
19
Suara hentakan kaki yang begitu besar mulai terdengar, mereka adalah para raksasa— Titan Olympus yang disinggung oleh Andora sebelumnya.
Para raksasa mulai mendominasi arus pertarungan di darat, seperti Titan dan Giant yang menendang, memukul hingga hancur lebur atau pun memakan pasukan musuh.
Jika seperti ini, maka hasil perang akan terlihat dengan jelas.
“APA MENURUTMU AKAN SEMUDAH ITU?!”
Seorang entitas humanoid berwujud setengah naga dengan dilapisi kulit hitam yang begitu keras layaknya berlian di sekujur tubuhnya, sedang membantai ribuan Titan dan Giant milik Andora.
Hanya dengan satu tinjuan darinya, sudah cukup untuk membunuh Titan seukuran gunung. Hal ini terus berlanjut hingga—
“Oi. Sialan, apa yang sedang kau pikirkan sekarang?”
Mendengar suara gadis kecil dengan intonasi berat, entitas itu mengalihkan perhatiannya pada—Andora.
“Membunuh.” Dia membalasnya dengan senyum sinis.
“Kau menguji keberuntunganmu terlalu jauh.” Dan Andora menjawabnya dengan iris mata yang mulai menghitam.
...
Beberapa waktu sebelumnya, Andora yang terbang bersama Adeline tidak menyadari pasukannya sedang dibantai.
Sampai pada ketika dimana sebuah kepala dari salah satu Titan terlempar dengan kecepatan cahaya tepat di hadapannya.
“Kepala itu ...?”
Adeline dengan refleks berhenti saat menyadari Andora tidak lagi mengikutinya.
“Dia prajurit dengan nomor 300.566, tidak kusangka akan mati dengan dihinakan seperti ini.”
“...” Adeline tidak berkomentar apa-apa, tepat setelah itu Andora mengatakan sebuah kalimat dan kemudian melesat dengan kecepatan yang begitu berbeda saat dia bersama Adeline.
“Aku memiliki urusan. Adeline, pergilah duluan.”
Adeline menghela napas, setelah itu mengatakan suatu kalimat dan kembali terbang dengan kecepatan di luar nalar.
“Bajin*gan macam apa yang berani membuatnya marah?”
Dalam perjalanannya, Adeline membantu pasukan Claire dengan mengeluarkan ledakan dari Gungnir setiap detiknya, sehingga tidak menyadari terdapat anak panah yang sedang mengikutinya.
“Adeline!”
Saat mendengar suara Anastasia memanggilnya, secara spontan Adeline menghentikan laju terbangnya.
Saat anak panah itu hendak melesat ke arahnya, datang sebuah anak panah lain dari sebuah portal yang tercipta dari udara.
Bergesekan dengan anak panah yang mengincar Adeline dan kemudian jatuh bersama ke permukaan.
“Cih!” tepat setelah anak kedua anak panah itu jatuh, terdengar suara decihan seseorang, dengan jarak 1km dari Adeline.
Adeline awalnya ingin mengejar sosok itu, namun suara Anastasia menghentikannya.
“Serahkan dia padaku. Yang lebih penting lagi, sebelumnya aku melihat pasukan divisi Firmament Numbers milikmu sedang kewalahan melawan seseorang!”
“Ah ... Benar juga, aku tidak melihat mereka dari tadi. Dimana tempatnya?”
“Aku akan mengirimkanmu kesana.” Suara Orion terdengar dari dalam portal yang terbuka di udara.
“Tidak perlu. Cukup sebutkan lokasinya saja, lagipula aku lebih cepat dari portal milikmu.”
Orion menghela napas saat mendengarnya dan kemudian menyebutkan lokasi yang dimaksud.
“Di arah selatan, berjarak 5000km darimu.”
“Terima kasih, Orion, Anastasia!”
### Adeline memutar arahnya dan menuju ke selatan, dalam hatinya ia yakin jika pasukan Claire akan dapat meraih keunggulan mereka dalam waktu dekat meski tanpa bantuannya.
Di sisi lain, Arcandra yang memperoleh tugas untuk membebaskan pasukan Claire sedang mengayunkan pedang Zweihandernya di medan perang dengan begitu mengesankan.
