
17 Great War?
***
Kembali pada Dyze yang kini hanya dengan dua Zodiac Commander dan seseorang tanpa gelar berada dalam ruangan.
“Chloe, Bawa kami menuju mereka! Aku ingin melihatnya dari dekat.”
“Dimengerti baginda.”
Chloe mendekat ke arah Ren dan meminta izin untuk menggenggam tangannya.
“Tidak apa. Kalian, kemarilah.”
Ren mengajak Noire dan Amentia untuk saling memegang tangan satu sama lain dengan Chloe.
“Hamba mulai ya.”
.
..
...
Di saat waktu bahkan belum sempat bereaksi, mereka telah sampai tepat di bawah retakan yang menganga di langit.
‘Itukah kecepatan yang bahkan melampaui waktu? Sekilas aku bahkan merasa seperti terlempar ke masa lalu sebelumnya ...’
[ Anda juga tahu jika kecepatan ini belum dalam mode bertarungnya. ]
‘Ya. Aku tahu itu dengan sangat baik.’
“Selamat datang, Yang Mulia.”
Claire sebagai perwakilan dari seluruh Zodiac Commander yang telah berada di tempat itu terlebih dahulu beserta pasukan-pasukannya berlutut memberi hormat.
“Berdirilah kalian. Dan Claire, kapan kubah milikmu akan muncul?”
Claire berdiri menaati perkataan rajanya, lalu menjawab.
“Sekarang, Yang Mulia.”
Tepat setelah perkataannya, sebuah kubah berwarna oranye transparan menyelimuti seisi Toriwake.
Mengecualikan lapangan kosong yang mereka gunakan, bertujuan agar dapat mengantisipasi jika retakan itu melakukan serangan.
“Bagus, dengan adanya barrier milikmu setidaknya Toriwake akan aman.”
Ren memberinya pujian sambil mengelus kepalanya yang lembut.
“T-terima kasih, Yang Mulia.”
Hal ini ‘sedikit' membuat rekan wanitanya yang lain cemburu.
“Claire, apa kau ingin merasakan baju berimu terbelah menjadi potongan kecil?” Bahkan Chloe itu sendiri, dia mengatakan sambil memperlihatkan sedikit bilah pedangnya keluar dari sarung.
“Tidak! Tidak perlu!”
Melihat Claire yang panik saat menggunakan armor menjadikan tingkahnya semakin lucu.
‘Dasar mereka ini. Menghadapi sesuatu yang ganjil seperti ini masih bisa bercanda dengan santai.’ Ren dengan kegelisahan batinnya menatap sejenak retakan dimensi yang kian membesar itu.
Ia kemudian berbalik ke arah mereka dan mengatakan sesuatu.
“Berusaha keraslah, maka kalian akan berhak mendapatkannya.”
Perkataan itu membuat moral para Zodiac Commander dan seluruh pasukannya meningkat.
‘Padahal itu hanya kata-kata sepele. Tapi kita tidak tahu seberapa besar arti dari sesuatu yang kita anggap sepele itu dalam hidup mereka.’
{ Kalian masih bisa bersikap santai seperti ini ya. }
Sebuah suara yang terdistorsi terdengar menggema ke seluruh bagian Toriwake.
“Ap—?!”
Claire dengan sigap berdiri di depan Ren sebagai perisai hidup, Chloe secara spontan mengeluarkan bilah pedangnya, Zodiac Commander yang lain pun dalam kondisi siaga bertarung.
“Sudah lama kita tidak bertarung bersama seperti ini ya.”
“Noire, ini bukan lelucon kamu tahu.”
“Ahahah, maafkan aku nyonya~”
‘Athena, suara apa itu?’
[ Suara ini ... Suaranya bahkan tidak bisa terdengar dengan baik, dia berasal dari dimensi lain. ]
‘Dimensi lain katamu?! Bukankah Toriwake telah melampaui konsep dimensi itu sendiri? Bagaimana bisa mereka meraih ranah ini dan bahkan menerobos masuk melalui retakan dimensi?’
[ Jawabannya ... ]
{ Athena milikmu tidak akan bisa mengorek informasi mengenaiku. Karena aku adalah **** dalam cerita ini. }
“Athena? Dan apa yang dia maksud?”
Zodiac Commander saling berdiskusi, hanya Ren disini yang mulai menyadari potensi ancaman dari sosok misterius tersebut.
[ Hamba meminta maaf dengan sangat amat Tuan. Bahkan dengan kemahatahuan, hamba tidak bisa mendapatkan sedikit pun informasi mengenainya. Data dari suara itu kosong, tidak ada di catatan seluruh kehidupan yang berada dalam layer tidak terbatas. ]
‘Apa bukan aku saja yang bernasib sama seperti ini? Tenanglah Ren ... ‘
“Huh? Apa yang dia maksud ...?”
Sesuatu keluar dari retakan dimensi yang kini sudah berukuran sangat besar.
“Seluruh pasukan bersiap untuk menyerahkan nyawa kalian! Kita akan berperang!”
“Baik! Kami dengan bangga menyerahkan nyawa kami demi sang raja dan negerinya!”
Sebenarnya teriakan Noire hanya sebuah formalitas untuk menaikkan moral pasukan, karena di Toriwake, konsep kematian telah dihapus oleh Dyze.
