
Jogja, Juni 2008
Suasana kampus saat itu sudah agak sedikit lengang. Mendung juga menggayut tipis menutupi matahari yang bersinar terik. Pohon-pohon di pinggir jalan juga menjadi tempat favorit mahasiswa untuk berteduh di bawahnya. Jalanan kampuspun tidak banyak dilalui mahasiswa yang berlalu lalang. Karena hari itu adalah hari terakhir ujian di kampusnya Gina. Gina juga tinggal satu kali lagi mengerjakan ujian siang nanti. Setelahnya dia sudah ijin untuk tidak masuk kerja hari ini ke manajer tokonya.
Sesampainya Gina di gedung jurusannya, Gina menyapa satpam gedung kuliah, "Pagi Pak Seno. Sudah dapat jatah masuk pagi ya?" tanya Gina mendekat ke pos satpam yang berada di samping lapangan parkir itu.
"Iya Nduk. Bapak sudah dapat jadwal masuk pagi lagi nih." jawab Pak Seno, satpam gedung kuliahnya itu. "Eh. iya, Bapak tadi dipesani sama Bu Widya, kalau kamu datang pagi, diminta ke kantor administrasi Nduk," lanjutnya kemudian. Memang Pak Seno selalu memanggil Gina dengan sebutan Nduk, karena usia Gina sebaya dengan anaknya yang juga sudah kuliah.
"Oke, 86! Pak Seno. Gina ke sana sekarang," jawab Gina dengan mengangkat tangannya ke dahi dengan sikap hormat. Bergegas Gina masuk ke dalam gedung perkuliahan dan terus menuju pintu keluar di bagian belakang. Menyusuri jalanan kecil ke arah gedung dua, gedung kantor dosen dan administrasi.
Sesampainya di ruang administrasi, Gina masuk ke dalam dan hanya mendapati seorang pegawai yang sedang mengerjakan sesuatu di komputernya. "Pagi, Pak Hasmuri. Sibuk sekali kelihatannya. Perlu Gina bantu gak nih?" sapa Gina kepada pegawai adminstrasi tersebut.
"Weeh.. Pagi, Pagi Gina. Gak ada ujian jam ini?" tanya balik Pak Hasmuri kepada Gina. Kelihatan dari cara menjawab sapaan Gina, Pak Hasmuri juga dekat dengan Gina. "Pekerjaan wajib ini Gina. Tidak bisa di wakilkan. Bapak lagi mengumpulkan jadwal mengajar dosen untuk semester depan."
""Kamu sudah tahu kan, jam mengajarnya Prof. Baraka nantinya akan dibantu oleh dosen baru. Kata Prof. Baraka, yang menjadi asisten nya nanti juga kamu. Benarkah itu?" tanya Pak Hasmuri lebih lanjut.
"Yaa, kalau Prof. Baraka memberi mandat seperti itu, saya sebagai prajuritnya harus siap 86! to Pak." jawab Gina sambil berkelakar. "Ngomong-ngomong, Bu Widia kemana Pak? Tadi di gedung depan, Pak Seno nya bilang Gina di cariin Bu Widia."
"Tunggulah di sana dulu. Palingan Bu Widia bentar lagi datang." ujar Pak Hasmuri kembali melanjutkan ketikan yang tadi ditinggalkannya. "Gina, Bapak lanjut ngerjain dulu ya. Tinggal jadwal kedua profesor nih yang belum fix. Prof. Baraka dan Prof. Adi," kata Pak Hasmuri.
"Silakan Pak Hasmuri. Nanti kalau bonusnya cair, Gina di traktir ya." canda Gina sebelum memutuskan duduk di kursi kosong yang biasanya dia pakai untuk membantu kerjaan para pergawai administrasi.
Tak lama kemudian, Bu Widia masuk ke ruangan kantor itu, di belakangnya mengikuti masuk seorang laki-laki yang mengenakan celana kain yang dijahit rapi, sepatu fantovel hitam dan atasan batik necis dan rambut yang disisir klimis ke belakang. Bu Widia begitu masuk dan melihat Gina, langsung menghampiri Gina di tempat duduknya. Sedangkan laki-laki yang masuk dibelakang Bu Widia tadi berjalan ke meja Pak Hasmuri.
Di dengarnya suara berat khas laki-laki berkata ke Pak Hasmuri "Pak, ini jadwal Prof Baraka dan jadwal saya. Tadi Prof. Baraka sudah memberikan pemisahan jadwal kelas untuk kami berdua." katanya sambil menyerahkan berkas yang dari tadi dipegangnya ke Pak Hasmuri.
