What Will You Do When Being God?

What Will You Do When Being God?
Chapter 16. Judgement Day




Judgement Day



“Akan tetapi kekuatan hamba tidak hanya bergantung pada senjata, karena hanya dengan kata-kata yang diucapkan secara lisan mau pun kata hati, seseorang yang hamba kehendaki pasti akan mati.”


‘Kemampuan inilah yang membuatnya menjadi semakin mengerikan. Bahkan sampai di titik dimana jika dia memiliki alasan yang cukup untuk membunuh Noire hanya dengan kata-kata, maka Eleina akan mampu melakukannya.’


“Hamba juga memiliki begitu banyak murid didik. Namun sepertinya salah satu dari yang terbaik membuat masalah tidak lama ini.”


Deg!


Jantung Ariana terasa seperti berhenti, dia mampu merasakan bahwa gurunya sedang menatap ke arahnya dengan mengintimidasi, itulah yang membuat Ariana tidak berani untuk mengangkat wajahnya.


“Apakah ada pembelaan?”


Ren bertanya dengan nada berat pada Ariana, ini semakin membuat mentalnya tertekan, meski begitu dia tetap ingin menghormati rajanya dengan berusaha menjawab.


“T-tidak.”


“Ariana, beritahu aku jasamu selama ini.”


Ariana termenung, dia tidak dapat menentukan apakah yang ia lakukan selama ini adalah jasa atau bukan.


“Tidak ada.”


Seisi ruangan menjadi hening, Ren yang mendengar itu membuat dahinya menjadi berkerut.


[ 500 tahun lalu, dia memenangkan turnamen dengan mencetak rekor sempurna. Hal ini menarik perhatian Eleina karena pergerakannya yang cocok menjadi seorang Assasin. Dia dilatih selama 200 tahun dan akhirnya mendapat izin untuk menjadi salah satu visitor maid yang bertugas untuk menjaga anda.


Ariana merupakan satu-satunya dari visitor maid yang selalu rutin mengunjungi, membersihkan ruangan, dan menangisi anda setiap harinya selama 300 tahun. Itu semua dia lakukan tanpa mengenali wajah mau pun aura anda sebagai tuannya. ]


‘Ariana ... Kau sungguh tidak beruntung.’


“Baiklah. Dengan itu aku akan memutuskan pilihanku. Ariana, kau akan ...!”


[ Perhatian! Sebuah anomali tidak wajar sedang terdeteksi! ]


Belum sempat melanjutkan kalimatnya, Ren dikejutkan oleh peringatan Athena. Dengan refleks dia melihat secara tembus pandang ke titik koordinat yang dimaksud.


Sebuah retakan dimensi terbuka dengan cukup lebar di langit Toriwake.


“Raja? Apa ada yang salah? ”


Chloe mewakili pertanyaan semua yang ada di dalam ruangan, karena melihat sang raja yang tiba-tiba terdiam merenungkan sesuatu.


Bagaimana mungkin?


Toriwake sendiri berada di atas Firmament Deity.


͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏͏


Firmament Deity sendiri terdiri atas lapisan dalam jumlah Tak Terbatas;


Masing-masing lapisan memiliki struktur Dimensionalitas tersendiri, yang dimulai dari 1D (Spasial) untuk Lapisan pertama, 2D (Spasial) untuk Lapisan kedua, 3D (Spasial) untuk Lapisan ketiga, 3D (Spasial) dan 1D (Temporal) untuk Lapisan keempat, 4D (Spasial) dan 1D (Temporal) untuk Lapisan kelima, dan seterusnya;


Setiap lapisan memiliki Alam Semesta 4D (3D Spasial + 1D Temporal) dalam jumlah Tak Terbatas, dan Lapisan tempat mereka tinggal akan memberi Dimensi tambahan sesuai Lapisan. Misalkan Lapisan pertama yang 1D, maka semua Alam Semesta di dalamnya jadi 4D Spasial + 1D Temporal. Begitu juga Lapisan kedua dan ketiga;


Pada Lapisan keempat, Dimensi Temporal yang ada pada semua Alam Semesta akan ikut bertambah seperti halnya Dimensi Spasial. Maka semua Alam Semesta di dalamnya jadi 13D Spasial + 2D Temporal. Begitupun seterusnya;


Tiap Alam Semesta yang telah mendapat Dimensi tambahan akan menyesuaikan di Lapisan yang lebih tinggi, sehingga struktur Alam Semesta tiap lapisan sendiri sudah berbeda-beda. Jika Lapisan pertama yang 1D menghasilkan Alam Semesta 4D Spasial + 1D Temporal, maka Lapisan kedua yang 2D menghasilkan Alam Semesta 6D Spasial + 1D Temporal, lalu Lapisan ketiga yang 3D menghasilkan Alam Semesta 9D Spasial + 1D Temporal, kemudian Lapisan keempat yang 3D Spasial + 1D Temporal menghasilkan Alam Semesta 13D Spasial + 2D Temporal, dan begitulah seterusnya.


Tentu saja lapisan yang lebih tinggi akan menganggap lapisan yang lebih rendah sebagai fiksi kemudian menganggap Dunia nya semata sebagai realitas satu-satunya.


