
Tanpa membalas sepatah kata pun, Ren hanya mengangguk dan melanjutkan giliran.
“Patuhi panggilan-Ku. The Eternal Sacrifice, Amentia.”
“Baik.”
Seorang gadis kecil berambut pink yang diikat twintail dan memiliki iris mata hitam yang lebih pekat dari kegelapan itu sendiri, dengan tiba-tiba telah berada di samping Orion dan langsung berlutut.
“Hamba, Zodiac Commander Leo menghadap pada sang raja.”
“Angkat kepalamu, ambil senjata dan perkenalkan dirimu.”
“Dimengerti.”
Gadis kecil yang dipanggil sebagai Amentia tersebut mengambil pisau kecil yang melengkung serta memiliki lubang di bagian ujung gagangnya.
Senjata ini disebut sebagai ‘Kerambit Knife'. Mata dari pisau ini berwarna biru dengan ujungnya yang berwarna putih. Kemudian dia memiliki sesuatu yang berbentuk retakan alami bernuansa biru langit dengan aura dari hawa dingin salju.
Di bagian tepi dari sisinya, terdapat sesuatu yang runcing, ini berfungsi sebagai penghias yang menambah nilai karismatik dari senjata Kerambit.
Lalu di bagian tengah dari Kerambit Knife ini sendiri memiliki beberapa pasang gigi tajam yang seolah terlihat sebagai ‘perekat.’
“Hamba dianugerahi julukan Eternal Sacrifice, akibat kematian yang diperoleh dari pengorbanan nyawa bukanlah sebuah akhir, melainkan hanya menjadi sebuah batu pijakan. Dimohon izin dari-Mu untuk hamba memperlihatkannya.”
“Lakukan.”
Amentia menggenggam Kerambit Knife miliknya, kemudian secara mengejutkan menusuk dada bagian kirinya dan merobek kulitnya sendiri. Akibat hal itu, darah mulai keluar dari mulutnya.
Karena tindakan brutalnya, darah muncrat, mengalir kemana-mana, namun langsung lenyap saat menyentuh lantai.
Belum cukup sampai disitu, Amentia langsung merenggut jantungnya yang masih berdetak kemudian mempersembahkannya pada Dyze lalu menghancurkannya.
Suasana hening dengan angin yang menusuk tulang menyelimuti seisi ruangan.
Namun anehnya, tepat setelah jantung itu hancur, senjata milik Amentia mengeluarkan aura biru yang mengeluarkan panas layaknya api.
Dan tidak lama waktu berselang, jari-jari Amentia bergerak, disusul dengan darah yang tadinya mengalir sangat deras mulai mereda. Luka robek di bagian dadanya pun perlahan menutup dengan sendirinya.
“Kematian tidak dapat membuat hamba melemah, sebaliknya itu justru akan memperkuat diri hamba sendiri. Hamba dapat dengan bangga membuang nyawa hamba sendiri dalam pertarungan jika dibutuhkan.”
Amentia, seseorang yang berperawakan seperti gadis kecil, dia tidak sekali pun mengeluh mengenai ‘rasa sakit' yang dia alami saat memasuki jurang kematian di hadapan rajanya.
Dia tahu jika ia berbicara mengenai rasa sakit, tentunya akan terkesan seperti dia melakukan ini karena telah menjadi kewajibannya.
Oleh karena itu, Amentia yang benar-benar tulus dalam mengabdi, tidak pernah mengeluh sekali pun mengenai ‘rasa sakit'. Selama keberadaan Dyze ada, ‘rasa sakit' hanyalah batu loncatan bagi Amentia untuk membuat rajanya senang.
Dan tentunya Ren sebagai Author mengetahui hal ini dengan sangat baik, bahkan dalam benaknya, Amentia merupakan salah satu karakter paling menarik baginya.
Karena semua skill, akses sihir, peningkatan fisik, perubahan Form, kecepatan berpikir, dan lainnya membutuhkan pengorbanan tiada akhir (abadi) berupa kematian. Karena inilah dia dijuluki sebagai ‘Eternal Sacrifice.’
‘Bahkan Noire sekali pun tidak sanggup untuk benar-benar membunuhnya, bahkan jika dia mampu memanipulasi realita, Amentia akan tetap bangkit dengan merangkak dari jurang kematiannya.’
“Hamba memiliki pasukan divisi khusus bernama Phantom Numbers. Jumlahnya berkisar 50% dari sisa sebelumnya.”
[ Hasilnya 235 juta 831 ribu 911 prajurit. Yang tersisa kini juga berjumlah 235.831.911 prajurit. ]
“Hal unik yang membedakan pasukan divisi hamba dengan rekan lainnya ialah kami semua telah mengalami kematian dan tetap mampu bangkit kembali pada kehidupan.”
