
"Aku akan menyusul setelah pekerjaanku selesai," ucap Darren ketika Audi pamit untuk kembali ke rumah sakit.
Ia yang siang itu cukup puas sebab bisa bercinta dengan Audi di kantor, menghabiskan waktu setengah jam lamanya hanya untuk memberi izin pada sang istri untuk pergi dari ruangan kerjanya.
Kontak fisik yang seolah tak mau Darren lepaskan pada sosok istrinya, menyisakan ketebalan pada bibir wanita itu ketika akan keluar ruangan.
"Tunggu dulu!" ucap Darren setelah Audi berdiri dari pangkuannya.
"Apa lagi? Masihkah kurang?" Seolah waktunya yang sudah lama terbuang, tanpa sadar nada bicara Audi terdengar sangat kesal.
Namun, Darren malah tersenyum dan tidak marah sama sekali.
"Kalo membicarakan perihal kegiatan panas kita, tentu saja aku tak pernah cukup. Akan selalu kurang. Tapi, bukan itu aku memintamu menunggu." Darren berkata sembari membuka laci mejanya.
Tampak sebuah masker ia ambil dari dalamnya. Lalu, diserahkan pada Audi, bahkan tak segan memakaikannya.
"Aku khawatir ada laki-laki lain yang tergoda saat melihat bibirmu saat ini. Sedangkan bibir ini hanya milikku seorang," ucap Darren seraya mengecup anggota wajah yang dimaksud sebelum ia menutupnya dengan masker.
Audi sempat tidak mengerti maksud ucapan Darren, hingga kemudian ia menyadari setelah melihat wajahnya pada cermin kecil saat sudah berada di dalam mobil.
"Ya Tuhan!" pekik Audi membuat sang supir menanyakan keadaannya.
"Ada apa, Bu? Apakah ada masalah?"
Audi terhenyak kaget. "Eh, itu ... enggak ada apa-apa kok, Pak."
Pak Lutfi hanya mengangguk, lalu kembali fokus menatap jalanan di depan.
Audi berkali-kali memaki dalam hati. Ia juga tak segan mengumpat suaminya itu dengan kata-kata kasar tanpa diketahui oleh sang supir. Mungkin saat ini Darren bersin tanpa henti sampai Audi menghentikan umpatannya setelah mobil berhenti di rumah sakit.
"Kata Pak Darren, Pak Lutfi balik aja ke kantor. Nanti ke sini lagi sekalian antar Bapak kalo kerjaan beliau sudah selesai." Audi memberi pesan pada sang supir untuk tidak menunggunya.
"Baik, Bu. Kalo gitu saya langsung balik lagi."
"Iya. Hati-hati, yah, Pak!"
Supir yang sudah lama mengenal baik sang nyonya, tersenyum seraya mengangguk. Ia lalu pergi setelah Audi berbalik pergi.
**
Marissa tampak berbaring lemah di bangkar ranjang rumah sakit saat Audi membuka pintu ruang VVIP tempat sang mama dirawat paska operasi. Wanita paruh baya itu tengah berbincang dengan sang suami yang begitu setia menemani.
"Mah!" seru Audi memanggil nama ibunya.
"Audi sayang," sahut Marissa dengan suara pelan.
Audi lantas berjalan cepat, mendekati sang mama. Lalu, dipeluknya wanita itu dengan keharuan luar biasa, seolah mereka sudah lama tidak bertemu.
"Maaf, Mah. Maaf karena aku enggak ada waktu Mama siuman," ucap Audi masih memeluk ibunya.
"Enggak apa-apa, Sayang. Mama tahu kalo kamu sedang nemenin suami kamu makan 'kan? Lagipula, ada papa dan adik kamu yang nemenin Mama. Tadi juga Om Heru dan Tante Sita sempet datang ke sini, tapi cuma bentar aja karena harus jemput Aldo di bandara."
"Oh, Aldo balik ke Indo yah hari ini? Aku sampai lupa." Audi bicara seraya melepas pelukan dari sang mama.
"Hem, iya."
Semenjak masalah yang menghampiri keluarganya, Audi bahkan sampai lupa dengan hal-hal kecil yang selalu ia ingat. Bahkan, berita pulangnya Aldo -sepupunya dari Jepang, setelah hampir enam bulan menjalani studi di negara matahari terbit tersebut, sudah ia tahu sejak lama. Tapi, masalah yang datang bertubi-tubi membuatnya lupa semua.
