What Will You Do When Being God?

What Will You Do When Being God?
Chapter 26. Erosi




Erosi



Banyak dari Zodiac Commander yang masih bertarung, sudut pandang akan berfokus pada mereka.


Dimulai dari yang pertama, Andora sang putri dewa naga.


Kini dia berhadapan dengan lawan yang terlihat sepadan.


Karena lawan yang awalnya berwujud setengah naga kini bertransformasi menjadi naga sesungguhnya.



Hanya saja, naga itu sedikit spesial, dia sama sekali tidak merangkak seperti naga pada umumnya.


“Oh\~ menjijikkan sekali. Bagaimana bisa makhluk sepertimu mempunyai postur sempurna dari seekor naga?”


“Jangan terlalu percaya diri! Pasukanmu telah kubantai menggunakan wujud Dragon-Noid, aku hanya menghormatimu sebagai ras naga dengan Form ini.”


“Sungguh, makhluk gagal. Bagaimana mungkin makhluk sepertimu membicarakan kehormatan?”


Sesuai dengan yang diucapkan oleh musuh Andora, dia gagal melindungi pasukannya dari serangan entitas tersebut.


Karena sebelum bertransformasi, dia mengerahkan sebuah ledakan energi destruktif super dahsyat yang melenyapkan siapa saja di dekatnya.


Andora selamat tanpa terluka, namun dia gagal menghentikan ledakan itu untuk menyelamatkan pasukannya—al hasil, seluruh pasukan Andora ... Mati.


Kini nafsu membunuh yang telah hilang selama ribuan tahun mulai menyelimuti kepala Andora bagaikan kabut, matanya kehilangan cahaya, mulutnya menjadi kasar dan mengoceh mengenai apa saja yang ada di pikirannya.


“Jangan berlagak seperti orang kerasukan!”


Naga itu membuka mulutnya, gumpalan energi hitam mulai terbentuk di dalamnya.


“Ini adalah Void Sang pelenyap, meski kau putri dari leluhur naga sekali pun, pasti tidak akan mampu menahannya!”


Sesuatu berbentuk lancip yang tumbuh di bagian kedua pundak, dahi, dan sepasang kakinya mulai bercahaya, memasok kekuatan yang lebih dahsyat lagi.


“Sudah saatnya.”


Naga itu melepaskan gumpalan energi Void yang melesat pada Andora dengan kecepatan sangat tinggi.


“Naif sekali.”


Gumpalan energi itu menabrak Andora, meledak kemudian melenyapkan keberadaan serta jiwanya dari sejarah dan ingatan secara permanen—


... Atau itulah yang seharusnya terjadi.


Dia tidak terkena dampak apa pun meski mengenai serangan Void secara telak.


“A ... Apa?”


“Sayang sekali tebakanmu salah, aku bukan putri leluhur naga, melainkan putri dari dewa para naga itu sendiri. Sepertinya otakmu pun terlalu dangkal untuk dapat mengerti ya?”


Naga itu termenung untuk beberapa waktu setelah menyaksikan Void miliknya lenyap tanpa jejak saat bertabrakan dengan Andora.


‘Void itu hilang saat mengenai tubuhnya?! Kenapa tidak ada efek sedikit pun!?’


Pertanyaan-pertanyaan mulai bersarang di kepalanya, mengganggu layaknya sebuah duri.


“Tapi tidak masalah, aku ingin cepat mengantarkan kematian-kematian padamu.”


Mendengar perkataan yang seolah menjadi bendera kematian baginya, naga itu memperoleh kesadarannya dan meraih Andora kemudian berusaha meremukkannya.


Namun tanpa disangka, tangan naga yang mencengkeram Andora hancur berkeping-keping.


“Usaha terakhir ya? Sungguh tidak berguna.” Andora kemudian menatap naga itu dengan ekspresi kosong, hanya saja sesaat kemudian dia memasang senyuman yang ‘menawan'.


“Oh sial.”


『 Dragon Authority: Paralyzed 』


Naga itu dapat merasakan kelumpuhan di seluruh tubuhnya secara mendadak, dan tubuhnya yang tidak lagi mampu menopang berat, jatuh dalam keadaan berlutut.


