With My EX

With My EX
Bab 24. Tak Jadi Romantis



Yakin adalah hal utama yang Darren tengah lakukan. Demi satu keinginannya yang selama ini terpendam, di mana kehidupan rumah tangga yang indah betul-betul ingin ia jalani bersama wanita yang sangat ia cintai, membuatnya berubah akan sikap dingin dan cueknya selama ini.


Salah satu yang ia lakukan sekarang, dan itu belum pernah ia lakukan saat menjadi suami Audi dulu, adalah menyiapkan sarapan pagi untuk sang istri.


Darren yang tidur lebih awal, juga bangun lebih dulu dari Audi rupanya sudah bersiap berangkat ke kantor di saat jam masih menunjuk ke angka setengah tujuh pagi. Sedangkan sang istri -saat ia bangun, terlihat masih tertidur dengan selimut yang masih sama seperti semalam, menutupi tubuhnya sampai leher. Sedikit lancang, Darren menyempatkan untuk mendaratkan kecupan di kening wanita itu sebelum ia beranjak menuju kamar mandi.


Ada getar yang lelaki itu rasakan ketika bibirnya menyentuh kening Audi.


'Kenapa aku harus merasakan ini setiap menyentuhmu?' batin Darren yang saat itu memilih untuk bersegera. Ia tak ingin lepas kontrol kalau tidak langsung pergi membasahi diri.


Hal itu rupanya diketahui oleh Audi. Sentuhan di keningnya, entah bagaimana mampu membuatnya terbangun. Tapi, ia memilih diam dan tidak mengganggu suasana yang Darren ciptakan di pagi buta tersebut.


Audi baru bangun setelah melihat Darren masuk ke kamar mandi dan melaksanakan aktifitas bersih-bersihnya di dalam sana. Sedangkan ia sendiri memilih untuk menyiapkan pakaian yang akan suaminya kenakan ke kantor. Aktifitas yang tak pernah luput Audi lakukan di saat ia berstatus istri dari seorang Darren El-Syauqi. Meski kedua pernikahannya bukan didasari rasa cinta, wanita itu tetap menjalankan tugasnya sebagai seorang istri yang baik dan benar.


Tentu saja Darren kaget ketika melihat Audi sudah bangun dengan pakaian kerja yang siap ia pakai, tepat saat dirinya keluar dari kamar mandi.


"Kamu sudah bangun?" tanya Darren sembari melangkah maju.


"Ya, tentu saja aku harus menjalankan peranku sebagai seorang istri yang sesungguhnya. Maaf kalau aku bangun kesiangan," ucap Audi yang segera beranjak bergerak menuju kamar mandi.


"Tunggu dulu!" cegah Darren dengan tangan memegang tangan Audi.


Wanita itu pun menghentikan langkah. Ia menengok, menatap sang suami yang menatapnya intens.


Sungguh Audi tak akan tahan bila harus berlama-lama menatap wajah Darren di kondisi sekarang. Lelaki itu dalam keadaan setengah telanjang, hanya selembar handuk yang menutupi pinggang sedangkan dadanya yang bidang ter-eksplore begitu sempurna di mata Audi.


"Kamu mau ke mana?"


"Mau mandi. Aku harus menemani kamu sarapan bukan?" Audi bertanya balik.


Namun, Darren seperti mendengar seorang tahanan yang menuruti setiap perintahnya.


"Aku tidak mengatakan apapun. Kenapa kamu menyimpulkan demikian?"


Audi cukup dibuat terkejut dengan ucapan Darren. Tapi, ia tahu lelaki itu masih Darren yang ia kenal dulu. Jadi, kalimat itu ia anggap sesuatu yang tidak berharga ketimbang perintah yang memang pernah lelaki di depannya sampaikan ketika keduanya memutuskan menikah empat tahun lalu.


"Apakah kita harus berdebat untuk masalah sepele?"


"Tidak kalau kamu tidak bersikap demikian."


"Bersikap demikian bagaimana? Bukankah apa yang aku lakukan semua karena ucapanmu sendiri?"


