
Malam semakin larut ketika Darren sudah melakukan permainan panas mereka dalam kondisi normal. Ia yang pada akhirnya tak kuasa menahan sesuatu di dalam hati dan pikirannya saat melihat reaksi Audi yang menggila karena alat yang ia gunakan, memutuskan untuk menyudahi. Terlebih melihat istrinya yang begitu tersiksa sebab alat tersebut, membuatnya tak tega.
"Aku bukan seorang lelaki dominan. Pada akhirnya aku tak tega melihatmu seperti itu," ucap Darren yang baru saja mengeluarkan cairan hangatnya ke dalam rahim Audi setelah membuat istrinya itu mengalami pelepasan berkali-kali.
"Kau jahat, Darr."
"Maaf. Sungguh aku tidak tahu jika efeknya akan segila itu," sahut Darren seraya mengecup kening Audi.
Lelaki itu kemudian memeluk tubuh istrinya yang masih dalam kungkungan. Melepas satu rasa yang menggumpal di dalam dada untuk melampiaskan.
"Kamu membelinya, apakah tidak tahu sebelumnya akan seperti apa seorang perempuan kalo memakai alat itu?" tanya Audi dengan mata melirik ke arah alat berwarna pink yang tampak basah tersebut, sisa cairan dari tubuhnya.
"Tidak. Yang aku tahu, sesuatu yang gila dan seru akan terjadi. Yang akan membuat hubungan intim kita akan semakin seru. Memacu adrenalin."
Terdengar decak suara dari mulut Audi. Ia heran pada Darren yang dikiranya sudah memiliki pengalaman akan alat yang diberikan kepadanya tadi.
"Aku pikir sudah banyak wanita di luaran sana yang kamu minta untuk beraksi dengan alat tersebut," ucap Audi yang sontak membuat tubuhnya menjauh dari pelukan Darren.
"Apakah kamu sedang mengatakan kalau setelah berpisah denganmu aku kerap bermain dengan wanita lain selain kamu?"
Kedua mata Audi mengerjap, berkedip berkali-kali. "Mana aku tahu. Jujur aja aku enggak pernah merhatiin apalagi mencari-cari kabar tentang kamu lagi seudah kita berpisah."
"Kenapa? Kenapa kamu ngelakuin hal itu?"
"Hah! Ke-kenapa aku gitu? A-aku sendiri enggak tahu. Lagian, selama ini juga kita nikah karena perjodohan orang tua 'kan? Bakti yang aku lakuin ke papa sama mama."
Ada ekspresi tidak senang yang tampak di wajah Darren saat mendengar ucapan Audi barusan.
"Kalau begitu, mulai sekarang aku ingin kamu merhatiin dan cari-cari info atau kabar tentang aku."
Untuk ke sekian kali Audi menggerakkan kedua matanya. Sungguh ia tidak mengerti dengan kalimat-kalimat yang keluar dari mulut Darren.
"Untuk apa? Bukannya kamu enggak suka kalo kehidupan pribadi kamu dicampuri oleh orang lain?"
"Kecuali sama kamu, yang lain masih berlaku."
Audi lagi-lagi terdiam. Ia mencoba mencerna dan mencari arti dari ucapan Darren.
'Orang ini kenapa sih?' batinnya kemudian.
Perlahan Darren mendekatkan kembali wajahnya, lalu mengecup lembut bibir Audi singkat.
"Aku suka kalau kamu peduli padaku. Juga, mulai hari ini aku mau kita mencoba menumbuhkan rasa cinta di dalam hati masing-masing."
Audi hanya diam ketika Darren melepas kecupan demi mengatakan kalimat 'perintah' barusan.
"Bagaimana dengan Sofi? Bukannya kalian ...."
Secepat kilat Darren mendaratkan kecupan kesekian kalinya di malam itu.
"Jangan menyebut nama perempuan atau lelaki lain kalau kita sedang berdua."
"Tapi, Sofi itu suka sama ka ...."
Kali ini ciuman yang Darren berikan. Mendarat sempurna, bahkan menimbulkan suara desah ketika ia mengubahnya menjadi *******.
"Ah, Darr."
Lelaki itu menatap wajah istrinya yang kemerahan karena ulahnya. Sangat cantik dan menggoda di matanya.
'Andai aku tega, aku bisa saja kembali membuatmu menjerit, Di.' Darren membatin senang.
"Tapi, perempuan itu kelihatan banget nunjukin kalo ... Darren! Berhenti dulu!" seru Audi yang akan kembali mendapat serangan bibir dari suaminya kalau saja tidak segera ia hentikan dengan tangan menahan bibir Darren yang sudah tepat berada di depan bibirnya.
