
Untuk bagian pinggang hingga armor kaki tidak ada yang begitu spesial.
Kecuali gauntlet yang diberi nama Archaest ini. Karena fungsi sebenarnya dari gauntlet ini bukan untuk memukul.
Melainkan untuk melenyapkan targetnya secara utuh, melalui perantara cincin istimewa yang ada di jari manisnya.
Gauntlet ini mampu memperkuat efek dari penggunaan sihir, fisik mau pun skill yang terlampau kuat menjadi berkali-kali lipat lebih besar.
Dengan bantuan Gauntlet ini, Claire dapat menghapus keberadaan seseorang beserta jiwa dan jejak Informasi-historis nya dari Dunia secara utuh.
Orang yang telah terhapus tidak akan diingat oleh semua orang, bahkan jika itu orang-orang yang pernah berhubungan dengannya.
Namun sayangnya kemampuan yang terlampau kuat ini tidak berarti pada Noire, karena Claire sendiri pernah mencobanya saat dia sedang jengkel.
Setelah merangkum informasi mengenai armor serta gauntlet milik Claire di kepalanya, Ren berteriak jauh di dalam batinnya.
Tidak bisa! Itu terlalu keren! Apakah ini yang dinamakan otoko no romance? Aku terkesan pada diriku sendiri dapat menahan ekspresi kaku dari kemunculan awal zirah itu hingga sekarang.
“Hamba, salah satu dari Zodiac Commander, berlambang pisces, Claire Kharsa sedang menghadap sang raja.”
Ren hanya mengangguk menanggapinya.
“Hamba memimpin sebuah divisi infanteri bernama Kyrios Numbers. Sebuah pasukan terbesar yang ada di Toriwake. Dapat dikatakan jika 40% dari semua yang ada disini merupakan anggota dari divisi hamba.”
[ 40% dari 1.300.500.630 merupakan 540.025.200. Yakni 540 juta 25 ribu 200. ]
‘Kerja bagus atas pengertiannya.’
Angka yang sungguh fantastis untuk sebuah pasukan khusus. Dan tidak ada satu pun dari personil Kyrios Numbers yang gagal.
“Kekuatan yang hamba dapat banggakan ialah mode ke-4 dari mata ini yang hamba ciptakan sendiri.”
‘Mode ke-4? Ah.. Kalau tidak salah namanya..’
“Elastic mode.”
‘Elastic mode.’
Claire kemudian melanjutkan, kali ini nada percaya dirinya mulai dapat terbaca oleh rekan-rekannya.
“Dengan Elastic Mode ini, hamba dapat meniru skill mau pun fisik dari target. Dan memperkuat nya hingga 10 kali lipat lebih besar. Mirip seperti Arienoa, namun hamba tidak dapat meniru 100% atribut milik target.”
‘Meski dia manusia, tapi memiliki kekuatan yang begitu broken.’
“Tapi terdapat 1 kelemahan pada mode ini, yakni tidak dapat menyalin sihir dari musuh. Akan sangat fatal jika berhadapan dengan ahli sihir yang sehebat Argus.”
‘Yah meski tidak dapat menyalin sihir sekali pun tidak akan berdampak apa-apa padanya. Dia tetap mustahil untuk dapat dikalahkan, selama makhluk seperti Noire yang bukan menjadi lawannya.’
“Sama seperti Noire, hamba juga dapat menyentuh sesuatu yang abstrak. Dapat mengabaikan makhluk dengan regenerasi super yang membuatnya mati dalam sekejap. Sepenuhnya kebal dengan serangan ilusi serta alam bawah sadar.”
“Namun hamba kurang dalam hal penyergapan, dan serangan diam-diam. Hamba lebih cocok untuk bertarung di garis paling depan sekaligus bertugas untuk membuka peperangan dengan meriah.”
Merasa sudah cukup mendengar penjelasannya, Ren menyudahi percakapan.
“Lagipula di Toriwake memang tidak ada orang yang lebih cocok dalam posisi itu selain dirimu.”
Claire tersipu malu, dia berteriak sekencang yang ia bisa di dalam benaknya, dan berusaha sekuat tenaga untuk dapat mengembalikan ekspresinya seperti semula dalam hitungan detik.
Setelah Claire terlihat normal kembali, Ren sedikit tertawa kecil dalam benaknya melihat tingkah Claire yang tersipu saat dipuji seperti itu.
‘Dyze memang luar biasa. Yah.. Wajar saja, karena dia karakter yang paling ku idamkan di Dunia nyata sih.’
“Selanjutnya, Raven. Patuhi panggilan-ku.”
“Yang Mulia, Raven Claw menghadap sang raja tanpa membantah.”
