With My EX

With My EX
Bab 18. Telat Bangun



Audi tidak menyangka ketika ia bangun ternyata jam sudah menunjukkan angka tiga sore. Hampir dua jam ia tertidur setelah Darren mengajaknya bercinta.


'Ini sudah menjadi resiko dan pilihanmu, Audi. Jadi, jalani saja,' batin Audi menenangkan hatinya sendiri sebab kesal karena ia tak bisa melawan ketika Darren mengajaknya tadi.


Di dalam ruangan yang bisa dikatakan sebuah kamar tidur, Audi segera beranjak. Ia sama sekali tak mempedulikan keberadaan Darren yang ia yakin sudah kembali bekerja di ruangannya. Jadi, ia memilih membersihkan diri di dalam toilet yang juga tersedia di ruangan tersebut.


Audi cukup takjub ketika melihat ada sebuah goodie bag yang diletakkan di atas meja. Ia tahu kalau isinya adalah satu stel baju baru yang sudah Darren siapkan.


'Lagi, kamu melakukan hal yang akan membuatku sulit membuat keputusan akhir,' gumam Audi saat tebakannya benar setelah memeriksa pakaian berwarna peach di dalam goodie bag.


Wanita itu lalu meletakkan kembali baju yang indah -dan dipastikan mahal, itu ke dalam tas. Ia akan memakainya nanti setelah membersihkan diri.


'Bagaimana bisa lelaki itu membiarkan aku tidur sedangkan seharusnya aku kembali ke rumah sakit untuk melihat kondisi mama.'


Audi memang kesal pada suaminya. Ia kesal karena Darren membiarkannya tidur. Lelaki itu seharusnya tahu kalau ia akan kembali ke rumah sakit, tetapi malah sengaja mengatur suhu udara di kamar demi memastikan kenyamanan tubuhnya setelah berhasil dinikmati.


Isi pesan yang Bagas kirim, memberi tahu Audi kalau sang mama sudah siuman dari obat bius paska operasi. Meski tak ada permintaan atau pertanyaan dari adik dan papanya, Audi jengkel karena ia terlambat tahu. Ia kesal karena tidak ada ketika mamanya terbangun setelah operasi.


Sedangkan di ruangan lain, meninggalkan suasana emosi yang tengah Audi rasakan, Darren, pelaku yang dituduh oleh istrinya sendiri, sudah kembali bekerja dan memeriksa beberapa laporan penting. Suasana hatinya yang pasti lain dari sang istri, membuat asisten pribadinya turut merasa gembira.


'Sudah lama aku tidak melihat Pak Darren ceria seperti sekarang. Ekspresi itu, ekspresi yang sudah lama tidak pernah ia tunjukkan.' Isi hati Zain ini adalah penilaian atas apa yang ia lihat.


Di sana, di meja dengan tatapan mata fokus ke arah laptop, Zain bisa melihat sosok seorang lelaki yang begitu bahagia.


'Ini semua karena Bu Audi 'kan? Pasti tidak salah lagi kalau sebetulnya Anda sangat mencintainya. Andai Anda dan istri Anda tidak keras kepala dan mementingkan ego masing-masing, aku sangat yakin kalau kehidupan kalian sudah bahagia sejak pernikahan pertama. Dan kesepakatan ini tidak harus terjadi.'


Zain yang sudah lama bekerja dengan Darren, jelas hafal dengan kehidupan yang atasannya jalani. Dari kehilangan kedua orang tua, lalu mengemban beban tugas yang sangat berat yakni meneruskan kepemimpinan perusahaan di saat ia baru selesai kuliah S1.


Tak memiliki banyak bekal selain yang dipelajari di kampus, Darren harus berusaha sangat keras.


Kemudian, di saat ia sudah berhasil mengembangkan sayap bisnis dan memajukan perusahaan peninggalan keluarganya hingga ia disegani oleh banyak rekan dan kolega, lelaki itu dihadapkan pada sebuah wasiat yang penasehat hukum kedua orang tuanya sampaikan. Darren harus menikah dengan Audi, yakni perempuan yang ternyata adalah anak dari sahabat papanya. Balas budi sebab papanya Audi pernah membantu ayah Darren ketika belum menjadi seseorang yang sukses, adalah dasar dari perjodohan itu.


Sebetulnya, bisa saja Darren menolak sebab kedua orang tuanya pun sudah tak ada, tetapi karena bakti dan rasa cintanya kepada kedua orang tuanya membuat Darren mau menikahi Audi yang memiliki usia terpaut jarak sepuluh tahun darinya.


'Aku tahu dan ingat kata-kata yang keluar dari mulut Anda ketika pengacara menyampaikan surat wasiat tersebut. Anda hanya berharap jika kedua orang tua Anda akan bahagia di alam sana bila Anda mengikuti permintaan mereka.'


