What Will You Do When Being God?

What Will You Do When Being God?
Chapter 15. Dewi Pedang & Pembunuh Terbaik



“Selanjutnya, patuhi panggilan-Ku, sang Dewi Pedang, Arcandra.”


“Baik.”


Seorang wanita langsing berkulit putih dengan tinggi 179cm dan berambut silver lurus panjang beserta memiliki iris mata berwarna hitam tinta, berjalan dengan anggun.


Setiap langkah kakinya membuat rambut panjang dari wanita itu terurai sehingga membuat siapa pun yang menatapnya menjadi terpana.


Wanita itu kemudian berlutut di samping Arienoa, dan wangi badannya yang semerbak ditambah dengan suara lembutnya membuat batin Ren merasa terkesan saat melihatnya langsung.


‘Memang, Chloe lebih unggul darinya dari segi kecantikan, tapi tidak bisa dipungkiri bahwa Arcandra juga memiliki pesona yang memikat. Aku lega karena berada di tubuh ini, karena mampu tidak terkesima saat melihatnya.’


“Arcandra, Zodiac Commander Cancer menghadap dengan patuh pada raja-Nya.”


Dari wajahnya yang datar dapat disimpulkan Arcandra memiliki sifat pendiam yang ekstrem. Bahkan kesepuluh rekan lainnya belum ada yang menyebutkan namanya.


Tapi perlu diketahui jika Arcandra memiliki hubungan yang cukup dekat dengan salah satu Zodiac Commander di masa lalu.


‘Arcandra merupakan kakak yang tidak terikat hubungan darah dengan Argus di Dunia sebelumnya. Memang sih, lagi pula dari ciri fisik saja sudah berbeda jauh. Dan untuk sekarang aku masih belum tahu dengan detail hubungan mereka.’


“Angkat kepalamu, ambil senjata dan perkenalkan dirimu.”


“Baik.”


Arcandra mengambil sebuah pedang besar yang tertancap di hadapannya.



Pedang ini berjenis Zweihänder atau yang biasanya disebut sebagai Greatest Sword. Pedang berat seperti ini biasanya hanya bisa diangkat dengan dua tangan oleh beberapa orang yang memiliki kemampuan, namun Arcandra dapat mengangkatnya hanya dengan satu tangan.


Pedang ini juga terlihat sangat berbeda dari Great Sword pada umumnya.


Salah satu hal yang membedakan ialah senjata milik Arcandra ini memiliki batang silang yang sangat mencolok di tengah-tengahnya.


Batang silang itu berbentuk seperti bunga matahari namun yang lebih menarik perhatian adalah sayap kristal berwarna emas dengan aura uniknya berada di kedua sisi pedang tersebut.


Tidak hanya itu, bilah pedangnya berwarna emas di bagian tajamnya. Di bagian tengah bilah berwarna biru tua dengan simbol mahkota terukir disana bersama ukiran-ukiran unik lainnya.


Terakhir, pada gagang yang berbahan dasar emas, terikat sebuah kain sutra hitam yang menambah kesan elegan serta nilai estetika dari Pedang milik Arcandra


Arcandra kemudian menaruh pedangnya di bagian punggung, dan meski tidak terlihat ada sesuatu yang mencolok disana, pedang itu tidak terjatuh dan seolah menempel pada tubuhnya.


“Hamba memiliki pasukan divisi khusus bernama Divine Sword Warrior Numbers. Jumlahnya 50% dari sebelumnya.”


[ 115 juta 557 ribu 636 prajurit. Yang tersisa kini 115 juta 557 ribu 637 prajurit. ]


“Hamba memiliki hubungan yang baik dengan Argus, meski akhir-akhir ini kami tidak pernah bersama lagi. Hamba juga sering diajak berlatih tanding oleh Eleina saat sedang senggang. Untuk rekan yang lainnya, hamba kurang begitu yakin.”


Mendengar pernyataan Arcandra, Arienoa dengan refleks merangkulnya dan kemudian meminta izin pada raja.


“Bisakah kami menyadarkannya, Yang Mulia?”


“Lakukanlah.”


“Baik.”


Setelah memberi penghormatan, Arienoa mengatakan sesuatu yang membuat Arcandra tertegun.


“Apa yang kamu katakan? Kita merupakan rekan sehidup-semati yang melayani satu tuan dan raja yang sama. Keberadaanmu sebagai salah satu dari 12 Zodiac Commander disini begitu penting. Meski kita jarang berbicara satu sama lain jangan menganggap kita orang asing.”


“Itu benar, Arcandra. Lagi pula tidak ada yang bisa menandingi kemampuan berpedangmu selain dia seorang di Toriwake ini.” Amentia menimpali perkataan Arienoa.


