With My EX

With My EX
Bab 15. Kembali Sofi



Audi mendadak merasa ngeri saat mendengar pertanyaan yang bernada dingin dan menyeramkan di telinganya. Panggilan yang ia tahu dari Darren, rupanya memiliki nuansa horor yang tidak ia duga sebelumnya.


"Ma-maaf. Aku tadi sedang mendengar penjelasan dari dokter."


Demi tidak ingin percakapannya didengar oleh papa dan adiknya, Audi sengaja menyingkir sedikit menjauh dari keberadaan dua orang tersebut. Sebab ia sendiri tengah berusaha menenangkan hatinya ketika akan berbicara dengan Darren yang tampak tengah emosi karena pesan yang tidak ia balas.


'Apa maksud kamu? Apakah operasinya sudah selesai?'


Aneh, nada suara Darren terdengar berubah sekarang. Jauh lebih pelan dan tidak semenyeramkan sebelumnya, begitu pikir Audi.


"Y-ya. Operasinya baru selesai, dan berjalan lancar. Barusan dokter sudah menjelaskan kalau kondisi mama baru akan diketahui setelah siuman nanti."


'Syukurlah kalau begitu. Aku ikut senang mendengarnya.Sekarang, apakah mama sudah dipindah ke ruang perawatan?'


"Belum. Ini aku, papa, dan Bagas lagi nunggu mama keluar dari ruang operasi. Tim medis masih menyiapkan semuanya."


'Ehm, begitu.'


"I-iya."


Keduanya sama-sama terdiam sekarang. Lalu,


'Ya sudah, kalau begitu kamu tunggu mama sampai keluar. Kabari aku secepatnya karena kamu harus ke kantor untuk menemaniku makan siang.'


"Eh, itu ... bagaimana kalau aku enggak keburu? Maksudku, aku enggak tahu kapan mama keluar. Apakah enggak apa-apa kalau kamu tetap nunggu aku datang?"


'Itu bukan masalah. Hanya sepulu atau tiga puluh menit aku menunggu, itu bukan sesuatu yang menyakitkan. Dua tahun aku menunggumu, aku bisa melewatinya.'


Mendengar kalimat Darren barusan, membuat Audi tak bisa membalas. 'Apa maksudnya?' batin wanita itu.


'Ya sudah, aku tutup teleponnya dulu. Aku harus menerima tamu.'


"Eh, iya.'


Panggilan itu pun berakhir. Audi mematikan panggilan setelah Darren lebih dulu memutuskannya.


Lalu, tampak sang papa dan adiknya menengok dengan tatapan penasaran.


"Apakah kalian sedang bertengkar?" tanya Kevin tampak cemas.


"Enggak, Pah. Kata siapa?"


"Itu, tadi Papa dan Bagas sempet dengar. Kayanya Darren marah sama kamu."


Kevin meminta putri sulungnya itu duduk. "Audi, jagalah baik-baik hubungan kalian. Jagalah ego dan rasa ingin menang sendiri. Kamu pasti mengerti, seorang pengusaha seperti Darren begitu banyak hal yang dipikirkan. Kalau kamu sebagai seorang istri tidak pandai menjaga dan mengontrol perasaan atau emosi, bisa dipastikan hubungan kalian tak akan bertahan lama, sama seperti dulu. Sebab kalau kamu berharap supaya Darren yang mengontrol emosinya, itu bukan satu hal yang mudah. Setidaknya kalau kamu yang mendahului atau berperan menjadi istri yang baik dan berbakti, Papa yakin Darren juga akan melakukan hal yang sama padamu."


'Apakah tidak cukup menurut Papa waktu dua tahunku saat menjadi istri Darren waktu itu? Seorang istri yang harus meninggalkan masa mudanya, melewati momen-momen seru bersama kawan-kawan, menuruti semua permintaan dan kemauannya tanpa pernah membantah sama sekali karena bakti yang aku lakukan sebagai seorang anak. Sekarang, Papa meminta aku melakukan hal yang sama demi laki-laki yang sudah mau menolong dan membantu kita karena aku menjaminkan tubuhku?'


Kalimat balasan itu rupanya hanya berupa suara hati Audi yang tidak sampai ia ucapkan. Respon yang ia berikan justru hanya sebuah anggukan sebab rasa cinta, sayang dan hormatnya terhadap sang ayah.


"Audi akan melakukan apa yang Papa katakan barusan. Doakan Audi, Pah, semoga Audi bisa menjadi seorang istri seperti apa yang Papa harapkan."


"Syukurlah," ucap Kevin merasa terharu.


Kevin terlihat menggenggam tangan sang putri dan tersenyum bangga.


'Entah apa yang terjadi padamu, Nak. Tapi, doa tulus yang bisa Papa pinta pada Tuhan, semoga kamu selalu diberikan perlindungan juga kebahagiaan.'


**


Setengah jam kemudian Marissa terlihat dipindahkan ke ruang perawatan meski kondisinya masih belum siuman. Audi dan keluarganya yang masih setia menunggu, mengikuti para perawat yang mendorong bangkar ranjang rumah sakit di mana sang mama terbaring lemah tak sadarkan diri menuju ruangan dengan papan hitam bertuliskan VVIP di dindingnya.


Kamar perawatan itu adalah kamar yang sama saat mama Audi baru dipindahkan dari rumah sakit yang lama atas perintah Darren. Kamar yang bisa dipastikan akan nyaman ditinggali bagi keluarga yang menunggu pasien.


Jam sudah menunjukkan angka dua belas tepat. Audi teringat akan permintaan Darren untuk menemaninya makan siang. Namun, hatinya sedikit galau sebab sang mama masih belum juga bangun dari pengaruh obat bius paska operasi.


