What Will You Do When Being God?

What Will You Do When Being God?
Chapter 27. ???



Chapter 27. ?


27.


Adeline menatap ke langit dengan tatapan hampa lalu menutup kembali seluruh sayap dan membiarkan dirinya sendiri terjun bebas dari udara.


“Mungkin, dengan sedikit benturan akan sedikit mengembalikan suasana hatiku.”


Adeline, sang supreme phoenix yang merasa sedikit ‘lelah', menutup kedua matanya.


Tidak lama kemudian, dia dapat merasakan sensasi tangan yang lembut namun begitu keras menangkapnya.


“Kau selalu bertindak gegabah sendirian. Ngomong-ngomong, ugh ... Bau darah yang menempel di tubuhmu begitu menyengat.”


Mendengar suara yang begitu familiar di telinganya, membuat Adeline membuka mata.


“Andora!”


Adeline mendapati Andora sedang menggendong dirinya seperti seorang putri, selain itu, dia tidak sendirian.


“Apa!? Kalian ...!”


Andora bersama dengan seluruh pasukan Firmament Numbers miliknya, menimbulkan tanda tanya besar di kepalanya.


“Ah. Biar kujelaskan. Sepertinya salah satu bawahanmu membuka gerbang ber skala besar secara paksa dan kebetulan mereka menemukanku tidak jauh dari titik perpindahan.”


Penjelasan Andora langsung membuat dugaan Adeline mengerucut pada satu orang.


“Apakah itu Sera 130.456 ...?”


Adeline melihat ke arah pasukannya, tidak ada yang berani menjawab, mereka hanya mengangguk dengan pelan.


“Ternyata begitu. Terjawab sudah. Dia saja tidak memiliki kemampuan untuk membuka gerbang apalagi dalam skala besar, ternyata itu penyebab erosi-nya.”


“Tunggu ... Apa? Bawahanmu terkena erosi?” Andora bertanya dengan nada keheranan, karena memang, erosi merupakan hal yang sangat jarang terjadi di wilayah mereka.


“Ya ... Dia mengorbankan inti energi kehidupannya demi membuka gerbang untuk teman-temannya mundur.”


“Ah. Kematiannya sangat heroik, tidak perlu merasa begitu terpuruk.” Andora, yang merupakan rivalnya berusaha membujuk Adeline dengan caranya sendiri.


“Aku tahu.”


“Mohon maafkan kami! Itu terjadi karena kelemahan kami semua!”


Seluruh pasukannya menundukkan kepala mereka pada Adeline, melipat salah satu sayap mereka sebagai rasa hormat tertinggi.


“Sudahlah, tidak perlu melakukan hal itu. Yang lebih penting lagi, apakah dia korban pertama?”


Pasukannya mulai mengangkat kepala dan membuka kembali sayapnya, kemudian salah satu dari mereka mewakili untuk menjawab pertanyaan Adeline.


“Tidak ... Ada 2 juta rekan kami yang telah lenyap dalam satu serangan olehnya. Dan Seraphim 130.456 mencegah adanya korban berjatuhan lebih banyak lagi dengan menjadikan dirinya sebagai korban terakhir.”


“Dia mampu menghabisi 2 juta pasukanku? Sialan seharusnya aku menyiksanya lebih parah lagi.”


“Bagaimana kau menyiksanya?”


Adeline menjawab pertanyaan Andora dengan menaruh jari telunjuk di dagunya.


“Dengan banyak hal. Lihat, ini merupakan satu-satunya hal yang penting dari akhir hidupnya.”


Adeline menyodorkan kepala entitas tersebut yang kini telah remuk nyaris tidak berbentuk.


“Ugggh! Dari mana kau menyembunyikan itu?!” Penciuman Andora begitu sensitif, dia dengan spontan menjauhkan kepalanya dari Adeline.


“Dari tadi kok, hanya saja tertutup oleh pelukanmu.”


“A-apa!?”


Andora spontan melihat bajunya, dan benar saja, noda darah yang begitu pekat berbekas, terutama pada bagian dadanya.


“Berani-beraninya kau mengotori bajuku, Adeline!”


Andora menekan kepala Adeline dari kedua sisi menggunakan jarinya, kini mereka terlihat seperti adik yang sedang mengusili kakaknya sendiri.


Pertarungan Adeline & Andora— Clear.