"Gina, kamu sudah datang? Tadi Ibu nitip pesan ke Pak Seno supaya kamu langsung kesini kalau datang awal." kata Bu Widia kepada Gina.
"Iya Bu. Tadi Gina juga diberitahu Pak Seno kalau Ibu mencari Gina. emmm, ada apa ya Bu? Apakah ada yang bisa Gina bantu?" Gina penasaran, ada alasan apa Bu Widia memanggilnya ke kantor. Tidak biasanya pegawai senior itu memanggil mahasiswanya
"Ini, bacalah. Tadi Ibu buru-buru ketemu Pak Dekan II untuk meminta tanda tangan beliau. Ini untukmu," Bu Widia mengulurkan sebuah map yang dibawanya tadi kepada Gina.
Gina menerima map tersebut dan segera membukanya. Setelah beberapa saat, Gina menengadahkan kepalanya dan melihat ke Bu Widia, "Ini beneran Bu? Gina bisa mendapatkan ini?" tanya Gina tak percaya apa yang baru saja diterimanya itu.
"Iya. benar. Selamat ya Gina. Semoga beasiswa ini bisa membuat Gina semakin semangat untuk meneruskan kuliah," ujar Bu Widia dengan senyum lembutnya.
"Terima kasih Bu. Terima kasih," Gina buru-buru bangun dan memeluk Bu Widia sebagai ungkapan rasa bahagia dan rasa terima kasihnya. Bu Widiapun menerima pekukan tersebut dan menepuk-nepuk punggung Gina, mahasiswi yang bekerja keras untuk bisa tetap menyelesaikan kuliahnya.
"Selamat ya Gina. Kamu pantas kok mendapatkannya. Fakultas yang merekomendasikanmu untuk mendapat beasiswa penuh dari bayaran kuliah per semester dan tunjangan belajar tiap semester juga." sambung Pak Hasmuri melihat Gina sangat bahagia mendapatkan beasiswa itu.
"Wah, ternyata apa yang di katakan Prof Baraka benar. Calon asistenku benar-benar mahasiswi yang pintar." ucap laki-laki tadi yang ternyata itu adalah Indra Kusumoningrat, calon dosen baru.
"Jangan lupa nanti setelah ujianmu selesai, bawa berkas itu ke administrasi beasiswa pusat ya. Di sana nanti tinggal mengisi biodata mu dan serahkan surat rekomendasi ini. Dan mungkin ada sedikit interview dari staff sana," sambung Bu Widia lagi.
"Baik Bu. Akan Gina berikan nanti." ucap Gina kepada Bu Widia. Setelah mendengar bel pergantian jam pelajaran, Gina bergegas meninggalkan ruangan administrasi. Buru-buru Gina berpamitan kepada Bu Widia dan Pak Hasmuri. Tapi, Gina tidak menyapa satu orang lagi yang masih ada di sana.
"Gina tidak melihat Bapak ya? Tidak biasanya Gina cuek dengan orang lain." tanya Pak Hasmuri keheranan.
"Bisa jadi Pak, saking senangnya dapat beasiswa," ujar Indra yang merasakan juga kalau diabaikan oleh Gina.
Setelah itu Indra berjalan keluar mengikuti langkah Gina. Dilihatnya gadis itu berjalan ke gedung perkuliahan dengan riang. Indra yang melihat dari belakang, tersenyum menyaksikan Gina sekarang ceria, setelah mendengarkan cerita dari Prof Baraka tentang masa lalu Gina yang tragis. Semakin hari, Indra semakin bertekad untuk melindungi Gina dari kesusahan dan kesedihan.
kriiiiiing... kriiiiing....
Blackberry Indra berbunyi, segera di ambil handphone nya itu dari saku celana nya. Dilihatnya nama penelpon di layar handphone nya. Nama pamannya tertulis disana, Pakde Hadijoyo.
"Halo, pripun Pakde? Ada apa?" tanya Indra setelah menekan tombol panggilan di terima.
"Yo ndag ada apa-apa to Le. Pakde nelpon itu kan yo kangen sama ponakan semata wayangnya. Mosok Pakde nelpon kudu ada apa-apa." jawab suara dari seberang sana. "Selasa minggu depan bisa pulang ta Le. Sibu mu mau buka kios baru, mau syukuran katanya. Nunggu kamu balik Le."