“Dan jika berhadapan dengan musuh yang memiliki kemampuan Copy sempurna seperti Arienoa, itu akan sedikit merepotkan. Karena meski hamba tidak dapat terbunuh secara permanen, hamba juga akan kesulitan membunuhnya jika mampu menyalin kemampuan hamba.”
‘Tentu saja, kalian berdua dan Noire ditakdirkan sebagai gunting-batu-kertas, Noire akan sangat mudah mengatasi Arienoa, Arienoa yang menyulitkan Amentia, dan Amentia yang mampu membuat Noire kerepotan karena tidak dapat membunuhnya secara permanen.’
“Hamba juga telah berusaha mempercepat kebangkitan anda dengan ratusan ribu kali percobaan. Namun hasil dari semua itu nihil. Mohon maafkan bawahan yang tidak berguna ini.”
Melihat perasaan bersalah dari Amentia membuat Ren mengukir senyum di benaknya.
“Jangan salah paham. Kalian hanya tidak mampu memanipulasi keadaan-ku karena aku sendiri tidak akan bisa dimanipulasi oleh makhluk yang berada di bawahku.”
Amentia berterima kasih pada rajanya karena memedulikan perasaannya.
“Selanjutnya, patuhi-panggilanku. Kembaran terburuk, Arienoa.”
“Baik.”
Seorang wanita berambut ungu lurus mempesona dengan iris mata persis seperti buah anggur yang menyegarkan, berjalan secara anggun dan langsung berlutut di samping Amentia.
“Hamba, Zodiac Commander Taurus, Arienoa menghadap sang raja.”
“Angkat kepalamu, ambil senjata dan perkenalkan dirimu.”
“Dimengerti.”
Arienoa meraih sebuah sabit yang tertancap di hadapannya.
Sabit ini merupakan senjata tajam bermata dua, dihiasi dengan sudut lancip berupa duri, dan diiringi oleh warna hijau toska yang mendominasi selain bagian tepi bernuansa coklat berbahan platina.
“Hamba memiliki pasukan divisi khusus bernama Nightmare Twins yang berjumlah 2% dari sisanya.”
[ Berjumlah 4 juta 718 ribu 638 prajurit. Jumlah yang tersisa kini 231 juta 115 ribu 273 prajurit. ]
“Meski hamba menggunakan sabit ini sebagai senjata, kekuatan utama hamba ialah dapat menyalin kemampuan seseorang secara sempurna mulai dari fisik, skill, penguasaan sihir, kecerdasan, dan aspek lainnya. Akan tetapi ...”
“Kau tidak dapat menyalin kemampuan seseorang yang terlalu jauh di atasmu, jika dipaksakan, maka tubuhmu akan hancur karena tidak mampu. Begitu, kah?”
Mendengar rajanya melanjutkan perkataannya membuat Arienoa mengangguk dengan malu.
“Itu benar, raja. Hamba masih terlalu lemah.”
“Ada alasan dibalik setiap kejadian, begitu pula dengan kelemahan terbesarmu.”
Arienoa tersenyum, dia tahu bahwa tuannya sedang menenangkannya hanya saja dengan cara yang berbeda.
“Tapi jangan sampai lengah. Meski kita sekarang berada di puncak dari segalanya, kita masih harus tetap bersiap menghadapi segala kemungkinan.”
Seluruh Zodiac Commander dengan kompak mengatakan secara serempak, “Baik!”
‘Sebenarnya Dyze tidak akan pernah berpikir seperti ini sebelumnya, tapi melihat keanehan yang menimbulkan tanda tanya besar dalam benakku, berhati-hati merupakan tindakan wajib yang harus dilakukan.’
“Bahkan jika ada yang memiliki skill pasif destruktif, seperti dapat menghancurkan siapa saja saat mendekatinya ... Hamba juga mampu menirunya sekaligus memiliki kekebalan terhadap efek yang hamba terima darinya.”
Sesuai dengan yang dikatakan Arienoa, dia mampu menyalin 100% atribut lawannya secara sempurna sekaligus memiliki ‘Counter' alami sehingga kebal terhadap skill atau atribut yang di salin.
‘Ahahaha dipikir-pikir kemampuannya memang gila. Kalau dia tidak memiliki batasan, aku tidak bisa membayangkan potensinya sebagai monster.’
“Cukup, kemampuanmu memang sesuai dengan ras yang kau miliki, Perfect Doppelganger.”
“Terima kasih atas pujiannya, raja.”