Senyum tipis muncul di depan Audi. Darren sedikit memundurkan kepalanya demi mengatakan sesuatu.
"Aku hanya butuh kepercayaan darimu. Tak perlu aku beri penjelasan atau pembelaan apapun karena bagiku itu hal yang sia-sia kalau rasa percaya saja tidak kamu genggam."
Audi semakin tak mengerti. Ada apa dengan Darren yang sekarang? Meski sikap dingin dan acuhnya tidak berubah, tetapi kata-katanya yang keluar seperti bukan sosok Darren yang ia kenal dulu.
"Kenapa? Kenapa kamu ngomong kaya gini, Darr?"
Tangan kanan lelaki itu terulur dan mendarat di sisi wajah sang istri. Diusapnya lembut sehingga membuat istrinya itu terbuai dengan sentuhan yang diberikan.
'Please, jangan bikin aku jatuh cinta kalau kamu hanya ingin mempermainkan aku,' batin Audi di tengah raganya mendapat belaian lembut dari Darren.
"Aku hanya ingin mencoba hidup normal seperti orang lain."
"Apakah termasuk menumbuhkan perasaan cinta meski kamu enggan?"
"Ya. Termasuk itu."
Suara Darren memang lembut, tetapi Audi masih menganggap nada itu tak ubahnya seperti nada perintah dari seorang Darren terhadap orang yang berada di bawah kuasanya.
"Bagaimana kalau pada akhirnya kamu mengkhianati aku?"
"Tidak mungkin," jawab Darren penuh keyakinan.
Ia kemudian menarik tubuh Audi ke dalam pelukannya. Tak ada kata hanya usapan lembut di punggung telanjang istrinya.
Audi, dalam diamnya seolah berpikir. Apakah semua ini hanya keisengan Darren demi mewarnai perjanjian satu tahun yang akan mereka lewati ke depannya? Atau ini benar-benar nyata di mana sebetulnya sudah ada benih cinta yang hadir di hati lelaki itu terhadapnya.
Sekian detik keduanya terdiam, mencoba menyelami pikiran masing-masing hingga Darren kemudian mengatakan sesuatu yang membuat Audi tak mampu menjawab.
"Apakah kamu tak mau mencoba? Apakah kamu menganggap jika perjanjian yang kita buat hanya sebuah kesepakatan belaka?"
"Aku enggak tahu." Audi tampak menggeleng. "Kamu terlalu sulit aku pahami, Darr."
"Kalau begitu, mulai sekarang kamu coba semua. Coba untuk memahami aku. Coba untuk peduli padaku. Coba untuk memperhatikan aku, dan cobalah untuk mencintaiku."
Seketika Audi terdiam. Ia benar-benar syok mendapat permintaan Darren yang menurutnya amat sangat pribadi.
"Kalau kamu sendiri gimana?"
Darren tersenyum sekarang. Bukannya menjawab, ia malah memeluk lalu menempelkan bibir di bibir istrinya itu.
'Andai kamu tahu kalau aku sudah melakukan itu sejak awal perjodohan yang kedua orang tua kita lakukan, mungkin kamu tak akan mengatakan hal ini, Di,' batin Darren dalam aksinya yang terus menjelajah kedalaman mulut sang istri untuk ke sekian kali.
Enggan untuk kembali bertanya lebih jauh, Audi hanya diam dan menerima semua perlakuan Darren padanya. Dalam ciuman penuh damba yang suaminya itu lakukan, dalam hatinya ia berkata 'baiklah, aku akan coba'.
Lalu, setelah itu Audi pun membalas aksi panas yang Darren mulai dalam ronde kedua mereka malam itu.
Ada seringai mengiringi kebahagiaan hati Darren sebab belitan lidah yang Audi lakukan terhadapnya, seolah memberi tanda jika mereka sepakat malam itu demi menggapai kebahagiaan selayaknya pasangan suami istri pada umumnya.
'Kalau kamu mengkhianati aku, tak perlu satu tahun bagiku untuk menyudahi perjanjian yang sudah aku tanda tangani,' batin Audi bicara dalam cumbuan hangat yang Darren lakukan, di mana kini sudah kembali menguasai raganya yang polos.
'Dari dulu aku tak pernah mengkhianati kamu, Di. Tapi, kamu yang terlalu polos dan percaya saja pada omongan dari mulut wanita ular itu.'
Keduanya memang tak bicara, hanya anggota tubuh yang bergerak mengikuti irama desah napas, juga liukkan penuh gairah seiring simfoni suara yang memenuhi ruangan. Namun, janji yang terucap di dalam diri masing-masing, kini terpatri dalam ******* panjang yang meluncur bebas dari mulut pasangan suami istri tersebut.
***