"Nggih Pakde, tolong aturne Sibu, besok Selasa Indra balik Solo setelah selesai di kampus," jawab Indra dengan takzim kepada paman nya. Kakak Ibu nya yang sudah berperan sebagai ayah baginya. Indra sudah tidak mau menanyakan keberadaan ayahnya kepada sang Ibu. Setiap di tanya tentang ayahnya, sang Ibu selalu menampakkan wajah sedih dan selalu meneteskan air mata. Sesaat mendengarkan apa kata-kata paman lagi sambil manggut-manggut kepala, Indra menjawab kembali, "Nggih Pakde, matur nuwun. Sehat-sehat nggih Pakde," kemudian ditutupnya panggilan tersebut dan dimasukkan Blackberry nya tersebut ke kantong celana nya.
Indra kembali melihat ke jalan setapak yang tadi dilewati Gina ke arah gedung perkuliahan. Melihat Gina sudah tidak nampak lagi di jalan setapak tersebut, Indra memaksakan tubuhnya untuk berbalik dan menaiki tangga gedung administrasi dan dosen tersebut. Sampai di lantai dua, Indra membelok ke kiri, menuju ke kantor khususnya Prof. Baraka, yang nantinya juga akan jadi ruangannya. Indra senang bisa berbagi ruangan dengan mentornya tersebut.
"Ketemu Gina di kantor bawah tadi?" tanpa basa-basi Prof. Baraka menanyakan Gina kepadanya.
"Tadi liat, Prof. Tapi kami tidak bicara, kok," sahut Indra buru-buru memberikan penjelasan kepada mentornya tersebut.
"Lihat aja tidak masalah, nanti lama-lama kalau kamu kenal Gina, dia juga akan ramah kepadamu. Anak itu hatinya luar biasa baik," puji Prof. Baraka tiap kali membicarakan tentang Gina. "Oh iya, Ndra. Nanti sekitar jam 1 siang, ada acara tidak?" tanya Prof. Baraka meletakkan pena yang dipakainya untuk mengoreksi jawaban ujian dari para mahasiswanya tersebut.
"Siang ini kosong Prof, hari ini Indra hanya ke kampus untuk konfirmasi jam mengajar bersama Profesor," Indra menjawab mentornya tersebut saat melangkah ke kursi di belakang mejanya sendiri. Setelah sampai di kursi tersebut, Indra perlahan menarik kursinya untuk mengarah ke Prof. Baraka dan perlahan duduk menghadap beliau.
"Kalau boleh aku minta tolong, siang sampai malam hari ini aku meminta waktumu," kata Prof. Baraka dengan tatapan mata yang serius.
"Ya, Prof. Apapun yang Profesor minta, akan Indra laksanakan sebaik mungkin," jawab Indra, penasaran dengan betapa serius mentornya itu meminta hal yang pasti akan dilakukannya langsung.
"Jika kamu longgar waktu nanti, tolong untuk menemani Gina pulang ke Solo. Beberapa hari ke depan adalah peringatan meninggalnya orang tua Gina. Sahabatku, Rasya Wilde dan istrinya, Elisabeth. Saat-saat seperti ini dulu aku yang selalu membawa Gina ke makam kedua orang tuanya. Tapi tahun ini, aku tidak bisa mengantarnya. Diajak menemani dekanat untuk rapat dengan rektorat di kantor rektorat," terang Prof. Baraka kepada Indra.
"Tapi, bagaimana Prof? Indra sulit sekali bicara dengan Gina untuk menanyakan kapan dan dari mana Gina berangkatnya," respon Indra menerima permintaan mentornya itu.
"Jam ujian Gina akan usai 1 jam lagi, biasanya dia sudah keluar 30 menit sebelum waktu ujian usai. Setelah itu, hari ini Gina pasti langsung ke gedung beasiswa untuk menyerahkan berkas rekomendasi kampus dan mengisi biodata dan interview sebentar. Singkatnya Gina akan keluar lewat gerbang depan menuju Jalan Raya Solo sekitar 60 menit lagi. Kamu masih punya waktu untuk pulang ke kontrakan dan ganti baju batik necismu itu dengan kaos oblong, dan pakai kemeja flanel. Kenakan saja jeans yang sudah lawas. Jangan seperti ini, ganti sepatu fantovelmu dengan sandal gunung. Gaya yang biasa kau pakai saat kuliah dulu. Lalu, tunggulah di gerbang depan kampus sampai dia lewat. Yang mulai saat itulah kamu jaga Gina ya, sampai kembali pulang ke kosan dengan selamat lagi," Prof. Baraka memberikan penjelasan dan arahan dengan panjang lebar kepada Indra.