Audi lalu melihat Kevin -sang papa, yang tampak duduk di sisi ranjang, juga menatapnya.
"Enggak sama Darren?" tanya Kevin.
"Enggak, Pah. Kerjaan Darren belum selesai. Katanya nanti nyusul kalo udah beres. Mungkin sorean."
"Enggak apa-apa kalo Darren enggak bisa ke sini juga. Papa maklum dia sangat sibuk. Papa cuma mau ngucapin terima kasih sama menantu Papa itu."
"Ucapin terima kasih lagi? 'Kan kemarin udah?" sahut Audi yang langsung mendapat lirikan tak mengenakan dari laki-laki tua di depannya.
Dalam hati perempuan itu mungkin ingin berkata, 'kalian ini enggak usah berlebihan, seolah-olah apa yang laki-laki itu lakukan murni karena ingin menolong. Andai kalian tahu di balik semuanya, mungkin kalian akan mengasihani aku.'
"Memang salah kalo Papa dan mama kamu ngucapin terima kasih berkali-kali setelah semua masalah kita satu demi satu terselesaikan? Dan semua itu karena Darren."
'Tapi, Pah, laki-laki itu membantu dengan imbalan anakmu ini!' Ingin Audi teriak seperti itu, tetapi ia segera menyadari bahwa semua karena ia sendiri yang meminta, bahkan setuju pada kesepakatan yang Darren pinta.
"Enggak, Pah. Papa dan mama enggak salah kok kalo mau bilang terima kasih sama dia."
"Sayang, kok manggilnya dia? Darren suami kamu, enggak baik kalo kamu panggil dengan panggilan seperti itu." Marissa ikut bicara seraya menggenggam tangan sang putri.
Audi menengok, menatap mamanya itu. "Iya, Mah. Maaf."
Ada senyum yang tersungging di bibir Marissa, mengingatkan Audi akan operasi yang sudah dilakukan atas penyakit sang mama.
"Ngomong-ngomong, apakah dokter sudah memeriksa mama, Pah? Apa kata mereka?" Audi menatap papanya yang tampak sedang mengetik sesuatu pada ponselnya.
Sejenak Kevin tidak langsung menjawab pertanyaan Audi. Setelah sekian detik berlalu, lelaki tersebut selesai dan membalas menatap sang putri.
"Sementara ini bagus karena mamamu tidak mengalami keluhan yang berarti. Cuma sedikit pusing, dan itu karena efek obat bius yang akan hilang sedikit demi sedikit."
"Oh, syukurlah. Lalu, kalo untuk penyakitnya sendiri gimana, Pah? Apa operasi yang udah berjalan membuat mama terlepas dari penyakitnya?"
"Kata dokter enggak serta merta penyakit jantung mama pergi, Mbak." Bagas menyahut dari sofa yang sejak Audi datang, anak kuliahan itu sibuk dengan zoom meeting bersama dosen dan teman-teman kampusnya.
Audi menengok, melihat Bagas yang sudah menutup laptop, lalu berjalan menghampiri.
"Terus, apa yang mesti dilakukan lagi kalo saran dokter untuk operasi aja enggak bikin mama sembuh dari penyakitnya?" Audi merasa kalau usahanya kembali pada Darren akan sia-sia seandainya sang mama tidak bisa sembuh.
"Maksudnya bertahap, Di. Operasi memang jalan yang dokter sarankan karena melihat penyakit ini berbahaya kalo tidak segera ditangani. Tapi, setelah operasi harus ada perawatan lanjutan, kaya terapi atau konsultasi ke dokter spesialis penyakit jantung, ya ... seenggaknya sepekan sekali selama satu atau dua bulan paska operasi."
Penjelasan yang Kevin berikan bisa Audi terima dengan baik sekarang. Berarti ada harapan bagi kesembuhan sang mama, dan pastinya hal tersebut membuat ia tidak kecewa atau menyesal karena telah menyerahkan diri pada sosok seorang Darren.
Di saat Audi mencoba menenangkan hatinya atas penjelasan yang papanya sampaikan, tiba-tiba sang adik mengatakan sesuatu yang membuatnya langsung membatu.
"Ngomong-ngomong, Mbak. Seinget aku pas berangkat tadi Mbak Audi enggak pake masker deh! Terus, kenapa masih dipake aja?"
***