
Di sebuah ruang kerja di mana Darren akhirnya memilih untuk memeriksa laporan yang Zain kirimkan ke email-nya mengenai tender proyek yang PT. Ganada dapatkan. Sebenarnya hal itu bisa Darren lakukan besok ketika di kantor, tetapi karena suasana hatinya kesal setelah mendapat penolakan dari Audi, ia pun berdalih ingin menyelesaikan pekerjaan tersebut malam itu juga.
Sangat aneh memang ketika seorang Darren menerima penolakan dari orang lain atas keinginannya. Terlebih hal tersebut dilakukan oleh istrinya sendiri. Yaitu orang yang jelas sudah bertekuk lutut padanya demi uang yang seharusnya mau melakukan apa saja dari setiap permintaan yang ia ajukan. Tapi, demi mengingat pesan dari penasehat hidupnya, yakni Zain, yang memintanya untuk melakukan semuanya secara perlahan, Darren pun memilih menurut.
Kepala Darren sudah sakit sejak tadi. Ia yang begitu ingin bercinta dengan Audi, berjuang begitu kuat demi meredam nafsunya yang masih sulit dipadamkan.
'Kenapa perasaan candu ini semakin menjadi? Padahal saat kamu meninggalkan aku dulu, aku masih bisa bertahan dengan tidak memaksa kamu untuk tetap bersamaku. Tapi, sekarang setelah kamu sendiri yang menghampiri, justru aku yang tak sanggup menahan godaan ini,' batin Darren kesal.
Meski kedua matanya menatap layar laptop, tetapi bayangan akan keindahan tubuh Audi yang sempurna di matanya, terus menari-nari di pelupuk mata. Membuat Darren sesekali terganggu sebab bukan baris angka dan huruf yang ada di otaknya, malahan kaki jenjang Audi dan bulatan indah yang menjadi area favoritnya seolah memanggil nama Darren minta dicumbu.
"Aku sudah memeriksanya, Zain. Ada beberapa poin yang harus kamu revisi terutama sekali di bagian waktu estimasi penyelesaian. Kamu bisa meminta pihak Ganada untuk memperbaharui. Paksa mereka untuk menargetkan proyek ini hanya dalam kurun waktu enam bulan saja, tidak lebih."
Rupanya saat memeriksa laporan, Darren juga sembari bicara dengan Zain melalui sambungan telepon.
'Baik, Pak. Saya akan segera meminta pihak sana untuk me-rivisi poin tersebut.'
Darren kembali mengamati layar laptop di balik kaca mata bacanya. Laporan yang sudah ia hafal mengenai poin-poin yang harus diperhatikan, membuatnya begitu mudah memeriksa satu demi satu. Sehingga pekerjaan yang kerap memakan waktu lama, bisa ia selesaikan dengan sangat cepat.
'Apakah masih ada yang harus saya perbaiki, Pak?' Zain bertanya dari seberang panggilan.
"Sepertinya hanya itu saja. Kalau saya masih menemukan kekurangan pada laporan ini, saya akan memberi tahu kamu besok."
'Baik, Pak. Kalau begitu saya sudahi panggilan ini supaya Bapak bisa segera istirahat.'
"Hem, ya. Aku pasti akan langsung istirahat, Zain."
Ucapan yang Darren katakan dengan suara lirih, nyatanya disadari oleh sang asisten.
'Apakah ada sesuatu yang mengganggu Anda, Pak?'
Selalu seperti itu. Sekian tahun bekerja bersama Darren, lelaki empat puluh tahun itu seperti sudah bukan lagi seorang asisten pribadi bagi pengusaha tersebut. Kepekaan lelaki yang sudah memiliki tiga orang anak itu semakin hari semakin tinggi saja.
"Audi menolakku."
Terdengar desah kaget dari seberang telepon. Darren tahu jika asistennya itu seperti merasakan apa yang tengah ia rasakan saat ini.
'Jadi, apa yang Anda lakukan?'
"Aku pergi. Makanya aku mengganggumu malam-malam begini."
'Mungkin ada sesuatu yang membuat Bu Audi bertindak demikian. Sebab setahu saya, beliau tidak pernah sekali pun membantah Anda.'
"Ya, aku tahu itu. Dan untuk itulah aku meminta tolong padamu. Tolong selidiki. Sikapnya sebenarnya sudah lain sejak datang ke kantor siang tadi."
'Baiklah. Saya akan mencari tahu. Sekarang, lebih baik Anda istirahat. Saya akan berikan jawabannya secepat mungkin supaya Anda bisa tenang.'
"Ehm, ya ... terima kasih, Zain. Tapi, apakah aku boleh bertanya sesuatu?"