Kali ini Darren kalah. Wanita itu masih mengingat semua hal yang berhubungan dengan rumah tangga mereka dahulu.


Perlahan Darren melepas pegangan tangannya. Membuat Audi sedikit kaget karena bukan respon garang atau dingin yang Darren berikan kepadanya atas sikap Audi yang mungkin bisa dibilang kurang ajar.


Tanpa bicara, Darren bergerak meninggalkan Audi. Membiarkan wanita itu terdiam dengan ekspresi bingung.


"Aku akan menunggu kamu di bawah," ucap Darren yang sudah selesai memakai semua pakaiannya, di saat Audi masih mematung di posisinya.


Tapi, langkah Darren tiba-tiba terhenti saat Audi memanggilnya.


Wanita itu berjalan mendekat, menghampiri Darren yang berdiri menatapnya.


Lantas, Audi mengulurkan kedua tangan untuk memakaikan dasi di leher Darren yang masih menjulur di kedua sisi dadanya. Sedangkan jas berwarna hitam yang Audi tadi ambilkan, tampak dipakai asal oleh lelaki itu.


"Apakah kamu selalu berpakaian seperti ini saat pergi ke kantor?" tanya Audi sembari tangannya bekerja melilitkan dasi sehingga membuat kain panjang itu tampak rapi sempurna.


"Tidak. Aku akan merapikan pakaianku saat di mobil sebelum sampai kantor."


Audi mendelik, mengangkat wajahnya sedikit melirik wajah Darren yang setia memandanginya.


"Kenapa masih belum berubah?"


"Aku tidak pernah berubah. Bukankah sebelum menikah denganmu dulu, aku juga sudah begini? Kamulah yang membuat penampilanku begini sebelum pergi."


Ya, Audi masih ingat hal tersebut. Memang ia-lah yang membuat penampilan Darren rapi sebelum lelaki itu berangkat menuju mobil. Meski sebetulnya tak bisa ia pungkiri bahwa penampilan 'berantakan' Darren membuat hatinya selalu berdesir setiap memandangnya. Hal itulah yang membuat Audi jadinya berpikir bahwa akan semakin banyak wanita di luar sana yang jatuh hati kepada pengusaha itu.


"Sudah!" ucap Audi sembari mengusap kedua bahu Darren demi merapikan jas yang lelaki itu kenakan sebelumnya begitu asal.


"Segera mandi! Kamu tahu aku tidak suka menunggu." Darren berkata di tengah hatinya yang berbunga-bunga sebab sikap Audi padanya.


"Aku masih ingat itu. Jangan khawatir, kamu juga tahu kalo aku bukan wanita yang selalu menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk mandi."


Audi bisa melihat senyum tersungging di sudut bibir Darren saat ia berkata tadi. Bahkan, lelaki itu menghadiahinya sebuah kecupan di kening, di pagi hari itu untuk kedua kalinya.


Darren pun pergi meninggalkan kamar. Sebuah tas kerja hendak ia bawa ketika Audi tiba-tiba mencegahnya.


"Ehm, ok."


Tak lagi bicara, Darren benar-benar keluar sekarang. Ia turun menuju ruang makan untuk menikmati sarapan pagi yang biasanya baru akan pelayan siapkan.


Namun, sebuah ide mendadak muncul di kepalanya begitu ia melihat dua orang pelayan tengah menyiapkan minuman hangat untuknya dan Audi.


"Selamat pagi, Pak!" sapa kedua pelayan, sedikit terkejut dengan kedatangan sang tuan yang sudah turun di waktu yang termasuk masih pagi.


"Hem, pagi."


Darren berjalan menuju ke arah dapur bersih, yang langsung menimbulkan kecemasan di wajah dua orang pelayan tadi.


"Kami baru menyiapkan sarapan untuk Bapak dan ibu. Apakah ada request makanan yang mau kami buatkan pagi ini untuk Anda?"


Salah satu pelayan yang lebih senior berinisiatif untuk bertanya. Meski dadanya berdegup kencang karena takut seandainya ada kesalahan yang ia lakukan dan tidak disadarinya.


