
Darren tampak mendengar dengan serius kalimat yang Zain ucapkan. Uraian dari laki-laki yang sudah berpengalaman menghasilkan tiga orang anak serta masih memiliki seorang istri cantik dan awet muda di usia yang sudah memasuki angka empat, sepertinya masuk ke otak Darren begitu mudah. Tanpa penghalang atau hambatan.
"Saya bicara begitu karena sudah pernah mengalaminya sendiri. Dan itu sering."
Zain bisa melihat sang tuan mendengarkan semua yang ia ucapkan. Sedikit bumbu penyedap dengan ekspresi yang agak dilebihkan, nyatanya story telling-nya berhasil membuat seorang pengusaha angkuh seperti Darren terdiam menyimak.
"Momen seperti apa yang biasanya membuat si wanita menerima atau bahkan membalas aksi kita?" Darren sedikit penasaran dengan pembelajaran yang Zain berikan.
"Ehm, seringnya kalau habis bertengkar atau saat istri saya lagi kangen, Pak."
"Contohnya?"
"Ya, itu, Pak. Anda 'kan sering tugas ke luar berhari-hari, otomatis saya juga enggak pulang. Nah, pas pulang adalah momen terbaik bagi pasangan suami istri untuk bercengkrama. Apalagi sebelum berangkat maksimalkan 'olah raga', dijamin istri akan terngiang-ngiang dan rindu sama kita, Pak."
Darren benar-benar mendapat pelajaran baru dan sepertinya sangat berharga untuknya. Meskipun ia sendiri tidak tahu, apakah bisa melakukan semuanya atau tidak. Sedangkan ia sendiri sadar, bahwa kesabarannya selama ini hanya setipis kertas tisu. Zain memintanya untuk bertahan dengan tidak marah-marah atau menuruti semua permintaan Audi saja ia sudah mengeluh. Apalagi sekarang ia dihadapkan pada teori rindu dan bertengkar, apakah bisa ia melakukannya?
"Pelan-pelan saja, Pak. Jangan dipaksakan kalau Anda belum bisa melakukannya secara langsung dan spontan. Semua butuh proses." Kembali Zain mengingatkan.
Lebih dari delapan tahun bekerja dengan Darren, ia sangat hafal sifat dan karakter sang tuan. Jadi, teori yang ia sampaikan tidak akan serta merta langsung dijalankan dengan baik oleh tuannya itu.
"Maaf, Pak. Apakah masih ada hal yang mau ditanyakan? Sebab kita sudah harus menghadiri rapat sekarang."
Darren diingatkan untuk kembali pada dunia kerjanya di saat ia sedang mencoba memahami setiap saran yang Zain berikan.
"Jam berapa kita selesai meeting? Apa sudah ada konfirmasi dari PT. Ganada mengenai permintaan revisi proposal kemarin?"
"Sudah, dan mereka siap hadir di jam sepuluh nanti. Lalu, mengenai revisi yang Anda minta semalam, apa masih ada yang harus saya laporkan?"
"Tidak. Sepertinya itu saja. Target penyelesaian. Jika mereka tidak mampu dan malah memaksakan diri, lebih baik kita lihat alternatif perusahaan lain."
"Baik. Nanti akan saya sampaikan ke mereka."
Zain sudah akan bersiap berdiri ketika ia teringat akan sesuatu.
"Lantas, apa ada yang harus saya lakukan atas hubungan Anda dengan Bu Audi yang diakibatkan oleh Bu Sofi?"
Darren juga tampak sudah bersiap ketika mendapat pertanyaan demikian.
"Tidak perlu. Untuk hal itu aku akan melakukannya sendiri. Perempuan ular itu akan jadi bagian dari rencanaku demi sikap cemburu Audi yang ya ... jujur saja membuatku senang." Ada senyum yang terlihat di bibir Darren ketika membayangkan betapa serunya rencana awal yang akan mulai ia jalankan.
"Anda yakin tidak membutuhkan bantuan saya, Pak?"
"Ya, sangat yakin untuk kali ini. Nanti seandainya kamu harus membantu, aku tak akan segan memberi tahumu," ucap Darren begitu yakin.
Dua orang itu pun kemudian keluar ruangan. Rapat sudah menunggu mereka. Beberapa manajer sudah berkumpul di ruangan lain untuk mempresentasikan laporan tahunan masing-masing divisi.
Zain yang bisa melihat dengan jelas ekspresi penuh keyakinan Darren tentang usahanya mendapatkan balasan cinta sang istri, akhirnya bisa bernapas lega. Sikap percaya diri Darren keluar juga. Ia yakin bos-nya itu mampu melakukan tantangan tersebut dengan sangat baik.
"Selamat pagi, Pak Darren!" sapa seluruh peserta rapat saat pimpinan mereka itu tiba.
"Selamat pagi! Silakan duduk!"
Semua peserta kembali duduk. Mereka tampak tegang ketika Darren kini sudah menempati tempat di ujung kursi paling depan.
"Bisa segera kita mulai!" ucap Darren pada Zain.
"Baik, Pak."
Zain yang mendapat tempat duduk di sebelah pengusaha itu, memberi kode pada manajer kepegawaian untuk memulai rapat.
"Terima kasih, Pak Darren dan Mas Zain. Kita akan memulai rapat pagi ini dengan laporan yang akan disampaikan pertama kali oleh Ibu Delisa dari divisi marketing. Kepada Ibu Delisa dipersilakan!"
Seorang wanita bertubuh sedikit berisi, tampak berdiri menghadap seluruh peserta rapat. Tak lupa menyapa Darren sembari mengangguk sebelum ia memulai bicara.