'Silakan, Pak.'
"Sampai kapan aku harus bertahan di kondisi ini? Kamu tahu aku seperti apa dan bagaimana bukan?"
Darren kembali bisa mendengar Zain menghela napas panjang.
'Jawabannya hanya satu, apakah Anda ingin Bu Audi benar-benar kembali pada Anda dan tulus mencintai Anda?'
"Apakah kamu harus menanyakan hal itu lagi? Ini sudah sekian kali kamu menanyakan pertanyaan yang sama padaku, Zain."
'Ya, seperti itu juga Anda menanyakan pertanyaan yang sama kepada saya, Pak.'
Terdengar kekeh suara dari seberang pendengaran Darren, dan ia tahu kalau asistennya itu tengah menertawakannya.
"Andai kamu tahu, Zain, ini situasi ini benar-benar membuatku frustrasi!"
Tak ada respon yang Zain berikan atas kondisi Darren yang sepertinya tersiksa dengan sikap lembut dan baiknya kepada sang istri saat ini. Ya, jika memang hasil baik yang diinginkan, mau tak mau sang majikan harus rela mengikuti cara dan sarannya. Begitu hati Zain berbicara.
'Saya tahu, Pak. Tapi, Anda akan menikmati hasilnya jika mau bersabar lebih lama.'
"Seberapa lama batas waktu yang bisa kamu janjikan?"
'Itu tergantung cara Anda memperlakukan Bu Audi, Pak.'
"Aku melakukan semua yang kamu sarankan, Zain. Kamu pikir apa?"
'Maaf, Pak. Kalau begitu, tidak sampai kontrak Anda dan Bu Audi berakhir, istri Anda akan memutuskan bersama Anda selamanya.'
"Aku pegang kata-katamu!" seru Darren yang benar-benar serius mengatakan hal tersebut.
'Asal jangan ada pengganggu saja,' sahut Zain yang seketika membuat Darren kembali naik tensinya.
"Jangan main-main dengan ini, Zain. Kalau tidak, aku akan melakukan sesuai caraku."
Ingin sekali Zain berkata silakan, tetapi ia tahu jika Darren tidak akan sungguh-sungguh melakukan seperti caranya dulu. Mau kesal atau apapun, lelaki itu akan tetap menjalankan saran yang ia berikan.
Namun, Zain sama sekali tidak menjawab. Ia justru meminta Darren untuk segera istirahat, tidur.
"Kau memang anak buah yang kurang ajar, Zain."
Tak ada balasan kata dari lelaki di seberang telepon, membuat Darren segera mematikan dan mengakhiri panggilannya tersebut.
Lelaki itu tampak menghela napas dan membuangnya pelan. Entah kenapa perasaan kecewa sebab telah ditolak oleh Audi, perlahan semakin sirna setelah ia bisa berbicara dengan Zain.
'Benar apa yang Zain katakan, sebaiknya aku segera tidur. Aku pikir, Audi juga pasti sudah tidur sekarang.'
Darren segera bergegas menuju kamar utama di lantai dua. Ruangan yang gelap sebab para pembantu sudah mematikan semua penerangan, membuat Darren harus ekstra menajamkan penglihatannya melewati ruangan demi ruangan.
Ketika ia melewati pintu penghubung ruang keluarga dan ruang makan, kedua matanya iseng menengok ke arah ruangan dengan meja besar panjang di sana. Seketika memorinya melompat ke waktu di mana ia dan Audi melakukan olah raga malam di meja panjang tersebut.
Malam yang tengah diguyur hujan dibarengi suara petir dan guntur menghantam alam, malah membuat hasrat dan nafsu Darren semakin meninggi waktu itu.
'Sial sekali! Kenapa situasi ini malah datang kembali,' gumam Darren sebab tiba-tiba mendengar suara petir seolah menghantam atap, persis di atas rumahnya.
Ia pun segera beranjak menaiki anak tangga dan mencoba melupakan kegiatan apa yang barusan terbersit dalam benaknya.
'Sabar beberapa saat sampai hasil indah Anda dapatkan.'
Kalimat Zain mendadak hadir di saat Darren ingin berontak kala membuka pintu kamarnya.
Di atas ranjang besar, tampak Audi yang sudah terpejam dengan tubuh yang ditutup selimut hingga atas leher.
'Kamu sungguh-sungguh menolakku, Audi!' geram Darren yang akhirnya memilih naik ke atas ranjang dan memunggungi sang istri yang sebetulnya belum tertidur.
'Dia betul-betul marah!' batin Audi demi mendengar geraman dari mulut suaminya barusan.
***