
Adeline kemudian mengambil senjata yang ada di hadapannya, yakni sebuah tombak yang diselimuti aura darah.
Setelah memutar tombak tersebut hanya dengan menggunakan satu tangan, Adeline menggenggam senjatanya di bagian tangan kanan.
‘Senjata itu ...’
“Senjata ini sekilas mirip dengan tombak, namun sebenarnya berasal dari jenis yang berbeda.”
“Bloodlust Gungnir merupakan nama yang hamba anugerahkan padanya. Senjata ini sesuai dengan namanya, begitu menginginkan darah.”
‘Karena dia merupakan Supreme Phoenix dapat dikatakan dia abadi, mustahil akan mati jika diserang hanya melalui fisik atau penghancuran jiwa.’
‘itu alasan Bloodlust Gungnir begitu cocok dengannya, karena dia tidak akan terhambat jika perlu mengorbankan darah secara terus menerus.’
“Selain dari itu, hamba juga dapat memanipulasi ukuran Gungnir ini dengan sesuka hati. Mungkin inilah kelebihan yang bahkan jarang dimiliki oleh rekan hamba lainnya.”
Setelah menceritakan singkat tentang Gungnir miliknya, Adeline kemudian mulai melanjutkan perkenalannya.
“Hamba memimpin pasukan divisi khusus udara yang dinamakan Firmament Numbers. Ras-ras mulia seperti Angel, Seraph, Arch-Angel, Phoenix, True-Dragon, Supreme-Wyvern berada di bawah perintah hamba.”
“Jumlahnya sendiri hanya sedikit lebih unggul dibandingkan Heavenly Divine Spirit milik Anastasia. Yakni berkisar 15% dari jumlah sisa.”
[ 83 juta 234 ribu 791 orang. ]
“Hal yang dapat hamba banggakan selain dari Gungnir yang hamba miliki, ialah regenerasi hamba.”
Adeline menjelaskan, bahwa ia dapat mengatur laju regenerasi seluruh tubuh yang ia miliki tanpa adanya batasan.
Sama seperti Anastasia, dia juga dapat mengubah warna api dari sayap miliknya tergantung suhu yang sedang dibutuhkan.
“Selain Amentia yang benar-benar mutlak dapat 'bebas' hamba juga dapat dikatakan hampir seranah dengannya. Jika pun hamba berhasil terbunuh, hamba akan bereinkarnasi saat itu juga.”
“Bagaimana dengan kekuatanmu setelah bereinkarnasi?”
Pertanyaan dasar seperti ini yang pertama kali muncul di benak Ren, ia pernah beberapa kali memikirkan hal tersebut saat masih menjadi Author.
Namun saat itu dia masih belum menentukannya dengan resmi, karena memiliki beberapa opsi yang membuatnya masih menimbangkan hal itu hingga sekarang.
“Hampir dengan kekuatan penuh. Sekitar 90% dari mode perang, Yang mulia.”
‘Jadi opsi tersebut yang terpilih ya? Ini sedikit membuatku heran, apakah dia berkembang sendiri semenjak Dyze mengalami mati suri?’
‘Karena seingatku, aku masih belum menentukan hal tersebut pada Adeline. Apakah itu artinya cerita juga berjalan semenjak aku memasuki tubuh ini? ’
‘Author yang masuk ke dalam cerita buatannya sendiri, kemudian cerita tersebut berkembang tanpa adanya campur tangan dari sang Author ...’
Lalu yang menjadi pertanyaan terbesar di benak Ren sekarang, siapa yang memegang kendali atas cerita yang sedang ia jalani sekarang?
‘Ini lebih menarik dari yang kupikirkan.’
Ren memberi isyarat untuk Adeline melanjutkannya.
“Sama seperti Andora, kami berdua dapat memanipulasi ukuran tanpa dibatasi sama sekali. Satu kepakkan sayap hamba yang berukuran planet kecil saja sudah dapat menghempaskan sebuah tata surya.”
“Hamba tidak memiliki wujud setengah-setengah seperti Andora, hamba hanya dapat membawa sayap saja ke Human Form milik hamba.”
“Mengenai kecepatan, saat hamba terbang, hamba dapat dengan mudah bersaing atau bahkan melampaui Eleina saat berlari. Bahkan saking cepatnya akan terlihat seperti teleportasi daripada terbang.”
Ren kemudian mengangkat tangannya sebagai isyarat, Adeline dengan refleks menundukkan wajahnya.
“Selanjutnya, patuhi panggilan-Ku. Sang Penjaga Gerbang, Orion.”
