With My EX

With My EX
Bab 29. Sebuah Ancaman



Seketika sikap canggung terjadi di dalam ruangan. Audi yang tidak tahu kalau suaminya sedang ada meeting dengan klien -yang tahunya adalah Sofi, sontak kesal demi menatap lelaki di depannya yang malah tersenyum seolah tidak memiliki dosa.


"Kemari, Honey!" perintah Darren sembari melambaikan tangan.


Audi melotot tak percaya. Bisa-bisanya lelaki itu bersikap cuek dan santai. Sedangkan di depannya saat ini berdiri, tampak wajah Sofi yang mendadak merah padam.


Tak bergeming, Darren kembali memanggil dengan nada penuh penekanan yang Audi tahu kalau perintah pengusaha itu tak mau diabaikan.


"Kemari! Duduk di sini."


Darren masih waras sepertinya sebab ia meminta Audi untuk duduk di sebelahnya, bukan di pangkuan.


"Apakah kamu sudah menunggu lama? Maaf kalo aku tidak tahu sehingga kamu harus menunggu."


"Eh, enggak kok. Aku juga baru datang. Cintya minta aku naik, aku langsung naik," ucap Audi memberi penjelasan.


Tapi, sepertinya Darren tak butuh itu. Karena baginya saat ini adalah momen yang harus ia gunakan untuk membuat sosok wanita ular -panggilannya terhadap Sofi, sadar diri dan membuka mata bahwa usahanya selama ini tak akan pernah berhasil.


"Ehm, ya. Pokoknya aku minta maaf. Tidak seharusnya aku membiarkan kamu menunggu di lobi, walau sedetik pun itu."


Audi malahan melongo melihat sikap Darren yang menurutnya aneh, atau di luar karakternya selama ini. Tapi, entah mengapa ia sendiri seolah ingin terlibat dalam sikap gila suaminya, sebab merasa kesal pada sosok mantan sahabatnya, Sofi.


"Sekali-kali aku maafin."


'Gila!' teriak Audi saat mendengar ucapannya sendiri kepada Darren barusan.


Bagaimana bisa bersandiwara di depan Sofi dengan mengikuti gaya suaminya yang selama ini jarang bicara bahkan lebih banyak diam.


Saat ini Darren malah membuat Audi salah tingkah. Betapa tidak, ketika lelaki itu malahan terus menatap wajahnya, entah bagaimana penilaiannya.


"Eh, Darr, apakah meeting-nya belum selesai? Kalau belum biar aku izin keluar dulu. Enggak pantas kayanya kalo aku yang bukan siapa-siapa ada di sini mendengar pembicaraan kalian tentang perusahaan." Audi mencoba ingin melarikan diri. Jujur saja ia tak kuat melihat sikap Sofi yang menyimpan amarah kepadanya.


Bukan tidak kuat karena merasa kalah. Ia hanya merasa jika sandiwara yang akan ia lakukan akan semakin kebablasan, yang pastinya akan Darren layani sampai selesai, dan Audi tak mau itu.


"Tidak. Aku sudah selesai kok! Klien-ku sudah akan pulang. Benar 'kan, Zain?" ucap Darren -tanpa memalingkan wajahnya, bertanya pada sang asisten.


Zain bisa saja langsung menjawab iya, tetapi demi menghormati dua orang tamu di depannya, ia menatap mereka seolah memberi kode.


"Sepertinya Bu Sofi dan Mbak Silvi memang sudah selesai. Anda juga sudah membaca revisi laporan tadi bukan?"


"Hem, ya. Aku sudah setuju. Sejauh ini semuanya sudah bagus, tinggal dijalankan saja."


Sungguh Sofi tampak semakin emosi demi mendengar kalimat yang Darren lontarkan, yang secara sadar bisa dikatakan bahwa lelaki itu sedang mengusirnya. Sedangkan perkataan Zain sebelumnya sama sekali belum ia respon 'tidak' dan pengusaha itu malah seolah sudah menutup pintu.


Tampak Silvi, perempuan yang merupakan asisten Sofi, terlihat serbasalah karena situasi yang menurut pandangan matanya sama sekali tidak mengenakan. Mendadak situasi di depannya menjadi hal yang tidak nyaman. Entah ada masalah apa dengan orang-orang di sekitarnya saat ini, tetapi yang pasti semua itu ada hubungannya dengan perempuan yang baru datang, alias Audi.


"Oh iya, mungkin sebelumnya saya perlu memperkenalkan dulu kepada kalian berdua. Dia adalah Audi, istri saya."


Seketika ekspresi terkesiap tampak di wajah Sofi. Ia yang masih belum ingin duduk setelah keluar dari toilet, merasa terkejut bukan main. Bak suara petir di siang bolong, betapa kabar yang Darren sampaikan barusan sungguh tak masuk akal baginya.


"Ap-appa? Istri Anda, Pak Darren?"


"Iya," jawab Darren santai.


"Maaf, tapi bukankah Anda sudah bercerai. Bagaimana bisa?" Sofi terlihat masih tak percaya. Jelas ia tak ingin percaya.


