
Rupanya Darren tidak diam saja ketika menyuruh Audi untuk bergegas ke rumah sakit demi menunggu sang ibu yang sedang menjalani operasi. Saat wanita itu keluar, pastinya setelah penampilannya rapi dan segar, sebuah mobil sudah menunggu di pelataran gedung hotel.
"Pak Lutfi? Bukannya tadi katanya saya dijemput siang?" tanya Audi yang heran sebab supir pribadi suaminya sudah menunggu saat ia baru akan keluar kamar hotel.
"Iya, Bu. Bapak memang menyuruh saya jemput di jam dua belas, tetapi katanya sekalian saja antar Ibu sekarang ke rumah sakit."
"Oh gitu. Padahal saya bisa naik taksi dari sini."
Pria paruh baya bernama Lutfi itu tersenyum. "Mungkin Pak Darren tidak mau kalau Ibu naik taksi," sahutnya yang kemudian membuka pintu mobil supaya Audi masuk.
"Terima kasih, Pak."
Audi sudah duduk di bangku belakang. Seperti dirinya dulu, kehidupannya sebagai Nyonya El Syauqi akan kembali ia jalani.
"Kalau begitu, maaf kalau saya mungkin akan kembali merepotkan Bapak."
"Tidak apa-apa, Bu. Ini memang sudah menjadi pekerjaan saya. Saya malah senang antar jemput begini, enggak bosan diam aja di parkiran kantor," tutur Pak Lutfi tersenyum.
Mobil kemudian melaju meninggalkan area pelataran gedung. Bergabung dengan kendaraan lain di jalan raya demi menuju tempat yang sama seperti semalam, rumah sakit.
Audi pun memilih untuk menikmati jalanan sembari sesekali memeriksa ponselnya, khawatir ada panggilan atau pesan dari Darren yang tidak ia dengar.
"Oh iya, Pak Lutfi, maaf apa boleh saya tanya sesuatu?"
"Tanya apa, Bu?"
Meski hal tersebut sangat dilarang dan Audi tahu kalau semua pekerja tak akan mengatakan apapun, entah mengapa wanita itu penasaran akan sesuatu.
"Setelah saya pergi dari rumah, apa ada teman atau siapa pun itu yang suka datang ke rumah?"
"Maksud Ibu, saudara, keluarga atau apa?"
"Ehm, kolega, teman kerja, atau pacar bapak mungkin?" Sedikit khawatir ketika Audi menyebut satu kemungkinan terakhir, tapi ia memaksa berspekulasi.
Setelah pertemuannya dengan Sofi siang kemarin, entah kenapa Audi merasa penasaran dengan kehidupan Darren setelah mereka bercerai.
Keduanya memang jarang bertemu, hanya sesekali itu pun pertemuan yang berhubungan dengan bisnis, atau perusahaan. Di luar itu, Audi memilih untuk tidak peduli dan mencoba melupakan apapun tentang suaminya itu.
Terdengar tawa dari bangku di balik kemudi. Pak Lutfi sepertinya mendengar sesuatu yang lucu sehingga mendadak terkekeh setelah Audi selesai bertanya.
"Kenapa, Pak? Apakah pertanyaan saya aneh dan lucu?"
"Eh, bukan. Maaf, Bu, bukan itu. Tapi, saya sedikit aneh saja waktu Ibu bilang pacar. Sebab setahu saya, jangankan pacar, perempuan yang adalah teman atau rekan bisnis, tak pernah saya lihat ada yang sampai datang ke rumah. Kalau bertemu di luar memang ada, tapi setahu saya dari yang Pak Darren dan Mas Zain obrolkan, mereka hanya teman atau partner kerja saja."
Audi mengangguk, mengerti. Tapi, mendadak ada kupu-kupu berterbangan di sekitar wajahnya.
Audi tak mengerti itu apa. Tapi, perasaan itu tiba-tiba saja hadir seiring gelenyar aneh di hatinya.
"Kalau wanita bernama Sofi, apa Bapak pernah ketemu sama beliau? Maksudnya, apakah pernah ada pertemuan khusus yang mereka lakukan di luar kantor?"
"Sofi? Apa yang Bu Audi maksud adalah Bu Sofi anaknya Pak Kusuma? PT. Ganada?"
"Bukan begitu, Bu. Bu Sofi teman Bu Audi juga 'kan, yang waktu itu pernah ketemuan juga sama yang lain. Saya 'kan suka anter Ibu kalau pas ada ketemuan."
Tiba-tiba Audi menepuk keningnya sendiri. "Ah iya, saya lupa."