Ekspresi datarnya sama sekali tidak berubah saat cipratan darah dari musuh mengenai wajahnya.
Yang ada di kepalanya sekarang hanyalah—
“Bunuh mereka semua, demi raja! Majulah pasukan-ku!”
--Nafsu membunuh.
Arcandra mengarahkan mata pedang Zweihander ke gelombang musuh yang berada di hadapannya. Secara bersamaan, teriakan dari suara-suara asing mulai bersahutan menyelimuti medan perang.
Dan pada saat itu juga, terdapat banyak sekali erangan dari pasukan musuh yang terdengar jauh lebih nyaring dari sebelumya.
Mereka adalah pasukan Divine Sword Warrior milik Arcandra. Pasukannya mulai membuka jalan bagi prajurit-prajurit Claire yang sedang terkepung.
“Kita berhasil mengulur waktu!”
Sorakan haru para prajurit Claire yang selamat dari pengepungan meningkatkan kembali moral mereka dan semakin membakar api semangat yang menggebu-gebu dalam hati.
Arcandra tidak berkomentar sama sekali, dia hanya fokus menyapu bersih pasukan musuh. Satu tebasannya saja sudah mampu melenyapkan ratusan ribu pasukan musuh.
Awalnya semua berjalan dengan baik, sampai ketika—
“AAAHH!”
“Suara ini ...” suara yang familiar di telinganya membuat Arcandra dengan refleks melirik ke arah sumber suara.
Tanpa disangka-sangka, sebuah tebasan kosmik berukuran raksasa yang telah memenggal puluhan ribu kepala pasukannya menuju ke arah Arcandra.
“...” Namun Arcandra dapat menangkisnya dengan memutar pedang Zweihander sesuai arah jarum jam tanpa terlihat kesusahan.
Tanpa basa-basi, Arcandra langsung memusnahkan tebasan tersebut. Dan di saat yang bersamaan, tebasan kosmik yang telah dihancurkan itu mengeluarkan kabut yang cukup tebal menyelimuti medan sekitarnya.
“Kau ... Kuat. Berbeda sekali dengan para pejuang lemah yang pernah kulawan.” Dan tepat setelah itu terdengar sebuah suara berat dari dalam kabut yang seperti mengajaknya bicara.
“Jadi, itu kau ya. Bahkan jika mataku dibutakan sekalipun, aku tetap dapat melihatmu dengan jelas. Kabut ini sungguh tidak berguna.”
“Haha, aku tidak tahu apakah kau berbicara kebenaran atau hanya sebuah gertakan semata.”
Sosok entitas yang mengajak Arcandra berbicara jika dilihat dengan mata prajurit khusus sekalipun maka dia akan menjadi transparan, sulit untuk dilihat.
Namun hal ini tidak berlaku pada Arcandra, dia dapat melihat entitas itu layaknya sedang berada pada kondisi normal.
Dia merupakan Kesatria berzirah besi full plate seperti Claire, dan menggenggam sebuah pedang Zweihander yang bernuansa ungu ke merah mudaan.
“Kau akan membayar ... Segalanya! Penghinaan terhadap pasukan-ku, dan kebodohanmu karena telah menginjakkan kaki ke wilayah suci ini.”
Arcandra menggenggam erat pedang Zweihander dengan kedua tangannya. Sesekali terlihat asap keluar dari mulutnya saat bernapas.
Batang silang berbentuk bunga mataharinya mulai berputar mengikuti rotasi tornado yang berlawanan arah jarum jam dengan kecepatan sangat tinggi, hingga pada titik mempengaruhi gravitasi sekitarnya.
Rambut menawan dari Arcandra mulai beterbangan, namun kakinya dengan sangat kokoh masih berada di permukaan awan.
Meski konsep waktu sejatinya tidak berlaku di Toriwake, namun jika kejadian ini digambarkan berdasarkan konsep waktu ...
Maka setiap detik, tidak, bahkan lebih kecil lagi, di saat dimana waktu baru saja bergerak, Dunia di sekitar Arcandra telah merasakan kengerian dari kematian bahkan jauh sebelum merasakannya.
Angin yang terbentuk dari putaran batang bunga milik Arcandra menghantarkan hawa yang begitu dingin, lebih dingin dari orang yang mati membeku tanpa menggunakan baju.
