
Chapter 20. Debut Ariana
Kini sudut pandang dipindahkan pada Ariana yang bersama Eleina dan pasukan Calamity Assasin memburu para musuhnya.
Beberapa waktu sebelumnya, sama seperti Arcandra, Eleina juga diperintahkan untuk membantu pasukan Claire yang sedang terkepung di bagian sayap kanan.
“Arcandra telah mengambil alih sayap kiri, kehadiranmu di sayap kanan pasti akan membantu para prajurit. Pergilah!”
Kini dengan fokus yang luar biasa, Eleina membantai musuh-musuhnya menggunakan kecepatan diluar nalar. Dengan diikuti Ariana dibelakangnya.
Namun sepertinya dia sengaja tidak menggunakan kecepatan biasanya karena Ariana pasti tidak akan mampu mengejarnya.
“Sebentar lagi kita akan sampai!”
“Ya!” Ariana merespons perkataan gurunya sambil membunuh musuh-musuh yang menghalangi jalannya menggunakan lingkaran belati yang melayang di udara.
Dan tepat setelah Eleina mengatakan itu, mereka kini telah sampai pada lokasi yang diperintahkan.
Tapi sepertinya keadaan telah berubah, karena kini bukan pasukan Claire yang dikepung.
Sebaliknya mereka mengepung entitas bertopeng dan memiliki tanduk dengan menggunakan pedang di tangannya.
Namun sebanyak apapun jumlah mereka dalam mengepungnya, entitas itu selalu berhasil membalikkan keadaan.
Memotong-motong para pasukan Claire di barisan paling depan dengan kecepatan seratus kali lebih cepat dari cahaya itu sendiri.
Saat Eleina mulai mendekat, sebuah suara yang hampir terdistorsi mengalir ke telinganya.
“Aku mencium bau kekuatan.”
Tepat setelah kalimat itu didengar oleh Ariana, Eleina secara tiba-tiba mendorongnya sehingga dia terhempas menjauh ratusan meter dari posisi awal.
Ariana tidak mempertanyakan sama sekali apa yang dilakukan gurunya, karena dia yakin setiap tindakannya tidak ada yang sia-sia.
Benar saja, Ariana yang masih terhempas di udara terhenti karena menabrak sesuatu.
“Ah.”
Dia melirik ke belakang dan mendapati sosok Death Knight berukuran 5 meter dengan ancang-ancang berniat untuk memenggal kepalanya.
Death knight sendiri merupakan prajurit kelas menengah dari pasukan musuh, daya tahan dan daya rusak mereka tidak bisa diremehkan.
“Wujudmu terlalu menjijikkan.”
Tepat sebelum Death Knight itu mampu mengayunkan pedangnya, Ariana terlebih dahulu menggerakkan belati-belatinya dan memotong sesuatu berbentuk lingkaran yang tumbuh di kedua pipinya.
Setelah lingkaran itu terpotong, darah mulai mengalir keluar dari mata, mulut dan telinganya.
Death Knight itu mati secara instan di tangan Ariana.
“Aku tidak punya waktu untuk meladeni kalian.”
Belati-belati Ariana beterbangan dengan kecepatan cahaya, membunuh siapa saja yang menghalanginya dalam radius ratusan meter.
Saat dia telah kembali ke posisi awal, Ariana melihat banyak sekali mayat-mayat tergeletak di area sekitarnya hingga radius puluhan meter.
‘Guru ... Aku tahu, kamu selalu melakukan ini untukku.’
Ariana langsung dapat mengetahui, alasan Eleina mendorong dan menghempaskannya.
Mayat-mayat yang terdiri dari pasukan musuh dan pasukan divisi Kyrios milik Claire memberinya jawaban. Jika saja saat itu Ariana tetap berada di dekat Eleina, maka dia pasti akan bernasib sama.
“Ariana! Menjauhlah! Cari pengalamanmu pada sisi lain medan perang!”
Ariana langsung menoleh, menuju sumber suara yang samar-samar di telinganya.
Dengan jarak sejauh 300 meter, Ariana dapat melihat secara jelas. Gurunya sedang beradu pedang dengan entitas bertopeng.
Entitas itu sangat mahir dalam bermain pedang, dia bahkan tidak terlihat begitu kesulitan saat menghadapi gurunya.
“Kecepatan mereka ... Tidak heran jika guru memerintahkanku untuk meninggalkan area ini.”