[ Keduanya dimenangkan oleh pihak Toriwake. ]


.


..


...


Kini beralih pada sudut pandang Anastasia, akibat anak panah mereka yang saling bentrok, menciptakan sebuah gelombang besar yang menyapu debu dan membuat wilayah sekitarnya menjadi berkabut.


Gelombang tersebut tidak merenggut nyawa satu orang pun, karena memang tidak ada orang lagi selain mereka berdua.


“Kau pikir hal seperti ini mampu menghalangi penglihatanku?” Dia turun ke permukaan awan untuk melihat situasi, namun sejauh ini dia tidak melihat apa pun yang aneh.


“!” Anastasia merasakan sesuatu bergerak menjauh darinya dengan kecepatan tinggi.


Dia segera menarik busurnya dengan kuat kemudian melepaskan anak panah yang telah dibaluti api hitam.


Anak panahnya secara otomatis memburu target, menusukkan diri ke area paling vital seperti jantung, otak, leher, mau pun paru-paru, kemudian membakarnya hidup-hidup.


“AAAHKKK!” Namun lagi-lagi, teriakan itu terasa ‘palsu' di telinganya.


“?!” Anastasia dengan spontan memiringkan kepalanya ke kiri saat merasakan sebuah anak panah melaju dengan sangat kencang menargetkan dahinya.


Al hasil panah itu meleset, namun sempat menggoreskan sebuah luka kecil pada bagian pelipis tepat di atas alis kanannya.


Untungnya telinga Anastasia akan selalu terlipat otomatis jika dia merasa waspada, jadi panah itu hanya mampu menorehkan sebuah luka kecil padanya.


“He ... Tidak buruk juga, ledakan hebat dari Super Nova saja tidak mampu menggoresku sedikit pun. Anak panahmu ternyata sedikit spesial.”


“Apakah benar begitu?!” Sebuah suara muncul, di saat bersamaan ratusan ribu … Atau bahkan lebih, bagaikan tsunami, anak panah itu melesat ke arah Anastasia.


Dia menangkis tsunami itu hanya dengan sebuah anak panah yang berada dalam kendalinya.


Anak panah itu dengan kecepatan puluhan ribu kali lebih tinggi dari cahaya menghancurkan seluruh serangan musuhnya sebelum mampu mencapai Anastasia.


“Sayang sekali, meski jutaan anak panah menghujaniku sekali pun, itu bukanlah sebuah masalah. Selama masih dalam berada jarak pandangku.”


“Kau terlalu banyak bicara, rubah tua!”


Anak panah Anastasia tiba-tiba bergerak menuju ke belakangnya, kemudian terdengar seperti sebuah benda yang hancur.


Anastasia tersenyum, kemudian berkata.


“Ingin mengincar titik buta ku ya? Pilihan yang bijak ... Namun sayang sekali, jika seranganmu tidak lebih kuat, maka akan dengan mudah dihalangi.”


“Jika hanya berbekal serangan seperti itu saat melawanmu , sama saja aku bunuh diri.”


Suara itu kembali terdengar, hanya saja Anastasia merasa ada yang salah dari nada bicaranya.


“Dia ... Terlihat percaya diri?”


Tiba-tiba saja, Anastasia merasa waktu menjadi sangat lambat, warna yang menyelimuti seisi Toriwake pun lenyap dari pandangannya.


“Time decelerate?! Tunggu ...”


(Perlambatan waktu)


Anastasia menyadari sesuatu, jika memang itu time decelerate yang bahkan mampu berpengaruh padanya, tidak mungkin sosok itu tidak melakukan apa-apa.


“Ini ... Insting-Ku?!”


Berkat ras-Nya sebagai Holy Spirit Fox, dia mempunyai kemampuan bawaan berupa insting super kuat yang bahkan jarang dimiliki oleh rekan-rekannya.


Insting Superior. Dengan insting ini, jika ada bahaya yang dapat mengancamnya, Dunia seketika menjadi gelap gulita— kehilangan warnanya di mata Anastasia.


Saat Anastasia mulai bergerak dengan cara melompat dan melayang di udara, waktu berjalan kembali dengan normal, Dunia pun mulai mendapatkan warnanya yang telah hilang.


“Refleks yang bagus! Tapi sayang, kau memilih tindakan yang salah!” Sebuah anak panah dengan kecepatan yang hampir tidak dapat dilihat oleh mata Anastasia, mencuat keluar dari dalam dasar awan.


