari ini ia akan mencoba untuk menjadi istri yang sebenarnya. Ia akan bangun lebih dulu demi menyiapkan semua keperluan Darren, seperti pakaian ke kantor, juga sarapan yang akan suaminya santap.


Hal-hal yang pernah Audi lakukan dulu, tetapi sempat terhenti setelah ia mendapat kabar jika suaminya itu bermain api dengan perempuan lain di luar sana -tidak hanya dengan Sofi. Hingga tak lagi ia lakukan sampai pengadilan memutuskan mereka bercerai.


Sekarang, setelah kesepakatan tanpa suara setuju dari Audi semalam, hari ini ia akan kembali melakukan semua 'ritual' itu. Bangun lebih dulu, mandi dan mulai menjadi istri bagi seorang Darren El Syauqi.


Dilihatnya sang suami masih tertidur dengan tubuh yang berada di balik selimut. Rasa lelah yang lelaki itu rasakan, begitu tampak terlihat dari suara dengkuran halus yang Audi dengar. Semalam mereka selesai di waktu dini hari -meski dijeda tidur selama dua jam sebelum akhirnya mereka kembali melakukan aksi serupa di waktu menjelang subuh tiba, sudah bisa dipastikan tubuh keduanya mengalami kelelahan yang amat sangat.


Tapi, kenapa Audi tidak merasa kecapekan seperti yang Darren rasakan sekarang? Itu semua karena baktinya yang akan ia coba bangun terhadap kehidupan rumah tangganya. Selain itu, ada ucapan Darren yang seperti menjadi pelecut dan penyemangat Audi pagi ini.


'Kamu membuatku gila, Di.'


Satu buah kalimat itu masih terngiang di benaknya sampai sekarang. Kalimat yang diucapkan setelah Darren menumpahkan benih calon cintanya untuk ke sekian kali, yang membuat Audi tersenyum pagi ini saat kedua mata menatap tubuh polosnya di depan cermin kamar mandi.


Banyaknya jejak kepemilikan berwarna merah keunguan, baik di leher juga dada dan seluruh tubuh, membuat pipi si empunya kemerahan karena malu.


'Kenapa aku jadi malu begini? Bukankah ini hal yang enggak asing,' batin Audi yang kemudian menepuk-nepuk pelan pipinya, lalu berjalan cepat menuju area shower. Ia tidak akan berendam pagi ini karena hal itu hanya akan menghabiskan banyak waktu yang malah akan membuat semua rencananya gagal nanti.


Saat tetesan air keran menyentuh rambut dan kulit kepalanya, terasa hati dan pikiran Audi tenang dan damai.


'Ini sangat menyegarkan,' batinnya bicara.


'Begitu menenangkan dan terasa damai.'


Ritual mandi terus Audi lakukan termasuk membuat tubuhnya tertutup busa sabun. Juga rambut hitam dan lebatnya yang sepunggung ia berikan sampo sehingga menimbulkan aroma wangi di seluruh tubuh dari ujung rambut sampai kaki.


Di saat ia sedang membilas semua busa di kepala dan sekujur tubuhnya, tiba-tiba terasa sentuhan dari arah belakang ke perutnya yang rata.


"Eh, Darren!" seru Audi terkejut. "Kamu udah bangun?"


Lelaki itu dengan tubuh polosnya berdiri memeluk Audi dari arah belakang. Terasa sentuhan kulit pada punggung Audi ketika pelukan itu lembut menyapa.


"Kenapa kamu tidak mengajakku?" tanya Darren berada tepat di telinga Audi.


"Eh, aku lihat kamu nyenyak banget tidurnya. Enggak tega buat bangunin."


Cup!


Sebuah kecupan di telinga Audi terasa begitu menggoda sebab rasa geli yang menjalar.


"Ehm, ya ... semalam sangat luar biasa. Kamu yang sudah membuatku kelelahan."


Tak peduli dengan tubuhnya karena pancuran air keran yang tengah membasahi kepala dan tubuh istrinya, Darren malah ikut basah-basahan sebab tak ingin kehilangan momen mandi bersama.


"Kamu bikin aku malah lama, Darr," ucap Audi karena tangan Darren yang sudah merambat turun ke area lembahnya.


"Ah, begitukah?" sahut Darren seperti tidak menyadari tindakannya.


"Ya. Karena kamu akan menciptakan ronde-ronde berikutnya."


Tak ayal Darren pun tergelak demi mendengar protes Audi padanya. Seolah kata ronde menjadi momok menakutkan bagi perempuan itu.


