What Will You Do When Being God?

What Will You Do When Being God?
Chapter 2. Maid Yang Setia



Ren gemetar, bukan karena takut, melainkan dia terlalu senang hingga tidak percaya jika dia dapat berada di Dunia yang dia ciptakan sendiri terutama jika dirinya menjadi Tokoh Utama(Dyze) itu sendiri. Dia bahkan tidak akan protes pada Tuhan jika ini hanya mimpi belaka, karena ini begitu nyata baginya.


[ Tuan? ]


Ren tersadar dari lamunannya akibat panggilan dari Athena.


Untuk lebih yakin lagi siapa dirinya, Ren bertanya hal terakhir pada Athena.


“Bisakah kau ceritakan padaku hal terakhir yang kau ingat?”


Setelah sempat terdiam beberapa saat, Athena justru meminta maaf.


[ Maafkan hamba Tuan, ingatan anda yang hilang ataupun buram adalah salah satu dampak dari tidur abadi yang telah berlangsung selama ribuan tahun semenjak pertarungan itu terjadi.. ]


“Pertarungan itu?! Mungkinkah..?”


[ Benar, itu adalah pertarungan anda melawan Zavist yang memusnahkan seluruh alam semesta yang tidak terbatas dan menciptakannya yang baru. ]


Ren menganga saat mendengarnya, dengan mengangkat bahunya dia bergumam secara pelan:


“Wow… Aku tidak menyangka hal ini benar-benar terjadi padaku. Sungguh malam ini adalah malam paling beruntung yang pernah kurasakan seumur hidupku.”


[ Maaf? ]


Ren tersentak karena menyadari Athena kebingungan.


“Ah tidak. Yang lebih penting lagi, bisakah kau mengeluarkan aku dari sini?”


Seolah sedang tersenyum, Athena menjawab dengan gembira:


[ Tentu saja bisa, akan tetapi hal ini membutuhkan konfirmasi dari anda selaku pemilik itu sendiri. ]


“Konfirmasi? Seperti ini?”


Ren mengambil napas dan memasang ekspresi serius:


“Dengan izinku, keluarkan aku dari sini!”


[ Perintah di konfirmasi! ]


Tiba-tiba pilar itu mengeluarkan kabut, namun tidak begitu tebal, di saat yang bersamaan Ren mendengar sesuatu seperti pintu otomatis dengan sensor terbuka di depannya.


Merasa kabut di dalam itu membutuhkan waktu yang lama untuk benar-benar menghilang, Ren pun keluar dari pilar tersebut tanpa mengkhawatirkan apapun.


Setelah menginjak tanah, Ren menyapu keringat yang sebenarnya tidak ada di dahinya.


“Ngomong-ngomong Athena. Bisakah kamu menutupnya kembali?”


[ Perintah di konfirmasi! ]


Kaca transparan itu pun menutup kembali dengan kabut yang masih terkurung di dalamnya. Tidak meninggalkan sedikit pun jejak yang mencurigakan.


Ren mengamati seisi ruangan yang begitu megah, dia bahkan tidak dapat berkata-kata karena kemewahan yang pernah dilihatnya di dunia Modern sekali pun tidak akan sanggup menandinginya.


Dia melihat ke atas, langit-langitnya begitu tinggi, bahkan Ren sendiri tidak dapat melihatnya dengan jelas. Tidak hanya itu, terdapat juga lampu gantung yang terbuat dari perhiasan yang menyilaukan mata tergantung jauh di pandangan matanya.


Di sudut ruangan Ren juga melihat terpasang 12 patung monumen raksasa yang berisikan banyak sekali perlengkapan berbeda di setiap patungnya.


Namun yang paling menarik perhatiannya adalah takhta yang kosong, dimana tepat di lantai bawah takhta, terdapat banyak senjata yang menancap disana, jumlahnya terlihat sama dengan monument patung yang dipajang, yakni 12.


Dia menghampiri dan berdiri tepat di hadapan takhta yang kosong lalu bertanya pada Athena dengan nada pelan.


[ Mereka? Apakah maksud anda Zodiak Commander? ]


Benar, selain senjata yang menancap di hadapan takhta kosong, ada 1 hal lain yang menarik perhatian Ren, yakni logo Zodiak di setiap patungnya yang dapat menggambarkan salah satu sifat dasar mereka berada di atas kepala masing-masing dari mereka.


[ Tenang saja Tuan, seluruh dari mereka masih utuh tanpa ada yang gugur satu orang pun. ]


Setelah menarik napas lega, Ren sedikit penasaran dengan Athena; dia itu apa? Mengapa dia bisa memiliki emosi tersendiri?


