What Will You Do When Being God?

What Will You Do When Being God?
Chapter 1. Jalan Buntu



“Hufft.. Apa yang harus kulakukan untuk mengakhirinya sebagai ending yang sempurna?!”


Ini adalah cerita seorang Pemuda berambut hitam berantakan dan kantung matanya yang tebal menjadi ciri khas tersendiri, sedang frustasi menghadapi akhir dari cerita yang dia tulis.


Pemuda itu menatap layar komputer yang berada di hadapannya dengan sorot mata hampa. Berharap mendapatkan sebuah ide atau inspirasi untuk ceritanya. Namun percuma saja, kini isi kepalanya hanyalah kekosongan, tidak ada apa pun atau siapa pun yang berada di sana.


“Abang Ren...~!”


Panggilan itu membangunkannya dari kekosongan hampa yang mengekang kehidupannya. Dia tersenyum dan mulai beranjak dari kursinya.


Ren Thori atau bisa disebut Author Ren dalam kehidupan mayanya. Ren sendiri memiliki kehidupan yang terbilang bahagia, karena keluarganya masih utuh dan sangat menyayanginya.


Namun.. Sejak novel pertama dan terakhirnya yang berjudul: “The Fake Sin Of Fallen God” meledak dan menjadi sangat populer, Author Ren kehilangan senyumnya. Semua itu terjadi secara tiba-tiba, bahkan keluarganya pun tidak tahu apa yang sedang terjadi padanya.


Saat Ren ingin keluar dari ruangan kamarnya, dia mendengar suara notif dari teman sesama Authornya. Meski sempat ragu ingin mendahulukan panggilan iseng adiknya atau pesan dari seorang teman yang membimbingnya, Ren memutuskan untuk menjawab pesan dari temannya terlebih dahulu.


Ren membuka Wh*tsapp dan mulai membaca pesan yang dikirimkan temannya yang bernama Yuusei Reito.


“Cuk, ceritamu udah nyampe 10.5M popularitas! Tidak hanya itu, puluhan komentar yang kau impikan saat pertama kali menulis kini berdatangan dalam sekian detik! Aku masih tidak menyangka.. Kau dapat sejauh ini hanya dalam kurun waktu 2 tahun…”


Sekilas Ren memasang senyum di wajahnya, namun hanya sebuah senyum pahit yang kemudian menghilang begitu saja. Ren menarik kursi dan kemudian duduk sambil meregangkan jari-jarinya, dia menekan satu per satu huruf di keyboard komputernya dengan tatapan kosong, tanpa adanya sedikitpun emosi tersirat di wajahnya.


“Yah, kau juga berperan penting di dalamnya. Tapi ceritaku telah mencapai batasnya...”


Ren terhenti, dia tidak mampu memikirkan kata-kata yang cocok untuk menggambarkan perasaannya sekarang ini. Setelah beberapa saat terdiam dalam keheningan, Ren menekan tombol kematian.


Back



Akan tetapi selama apa pun dia menghapus dan mengetik kembali kalimatnya, Ren tidak dapat menemukan kalimat yang sempurna. Fase ini tidaklah aneh bagi Ren, bahkan dia memberinya sebuah nama: “Fase hitam.”


Sebuah fase dimana seorang Author kehilangan kemampuannya untuk merangkai sebuah kalimat yang sempurna, namun bukannya menyerah dan beristirahat, si Author justru berusaha keras untuk melanjutkan ceritanya.


Hal ini hanya akan memicu jalan buntu bagi otaknya dan akan membuatnya frustasi karena merasa tidak puas dengan kemampuan menulisnya. Ren telah terjebak di fase ini dalam kurun waktu yang sangat lama, hal ini lah yang membuatnya tidak menikmati saat-saat menulis.


Ren mulai merasa cerita pertamanya seperti mengekang pikiran dan hatinya, dia gelisah setiap otaknya tidak mampu menemukan ide baru, dia gelisah saat jari-jarinya kehilangan kemampuan merangkai kalimat, dan dia gelisah saat dia mencari pelampiasan untuk masalahnya ini, bahkan pada saat bermain game.


“…”


Ren berhenti mengetik saat menyadari Reito telah Offline 2 jam yang lalu. Dia melirik ke arah jam yang telah menunjukan pukul 00:00 malam. Karena telah tengah malam, Ren melakukan ritual terakhir seperti biasa.


