With My EX

With My EX
Bab 16. Bad Mood



Audi sampai di lantai tempat di mana ruangan Darren berada. Melewati lorong dengan satu buah ruangan yang terdapat banyak karyawan yang tengah sibuk bekerja meski jam sudah menunjukkan angka dua belas siang.


'Apakah mereka tidak istirahat makan siang? Sudah jam berapa sekarang, mereka masih saja setia di depan komputer dan mengerjakan tugas yang tak akan ada habisnya,' gumam Audi ketika melewati ruangan dengan dinding kaca sebagai sekat.


Langkahnya masih terus maju sampai ia berdiri di depan pintu ruangan, ruangan milik seorang pemimpin tertinggi perusahaan tersebut.


Wanita itu kemudian menjulurkan tangan kanannya untuk mengetuk pintu.


Tiga ketukan ia dengungkan, sampai pintu di depannya itu terbuka tak lama kemudian.


"Bu Audi! Selamat siang!" sapa Zain, orang yang membukakan pintu.


"Selamat siang, Mas Zain. Apakah saya datang di waktu yang sangat tepat?" tanya Audi seketika membuat Zain bingung.


"Tentu saja. Tak ada waktu yang tepat atau tidak bagi Anda ketika akan menemui Pak Darren, suami Anda sendiri." Jawaban Zain yang terdengar begitu formal, yang Audi tebak kalau lelaki itu tidak menyadari ke mana arah pertanyaan yang ia ajukan.


"Baiklah. Saya hanya khawatir kalau kedatangan saya mengganggu kesenangan Bapak."


Kembali pernyataan Audi membuat Zain terdiam sesaat. Tapi, ia mencoba bersikap tenang dan memilih untuk langsung memberi istri majikannya itu jalan.


"Silakan, Bu. Pak Darren sudah menunggu Anda."


"Terima kasih," sahut Audi yang sebenarnya mulai kesal.


Wanita itu masih mengingat momen pertemuannya dengan Sofi di bawah tadi. Ia sangat kesal karena harus bertemu dengan seorang pengkhianat.


"Kamu sudah datang?" ucap Darren yang masih duduk di bangku kebesarannya.


Lelaki itu hanya mengangkat kepala dan menatap sang istri yang kini sudah berdiri di seberang meja kerjanya.


"Hem, ya. Apa aku datang terlalu cepat?" tanya Audi yang pandangannya malah melirik ke arah meja di mana sudah terdapat hidangan makanan beraneka rupa lengkap dengan minumannya.


Darren tampak tersenyum tipis saat mendengar pertanyaan yang Audi ajukan.


"Aku malah berpikir kamu datang terlambat. Tapi, aku maklum karena kamu berangkat dari rumah sakit."


Tak ada nada emosi yang terucap dari mulut Darren menyadari ada sesuatu yang lain dari sikap istrinya saat ini. Lelaki itu mencoba mencermati sampai ia sendiri mengetahui hal apa yang tengah wanita di depannya sembunyikan.


"Hem, tadinya aku memang berencana untuk datang setelah mama sadar. Tapi, ya ... kamu tahu sendiri, papa jelas membelamu dari pada aku, anaknya sendiri."


Kali ini emosi itu justru terdengar saat Audi membicarakan sang papa. Namun, Darren memilih diam dan tidak membahasnya. Sebab ia jelas tahu dan menyadari jika perkataan Audi benar adanya.


Bukan tidak sadar bahwa obrolan mereka berdua nyatanya didengar oleh Zain yang masih berdiri di antara pasangan suami istri tersebut. Hingga laki-laki itu pun mengangguk, menatap Darren. Lalu pergi setelah mendapat kode dari sang atasan supaya pergi.


Sekarang tinggallah mereka berdua. Darren dengan gerakan telunjuknya, meminta Audi supaya mendekat.


Awalnya Audi cuek. Wanita itu diam dan tidak langsung menghampiri. Sampai kemudian Darren bersuara seiring ekspresinya yang Audi tahu bahwa perintahnya tak boleh dibantah.


"Kemarilah!"


Audi akhirnya mendekat. Berdiri di sisi kursi kerja Darren, wanita itu tiba-tiba ditarik hingga kemudian sudah duduk di atas pangkuan sang suami.


"Apakah ada sesuatu yang membuatmu terganggu?" tanya Darren setelah memeluk tubuh Audi dari belakang.


Bicara dekat telinga sang istri, seraya meminggirkan helaian rambut panjang yang hitam dan indah, Darren seperti kehilangan akalnya ketika aroma wangi dari leher Audi tercium hidungnya.


"Tidak," balas Audi singkat. Sesekali ia memejamkan mata ketika terasa endusan hidung Darren di kulit lehernya.


"Benarkah?" tanya Darren lagi yang kemudian mengangkat kepala dan menatap wajah Audi.


"Kamu pikir?" Audi balik bertanya.