Kemudian beberapa rekannya yang lain pun ikut berkomentar, seperti Anastasia, Noire, Adeline dan Argus.


“Kamu hanya terlalu menutup diri dari Dunia luar dan sulit memahami dirimu sendiri.”


“Jangan mempermalukan julukan Zodiac Commander yang disematkan padamu. Kita semua dekat, meski terasa begitu jauh.”


“Kapan-kapan ayo kita berlatih tanding, aku ingin melihat siapa yang lebih kuat, Gungnir milikku atau Zweihänder milikmu.”


“Kamu hanya terlalu meremehkan dirimu sendiri, kakak.”


Aku benar-benar bodoh, menganggap mereka sebagai orang asing yang sulit di gapai.


Arcandra dengan ekspresi tidak berubah di wajahnya, sambil mengutuk kebodohannya, dia berterima kasih pada semuanya.


“Hamba akan melanjutkannya. Hamba memiliki keterampilan berpedang yang sangat bisa diandalkan. Jika ada kesempatan, hamba akan membuktikan gelar Dewi Pedang ini bukanlah isapan jempol belaka.”


“Sama seperti Argus, hamba juga unggul dalam hal pemberi kerusakan. Baik itu area atau pun secara personal. Dalam kecepatan, hamba tidak seahli Eleina yang mampu bergerak di saat waktu bahkan belum berganti.”


“Namun selama hamba masih bisa mengimbanginya dan tidak gugur dalam satu gerakan, hamba yakin jika pertarungan jangka panjang merupakan keunggulan hamba.”


“Dan untuk sihir mau pun skill, hamba juga dapat menguasainya dengan sangat baik, namun hanya digunakan untuk pedang hamba, skill penghancur yang dilapisi ke pedang merupakan salah satu contohnya.”


“Mungkin cukup sampai disini.”


Ren mengangkat tangannya, Arcandra dan seluruh individu yang berada di ruangan itu dengan refleks menundukkan kepalanya.


“Terakhir, Eleina, sang pembunuh terhebat, dan Ariana, patuhi panggilan-Ku.”


“Baik.”


Eleina yang selalu menggunakan kipas untuk menutupi wajahnya kini tidak menggunakannya lagi.


Ia berjalan dengan diikuti Ariana yang gelisah di belakangnya.


Eleina kemudian berlutut di samping Arcandra, dan disusul Ariana di belakangnya.


“Hamba Zodiac Commander Capricorn menghadap sang raja dengan patuh.”


“Bawahan yang hina ini menaati panggilan sang raja dengan patuh.”


Ren dapat melihat dengan jelas bahwa Ariana selalu gemetar, namun dia menyembunyikan itu semua di hadapan sang raja.


“Angkat kepala kalian. Ambil senjata dan perkenalkan dirimu, Eleina.”


“Dimengerti.”



Senjata milik Eleina merupakan Pedang yang dilengkapi oleh Gagang hitam pekat bertekstur kayu jati yang terbuat dari sebongkah batu obsidian, memiliki bilah hitam dan didominasi warna merah jingga menyala.


Hal yang menarik perhatian ialah terdapat sebuah ukiran di bilah pedang tersebut yang bertuliskan “My God.”


Pedang ini ditempa oleh ras Celestial Dwarf itu sendiri, evolusi tertinggi yang bisa dicapai oleh ras Dwarf.


Eleina begitu mahir dalam menggunakan pedang ini, namun dia tidak menggunakannya lagi semenjak Dyze mengalami mati suri.


Ia memutuskan untuk menancapkan pedang ini sebagai tanda penghormatan terbesar padanya.


Pedang ini bernama...


“Hamba memberi nama pedang ini ... Calamity Sword.”


“Selain Arcandra, hamba yakin dapat mengimbangi rekan bersenjata hamba yang lain dengan pedang ini. Dengan catatan Noire tidak termasuk.”


‘Ahahaha dia tau diri ya.’


“Hamba tidak menyangka bahwa hari dimana hamba menggenggam senjata ini akan datang kembali. Hamba benar-benar bahagia.”


Dapat diketahui melalui nada suaranya yang berdengung bahwa Eleina benar-benar merasa begitu bahagia sehingga membuatnya berkaca-kaca.


Tanpa menanggapi sepatah kata pun, Ren hanya tersenyum dalam benaknya.


“Hamba memiliki pasukan divisi khusus bernama Calamity Assasin dengan jumlah keseluruhan pasukan yang tersisa sebelumnya.”


[ 115 juta 557 ribu 637 prajurit. Kini jumlah yang tersisa tidak ada. ]


‘Hanya unggul satu orang dari milik Arcandra ... Ataukah akan menjadi setara nanti?’