Dan Firmament Deity itu sendiri berada di luar hierarki lapisan yang tidak terbatas, dengan kata lain tempat sakral ini telah melampaui dimensi secara konseptual.


Lalu di atas Firmament Deity, terdapat sebuah gumpalan awan tebal yang ukurannya tidak terukur sedang diselimuti kegelapan yang abadi, memiliki malam yang penuh dengan bintang, dan berbagai benda luar angkasa yang bercahaya seperti nebula, kuasar, supernova yang terkadang terlihat meledak beberapa tahun sekali menghiasi sekeliling langitnya.


Toriwake merupakan ranah baru yang melampaui Firmament Deity dan keseluruhan lapisan hierarki tidak terbatas pada titik konseptual.


Semua hal yang berkaitan dengan kehidupan, seperti hukum, teologi, konsep kematian, umur, logika, ideologi, evolusi, antropologi dan lainnya kini tidak berlaku lagi di Toriwake.


Dan kini bagaimana bisa sebuah retakan dimensi terbentuk di langit-langit Toriwake?


“Keadaan darurat! Tingkatkan keamanan Toriwake hingga pada level maksimal! Raven periksalah seluruh area Toriwake! Dan Claire persiapkanlah kubah raksasa untuk menyelimuti seisi Toriwake! ”


“Baik!”


Meski tidak mengerti apa yang sedang terjadi, Raven dan Claire menuruti perintah, dalam sekejap Raven lenyap ditelan kegelapan, sedangkan Claire berlari menggunakan baju besinya.


“Orion, gunakan portalmu untuk memindahkan seluruh prajurit yang ada di dalam ruangan menuju keluar, tepatnya di koordinat yang akan kukirimkan!”


[ Mengirimkan koordinat ... ]


[ Telah dikonfirmasi. ]


“Dimengerti.”


Orion dan seluruh prajurit yang ada di ruangan tersebut kini memasuki portal, menyisakan 9 Zodiac Commander, seseorang tanpa gelar, dan Ariana.


“Apakah dia kembali, Yang Mulia?”


Pertanyaan Chloe sudah pasti merujuk pada Zavist, musuh terakhir yang di hadapi Dyze.


“Aku tidak yakin.”


Dahi Ren mengerut, otaknya semakin penuh dengan pertanyaan mengenai apa yang sebenarnya terjadi.


‘Apa ini? Aku tidak pernah menciptakan alur seperti ini dalam ceritaku! Dan bagaimana mungkin terdapat kehidupan lain yang dapat meraih Toriwake?’


“Apa yang harus kami lakukan, Yang Mulia?”


Pertanyaan klasik dari Noire membawanya pada kenyataan, bahwa bukan itu yang seharusnya dipikirkannya sekarang.


‘Pikirkanlah, bagaimana cara Dyze melakukannya.’


[ Hamba merekomendasikan Noire, nyonya Chloe, serta Amentia tetap bersama anda, mereka dapat menjadi jaminan keamanan untuk anda. Sedangkan sisanya bertugas mengamati dan berjaga di garis depan. ]


“Chloe, Noire, Amentia. Kalian tetap bersamaku. Sedangkan nama yang tidak ku-sebutkan, pergilah, susul Orion dan Raven untuk mengamati dan bersiap di garis depan.”


“Baik!”


Secara serempak mereka semua berlutut dan menghilang dalam sekejap.


***


Di sisi Ariana, tepat sebelum mereka semua menghilang, dia dapat merasakan gurunya sedang menggenggam tangannya.


Merasakan kelembutan kulit Eleina dan kehangatannya, membuat Ariana memejamkan matanya, kemudian tanpa sadar bertanya pada Eleina.


“Guru, apakah menurutmu sang raja kecewa padaku? Beliau bahkan belum sempat menghukumku.”


Sebelumnya, Ariana tidak pernah merasakan emosi lagi semenjak dia menjadi bagian dari istana. Namun kini hatinya benar-benar suram, dia gelisah, perasaan takut akan sang raja yang kecewa padanya benar-benar mencekik.


“Gadis bodoh. Raja kita itu memiliki pemikirannya sendiri, makhluk seperti kita tidak akan bisa mengerti apa lagi mencoba menebaknya.”


Mendengar perkataan lembut dari gurunya membuat Ariana refleks membuka mata, dan kini dia telah sampai di sebuah lapangan kosong yang hanya terdapat awan hitam sebagai pijakan serta cakrawala yang membentang luas memperlihatkan beberapa gunung kokoh jauh di hadapan mereka.


Ariana yang memang selama ini berlatih di bawah gurunya selama 300 tahun tentu tidak terkejut atas perpindahan mereka yang bahkan waktu pun belum berjalan.


“Saya memang bodoh, menyimpulkan dengan cepat atas kekhawatiran pribadi.”


“Semoga dengan ini, hamba bisa menebus dosa.”


Ariana melihat ke langit mereka yang berwarna hitam penuh dengan benda-benda luar angkasa bercahaya memiliki sebuah retakan besar yang tampaknya terus berkembang.