Ya, dulu mereka adalah sahabat baik. Bahkan sebelum Audi menikah dengan Darren karena papanya jodohkan. Sering nongkrong bersama teman-teman yang lain, sampai akhirnya Audi sedikit mengurangi pertemuan semenjak menikah sebab dilarang oleh Darren. Namun, seringnya Audi absen malah memunculkan sebuah kabar yang tidak Audi ketahui kalau bukan karena teman-temannya yang memberi tahu.
"Sofi main belakang. Diam-diam dia sering jalan sama suami kamu, Di!"
Meskipun pernikahan yang Audi dan Darren jalani karena sebuah perjodohan, tetapi ia tetap merasa dikhianati atas sikap Darren yang ternyata memiliki wanita lain di belakang hubungan pernikahannya. Terlebih perempuan itu adalah sahabatnya sendiri.
Audi memang tidak pernah sampai memergoki hubungan terlarang itu, tetapi ketika ia bertanya pada Sofi, sang sahabat dengan santai dan tak tahu malu mengiyakan tuduhan tersebut tanpa mengingkari sama sekali.
"Dia lebih hot dari yang aku bayangkan."
Satu buah kalimat itu cukup bagi Audi untuk kemudian menggugat cerai Darren. Meski alasan sebenarnya karena ia sendiri sudah jengah dan menderita sebab hanya dijadikan burung dalam sangkar.
Bahkan, lelaki itu pun tidak mengelak atau membela diri ketika dituduh memiliki hubungan istimewa dengan Sofi. Darren langsung menandatangi surat gugatan cerai dan proses perceraian itu berjalan lancar juga cepat sebab kemantapan keduanya.
Kembali pada obrolan Audi dengan sang supir, wanita itu masih menunggu apakah pertanyaannya akan menemukan jawaban yang sesuai dengan kecurigaannya selama ini.
"Pak Darren sangat sibuk. Saya bahkan sampai tidak tahu kapan beliau istirahat karena ketika baru pulang larut malam, pagi-pagi sekali kami sudah harus berangkat. Kegiatannya tak jauh dari rapat, undangan bisnis, atau pengecekan lapangan. Pertemuannya tak pernah jauh dari para pebisnis, kolega atau teman-teman seprofesi. Kalau bertemu dengan Bu Sofi, pasti pernah, Bu. Tapi, ya ... itu tadi, setahu saya urusan bisnis juga. Soalnya Mas Zain pasti ikut gabung dan Bu Sofi juga enggak sendirian."
"Oh, iya, Pak."
Apakah yang supir pribadi Darren itu katakan benar? Sekali lagi, biasanya menanyakan hal tentang Darren adalah sebuah larangan tak tertulis. Para pekerja tak akan mengatakan apapun ketika disodorkan pertanyaan mengenai sang majikan. Mereka akan bungkam karena memang takut akan nasib pekerjaan mereka.
Tapi, pria paruh baya itu terdengar jujur ketika menjawab. Tak ada keraguan atau hal yang ditutup-tutupi.
Namun, bayangan akan sikap angkuh dan sombong Sofi saat Audi akhirnya resmi bercerai dengan Darren, masih menari-nari di pikirannya. Bahkan wanita itu sempat berkata lirih padanya, "Kamu kalah! Akulah pemenangnya. Aku pastikan lelaki itu akan berada di dalam pelukanku dan menghangatkan ranjangku setiap malam."
Sakit yang Audi rasakan waktu itu, perlahan memudar ketika dirinya menguatkan diri sendiri kalau Darren bukanlah laki-laki yang ia cintai. Darren hanya lelaki yang dijodohkan demi urusan bisnis.
Namun, rasa sakit itu tiba-tiba kembali hadir justru di saat ia sudah kembali masuk dalam jerat tak terlihat yang Darren ikatkan pada hati dan pikirannya.
"Sudah sampai, Bu."
Audi dibuat terkejut ketika Pak Lutfi memberi tahunya saat mobil sudah berhenti di depan pelataran gedung rumah sakit.
"Eh, iya."
Audi kemudian turun dari mobil setelah Pak Lutfi memberi tahunya akan menunggu di parkiran.
'Sial sekali! Kenapa aku tiba-tiba merasa aneh. Padahal tak ada apapun yang seharusnya aku khawatirkan. Hubungan kami hanya sebuah perjanjian.'
***
Sekedar info, setelah bab SAH seharusnya ada 2 bab lain yang sayangnya tertolak oleh sistem. Judul bab-nya MALAM MENGGAIRAHKAN & ADAKAH PART 2. Kalian bisa cari bab tersebut dengan lihat IG aku yah.. Ummu_amay8502. makasih!
***