"Ehm, tidak. Hanya saja aku melihat dirimu yang terlihat lebih dingin daripada aku."


"Ya sudah kalau kamu tak mau cerita, lebih baik sekarang kita nikmati saj makan siang yang sudah Zain siapkan," ujar Darren yang kemudian beranjak bangun dan mengajak istrinya untuk duduk di sofa.


Wanita itu diam saja ketika harus duduk di sofa panjang yang berdampingan dengan sang suami. Terlebih ketika Audi yang enggan mengambil makanan di depannya, dan malah tampak Darren yang begitu perhatian mengambilkan untuknya beberapa jenis lauk bersama sesendok nasi di atas piring putih besar.


"Padahal aku bisa sendiri," ucap Audi saat Darren mengulurkan piring tersebut kepadanya.


"Tidak apa-apa. Aku yang mau. Jadi, tak perlu sungkan." Darren membalas dengan senyum yang kembali hadir.


Setelah itu, Audi yang merasa kondisi hatinya sedang tidak baik, memilih untuk menyantap hidangan yang sudah Darren siapkan, berharap agar kegiatan tersebut segera selesai dan ia bisa pergi kembali ke rumah sakit.


"Kamu sepertinya lapar sekali. Apakah menu sarapan yang aku siapkan tadi pagi tidak cukup untuk mengganjal perutmu yang lapar?"


"Eh, itu ... ya, itu masih belum cukup."


'Hah! Apa? Tidak cukup katanya. Apakah dua potong sandwich, sepiring mix fruit dan dua gelas minuman masih kurang untuknya,' batin Darren.


Tapi, lelaki itu tidak sampai bertanya. Ia diam saja menikmati pemandangan di depannya, di mana Audi menyantap sajian makan siang itu dengan sangat lahap.


"Jadi, mama belum sadar?" Topik obrolan tiba-tiba berubah. Sembari mengunyah makanan di dalam mulutnya, Darren menanyakan perihal kondisi sang ibu mertua.


"Belum," jawab Audi kembali singkat.


Lagi-lagi Darren tahu. Tapi, ia tetap diam dan tenang. Tidak terburu-buru atau memaksa supaya istrinya bicara sebenarnya.


"Aku pikir kamu akan tetap menunggu di sana sampai mama siuman," ucap Darren berusaha obrolan mereka tetap hidup.


"Tadinya. Tapi, kamu 'kan maksa," ucap Audi nyata kesal. "Papa juga samanya," gumam wanita itu yang bisa Darren dengar.


Akhirnya tak ada lagi pertanyaan yang Darren ajukan. Lelaki itu lalu diam dan menikmati hidangan makan siang di depannya sampai ia merasa kenyang setelah menghabiskan beberapa menu makanan yang siang itu terasa lezat dan pas di lidahnya. Begitu sesuai selera.


Dilihatnya Audi juga sudah selesai. Makanan yang sebelumnya Darren ambilkan, sudah habis. Bersih tak bersisa.


"Mau nambah? Biar aku ambilkan."


Audi menggeleng. Ia lantas meraih sebotol air mineral, lalu meneguknya pelan.


"Enggak perlu. Aku udah kenyang."


Makanan yang Zain siapkan masih tersisa beberapa di atas piring, membuat Darren akhirnya meminta sang asisten membereskannya, dan hanya menyisakan minuman serta dessert yang belum sempat Audi atau ia makan.


"Jangan dibuang, Zain."


"Baik, Pak."


Zain jelas tahu maksud dari perkataan pimpinannya itu. Nasib makanan yang bersisa, akan berpindah ke perut para office boy atau petugas cleaning service.


Setelah itu Zain pun pamit pergi. Bersama dua orang karyawan pantry, lelaki itu pergi keluar dan kembali membiarkan Darren berdua saja dengan Audi.


"Oh iya hampir lupa. Kamu dapat salam dari Sofi tadi," ucap Darren tiba-tiba.


Sontak saja ekspresi Audi berubah seratus delapan puluh derajat sekarang. Setelah sebelumnya tak jua tersenyum sejak masuk ke dalam kantor, kini Darren melihat dengan jelas -dan itu sangat menggemaskan di matanya, wajah cemburu terjadi pada sang istri.


"Aku sudah bertemu dengannya di bawah." Seolah ingin menegaskan kalau ia tak ada masalah atas kehadiran mantan sahabatnya itu di kantor sang suami, Audi bersikap pura-pura cuek dan tidak peduli.


Namun, bukan Darren yang tidak tahu mengenai suasana hati Audi sekarang. Merasa sudah tidak baik-baik saja sejak tiba di ruangannya, Darren pun memilih untuk menyelesaikan permasalahan tersebut.


"Jadi, kamu cemburu karena keberadaan Sofi di kantorku?"


"Apa? Cemburu?" Ada senyum ejekan di sudut bibir Audi, dan itu malah membuat Darren kembali beraksi dengan mengangkat tubuh wanita itu ke atas pahanya.


***