Sebuah gerbang berbentuk portal dengan rasi bintang Aquarius terbuka di samping Adeline, sesaat kemudian sosok berambut putih tajam layaknya landak melangkah keluar.
Ia adalah Orion, sosok Gate Guardian di istana.
Orion dengan segera berlutut di hadapannya.
“Hamba, Orion, atas nama Zodiac Commander Aquarius menghadap pada sang raja.”
“Angkat kepalamu, ambil senjata dan perkenalkan dirimu.”
“Dimengerti.”
Orion mengambil sebuah Glaive(naginata) yang tertancap di hadapannya.
Glaive, senjata yang mirip dengan tombak ini dapat dibedakan melalui ‘mata' atau bagian tajam mereka.
Glaive yang dimiliki oleh Orion mempunyai mata tajam yang memanjang ke bawah.
Tepat di bagian bawah matanya, terdapat sebuah lekukan berbentuk seperti celurit berwarna biru.
Lekukan tersebut berfungsi sebagai tempat perantara untuk Orion mengalirkan sihir jika dalam keadaan yang diperlukan.
Jangan salah, meski Argus satu-satunya ahli sihir yang paling hebat di Toriwake, bukan berarti rekannya yang lain tidak bisa menggunakan sihir.
Kemudian di bagian paling bawah masih terdapat sesuatu yang tajam seperti jarum, bertujuan sebagai ‘mata' cadangan.
“Perkenalan hamba mungkin akan lebih singkat dari yang lainnya. Karena hamba sendiri tidak memiliki pasukan divisi khusus yang bekerja dibawah hamba.”
Ren tentu saja mengerti dengan baik alasannya, itu disebabkan oleh Orion itu sendiri. Dia sangat jarang pergi kemana-mana, meski dia memiliki akses penuh terhadap Gate di seluruh istana. Orion selalu menetap pada satu tempat dan mengawasi pergerakan Gate di seluruh istana.
Dia mirip seperti Raven yang menyendiri, namun terdapat sebuah perbedaan intens di antara mereka. Orion tidak begitu berbakat dalam mendidik. Tapi meski begitu, terdapat sebuah sistem seperti Operator dalam istana yang bertugas mengumpulkan laporan dari seluruh istana.
Sistem Operator ini didirikan langsung oleh Dyze itu sendiri, tidak ada campur tangannya dengan Orion. Namun Dyze memerintahkan Operator untuk bekerja di bawah Orion.
Hal ini dilakukan agar memudahkan memberi bantuan melalui Gate milik Orion jika diperlukan. Namun tetap saja, pada akhirnya Operator bukanlah sebuah pasukan divisi khusus. Mereka hanyalah kelompok orang cerdas dan terpilih untuk menjadi pelayan jasa terbesar di Toriwake.
“Senjata yang hamba miliki ini bertipe Glaive, begitu fleksibel untuk pertarungan jarak jauh mau pun berhadapan secara langsung. Nama yang hamba berikan ialah Mávros Glaive, yang berarti Glaive hitam.”
Dibandingkan dengan senjata rekannya yang lain, Mávros Glaive miliknya tidak terlalu spesial. Dyze memilihkan senjata itu karena akan cocok jika dipadukan dengan kemampuannya yang dapat memanipulasi ruang.
“Hamba akan menjelaskan gaya bertarung hamba.”
Jika berhadapan dengan musuh yang sangat kuat, Orion akan mencoba menyergapnya dengan memindahkan dirinya menggunakan Gate ke musuh sebagai langkah pertama.
Apabila Orion tetap tidak dapat mengimbanginya, dia akan memindahkan dirinya sendiri menjauh dari musuh dan bergabung dengan rekannya yang lain.
Lalu bagaimana jika musuh menggunakan kemampuan Anti-Teleportasi, atau Anti-Manipulasi?
Orion tidak akan terpengaruh. Kemampuannya untuk dapat memanipulasi ruang(spasial) tidak akan bisa di blokir oleh kemampuan ‘Anti' sekali pun.
Dia juga menjelaskan bahwa hubungannya memang kurang baik dengan Claire, mungkin ini semua dikarenakan ideologi. Orion terlalu kaku terhadap pandangannya sendiri, ini yang memicu sedikit api perselisihan dengan Claire karena tidak jarang argumen mereka bertentangan.
Namun telah menjadi rahasia umum di kalangan istana bahwa hubungan mereka sebenarnya tidak seburuk itu, mereka melakukan perselisihan argumen karena merasa ‘perlu' saja. Dengan kata lain, perselisihan itu termasuk bagian dari keseharian para Zodiac Commander.
“Maafkan hamba, Yang Mulia. Namun perkenalan hamba berhenti sampai disitu saja.”