"Selamat pagi semuanya. Terima kasih pada Pak Surya atas waktu yang diberikan. Pada kesempatan kali ini saya diberi mandat untuk menyampaikan laporan lebih dulu."
Rapat pun mulai berjalan. Darren sendiri sudah mulai fokus dengan jalannya rapat di waktu pagi itu. Sementara ia bisa mengesampingkan masalahnya dengan Audi, dan akan kembali ia pikirkan nanti setelah selesai semua pekerjaannya.
Di tempat lain di waktu yang berbeda, Audi sudah sampai di rumah sakit tempat sang mama dirawat. Di sana hanya terlihat adiknya, Bagas, yang sepertinya sudah bersiap untuk pergi ke kampus.
Papanya sudah berangkat lebih dulu karena ada hal yang harus dikerjakan di kantor, paska penangkapan yang pihak polisi lakukan terhadapnya.
"Ada ujian remedial, Mbak."
"Apa? Remedial? Maksudnya ujian kamu diulang?"
"Bukan ujian, tapi ada tugas harian yang aku enggak sempat hadir. Jadi, aku harus ngulang sendiri."
"Memang iya? Kapan? Kok Mbak enggak tahu kalau kamu pernah enggak ikut ulangan."
Audi yang memilih duduk di sebelah ranjang mamanya, terlihat serius bicara pada Bagas.
"Pernah, waktu itu pertama kali Mama masuk rumah sakit dan dirawat. Karena setelahnya aku sibuk urus sana sini, jadinya baru bisa ambil remedial sekarang."
"Oh, yang waktu itu. Kok kamu enggak bilang? Kan aku bisa gantiin kamu."
"Gantiin gimana, Mbak 'kan masih sibuk sama Mas Darren."
Sontak Audi terkejut dengan ucapan yang Bagas lontarkan. 'Ia sibuk dengan Darren? Kapan?' tanyanya dalam hati.
"Setahu aku, kayanya aku enggak pernah sibuk urusin Darren deh. Kok bisa nuduh aku sibuk urusin dia sih!"
Bagas terlihat gugup. Jujur saja ia tak enak hati dengan ucapannya sendiri.
"Maksudnya 'kan Mbak udah nikah. Aku enggak enak aja minta tolong sama Mbak. Karena Mas Darren itu susah ditebak. Apa marah atau enggak."
"Seenggaknya ngomong dulu lah sama aku, Gas."
"Iya, iya. Maaf. Jadi, ini aku diizinin enggak ngampus?"
Audi tersenyum menatap sang adik.
"Ya pergilah. Udah tahu remedial. Masih aja nanya. Emang mau dikasih kesempatan berapa kali lagi biar bisa benerin nilai kamu? Baik banget tuh dosen kalo bener ada."
Kali ini Bagas tidak menjawab pertanyaan sang kakak. Ia mendekat ke arahnya hanya untuk berpamitan pada sang mama demi mencium tangan wanita itu lembut.
"Aku udah harus ada di kantor Darren sebelum makan siang. Kalo udah selesai, kamu langsung cabut yah, Gas?"
"Eh, enggak janji loh, Mbak. Tahu sendiri namanya dosen suka enggak sesuai jadwal."
"Ya, usahakan dong!" Audi berkata sedikit tegas. Tapi, sepertinya ucapannya tak bisa diterima dengan baik oleh adiknya itu.
"Ya udah, nanti kasih kabar aja beresnya kapan. Syukur-syukur sebelum jam dua belas kamu udah harus balik ke sini."
Bagas sebetulnya paham kondisi yang tak mengenakan pada diri Audi, kakaknya. Tapi, kenyataanya memang ia tidak bisa berjanji atas kembalinya ia nanti siang.
"Nanti aku hubungi papa. Mudah-mudahan papa bisa kembali di jam yang Mbak harapkan."
"Mana mungkin. Aku yakin, papa enggak akan sebentar ngurus kerjaannya setelah apa yang terjadi kemarin."
Bagas dan Audi kini sama-sama terdiam. Mereka seolah kebingungan atas permasalahan yang tidak mereka temukan jawabannya.
"Udah, enggak usah kalian pikirin. Bagas selesaikan dulu remedial-nya. Dan Audi, kamu bisa nemuin Darren di kantor di jam yang memang kamu harus udah ada di sana. Patuhi suami kamu apapun itu alasannya." Marissa yang sejak tadi hanya diam mendengarkan obrolan dua orang anaknya, pada akhirnya ikut bicara memberikan saran.
"Eh, mana bisa. Masa Mama sendirian di sini." Audi dan Bagas sama-sama protes.
"Loh, 'kan ada suster yang akan nemenin Mama. Mereka dua puluh empat jam loh stand by. Lagian enggak ada yang perlu kalian khawatirin juga. Kondisi Mama udah jauh lebih baik hari ini."
"Ya, tapi tetep sama aja. Mama bakal sendirian. Suster atau perawat enggak akan nemenin selama berjam-jam di sini. Mereka juga punya kerjaan kali, Mah." Bagas urung berangkat dan malah terjebak pada obrolan yang belum menemukan titik terang.
Marissa tak lagi bicara. Sarannya tidak diterima oleh kedua anaknya. Jadi, ia sendiri bingung saran apa lagi yang harus diberikan.
"Oh iya, kalian bisa telepon Om Heru. Minta tolong Sasa atau Andi buat nemenin Mama sampai papa kalian datang atau Bagas kembali ke sini."
"Nah! Bener tuh, aku setuju! Sasa sih mau aja pasti."
"Apa, Mah? Sasa?" Terlihat ekspresi Audi yang tidak suka kala nama Sasa disebut.
***