Ia berteriak seperti itu karena melihat pasukan yang begitu banyaknya hingga tidak dapat dihitung keluar dari retakan dimensi dan mulai menuruni udara kemudian berbaris dengan rapi.
“Noire, apakah kita perlu memanggil pasukan biasa? Jumlah mereka tidak terbatas, jauh lebih banyak dari pasukan khusus kita secara keseluruhan.”
“Amati terlebih dahulu situasinya. Mereka masih sebuah berlian kasar, pertarungan tanpa pengalaman akan membuat nyawamu melayang sia-sia.”
Orion mengangguk menyetujuinya.
Melihat pasukan dengan aura kematian dan bertopeng hitam yang semakin banyak keluar dari retakan dimensi, sampai membuat Ren ingin menyegel retakan tersebut.
[ Hamba bisa melakukannya. ]
『 Tertutuplah 』
Retakan dimensi itu mulai menutup layaknya luka yang sedang dijahit, namun suara itu kembali terdengar ...
Hanya saja kali ini dengan tawanya yang mengerikan.
{ AHAHAHAHAHA! KAU PIKIR SUNGGUH MAMPU MEMBLOKIR PASUKANKU? Sepertinya kau begitu meremehkanku. }
‘Bagaimana bisa ... ?’
Retakan dimensi di hadapan mereka kembali terbuka, kali ini terdapat sesuatu yang berbeda.
Seseorang dengan seluruh bagian tubuh yang berisi seperti alam semesta dan memiliki galaksi sebagai satu-satunya mata keluar dari retakan dimensi.
Tepat setelah itu, retakan dimensi tersebut pecah dan mengembalikan langit Toriwake yang indah seperti semula.
{ Dia adalah pion yang kumainkan sebagai komandan. Namanya adalah Lugiel. Semoga tidak mengecewakanmu. }
Saat Lugiel telah mencapai awan hitam sebagai pijakannya, dia terlihat begitu santai dan bahkan sesekali membunyikan kepalanya.
{ Oh terakhir, kurasa aku akan mengembalikan konsep kematian di Negeri ini. Habisnya tidak seru jika tidak ada korban bukan? }
『 Concept Creation: Death 』
“Perasaan ini ...” Amentia merasa begitu familiar dengan sesuatu yang baru saja seperti merasuki tubuhnya.
{ Benar juga, salah satu bawahanmu, Amentia, dia merupakan jelmaan dari kebangkitan bukan? . Amentia, kurasa kalian tidak akan akur. }
“Bang**t bagaimana dia mengetahui mengenai diriku?”
“Haah ... Apakah kalian sudah selesai bicara?”
Lugiel mengatakan itu sambil meregangkan kedua lengannya. Dia benar-benar meremehkan pihak Ren.
‘Melihatnya yang begitu santai saat ingin menghadapi pertarungan membuatku sedikit mengingat tentang Dyze. Huftt... Baiklah waktu bermainnya telah selesai.’
Waktunya jiwaku sebagai Author bersatu dengan tubuh pemeran utama.
Mata merah Ren mulai menyala-nyala, separuh rambut hitamnya kini telah berubah menjadi abu-abu.
Claire dalam posisi siaga. Chloe dan Eleina menghunuskan pedangnya. Arcandra menggenggam senjata miliknya. Andora bertransformasi menjadi setengah Naga dalam bentuk manusia. Begitu pula dengan Adeline yang mulai merentangkan sayap Phoenix-nya.
Di sisi lain, Argus yang mulai membangun formasi lingkaran sihir di sekitar mereka. Raven berbaur dalam kegelapan, guna meningkatkan kemampuan tempurnya. Orion berada di samping Anastasia, keduanya tetap bersiaga sambil mengamati keadaan.
Arienoa yang masih menunggu pecahnya peperangan tetap berada di barisan belakang, dan Noire mulai berjalan ke arah Dyze yang berada di sebelah Amentia.
“Raja, izinkan hamba menjadi pembuka perang ini.”
“Lakukanlah.”
“Dengan senang hati.”
Setelah melakukan penghormatan, Noire berjalan ke arah Lugiel, dengan jarak 300 meter yang memisahkan mereka.
“Hah? Apa yang diinginkan wanita montok sepertimu?”
“Kutu busuk sepertimu tidak memiliki sopan santun sama sekali ya.”
“Kutu ... Katamu?”
Perkataan Noire sepertinya benar-benar menusuk harga diri Lugiel, dalam sekejap rambutnya menjadi memanjang ke atas dan berubah warna menjadi rambut kosmik yang berisi galaksi dengan penuh kehidupan di dalamnya.
“Kau terlalu meremehkanku, j*lang.”
“Aku hanya mengatakan sesuatu yang pantas untukmu, dasar amoeba.”
『 Reality Manipulation 』
Noire menggunakan kemampuan manipulasi realitanya dengan keinginan agar Lugiel dan pasukannya lenyap dari sana.
“Huh?”
Namun tanpa diharapkan, reality manipulation milik Noire tidak bekerja sama sekali.
Lugiel dan pasukannya masih berdiri, menginjakkan kakinya di wilayah suci Toriwake.