Dia selalu menggigit bibir saat melakukan ritualnya, dan selalu mengeluarkan kata:


“Ah ... Betapa nyamannya menjadi dirimu … Dyze.”


Ritual yang dia lakukan berakhir, yakni membaca 1 bab acak dari ceritanya sendiri. Percaya ataupun tidak, ritual aneh ini dapat membuatnya kesal lalu tertidur. Meski tidak dapat dikatakan dia tidur dengan tenang dan nyenyak.


Ren tertidur di depan komputernya. Adiknya yang dari tadi memanggil dari lantai dasar pun mulai menaiki tangga memeriksa keadaannya.


Srett..


Terdengar suara pintu terbuka, adiknya Ren mengintip ke seluruh ruangan dan hanya menemukan abangnya yang sedang tertidur di depan computer dengan kerutan jelas di dahinya. Melihat AC yang menyala dengan deras, dan Ren yang sesekali merinding karena kedinginan membuatnya tersenyum sekilas.


“Ya ampun ... Kamu masih saja berkhayal ingin menjadi sepertinya ...?”


Adiknya yang bernama Keiysha menyelimuti abang suramnya. Namun meski begitu, jauh di dalam lubuk hatinya, dia sangat menyayangi Ren sebagai abangnya. Keiysha menyingkirkan rambut yang menghalangi pandangannya lalu mencium dahi Ren.


“... Se-suka itukah kamu pada antariksa?”


Sekilas, cahaya bulan menembus gorden dan membuat mata merahnya menjadi menyala.


Merasa tidak ada urusan lagi, Keiysha pun melangkahkan kakinya menuju keluar. Setelah melihat dan memastikan keadaan Ren untuk terakhir kalinya, Keiysha pun menutup pintunya.


Di sisi lain, sesuatu yang aneh terjadi pada Ren. Tubuhnya mengeluarkan keringat dingin, dia menggeliat seperti cacing yang kepanasan, seolah dia sedang merasakan sakit dalam mimpinya.


--


Gelap sekali ...


“Aku dimana ...?”


Ren membuka matanya, dan hanya mendapati kegelapan yang menyelimutinya. Namun bukannya merasa takut, Ren justru nyaman berada di dalamnya, seolah kegelapan itu merupakan bagian dari dirinya.


Ini aneh, awalnya kegelapan merupakan salah satu Phobia dari Ren karena dia takut dengan apa yang ada di dalamnya, namun kini dia justru mengabaikan hal tersebut seolah tidak ada masalah jika dirinya tidak sendirian di kegelapan yang tak berujung.


Tiba-tiba, sebuah cahaya bersinar terang, menyapu kegelapan yang menyelimutinya.


“Urrkhh!?”


Ren terbangun dan perlahan mulai membuka matanya. Pemandangan pertama yang dia lihat adalah sebuah pilar tinggi berwarna biru salju namun transparan seperti kaca sedang mengurungnya.


Karena transparan, Ren dapat melihat sekeliling, meski tidak dapat melihat ke semua sudut ruangan, tapi dia yakin betul dimana dia kini berada.


“Sebuah pilar besar yang menjaga eksistensi melampaui True God dengan cara mengurungnya.. Ruangan yang berbentuk kubah putih dilapisi warna biru seperti langit malam. Butiran-butiran berlian di langit-langit membuat ruangan ini seperti berada di luar angkasa yang gelap namun indah..”


Ren mengerutkan dahinya dan meyakinkan keraguan di hatinya:


‘Tidak salah lagi ini adalah ruang takhta di ceritaku! Tapi..’


Meski merasakan aneh, Ren tidak begitu memikirkannya karena menganggap hal ini hanya sebuah mimpi semata.


[ Akhirnya anda telah bangun dari tidur abadi, Tuanku. ]


“Hah?”


Kata-kata itu secara spontan terucap olehnya saat mendengar sebuah suara berkata seperti itu di kepalanya.


[ Maafkan hamba karena melakukan tindakan sepihak, namun ini hamba lakukan semata-mata hanya demi anda, Tuan. ]


Lagi-lagi. Suara itu kembali muncul di kepalanya, Ren merasa asing namun familiar dalam waktu bersamaan.


“Jangan-jangan ...!?”


Ren merasa syok tidak percaya jika dugaannya ini benar.


“Athena?!”


[ Benar, ini hamba Athena, apa ada yang aneh, Tuanku? ]


“Tidak mungkin ...”