“Sayang sekali kau terlahir sebagai naga dan memilihku sebagai musuh.”


“Diam!” Naga itu berusaha menggerakan tubuhnya dengan sekuat tenaga.


Setidaknya jangan dalam posisi ini!


Itulah kalimat yang terus berulang kali terdengar memenuhi kepala naga tersebut.


“Ah. Dipikir-pikir, bau mu dengan si B*ngsat itu tidak jauh berbeda.”


Deg!


Naga yang dari tadi terus mengoceh kini seolah menjadi bisu, Andora secara refleks menaikkan kedua alisnya.


“Loh. Adiknya? Kakaknya? Sepupunya? Saudaranya? Anaknya? Yah, yang mana pun itu tetap akan berakhir sama sih.”


Dengan ekspresi kosong, Andora tersenyum lebar. Ini benar-benar mengerikan.


Karena bayangkan saja, jika ada orang yang sensitif serta impulsif berubah menjadi tanpa emosi kemudian menatapmu dengan tatapan kosong lalu tersenyum lebar.


“Maka mengecil-lah.”


『 Dragon Authority: Size Manipulation. 』


Naga yang tadinya berukuran begitu besar kini menyusut, kini dia lebih terlihat seperti seekor kadal dibandingkan naga.


Bahkan Andora yang berada dalam wujud manusia setengah naga pun masih jauh lebih besar darinya.


Andora perlahan menuruni udara, mendekati kadal yang tidak dapat bergerak kemana-mana sedang terkapar di permukaan awan.


“Apa dengan begini kau masih dapat mengoceh?” Tanpa menunggu respon dari musuhnya, Andora langsung menginjak kadal tersebut hingga darah serta organ dalamnya hancur dan darah muncrat membasahi kaki serta lingkungan sekitarnya.


“Matimu terlalu mudah untuk menebus kematian yang telah ditempuh pasukanku.”


『 Dragon Authority: Resurrection 』


Genangan darah yang membasahi kaki dan permukaan awan mulai menyatu, lalu membentuk kembali seekor kadal dalam keadaan sempurna.


“A-apa yang—?!” Belum sempat menyelesaikan kalimat, kadal itu diraih oleh Andora dan dicengkeram dengan sangat erat.


Dia dapat merasakan tubuhnya hancur dari dalam, namun sesuatu seperti menghalanginya untuk mati.


“Selagi menunggu perintah, nikmatilah wahana kematian.”


“AAKKHHH!”


Hanya dengan kekuatan tangannya, Andora dapat membuat kadal itu memuntahkan organ dalamnya sehingga tercerai berai kemana-mana.


Dia terus mengulangi siklus ‘wahana kematian', Andora terus membunuh dan menghidupkan musuhnya dengan cara yang berbeda-beda.


.


..


...


Kini berpindah pada Adeline yang telah sampai di lokasi tujuan, dan pemandangan yang menyambutnya ialah—


“Nyonya ... Maafkan kami.”


Seraphim dengan nomor 130.456 berbicara terbata-bata, dia dalam keadaan tercekik oleh seorang entitas.



“Apa ...?” Adeline melihat dataran sekitarnya penuh dengan api yang membara, tidak menyisakan apa pun selain Seraphim dan entitas misterius.


Dia berwujud humanoid bertubuh merah gelap dengan 6 sayap, masing-masing sayapnya memiliki 600.000 bulu yang selalu menghasilkan percikan api.


“Sera 130.456! Apa yang terjadi?!”


Kepala Adeline dipenuhi dengan Pertanyaan, dimulai dari;


- Kenapa Sera 130.456 dalam keadaan tercekik?


- Dimana pasukan yang mengikutinya berada?


- Apakah mereka semua mati hanya karena satu orang?


Semakin Adeline memikirkannya, semakin banyak pula pertanyaan bercabang yang muncul di kepalanya.


“Apa? Jadi kau yang dia maksud?”


Namun dia dapat menangkis dengan menggunakan sayapnya, Gungnir itu pun kembali pada tangan Adeline.


“Kau ... Pantas saja Sera 130.456 tidak dapat berkutik.”


