With My EX

With My EX
Bab 22. Gagal



"Ah, Darren. Kita sudah melakukannya tadi."


Suara serak bersamaan dengan desah yang keluar dari mulut Audi, terdengar memenuhi seluruh area sudut kamar utama.


Setelah makan malam usai dengan makanan yang sudah dipastikan sisa, Darren langsung meminta sang istri segera beranjak istirahat.


Namun, bukan istirahat tidur yang ada dalam pikiran Audi, justru sebuah 'penyiksaan' di mana sang suami rupanya masih belum bisa mengendalikan hasratnya ketika mereka sedang berdua.


Audi tampak kesusahan menahan sesak yang dadanya rasakan ketika Darren mencumbu leher dan tengkuknya ketika ia sudah bersiap akan tidur.


"Kamu tahu aku masih bisa melakukannya lagi dan lagi," jawab Darren tepat di telinga Audi, membuat istrinya itu kegelian ketika mendapat kecupan lembut penuh gairah.


"Tapi, aku ... ah!" Audi kaget ketika Darren menggigit telinganya.


"Kamu kenapa?"


"Aku tidak punya tenaga untuk melakukannya."


"Kamu tidak perlu melakukan apapun, biar aku yang bekerja."


Tak tahu usaha apa lagi yang harus Audi lakukan supaya Darren tidak melanjutkan keinginannya.


Bercinta di malam hari memang waktu yang sangat tepat bagi pasangan manapun. Terlebih keduanya adalah pengantin baru -part dua, yang sudah lama tidak berhubungan -setidaknya itu yang Audi alami sendiri sebab perempuan itu berpikir kalau mantan suaminya kemungkinan masih kerap melakukan aksi tanpa cinta dengan wanita mana pun di luar sana. Hal itu dilihat dari sosok Darren yang digilai banyak wanita, terutama Sofi yang memang jelas mengejarnya.


Tapi, mereka sudah melakukannya tadi siang di kantor. Tidakkah Darren merasa lelah setelah ia seharian bekerja, juga mengeluarkan cairan berharganya sebagai seorang lelaki. Kini ia ingin melakukan hal itu lagi, apakah bukan gila namanya?


Audi ngedumel dalam hati. Batinnya tidak suaminya dengar. Protesnya tidak juga dipedulikan. Meski ia tahu kalau nafsu Darren tak berbeda jauh dengan pusaka miliknya yang begitu berharga, yang saat ini sudah terpampang nyata ketika lelaki itu sudah lebih dulu melepas semua pakaian.


Mau tak mau Audi memalingkan muka meski dengan seringai yang Darren tampakan akan membuatnya terbuai.


"Darren, ini, argh!"


Audi sudah terlentang sekarang. Ia didorong oleh Darren ke tempat tidur milik mereka yang berukuran besar ketika ingin melarikan diri untuk kesekian kali.


Darren mulai menjelajah. Dari bawah kaki Audi yang jenjang ditambah warna putih dan kondisi mulusnya yang menggoda, lelaki itu mencumbu begitu nafsu. Membuat Audi kegelian, mulai tersiksa.


"Darren."


Audi hanya mampu memanggil nama. Kerongkongannya seolah tercekat tak mampu melanjutkan kata. Lidah dan bibir Darren sudah mulai beranjak naik, menyibak gaun tidurnya hingga terus terangkat ke pangkal paha.


"Kamu cukup diam dan menikmati aksi yang aku lakukan," ucap Darren sejenak saat ia hendak mengangkat semua gaun tidur tersebut terlepas dari tubuh si empunya.


Saat ini Audi sudah tak peduli akan tindakan Darren yang sudah berhasil membuatnya polos tak berbusana. Kain terakhir yang sempat menutupi area sensitif di tubuhnya, harus rela dilempar oleh lelaki tersebut -entah ke mana.


Kini sudah terlihat pahatan sempurna ciptaan Tuhan yang selama setahun ke depan pastinya menjadi milik Darren. Tubuh indah dengan lekukan bagus, yang membuat saliva Darren sulit terteguk.


"You are so beautiful, Honey. Tubuhmu tak pernah membuatku bisa berdalih bahwa aku memang menyukainya."


Darren tak berbeda jauh dengan sosok lelaki pada umumnya, hanya menyukai fisik tanpa melihat kedalaman sifat seorang perempuan -itu yang ada di dalam benak Audi. Maka dari itu, perempuan itu sangat yakin kalau suaminya juga merespon godaan yang Sofi berikan karena mantan sahabatnya itu memiliki wajah dan tubuh yang sangat mirip dengan seorang model.