“Athena. Sebenarnya kau itu apa? Aku sedikit lupa..”


Seolah memiliki perasaan nyata, Athena tersentak saat mendengar pertanyaan Tuannya yang seolah melupakan dirinya. Dengan nada yang seperti ingin menangis namun tertahan dia menjelaskannya dengan mudah dimengerti.


[ Pada awalnya, hamba hanyalah sebuah Unik Skill saat bersama Tuan Raizel, sahabat karib anda dulu. Namun karena tragedi itu, hamba berpindah tangan pada anda. Awalnya hamba merasa sangat sulit untuk beradaptasi, namun lama-kelamaan hamba sadar jika anda membutuhkan kekuatan hamba. Oleh karena itu hamba memiliki keinginan kuat dan karena telah membentuk ego hanya satu syarat lagi yang dibutuhkan untuk dapat berevolusi ke Shaman.


Dan satu syarat itu adalah perantara, anda mengizinkan hamba untuk dapat berevolusi dan menanggung bayaran beberapa persen Energi Kehidupan sebagai perantara. Oleh karena itulah kepribadian Athena dapat terbentuk, itu semua berkat anda. ]


‘Shaman? Ah. Salah satu evolusi tertinggi yang dapat dicapai oleh kehidupan ya? Kalau tidak salah para Shaman ini tidak memiliki wujud tetap, mereka hanya menumpang pada perantara mereka. Jika para Shaman ini tidak terkendali, mereka akan menjadi parasit untukmu.’


[ Itu benar, Tuanku. ]


“Eh? Kau dapat membaca pikiranku?”


[ Hanya sampai pada batas tertentu. ]


Tepat saat itu juga, intuisi Ren sebagai Dyze tiba-tiba berteriak, seolah memberitahu jika bahaya telah datang.


Dengan gerakan yang tidak pernah dia gunakan sebelumnya, Ren dengan gesit menuju sudut ruangan, melompat dan menempel disana, mengawasi keadaan. Dari posisinya, takhta kosong masih terlihat jelas.


Ren mendengar sebuah gerbang terbuka, dan samar-samar melihat kabur samar yang memenuhi ruangan, namun Kabut ini tidak terlalu tebal yang membuatnya yakin akan menghilang setelah beberapa saat sebelum ‘sesuatu’ itu memasuki ruangan.


Drap drap drap.


Langkah kaki itu semakin dekat dan suasana semakin berat. Sampai dimana sosok itu sampai di hadapan takhta kosong yang tidak jauh dari Ren berada, namun kelihatannya sosok itu tidak menyadari keberadaannya.


Sosok itu adalah seorang wanita berambut putih pendek dengan beberapa ikat kepang yang mengenakan setelan Maid, dengan tinggi badan ideal 167CM, tubuh maid yang ramping dan dadanya yang menonjol membuat orang dengan mata keranjang pasti akan terdiam untuk beberapa detik. Sekumpulan belati tajam juga terlihat melayang di sisi maid tersebut, mengelilinginya.


Dan sesuatu yang paling menonjol dari maid itu ialah terdapat sebuah tanda yang cukup bersinar berada di tengah dadanya.


Kemudian secara mengejutkan, maid itu tersungkur dan membiarkan kepalanya menyentuh tanah, dengan suara terisak-isak, maid itu mengungkapkan rasa terima kasih dan permintaan maaf dalam waktu bersamaan.


Dia begitu hafal dengan setiap kalimatnya, seolah ini adalah kegiatan rutin baginya.


“Ini aneh.. Apakah orang-orang di Dunianya memang seperti ini? Aku tidak ingat pernah menuliskannya seperti ini…”


[ Peringatan: Bahaya level 3 akan datang! ]


“Huh?—“


Saat membuka matanya, Ren baru menyadari jika sebilah belati tajam telah menancap tepat di sebelah wajahnya. Ren yang merasa persembunyiannya tidak aman pun langsung meloloskan diri.


Namun maid itu begitu cakap dalam melakukan tugasnya, tanpa Ren sadari, layaknya bersatu dengan bayangan, maid itu mengabaikan jarak yang memisahkan mereka dan kini telah berada tepat di samping wajah Ren.


Dengan mata kanannya yang seolah memiliki api kemarahan, kegelapan di ruangan itu menyatu dan menutup setiap sudut dari wajahnya, maid itu berkata dengan nada yang berat seolah menahan amarahnya.


“Penyusup. Bagaimana bisa kau mencapai area ini? Tidak bisa dimaafkan, kau akan segera membayarnya.”


Kepulan asap keluar dari mulutnya setiap dia berbicara, menambah kesan kemarahannya yang seperti telah memuncak.