Saat lapisan terakhir hancur, Anastasia menciptakan anak panah dengan dibaluti api neraka dan berniat ingin menghancurkannya.


Tepat saat anak panah Anastasia hampir bersentuhan langsung dengan milik musuh, suara itu muncul, bukan untuk memprovokasinya, melainkan sesuatu yang lain.


“Kena kau, rubah!”


“Ap—?!”


『 Terrible Suicide 』


Anak panah musuhnya meledak dengan dahsyat, menimbulkan getaran permukaan awan nyaris di seluruh negeri.


Dan hanya dari getarannya, sebuah layer dengan jumlah semesta yang tidak terbatas di dalamnya hancur seperti pecahnya kepingan kaca.


Namun, tetap saja itu tidak mampu menggores Anastasia sedikit pun.


“Tidakkah kau belajar—“


Dengan posisinya yang tidak berubah, Anastasia mengira dia telah melumpuhkan serangan musuh, akan tetapi—


“Ukh!”


Sebuah anak panah menembus dagunya, dia mengira ledakan itu gagal menghancurkan panah musuhnya, namun dia menyadari sesuatu.


Sensasi terbakar.


Anak panah itu dibaluti dengan api hitam, membakar semua yang ada di dalam mulutnya. Anastasia, kini tidak dapat berbicara lagi.


‘Ini ... Anak panah-Ku?!’


Anak panah itu terus bergerak ke atas, mengincar otaknya.


Meski sensasinya begitu menyakitkan, Anastasia tidak menjerit kesakitan, bukan karena pita suaranya yang telah habis terbakar, melainkan karena dia tidak ingin mempermalukan tuan dan rekan-rekannya.


“KHAHAHAHA! Bagaimana rasanya anak panahmu sendiri!?”


Sosok itu menampakkan dirinya, selama ini dia bersembunyi di bawah permukaan awan, pilihan yang paling tepat untuk bersembunyi, karena serangan paling dahsyat pun tidak akan mampu menghancurkan awan Toriwake.



Dia berjubah gelap dengan menggunakan topeng gagak hitam, busurnya dipenuhi dengan aura busuk, anak panahnya dalam kondisi siap ditembakkan.


Sosok itu mendongak ke atas, melihat ke arah Anastasia yang tidak bergerak, menahan rasa sakit yang di derita.


“Sepertinya satu anak panah tidak cukup membuatmu jatuh ya?”


Ia membidik Anastasia, bersiap melancarkan serangan lanjutan.


『 Ultimate Move: Predator Killer 』


Ujung dari anak panahnya menjadi gelap gulita, lebih gelap bahkan dari ‘ketiadaan' itu sendiri. Di saat yang bersamaan, ia melepaskan anak panah itu, membiarkannya melesat ke arah Anastasia.


‘Tidak akan kubiarkan ... Seorang Zodiac Commander mengalami kekalahan.’


“Ughuk—!”


Jantungnya telah ditembus oleh anak panah, kegelapan itu menyebar, menciptakan sebuah gelombang kecil di sekitar Anastasia.


“Itu adalah Absolute Death Area. Meski individu sekuat diri mu sekali pun, jika terkena hal ini, sama saja akan menemui ujung yang sama.”


‘Belum ... Ini belum berakhir ...!’


Penderitaan yang dia rasakan sebelumnya perlahan menghilang, Anastasia mulai mati rasa. Kekuatannya untuk menopang diri di udara pun mulai lenyap.


Ia kehilangan kendali, dan mulai jatuh dari langit.


Dengan mata yang berkunang-kunang, Anastasia melihat benda-benda langit yang ada jauh di atasnya.


‘Ahh ... Dulu, kami sangat menikmati melihat pemandangan indah ini dari dalam istana bersama-sama.’




‘Kenapa saat-saat indah itu tidak dapat terulang kembali ya? Aku sangat rindu sensasi dia yang berbaring di paha sambil mengelus salah satu ekorku.’


‘Apa ... Kisahku akan benar-benar berakhir disini? Aku benar-benar tidak ingin meninggalkannya, aku juga tidak ingin membebani rekan-rekanku ...’


‘Sungguh ... Akhir yang tragis. Hidup direnggut oleh senjatanya sendiri.’