Sebelum seluruh anggota dari pasukan khusus di bawah komando Zodiac Commander menyadari darimana suara itu berasal, Raven secara tiba-tiba telah berada di samping Claire.
Dia berlutut dan menaruh telapak tangan kanannya di jantung, meski terlihat begitu tenang, Ren tetap dapat melihat bahwa Raven seperti sedang bergetar.
“Ada apa Raven?”
“Maafkan hamba Yang Mulia, tubuh hamba hanya tidak mampu menahan pikiran hamba yang sedang penuh dengan rasa haru dan bahagia atas kebangkitan anda.”
“Raven Claw, angkat kepalamu, ambil senjatamu dan perkenalkan dirimu.”
“Baik.”
Wajah Raven yang sebelumnya dipenuhi kegelapan saat menunduk, kini mulai terlihat perlahan demi perlahan.
Alasan kenapa Ren memberinya marga Claw kini terjawab.
Terdapat bekas luka cakar yang mengesankan di bagian kanan matanya, meski terlihat parah, Raven tidak mengalami kebutaan.
Dengan mata tajam berwarna hitam serta kantung mata tebal dan mantel dari burung gagak merupakan ciri khas dari Raven.
Dia membuat mantel burung itu setelah berhasil membunuh Ziz seorang diri, sang penguasa langit yang juga bersanding dengan Leviathan.
Raven mengangkat kepalanya tepat setelah diperintahkan, kemudian meraih senjata yang berjarak beberapa langkah darinya.
Ia menggenggam dual blade yang masing-masing memiliki ukiran berbeda.
Di tangan kirinya terdapat belati berwarna merah tua kehitaman dengan ukiran tengkorak yang terbuat dari kuku Ziz.
Dengan bahan yang sama, belati di tangan kanannya berwarna biru malam keunguan serta memiliki ukiran 3 jenis fase bulan; bulan purnama, bulan sabit, kemudian gerhana bulan.
Kemudian perhiasan seperti manik-manik bintang yang sangat indah berbentuk rasi bintang Scorpio menghiasi belati Raven dan menemani ukiran bulannya.
‘Kalau tidak salah nama dual blade itu ... Chaos Twin.’
“Hamba memimpin sebuah divisi pasukan khusus penyergapan bernama Blood Night Numbers. Jumlahnya 3% dari jumlah pasukan yang tersisa di ruangan ini selain milik Claire. Tidak terlalu banyak karena hanya sedikit sekali orang yang dapat lulus seleksi.”
[ 3% dari pasukan yang tersisa berjumlah 760.475.430 hasilnya yakni 22.930.629(22 juta 930 ribu 629 orang) ]
’22 juta dia bilang sedikit? Hahaha kurasa aku masih belum terbiasa dengan logika yang ada di Dunia ciptaan ku sendiri.’
“Hamba diberkahi gelar sebagai 『Penguasa Kegelapan 』, seseorang yang dapat memanipulasi apa pun dan siapa pun di dalam kegelapan. Bahkan hamba yakin dapat bergerak mengimbangi dari Eleina dalam kondisi gelap.”
Eleina yang mendengar pernyataan itu hanya menyimak dengan tenang tanpa menyanggah, sepertinya dia juga mengakui hal itu sebagai kebenaran.
Eleina yang disebut-sebut sebagai salah satu makhluk tercepat di Toriwake mengakui Raven dapat mengimbanginya jika berada di dalam kegelapan atau pun malam hari.
“Meski pun serangan hamba tidak sekuat serangan area milik Argus atau pun ketahanan diri hamba tidak sehebat milik Andora, seperti yang hamba bilang sebelumnya hamba sangat percaya diri dengan kecepatan hamba saat berada di area yang gelap.”
‘Dia menekankan kecepatan dua kali, aku belum pernah melihatnya langsung dengan mata kepalaku sendiri saat mendeskripsikannya ... Ini membuatku sedikit penasaran.’
“Secepat apa dirimu jika dibandingkan dengan Noire?”
Tepat setelah pertanyaan itu keluar dari mulut Ren, seisi ruangan menjadi hening seketika.
Raven dapat merasakan, bahkan tanpa menoleh, dia tahu bahwa Noire tersenyum lebar yang menakutkan juga sedang menantikan jawabannya.
“Perbandingannya seperti jurang yang terlalu besar untuk bisa diamati.”
Mungkin bagi beberapa orang, terlalu sulit untuk dapat memahami makna yang dimaksud oleh Raven, namun tidak untuk Ren.
‘Bahkan baginya juga sangat sulit mengimbangi Noire ya.’
Ren melirik sekilas ke arah Noire yang terlihat tersenyum dengan ramah.
“Baiklah, itu cukup. Selanjutnya, Argus. Patuhi panggilan-ku.”
“Baik.”