Adeline kini tahu bahwa entitas tersebut sangat kuat, jauh di atas prajurit khusus yang dilatih langsung olehnya.


“Maaf ... Kan ... Saya ... Nyonya.”


Suara dari Sera 130.456 semakin sayup-sayup, bahkan Adeline kini hampir tidak dapat mendengar suaranya.


“Kau ... Apakah itu erosi? Sera ... Bagaimana mungkin kau terkena erosi!?”


Erosi.


Suatu kondisi dimana seseorang mengorbankan inti energi kehidupan(seluruh kehidupan)nya untuk memperoleh sebuah kekuatan atau terobosan baru.


Kondisi ini tidak akan langsung membuat penggunanya mati, melainkan mengalami pengikisan berupa pecahnya kulit, sel, jaringan tubuh, dan bagian lainnya berubah menjadi kepingan cahaya biru.


“Maafkan saya ... Karena terlalu sering mengeluh.”


Kini, Sera 130.456 menghembuskan napas terakhirnya, dengan hancurnya seluruh bagian tubuh menjadi kepingan cahaya biru akibat erosi.


“Bangs*t.”


12 sayap berwarna hitam pekat tumbuh dari punggung Adeline, menggantikan warna biru yang mulai berguguran ke permukaan awan.


“Ini akan seru. Aku juga sama sepertimu, seorang regenerator abadi.” Entitas itu memunculkan dua pedang dari tangannya, sebelum—


Mereka tiba-tiba saja menghilang dan muncul kembali dalam keadaan beradu senjata di langit.


“Jangan harap akan mati dengan cara yang mudah.”


Entitas itu tersenyum sinis dan membalas perkataan Adeline.


“Aku tidak berniat untuk mati.”


Setelah mendengar hal tersebut, Adeline berteriak dalam benaknya.


‘Bloodlust Gungnir, konsumsilah darahku!’


『 Bloodlust Gungnir: Activated. 』


Sebuah mata tombak berwarna hitam tumbuh dengan kecepatan tidak ternilai di bagian badan Gungnir, menusuk lengan Adeline yang berada di atasnya.


Mata tombak itu mulai mengonsumsi darah dari Adeline— tidak berselang satu detik pun, suara jantung berdetak terdengar.


Bukan, bukan dari Adeline mau pun entitas tersebut.


Melainkan suara itu datang dari Gungnir.


Melihat hal ini sebagai kesempatan, entitas itu mencoba menebas kepala Adeline dari kedua sisinya.


Namun Gungnir miliknya bergerak lebih cepat dan menepis serangan dari entitas tersebut.


‘Dia jauh berbeda dari yang sebelumnya!’


Entitas tersebut dapat mengetahui, hanya dengan ayunan kekuatan tombaknya bahwa Adeline kini merupakan sosok yang berbeda.


Entitas tersebut terbang ke belakang untuk menjaga jarak, dia mengamati Adeline yang terlihat tidak melakukan apa pun hingga beberapa saat.


Sampai dimana—


Sepasang bola mata kembali tumbuh pada Gungnir, mata itu menatap entitas tersebut kemudian mengedipkan matanya.


『 Return To Null 』


“Apa yang dia laku—“


Tepat setelah mata itu berkedip, dia dapat merasakan sayapnya seperti tidak bertenaga, tidak mampu menopang berat tubuhnya, hal ini menyebabkannya terjun bebas dari langit.


‘Apa yang terjadi!?’


‘Aku ... Tidak dapat merasakan kekuatanku!’


“Bingung? Bodoh sekali.” Adeline yang tiba-tiba saja telah terbang tidak jauh darinya.


Sebelum waktu berjalan, Adeline telah menggapai entitas tersebut agar tidak jatuh ke permukaan awan dan menusukkan tombak Gungnir ke dalam perutnya.


“Kahk!”


Sebelum darahnya mengenai bola mata dari Gungnir, Adeline dengan cepat memutar tombaknya searah jarum jam, menempatkan bagian bola matanya di bawah sisi Gungnir.


Organ dalam dari entitas tersebut telah menjadi berantakan, akibat dari putaran Gungnir yang terjadi di dalam tubuhnya sendiri.