Di detik-detik terakhirnya, Anastasia tersenyum, menutup mata untuk sejenak kemudian membukanya kembali.


Matanya mengandung kebencian yang begitu mendalam, lebih dari dendam seorang adik yang melihat saudaranya mati di depan mata.


Sebuah api terbakar di dalam hatinya, jauh lebih panas dari api hitam yang sedang membakar mulutnya.


Tepat sebelum anak panah yang bersarang di mulutnya menembus bagian atas dan menuju otak, Anastasia terlebih dahulu memasukkan tangannya dan mematahkan anak panah tersebut.


Kenapa dia tidak melakukannya dari tadi?


Karena ada resiko dibaliknya.


Seandainya saja Anastasia melakukannya sejak awal, maka tidak ada harapan hidup lagi baginya.


“Kau gila!? Membuat api itu semakin besar membakar dirimu dari dalam!?”


Dia sebenarnya tidak pernah ingin melakukan ini, karena Anastasia tahu, jika panah ini dipatahkan maka hidupnya akan bernasib sama.


Namun mau bagaimana lagi, daripada ia membiarkan panah itu terus bergerak dan membakar otaknya, Anastasia lebih memilih untuk mematahkannya kemudian melakukan tindakan terakhir.


‘Aku membencimu ... Lebih dari apa pun. Lebih baik kau mati ... Sampah sepertimu, makhluk gagal, menjijikkan sepertimu tidak berhak untuk hidup. Jika saja, aku mampu menukar nyawaku dengan nyawamu ... Aku rela mempersembahkan seluruh kehidupan di dalam layer dengan jumlah tidak terhitung sekali pun sebagai imbalannya.’


Anastasia mengatakan hal itu di pikirannya dengan nada sangat berat, kesannya sebagai wanita anggun berharga diri tinggi lenyap seketika.


Sebagai usaha terakhirnya, Anastasia memutar 10 ekornya seperti sebuah baling-baling pesawat. Kemudian berkata sesuatu dalam benaknya.


『 Supreme Heaven Fall Javeline 』


Sebuah anak panah super duper raksasa dengan didominasi 2 sisi berbeda; cahaya dan kegelapan, tercipta di langit.


“Serius ...? Dia sudah sekarat loh. Kenapa bisa seperti ini!?”


Sosok itu menjadi gelisah, dia kembali membidik Anastasia dan melepaskan anak panahnya.


Meski Anastasia sedang terjun bebas, dia tetap mampu mengenai kepalanya, namun ternyata Anastasia belum benar-benar mati.


‘Masih belum ... Tugasku tidak boleh berakhir sekarang ...!’


Saat Anastasia hendak mencabut anak panah yang menancap di dahinya, beberapa anak panah secara tiba-tiba menembus perutnya, membuat kondisi Anastasia semakin melemah.


‘Tuan ...’ Anastasia samar-samar melihat bayangan hari paling membahagiakan di depan matanya.


Tangan Anastasia bergerak dengan sendirinya, berusaha menggapai sosok Dyze yang ada di hadapannya.


Namun bayangan itu buyar, membuat Anastasia meneteskan air matanya.


‘Aku sekali pun tidak menyangka ... Bahwa akan datang masa dimana aku akan kehilanganmu untuk kedua kalinya.’


Anak panah maha dahsyat itu kemudian mulai bergerak. Ia langsung melesat ke arah musuhnya tanpa membutuhkan waktu sedetik pun.


“Oh tidak ...” Anak panah itu menghantam musuhnya, dan menghasilkan ledakan jutaan … Tidak, bahkan Athena pun tidak akan mampu mengukur seberapa dahsyat kekuatan kehancuran yang sedang terjadi. Tentu saja, tanpa pandang bulu, akan menghancurkan, menghanguskan, melenyapkan, menghilangkan, apa saja yang berada di atas permukaan awan.


Sebelum ledakan itu berhasil mencapai Anastasia, ia terlebih dahulu menghantam tanah dengan sangat keras, menghancurkan tengkorak dan sebagian isi otaknya berceceran keluar.


‘Selamat tinggal, Tuanku. Maafkan aku, Toriwake.’


Itulah kalimat terakhir Anastasia sebelum dikabarkan hilang kontak oleh Athena.


Pertarungan Anastasia ...


— Berakhir dengan seri.