"Ya, Bu Sofi memang betul. Tapi, itu sekian tahun yang lalu. Bahkan Anda juga tahu alasan dan penyebabnya," ucap Darren tepat sekali menyindir.


"Tapi, sepertinya Tuhan tidak mengizinkan kami berpisah. Sebab itulah akhirnya kami memutuskan untuk kembali bersama. Iya 'kan, Honey?" tanya Darren masih terus menatap wajah Audi, yang justru terlihat gugup sebab tatapan Darren yang semakin memabukkan saja.


"Ah, kalau begitu selamat untuk kalian berdua!" seru Sofi pada akhirnya. Meskipun semua orang di ruangan itu menyadari kalau suara yang keluar dari mulut wanita itu terdengar menahan emosi.


Kali ini Darren memalingkan muka setelah Audi menengok pada sosok sang mantan sahabat yang justru memandangnya penuh kebencian.


"Terima kasih!" ucap Audi yang malah terlihat menantang.


Tak ada sahutan apapun lagi dari Sofi. Hanya dua orang perempuan yang dulunya akrab dan berteman dekat, kini malah terlihat seperti musuh yang memperebutkan seorang laki-laki.


'Kau kira aku akan diam saja sekarang? Tidak akan!' batin Audi dengan kedua mata masih menatap Sofi.


Di lain hati, perempuan bernama Sofi itu juga seperti tengah mengumpat kesal pada sosok Audi yang begitu mudahnya kini mengubah status janda menjadi istri sah kembali.


Padahal baru dua hari yang lalu ia mendapat info jika Audi meminta bantuan Darren akan kondisi perusahaan papanya yang tiba-tiba bangkrut. Sungguh ia tidak tahu, bantuan seperti apa yang sebenarnya Darren berikan pada perempuan itu. Sedangkan sekarang perusahaan keluarga Audi sendiri perlahan kembali bangkit dengan bantuan dari beberapa orang yang masih setia dengan lelaki bernama Kevin Nayaka tersebut.


Namun, Sofi seperti merasa kecolongan ketika bantuan yang Audi minta malah berujung pada kabar yang disampaikan oleh lelaki di depannya itu secara langsung. Mereka rujuk.


"Darren, aku ke ruangan kamu duluan yah. Kamu selesaikan dulu aja meeting-nya."


"Aku udah selesai, Di." Darren seperti enggan kehilangan Audi yang masih duduk di sebelahnya itu.


"Iya, tapi 'kan belum basa basi apa gitu. Ini 'kan meeting urusan perusahaan, masa kamu mau udahin gitu aja! Enggak profesional banget tahu enggak," ucap Audi sedikit berbisik.


Darren malah tersenyum manis pada Audi, membuat hati perempuan itu meleleh seketika. Karena wajah tampan dan penuh karisma di depannya meski aura dingin tetap dominan.


Namun tidak bagi Sofi yang selama ini menyangka bisa mengambil sosok Darren untuk dirinya, ia sangat kesal melihat interaksi dua sejoli di depannya itu.


"Silvi, ayo kita kembali ke kantor! Meeting kita hari ini memang sudah selesai."


Sofi lantas menatap Darren dan mengangguk pelan, "Kami pamit dulu, Pak Darren. Segera kami laporkan setiap perkembangan dari proyek kita kali ini. Mungkin di waktu lain seperti saat makan siang atau mungkin dinner?" Sofi tersenyum sinis pada Audi.


"Sebab saya tak mau mengganggu waktu Anda bersama istri Anda hari ini," lanjut Sofi meski kalah, ia tak mau pulang dalam kondisi lemah.


Audi membalas tatapan sinis Sofi yang jelas ditujukan padanya. Tapi, ia tak gentar kali ini sebab tak mau lagi harga dirinya diinjak-injak oleh perempuan yang sudah mengkhianati ketulusannya sebagai seorang sahabat.


"Terima kasih atas undangannya, Bu Sofi. Saya pastikan akan ikut saat Anda mengundang suami saya makan siang atau dinner."


Sofi terkejut mendapat sahutan dari Audi. Ia pasti tak menyangka bahwa perempuan yang dikenalnya tak banyak bicara itu, bisa membalas perkataannya.


"Baiklah, Pak Darren. Saya permisi!" Sofi menengok pada Darren setelah memberi ancaman pada Audi dengan sorot matanya.


"Ya, silakan."


Darren bangkit berdiri. Ia kemudian membalas uluran tangan Sofi yang mengajaknya bersalaman.


Setelah itu, Sofi dan Silvi pun pergi dari ruangan. Meninggalkan Darren yang masih berdiri dan Audi serta Zain.


"Bisakah kamu menyiapkan makan siang sekarang?"


Entah siapa yang Darren maksud, tetapi Zain-lah yang langsung merespon, yakni memberikan anggukan hormat pada Audi, lalu pergi keluar ruangan meninggalkan Darren berdua bersama sang istri.


Debaran di hati Audi mendadak hadir kala lelaki tampan itu berbalik dan menatap ke arahnya tanpa bicara.


***