"Apakah kamu tidak mau membuat ronde berikutnya?"


"Aku akan terlambat menyiapkan semua keperluan kerja kamu juga sarapan pagi ini."


Keterkejutan tampak di wajah Darren. Ia seperti tidak menyangka jika perubahan itu akan cepat terjadi. Padahal baru semalam mereka membicarakan kesepakatan atau perjanjian pernikahan. Tapi, pagi ini Audi sudah kembali menjadi istrinya dulu, yang akan memberikan perhatian padanya selayaknya pasangan suami istri pada umumnya.


"Baiklah. Kali ini aku akan melepasmu. Kita bisa mandi bersama lain kali."


Lega, itu yang Audi rasakan. Sebab jujur saja ia tak akan kuat jika harus kembali melayani suaminya untuk ke sekian kali di pagi itu.


"Aku akan tunggu kamu di bawah," ucap Audi setelah selesai membilas tubuhnya.


Ia pun berpaling setelah mendapat respon senyum dari suaminya. Tapi, sebuah tarikan bisa ia rasakan ketika Darren mengajaknya berciuman.


"Sedikit saja," pinta Darren ketika Audi memutar matanya jengah.


"Baiklah," sahut perempuan itu, lalu membiarkan sang suami menempelkan bibirnya pelan dan lembut.


Setelah itu, Audi benar-benar pergi keluar dari kamar mandi. Tak ia ketahui ada senyum kebahagiaan yang tampak di wajah Darren ketika ia melihat punggung istrinya meninggalkan.


'Kamu selalu membuatku tak bisa untuk berkata tidak. Di saat aku berusaha untuk menyangkal, perasaan itu malah semakin kuat aku rasakan. Sakit, tetapi anehnya begitu indah.'


Kalimat-kalimat yang Darren katakan sebagai penggambaran suasana hatinya saat ini yang mana awal kebahagiaan seperti sedang menghampirinya, membuat lelaki itu harus berkali-kali membodohi dirinya sendiri karena sikapnya yang terkadang lemah jika sedang bersama dengan istrinya itu.


Mencoba membiarkan rasa bahagia terus menjamah raga dan jiwanya, Darren melakukan ritual bersih-bersihnya pagi itu ditemani bayangan atau sosok Audi yang sudah mengusik ketentraman hati dan pikirannya.


Di dalam kamar, Audi sudah selesai dengan penampilannya yang tengah menyiapkan pakaian kerja Darren. Semuanya, termasuk sepatu apa yang akan lelaki itu kenakan, juga jam tangan mewah mana yang akan membuat suaminya itu semakin gagah dan berkarisma di depan klien dan rekan bisnisnya.


"Selesai. Sekarang aku harus segera menyiapkan sarapan untuknya," gumam Audi sembari melihat satu set pakaian yang sudah ia letakkan di atas tempat tidur.


Audi lantas keluar kamar bertepatan dengan keluarnya Darren dari kamar mandi dengan handuk yang -seperti biasanya melingkar di pinggang.


"Kemari!" perintah Darren saat Audi menengok sebelum membuka pintu kamar.


"Enggak mau."


"Eh, kamu menolak perintah suami kamu?"


"Iya, kalau itu akan bikin kita enggak keluar kamar sampai siang," sahut Audi begitu percaya diri. Setelahnya ia betul-betul pergi keluar kamar. Meninggalkan Darren yang tergelak tertawa.


'Apa maksudnya? Memang aku mau berbuat apa sampai membuatnya tidak keluar kamar seharian,' gumam Darren yang sebenarnya ingin memberi tahu istrinya itu tentang roll rambut yang masih melingkar di poni.


***


Hai, Readers! Baru kali ini aku berkesempatan menyapa kalian. Di sini aku hanya ingin mengingatkan kalau cerita ini banyak mengandung adegan dewasa yg khusus diperuntukkan para usia di atas 21+. So, bijaklah memilah bacaan yg pantas atau tidak untuk kalian baca.


Selain itu, tak adakah dari kalian berkenan untuk men-follow akun aku supaya lebih bersemangat lagi menulis? :)


Juga, dari sekian puluh pembaca di setiap harinya, kenapa tak ada yg berkenan meninggalkan jejak di kolom komentar, yah? Apakah cerita ini seru atau tidak? Garing juga membosankan? Setidaknya aku bisa tahu keluhan dan pendapat kalian semua.


Maaf, ini hanya sekelumit sapaan yg bisa aku tulis untuk kalian para penggemar Audi dan Darren. So, happy reading!


***