"Bisakah kalian siapkan roti tawar itu dan beberapa smoked beef juga sayuran?" pinta Darren yang sempat membuat dua pelayannya terbengong, kaget.


"A-apakah Bapak mau buat sandwich?"


"Iya."


"Eh, biar kami saja yang buatkan."


"Tidak perlu. Pagi ini saya sendiri yang akan menyiapkan sarapan untuk istri saya."


"Ah! Ba-baiklah. Kami mengerti."


Setelah berkata demikian, kedua pelayan segera menyiapkan bahan makanan yang Darren pinta. Sebungkus roti tawar yang baru, beberapa lembar smoked beef, sayuran seperti kubis, selada dan tomat. Tak lupa keju slice kesukaan Audi yang Darren masih ingat, lelaki itu minta pada mereka.


Setelah siap, Darren mulai mengeksekusi semua bahan makanan tersebut sehingga menjadi menu sarapan yang sudah lama tidak ia nikmati sejak sang istri pergi dari rumah.


Tak membutuhkan waktu lama, beberapa potong sandwich dengan isian lengkap sudah siap disantap, bertepatan dengan kemunculan Audi dari arah ruang keluarga.


Ia terlihat kebingungan saat melihat dua orang pelayan berdiri di dekat meja makan. Sedangkan ia bisa melihat dengan jelas, sosok Darren dengan penampilannya yang rapi tampak berdiri di balik kabin dapur bersih dengan sepiring sandwich di tangannya.


"Kamu lagi ngapain?" tanya Audi sembari berjalan mendekati Darren.


Wanita itu tampak heran saat melihat kedua tangan suaminya yang kotor sebab remahan roti yang sebelumnya ia pegang.


"Kamu bikin ini? Kenapa?" Tidak juga mendapat jawaban, Audi lanjut bertanya.


Dipandanginya sosok sang suami yang tersenyum di balik aksinya pagi itu, yang sudah berhasil membuat sepiring menu sarapan pagi untuk mereka santap.


"Aku sudah lama tidak memakan ini sebagai menu sarapan pagi. Tiba-tiba teringat kamu, aku iseng membuatnya."


Sekarang malah Audi yang terdiam. Mau bagaimana pun juga ia tahu, Darren tidak terlalu suka dengan jenis makanan tersebut karena banyaknya sayuran yang menumpuk dalam dua lembar roti. Tapi, entah apa yang membuat lelaki itu memutuskan untuk membuat makanan tersebut, padahal jelas ia tidak suka.


Audi lantas meminta pelayan di belakang mereka untuk menyiapkan menu sarapan lain untuk Darren.


"Untuk apa?" Darren tiba-tiba bertanya.


Audi yang sudah bersiap dengan kain celemek di leher, hanya menjawab singkat.


"Bikin scramble egg kesukaan kamu."


"Siapa yang bilang aku mau makan makanan itu? Aku sudah membuat sandwich, lebih dari cukup untuk kita memakan ini berdua."


Audi menghentikan aksinya yang sudah akan mengocok telur ke dalam sebuah mangkok. Ditatapnya Darren yang tengah menatapnya bingung.


"Kamu enggak suka makanan ini. Jadi, untuk apa memaksa memakannya?"


Kali ini Darren tersenyum. Lelaki itu lantas mendekati sang istri yang kemudian bicara pelan.


"Banyak hal baru yang kamu tidak tahu tentang diriku yang sekarang, Honey," ucap Darren dengan suara begitu lirih, membuat bulu kuduk Audi sedikit meremang sebab embusan napas yang menerjang kulit wajah dan lehernya.


Interaksi itu menjadi pemandangan manis yang ditonton oleh dua orang pelayan yang tampak serba salah karena berdiri di dekat pasangan pengantin baru tersebut.


"Apakah termasuk proyek kerja sama yang perusahaan kamu tengah jalankan bersama PT. Ganada, perusahaan milik papanya Sofi?" tanya Audi membuat Darren seketika diam membisu.


"Kamu dapat informasi dari siapa? Apakah Zain?"


***