Tapi, sepertinya Audi tak tahu kalau Darren hanya menyukainya saja. Secantik atau sebagus apapun tubuh wanita di luaran sana, sosok Audi adalah satu-satunya wanita yang selalu hadir di setiap mimpinya selama ini.


Audi tampak pasrah ketika Darren betul-betul 'bekerja' sendiri. Tak peduli dengan respon Audi yang hanya diam mematung, bagi Darren tak ada bedanya ketika ia melakukannya dulu atau pun sekarang. Istrinya tak pernah merespon selain desah dan lenguhan akibat rasa gila yang menggerogoti otak dan pikirannya.


Namun, saat wanita itu membayangkan sosok Sofi berada di bawah kungkungan Darren, mendadak Audi merasa kesal. Ia berubah mood-nya dan langsung melengos ketika Darren mau mencium bibirnya.


Darren lantas mengangkat kepalanya dan memandang wajah cantik di bawahnya itu dengan tatapan heran.


"Ada apa?"


Audi diam tak menjawab. Ia seolah enggan memberi tahu apa yang tengah dirasakan.


Tapi, Darren tidak gentar. Lelaki itu kembali bertanya untuk kedua kalinya dengan pertanyaan yang sama.


"Apa yang terjadi? Kenapa tiba-tiba kamu menghindar?"


Kali ini Audi membalas tatapan Darren. Sedikit ragu, ia pun menjawab.


"Tidak ada apa-apa. Aku hanya merasa kalau sejak awal aku memang tidak bisa melayanimu malam ini."


"Tidak. Aku tahu bukan itu. Ada apa?"


"Aku bilang tidak ada apa-apa, Darren."


Suara Audi sedikit meninggi dan itu membuat Darren terkejut. Alhasil, lelaki itu langsung badmood karena sikap Audi yang menurutnya tak masuk akal.


"Mungkin kamu benar. Sepertinya kita tidak bisa melanjutkan kegiatan malam ini."


"Ap-apa?"


Entah bagaimana bisa seorang Darren, lelaki yang tak pernah ada kata menyerah dalam kamus hidupnya, menyudahi begitu saja setelah mendapat penolakan dari sang istri. Dan hal itu jelas membuat Audi kaget.


"Tapi, kamu tahu kalau aku tak akan diam saja setelah sikap yang kamu tunjukkan padaku barusan." Darren berkata seraya beranjak bangun dan mengambil pakaian piyamanya yang tergeletak di lantai.


"Aku tahu kamu, Audi. Bukan kamu sekali tadi. Jadi, aku yakin kalau ada sesuatu yang terjadi atau kamu pikirkan."


Darren selesai dengan pakaiannya. Ia juga mengambil gaun tidur berwarna biru tua milik Audi yang teronggok tak jauh dari piyama miliknya tadi.


"Pakailah! Setelah itu kamu bisa istirahat."


"Kamu mau ke mana?" tanya Audi saat melihat Darren mengambil ponselnya, lalu berbalik hendak pergi keluar kamar.


"Aku? Masih ada hal yang harus aku kerjakan."


Kemudian Darren pun keluar kamar. Benar-benar keluar meninggalkan Audi tanpa mengucapkan kata apapun lagi. Hanya tampak di mata sang istri ada raut kecewa yang sepertinya Darren tahan.


"Ada apa dengannya? Apakah ia begitu kecewa karena tidak bisa bercinta malam ini? Aneh sekali!" rutuk Audi kesal dan memilih untuk tidak peduli.


Ia pun lantas mengenakan kembali gaun yang hampir saja dirobek oleh Darren. Teringat akan malam-malam yang mereka lewati bersama dulu, entah berapa lusin lingerie atau gaun tidur yang dirusak oleh Darren ketika akan memulai kegiatan panas mereka.


Ketika Audi berencana untuk memejamkan mata, tiba-tiba ada satu buah pesan yang masuk ke ponsel-nya.


'Sepertinya aku tahu apa yang terjadi padamu dan Darren. Wah, kamu memang benar-benar perempuan licik. Ular berbisa yang bisa membuat orang mati mendadak.'


Audi langsung tahu pesan dari siapa barusan tanpa ia harus melihat profil atau poto yang terpampang.


"Sial sekali kau, Sofi!"


***