"Wah, kok Prof. Baraka tahu jadwal Gina siang ini?" selidik Indra kepada mentornya tersebut.
"Hahahahahaha, aku sengaja mengirimkan surat rekomendasi ke kantor administrasi kemarin sore, hari ini pasti diurus sama Bu Widia, dan karena ini hari terakhir pengumpulan, jadi yaa, tidak butuh otak yang cemerlang untuk bisa tahu pergerakan Gina selanjutnya. Sana segera pergi, ganti bajumu itu," sahut Prof. Baraka diantara tawanya.
"Baik, Prof," Indra segera beranjak dari kursinya, tangannya meraih tas dan segera saja berjalan keluar kantor itu.
"Tunggu Ndra," sela Prof. Baraka sebelum Indra membuka pintu kantor.
"Ya, Prof. Ada apa," jawab Indra memutarkan badannya menghadap mentornya tersebut.
"Jangan macam-macam ya dengannya. Tugasmu hanya menjaga dia saja," peringatan Prof. Baraka kepada Indra.
"Siap, 86! Prof. Indra tidak akan menyentuh Gina tanpa peringatan sebelumnya," jawab Indra nyengir kepada Prof Baraka, yang langsung tertawa mendengar jawaban Indra tadi.
.........
Kau begitu sempurna
Dimataku kau begitu indah
Kau membuat diriku akan slalu memujamu
Disetiap langkahku
Kukan slalu memikirkan dirimu
Tak bisa kubayangkan hidupku tanpa cintamu
Janganlah kau tinggalkan diriku
Takkan mampu menghadapi semuaa
Kau adalah da-rahkuu
Kau adalah jantungkuu
Kau adalah hidupkuu
Lengkapi diriku
Oh sayangku, kau begitu
Sempurna... Sempurna...
Kau genggam tanganku
Saat diriku lemah dan terjatuh
Kau bisikkan kata dan hapus semua sesalkuu
Janganlah kau tinggalkan dirikuu
Takkan mampu menghadapi semuaa
Kau adalah darahkuu
Kau adalah jantungkuu
Kau adalah hidupkuu
Lengkapi dirikuu
Oh sayangku, kau begituu
Sempurna... Sempurna...
Janganlah kau tinggalkan dirikuu
Takkan mampu menghadapi semuaa
Kau adalah darahkuu
Kau adalah jantungkuu
Kau adalah hidupkuu
Lengkapi diriku
Oh sayangku, kau begituu
Kau adalah darahkuu(darahhkuu)
Kau adalah jantungkuu(jantungkuu)
Kau adalah hidupkuu(hidupkuu)
Lengkapi dirikuu
Oh sayangku, kau begituu
sayangku, kau begituu
Sempurna... Sempurna...
..........
Gina teringat dengan orang tua nya saat mendengar lagu Sempurna milik Andra and The Backbone ini. Lagu yang terdengar dari salah satu komputer di kantor beasiswa itu menarik ingatannya kepada Mama dan Papa nya. Mereka adalah sosok-sosok sempurna di mata Gina. Kekuatan dan ketegaran Papa nya, kelembutan dan kecerdasan Mama nya, bersama-sama meninggalkan kesan kuat bahwa cinta mereka sempurna untuk satu sama lainnya, dan cinta mereka sempurna utuh untuknya. Hari ini, setelah selesai menyerahkan surat rekomendasi dan data dirinya, Gina akan pulang ke Solo, menemui Papa dan Mama nya yang sudah menunggu ceritanya. Hatinya penuh akan kerinduan yang sangat kepada Papa dan Mamanya tercinta.
"Gina Wilde," panggil salah seorang pegawai di kantor tersebut.
"Ya Bu, saya di sini," jawab Gina langsung saat mendengar namanya di panggil. Gina menghampiri meja Ibu tersebut dan melirik papan meja nya bertuliskan dra. Sunjati Lestari.
"Gina, kami menerima surat rekomendasi dari kampusmu untuk mendapatkan beasiswa PPA. Tolong diisi formulir ini dulu untuk tambahan data arsip kami," pinta Bu Lestari ke Gina, tangannya mengulurkan berkas-berkas yang harus diisi Gina.