Zain ingat waktu itu ada sosok perempuan yang tengah dekat -lebih tepatnya mendekati sang tuan. Tapi, Darren sepertinya tidak terlalu peduli dengan kedekatan keduanya sehingga saat wasiat itu disampaikan, Darren tidak merasa tak enak hati karena memang tak adanya komitmen yang terjalin di antara ia dan perempuan tersebut.


'Bisa dipastikan Nona Amara cemburu dan marah pada Anda, Tuan. Sebab perempuan itu berpikir kalau kalian memiliki hubungan spesial. Namun, Anda memang seperti itu sejak dulu. Dekat dengan orang lain bukan berarti memiliki hubungan. Hingga perkataan Anda malah membuat Nona Amara tersinggung dan mungkin sakit hati sampai akhirnya ia memutuskan pergi ke luar negeri meninggalkan Anda,' batin Zain yang tiba-tiba teringat masa-masa kedekatan Darren sebelum muncul Audi.


'Tapi, entah kenapa saya bisa menebak kalau Anda seketika jatuh hati saat dikenalkan pada Bu Audi saat pertama kali. Karena itulah Anda langsung memutuskan menikah setelah pertemuan pertama terjadi.'


'Anda memang sudah jatuh cinta sejak awal. Itulah sebabnya Anda mengurung istri Anda selama menikah karena Anda tak ingin sosok wanita yang Anda cintai dilirik oleh orang lain. Anda terlalu protektif, yang ternyata malah menjadi bumerang pada pernikahan kalian dan menjadi senjata utama bagi Bu Audi untuk menggugat cerai. Bahkan, saking cintanya, Anda menyetujui permintaan istri Anda dengan tidak banyak bertanya atau protes pada hakim pengadilan agama.'


Mengenang kisah sang tuan, membuat Zain sedikit lambat menyelesaikan tugasnya. Ia malah baru mengerjakan setengah dari pekerjaan yang seharusnya selesai ketika sosok Audi muncul dari balik ruangan lain. Ruangan yang selama ini digunakan Darren untuk istirahat.


"Eh, Mas Zain ada di sini?" tanya Audi yang cukup terkejut dengan keberadaan asisten pribadi itu di ruangan atau kantor sang suami.


"Iya, Bu. Pak Darren meminta saya untuk mengerjakan sesuatu," jawab Zain sembari melirik pada Darren yang terlihat tajam menatap sang istri.


Tampak kemudian tangannya memberikan kode supaya wanita itu mendekat.


Setelah memakai pakaian baru dan sepatu baru sebab kegiatan panas yang sudah mereka lakukan seusai makan siang, sebetulnya Audi merasa risih ketika ia keluar dari ruangan dan melihat sosok Zain ada di ruangan suaminya itu. Terlebih sekarang ia melihat perintah tak bersuara yang Darren tunjukkan.


Sebuah kode dengan jari telunjuk supaya Audi mendekat, lalu meminta wanita itu duduk di atas pangkuannya. Posisi yang Darren sangat sukai, yang membuat dirinya mudah menyentuh atau melakukan kontak fisik lain terhadap sang istri.


"Ada Mas Zain," ucap Audi lirih, yang masih malu jika suaminya itu melakukan aksi mesra di depan orang lain.


Jujur saja Audi tak suka, tapi ia tahu kalau Darren tak akan mempedulikan perasaannya.


Tapi, dugaan tersebut ternyata salah. Audi melihat ketika Darren, dengan tangannya mengibas pada Zain seolah berkata, "Pergilah!" Yang langsung direspon anggukan dari sang asisten, yang kemudian pergi keluar ruangan.


"Apakah kamu masih malu meski aku hanya mau mencium kamu saja?" tanya Darren setelah tak ada anak buahnya.


"Sentuhan fisik yang akan mengundang orang lain untuk membayangkan hal serupa, pasti tidak aku setuju kalau kamu melakukannya."


"Ehm, ok. Sekarang sudah tak ada siapapun, bagaimana kamu memberiku hadiah karena sudah mengikuti kemauan kamu?"


"Hadiah?"


"Ya, tentu saja. Apa kamu berpikir hal itu gratis?"


Ah, Audi tahu. Masih ada sifat Darren yang belum berubah.


"Begini?"


Sebuah kecupan Audi berikan di kening sang suami, tetapi hal tersebut sepertinya tidak Darren sukai hingga ia kemudian mendorong tubuh istrinya itu supaya menempel erat.


"Begini hadiah yang aku mau," ucap Darren seraya mendekatkan wajah, lalu mendaratkan bibirnya di atas bibis sang istri.


***