Ariana menyaksikan kecepatan yang berada di luar jangkauannya . Dia yang bisa berpindah maupun menggerakkan belatinya dengan kecepatan maksimal tiga ratus kali kecepatan cahaya, tidak mampu melihat sedikit pun arah tebasan mereka.
Ariana berlari ke arah yang tidak menentu, dia hanya fokus membersihkan pasukan musuh dan terdapat satu ambisi besar di kepalanya.
Mencari musuh kuat demi pengalaman lebih.
Dia terus menusuk, memenggal, memutilasi satu per satu musuhnya sambil berlari tanpa arah.
Hanya dalam 5 detik, dia telah menyapu bersih medan perang di dekatnya dari musuh.
Dan meski telah membunuh musuh sebanyak itu, Ariana masih belum merasa puas sedikit pun.
‘Masih belum.’
Seribu musuh tertebas hanya dengan satu gerakan belati-belatinya.
‘Masih belum ...’
Dua hingga lima ribu musuh termutilasi, bagian tubuhnya hampir terpotong dengan sempurna.
‘Masih belum ...!’
‘Aku butuh lebih! Hanya dengan prajurit-prajurit lemah bahkan jika dalam jumlah banyak tidak akan ada yang berubah!’
Karena hanya terus berlari dan membunuh, Ariana bahkan tidak menyadari bahwa dia telah terpisah sejauh 12.000km dari gurunya.
“Aagh!”
“Kau yang ke 300.001.”
Kini dia telah membunuh 300.001 prajurit musuh yang tergolong cukup kuat, secara sendirian.
“... Terasa seperti ada yang kurang. ”
Ariana sadar, suasana medan perang di sekitarnya menjadi sepi, di mana hanya ada mayat-mayat musuh dan sekutu yang berserakan layaknya tumpukan sampah menyisakan dirinya seorang diri.
“Ah ... Aku tidak menyukai kesunyian.”
Perasaan yang Ariana rasakan membuatnya bertanya-tanya, apakah ini yang dirasakan oleh rajanya selama dia ‘tertidur'?
Kondisi yang membuat area sekitarnya menjadi sunyi, Ariana selalu memikirkan hal ini saat mengunjungi ‘makam' sang raja.
Saking seriusnya Ariana memikirkan hal ini, hatinya terasa seperti terkoyak. Inilah yang membuatnya terkadang menangis seolah meratapi sesuatu di hadapan makam raja.
“Dan karena kebodohanku, andai saja aku dapat menggunakan sedikit saja akal sehatku saat itu.
Memikirkan tidak ada siapa pun yang dapat masuk selain Visitor Maid, Zodiac Commander dan sang raja itu sendiri. Maka guruku tidak akan menanggung malu.”
Meski ini tidak terjadi karena disengaja, bagi mereka, yang namanya kesalahan tetaplah sebuah kesalahan.
Inilah yang disebut sebagai kesetiaan mutlak, masing-masing dari individu Toriwake memilikinya dalam lubuk hati mereka.
“Aku benar-benar ingin setidaknya terlihat berguna ...”
Setelah mengucapkan itu, Ariana hendak mengambil posisi istirahat, namun secara bersamaan puluhan retakan dimensi terbuka dengan jarak 300 meter dari hadapannya.
Ariana yang tidak sempat mengambil posisi istirahat pun meregangkan seluruh tubuhnya dan bergumam pada dirinya sendiri.
“Sepertinya keberuntunganku tidak terlalu buruk.”
Seorang Visitor Maid yang menyerang rajanya sendiri diakibat ketidaktahuan dan kini sedang menghadapi ratusan ribu pasukan baru hanya dengan seorang diri, menganggap keberuntungan dirinya tidak terlalu buruk karena langsung menemukan apa yang ia harapkan.
“Majulah, kalian! Jangan harap ada satu pun dari kalian yang dapat lolos.”
Secara sekilas, Ariana memiliki api yang begitu membara di matanya. Intonasi suaranya menjadi lebih berat, tekanan yang dikeluarkan lebih tinggi dari biasanya.
『 Bergabunglah 』
Ariana mengangkat tangan kanannya, kemudian menggumamkan sebuah kata. Tepat setelah ia mengucapkannya, belati lingkaran yang berada di belakangnya berputar selama beberapa saat dan menjadi sebuah pedang perak yang cantik.
“Aku berjanji padamu, guru. Aku tidak akan mengecewakanmu untuk kedua kalinya.”
Saat telapak kaki besar mulai keluar dari puluhan retakan dimensi secara bersamaan, Ariana langsung melesat tanpa keraguan sedikit pun dalam hatinya.