"Pah, ehm ... apa boleh Audi izin pergi ke kantor Darren sebentar?" Sedikit ragu, Audi pamit pada sang papa.


Meski sedikit malas, tetapi ia tak ingin mengecewakan papanya kalau tidak mengikuti permintaan sang suami.


Kevin menatapnya dengan ekspresi datar. "Apakah kamu ada janji sama Darren?"


Seketika terlihat perubahan pada wajah Kevin. Ia jelas mengizinkan putrinya itu untuk menemui sang menantu.


"Ah, tentu saja Papa izinkan. Sana kamu pergi. Temani suami kamu dulu. Masih ada Papa dan Bagas yang menunggu mama sampai siuman. Kamu bisa kembali setelah selesai."


Tentu saja Audi bisa menduganya. Sang papa pasti akan memberinya izin jika itu erat hubungannya dengan Darren.


"Ya sudah aku pergi dulu yah, Pah. Kabarin aku kalau mama udah sadar," ucap Audi sembari menengok ke arah ranjang di mana sang mama terbaring.


"Ya, ya. Nanti Papa atau Bagas akan kasih kabar. Kamu enggak perlu khawatirin mama. Udah sana pergi! Sama Pak Lutfi 'kan?"


"Iya, Pak Lutfi nunggu di parkiran."


Kevin terlihat mengangguk. Lalu, dilihatnya sang putri pergi setelah berbicara pada adiknya -Bagas.


"Titip mama yah, Gas?"


"Iya, Mbak. Tenang aja."


Langkah kaki Audi terasa berat ketika harus pergi menemui Darren di kantornya. Meski ada enggan, tetapi ia tetap harus pergi kalau tidak mau mendapatkan masalah baru nanti.


Sampai di lobi rumah sakit, Pak Lutfi -supir pribadi Darren, sudah menunggu Audi di pelataran gedung. Lelaki itu langsung bersiap setelah dikabari olehnya.


"Apakah Pak Darren ada menghubungi Bapak?" tanya Audi setelah Pak Lutfi melajukan kendaraannya.


"Enggak ada, Bu. Baru Ibu aja yang ngehubungi saya barusan. Sejak sampai di rumah sakit, Bapak enggak hubungi saya sama sekali."


"Oh. Ya sudah."


Audi kemudian terlihat diam. Sepanjang perjalanannya menuju kantor tak ada percakapan yang terjadi antara ia dan sang supir. Wanita itu lebih memilih menenangkan hatinya sebab akan kembali menemui Darren di kantornya.


Tak sampai berjam-jam mobil pun sampai. Audi lantas turun setelah seorang security membukakan pintu mobil belakang.


"Terima kasih, Pak Hamdi!"


Ucapan terima kasih Audi lontarkan pada sosok sang penjaga keamanan. Orang yang sama, yang kemarin ia jumpai ketika pertama kali menginjakkan kedua kakinya setelah sekian lama.


Namun, sekarang suasana dan statusnya sudah lain. Baru kemarin Audi datang untuk meminta bantuan Darren, tetapi hari ini ia sudah sah menjadi istri pengusaha itu kembali.


"Sama-sama, Bu Audi. Silakan!"


Balasan yang petugas keamanan itu berikan terasa lain di mata Audi. Lebih segan dan penuh hormat dibanding kemarin. Meski kemarin lelaki itu pun bersikap baik padanya, tetapi kali ini seolah ia sedang menunjukkan rasa hormat kepada atasan.


'Apakah Darren sudah memberikan pengumuman atas hubungan kami sekarang?' tanya Audi dalam hati.


Wanita itu pun memilih tak ambil peduli. Ia kini berjalan menuju lift tanpa berbelok ke meja petugas resepsionis yang tampak tersenyum menatapnya dari kejauhan.


Ketika Audi sedang menunggu di depan pintu lift, tiba-tiba ia dikejutkan dengan suara denting si kotak besi tersebut. Terlebih lagi saat ada sesosok wanita berdiri, muncul dari dalam lift yang terbuka.


'Sofi,' batin Audi.


"Audi!" Sebaliknya Sofi mengucap dengan jelas. Bahkan, ada senyum mengejek yang tampak di bibirnya, yang siang itu dipoles lipstik berwarna merah menyala.


Wanita itu keluar dari lift. Berjalan dengan gaya yang dibuat seanggun mungkin, seolah ingin menunjukkan pada Audi kalau dirinya masih baik-baik saja dan tetap angkuh seperti dulu.


"Wah! Apakah ini suatu kebetulan? Setelah kemarin aku melihat kamu bersama Darren di hotel, apakah sekarang kamu juga akan menemui lelaki itu lagi?" tanya Sofi ketika Audi terlihat tak mengindahkannya dan malah bergegas masuk ke lift.


Sekali lagi, Audi sama sekali tak acuh. Ia diam saja bahkan ketika pintu lift menutup di depan wajah Sofi yang kini menyusul warna lipstik-nya, memerah karena emosi. Bahkan, Audi masih sempat mendengar mantab sahabatnya itu mengumpat.


"Sialan!"


Namun, umpatan yang Sofi lontarkan, juga Audi ikuti setelah lift berjalan naik.


'Sial! Apakah aku harus sesial ini bertemu dengan wanita itu di kantor suamiku? Ah, laki-laki itu pun sama sialannya,' umpat Audi yang sekarang kembali kesal. Mood-nya semakin tak baik.


'Tahu begitu aku memilih menunggu sampai mama sadar. Tentu aku tak akan bertemu wanita itu di sini. Dan aku tidak akan tahu ada sesuatu yang terjadi antara dia dan Darren!'


***