"Ibu sedikit mengulang ya apa itu beasiswa PPA. Jadi beasiswa ini adalah beasiswa penunjang akademik yang khusus kampus keluarkan untuk mahasiswa pintar tetapi kesulitan membayar biaya kuliah dan biaya belajarnya. Nanti setiap satu semester Gina akan mendapatkan bantuan sebesar Rp. 5.500.000,- untuk keperluan membayar semesteran dan untuk mengadaan buku-buku kuliahmu. Jumlah tersebut tidak dipotong pajak ataupun tidak dipotong biaya apapun juga. Gina boleh mengambilnya langsung kesini, setelah nilai ujian di akhir semester keluar, bawa fotokopian nilai hasil ujiannya untuk arsip kami. Nanti beasiswa nya bisa diambil saat itu juga. Ada yang mau ditanyakan?" Bu Lestari menjelaskan panjang lebar kepada Gina yang melihat beliau seakan tidak percaya.
"Beneran Bu, saya bisa melunasi semua biaya semesteran dan masih ada sisanya?" tanya Gina, takjub akan kebaikan dan kemudahan yang diberikan pihak fakultas terhadapnya membuat matanya berkaca-kaca bahagia.
"Benar. Itu betul sekali. Beasiswa PPA ini sangat sulit ditembus, jadi bersyukurlah Gina direkomedasikan oleh fakultas untuk mendapatkan beasiswa ini," sahut Bu Lestari kemudian. "Formulirnya sudah diisi? Kalau sudah, bisa dikumpulkan dan Gina boleh pulang."
"Banyak-banyak terima kasih Bu. Sekali lagi terima kasih," ucap Gina sambil menyalami Bu Lestari.
Kemudian Gina bergegas keluar dari gedung beasiswa pusat itu dan berdiam diri di depan pintu gedung. Gina berbalik dan melihat gedung itu dengan perasaan bahagia bercampur haru. Dipaksakan kakinya melangkah menjauhi gedung beasiswa pusat tersebut dan melangkah gontai keluar kampus untuk berjalan menuju ke Jalan Solo menunggu bus yang akan membawanya ke Solo, kota kelahirannya tercinta.
"Jangan melamun, nona judes," kata suara berat laki-laki mengagetkannya.
Gina seketika berhenti dan berbalik melihat pemilik suara kurang ajar tersebut. "Apa maumu? Aku sedang bahagia dan tidak mau melihatmu yang bisa merusak bahagiaku," Gina menjawab ketus.
deg deg... deg deg.. deg deg...
Jantung Gina berdentam dentam melihat sosok di depannya itu sudah berubah penampilannya. Tidak lagi mengenakan celana halus licin dan kemeja yang seperti biasanya dia pakai, melainkan semua itu sudah diganti dengan celana jins lusuh yang tetap saja masih memeluk kaki jenjangnya dengan sangat pas. Kaos biru tua yang warnanya telah pudar di lengkapi dengan kemeja flanel kotak-kotak khas mahasiswa. Sepatu fantovel mengkilapnya sudah digantikan dengan sandal gunung yang terlihat nyaman dipakai. Gina melihat keatas kembali, alamak, rambutnya yang biasanya disisir klimis dan rapi sekarang berantakan seakan-akan ada tangan yang menyugar rambut tersebut untuk membebaskan dari kungkungan model rambut yang rapi. Kacamata nya juga tidak dia pakai.
Gina terpana melihat sosok tersebut berubah total dari laki-laki perlente menjadi seorang mahasiswa tingkat akhir yang bergaya. Tapi ada yang salah, Gina terus melihat dari atas ke bawah penampilan baru Indra, dan akhirnya menemukan yang dia cari. Nah, itu dia, senyum mengejeknya kembali terukir di bibir tebalnya.
Gina tersadar dan berbalik meneruskan langkah kakinya. Di dengarnya langkah kaki Laki-laki itu di belakangnya. "Mengapa dia juga ikut berjalan?" tanya Gina dalam hati. Tapi terserah sajalah, toh ini jalan umum dan menuju ke jalan besar. Gina memaksa dirinya untuk tenang dan berjalan dengan santai, mengingat sekarang dia akan menemui orang tuanya, membuat hati Gina ringan. Tanpa terasa langkah kaki Indra sudah sejajar dengan langkah kakinya sendiri dan saat sampai di pinggir Jalan Solo, Gina segera mencari tempat teduh untuk menunggu bus datang.
Banyak sekali bus-bus yang berseliweran di jalanan. Asap knalpot bus yang hitampun acapkali mengotori udara jalanan Jogja tersebut. Gina menunggu di bawah pohon, menghindari teriknya matahari siang itu. Di samping Gina, berdiri Indra yang terus merendengi langkah Gina sejak dari depan gerbang kampus nya tadi. Entahlah apa maunya Indra mengikutinya.
.......