‘Bahkan regenerasiku tidak mampu bekerja ...?’


“!” Entitas itu kini mendapat kejelasan, satu-satunya yang dapat menghilangkan regenerasinya hanyalah—


“Apa? Sudah sadar ya.” Adeline tersenyum mengerikan dengan nada menyindir.


“Brengs*k! Jadi mata itu memiliki kemampuan Power Null?!” Entitas itu meludah ke arah Adeline, namun dia dengan cepat tanggap menghindarinya.


“Lambat sekali kau dapat menyadarinya. Memang benar, kemampuanku ini merupakan tipe Power Null, tapi potensinya jauh dari itu.”


“Contohnya saja ...”


“AKHH!”


Adeline mengeluarkan tombak yang bersarang di perutnya, kemudian berkata.


“Lihat, tubuhmu bahkan tidak beregenerasi sedikit pun.”


“Ap—?!”


“Gungnir milikku tidak meniadakan seluruh kemampuanmu menjadi 0(tidak berfungsi sama sekali) secara sementara, sebaliknya, sekali terkena, kau tidak akan lagi mampu mengakses kekuatanmu sedikit pun.”


‘Sial! Aku tidak menyangka senjatanya memiliki kemampuan seperti itu!’


“Yah tetap saja aku akan kesulitan jika harus berhadapan dengan makhluk berkulit super keras seperti si naga sialan itu.”


‘Sepertinya aku salah memilih lawan untuk kali ini.’


“Sudah cukup penjelasannya, maka nikmatilah sensasi dari kematian.”


Adeline memasang senyum, dan dengan senyuman itu pula di saat yang bersamaan dia menusukkan kembali Gungnir miliknya pada entitas tersebut.


Hanya saja, kali ini di tempat yang berbeda.


“AAAAHKKKKH!” Adeline menusuknya di kedua bagian bola mata kemudian mencungkilnya secara perlahan.


Setelah selesai dengan mata, Adeline beralih pada bagian telinga.


Dia merobek kedua telinga dari entitas tersebut menggunakan tangannya sendiri.


“AAAGGGGHHHH!” Saking kerasnya dia berteriak, Adeline dengan spontan menyumpalkan Gungnir ke dalam mulutnya.


Hasilnya, gigi-giginya hancur berantakan, bagian rahang robek, dan yang lainnya bernasib tidak karuan.


Karena mata tombak dari Gungnir masuk terlalu dalam hingga tanpa sengaja merenggut pita suara darinya, entitas itu kini tidak dapat berteriak mau pun berbicara lagi.


Dia hanya dapat mengerang kecil untuk mengekspresikan rasa sakitnya.


“Ah, itu tidak disengaja. Tolong jangan mati dulu.”


Adeline mencabut tombaknya dengan keras, namun tanpa diharapkan, beberapa organ dalam dari entitas tersebut seperti lambung dan usus terbawa bersama Gungnir.


“Ew, ini bau dan sedikit lengket. Menjijikan.”


Adeline mengibaskan tombaknya ke samping, sebelum dia kembali menatap entitas tersebut yang mulai tidak mengeluarkan suara.


“Menolak mati? Omong kosong. Lihatlah kondisimu sekarang. Dasar arogan yang menyedihkan!”


Adeline memanfaatkan detik-detik terakhirnya untuk menyiksanya lebih dalam lagi.


Dia memutilasi bagian bawah dari tubuh entitas tersebut dengan tombaknya, kemudian memotong-motong sayapnya, hingga mengakibatkan bulu-bulu api yang mulai kehilangan cahayanya jatuh beterbangan mengikuti embusan angin.


Dan terakhir—


“Kau akan kuperlakukan seperti pasukanmu yang telah memperlakukan pasukan kebanggaan kami dengan keji.”


Adeline menusukkan Gungnir pada dahi entitas tersebut, dan tepat beberapa saat sebelum dia mengembuskan napas terakhir, Adeline memenggal kepalanya.


Dia membiarkan tubuh-tubuh berantakan dari entitas tersebut jatuh ke permukaan awan, dan menyimpan kepalanya demi alasan pribadi.