Hal ini membuat serangan Arcandra semakin sulit untuk dihindari, bahkan telah mencapai tingkatan mustahil, karena aura intimidasinya saja sudah cukup membuat indra musuhnya lumpuh dengan sempurna, dan jika itu masih belum cukup maka hawa dingin yang menusuk jiwa dan merobek-robek dari dalam akan membuat siapa pun tidak mampu bergerak.
“Serangan ini mampu memusnahkan seluruh alam semesta dalam satu layer menjadi debu hanya dalam sekejap.”
Tekanannya semakin berat, bahkan beberapa ribu dari pasukan musuh mati karena tidak mampu menahan intimidasi yang diakibatkan oleh kengerian Arcandra.
Sedangkan untuk pasukan Claire dan Arcandra itu sendiri, tidak akan mati hanya karena sebuah intimidasi. Karena dalam latihan pun, mereka sudah terlalu sering mendapatkannya.
Ukiran yang menyerupai bentuk laba-laba di bagian bilah pedangnya mulai bersinar. Di saat yang bersamaan, tekanan yang dihasilkan pedang Arcandra semakin kuat.
Bahkan hampir terasa seperti ruang dan waktu akan hancur di sekitar medan mereka.
“Sepertinya setelah semua yang kau lakukan sejauh ini, kau hanyalah seekor hewan kecil yang menjengkelkan.”
Arcandra mengangkat gagang pedang Zweihander dengan kedua tangannya ke belakang kepalanya.
Pasukan divisi milik Arcandra secara spontan menjauh dari medan yang berpotensi dapat membahayakan mereka. Karena mereka tahu jika mereka tetap berada di sana, mereka akan mati.
“Pasukan Claire! Menjauhlah dari sini!” Arcandra berbohong, dia mencoba memperingati pasukan Claire mengenai bahaya yang ada, padahal dia sendiri tahu jika dari awal, pasukan Claire akan menghadapi akhir yang sama dengan musuhnya.
Sedari awal, jika dia telah melancarkan serangan ini, maka baik itu lawan atau pun Sekutu yang tidak memiliki perlindungan Claire, akan menghadapi satu takdir yang sama ...
Arcandra melihat ke arah pedang Zweihandernya yang telah hampir terisi penuh, kemudian mengalihkan pandangannya pada pasukan Claire yang mulai terlihat kehilangan hidupnya secara perlahan.
Menyadari Arcandra melihat ke arah mereka, pasukan Claire membalasnya dengan mengangkat armor helmet mereka, semuanya, terlepas dari perbedaan Ras mereka, senyuman bangga terukir pada wajah pasukan Claire.
“Jangan pedulikan kami, panglima Cancer! Biarkan kami mati dengan membawa mereka ke neraka!”
'Claire pasti sangat bangga jika tahu akan hal ini. Percayalah, jasa para pahlawan tidak akan pernah pudar.' Arcandra tersenyum kecil kemudian membuang senyumannya.
Pertanda akhir telah tiba.
Kemudian mulutnya terlihat menggumamkan sesuatu.
Terbukalah.
『 Grand Ex Destroyer! 』
Dan setelah mengucapkan itu, Arcandra langsung mengayunkan pedangnya ke arah entitas Kesatria tersebut.
Menciptakan sebuah tebasan yang dapat menghancurkan seluruh kosmik dalam satu layer menuju ke arah sang Kesatria.
Di setiap detiknya, terdapat ratusan ribu prajurit yang lenyap menjadi abu saat terkena mau pun hanya sekedar terlalu dekat dengan serangan ini.
Tentu saja, itu tidak membedakan siapa pun. Baik itu kawan maupun lawan, mereka semua musnah dalam serangan ini.
"KEMULIAAN BAGI RAJA DAN KESELAMATAN BAGI TORIWAKE!!" Itulah kalimat terakhir yang terdengar dari pasukan Claire, kini mereka telah telah lenyap bersama musuhnya dan mati sebagai pahlawan dengan jasa yang selalu ada.
Pertarungan Arcandra berakhir dengan begitu mudah, atas bantuan dari para pahlawan yang mengorbankan jiwa dan raga demi kemenangan gemilangnya.