
Jogja, Juli 2008
Sudah terlalu lama Gina terbiasa dengan Indra yang lebih banyak waktu untuk berada di sekitarnya. Sampai kedatangan Indra tidak lagi menjadi gangguan baginya. Sering kali pagi hari, Indra sudah di depan pagar rumah tempat kos-kosannya. Sekedar untuk mengantarkan makanan ataupun sarapan bersama di pagi hari.
Karena alasan itulah, Gina pagi ini berangkat kerja dengan hati yang membuncah bahagia. Senyum tidak lepas dari bibirnya yang seksi. Membuat seluruh wajahnya terlihat cerah dan membuatnya melangkah dengan penuh semangat.
Hari ini giliran Gina ditempatkan di stand produk yang menjual batik. Terutama batik-batik tulis dan kain yang dihasilkan oleh alat tenun bukan mesin. Kain-kain batik itu bagaikan pusaka berharga yang di display dengan elegan yang produk lainnya disimpan dalam almari jati kokoh yang dipelitur hitam. Pintu almari jati itu diberi kaca untuk bisa melihat kain batiknya dan untuk melindungi kain batik itu sendiri dari pencurian dan memelihara keawetan kainnya. Batik tulis di toko souvenir tempat Gina bekerja banyak jenisnya. Ada yang berbahan katun dan juga dari sutra. Perlakuan batik-batik tersebut tentu berbeda dengan barang-barang dagangan yang lainnya di toko souvenir ini.
Gina merasa dekat dengan kain-kain batik tersebut karena merasakan keterikatan batin dengan kain-kain batik. Mengingat mama dan papanya mewariskan lumayan banyak kain batik tulis di rumahnya di Solo. Kain batik yang dimiliki oleh Gina, motifnya klasik. benar-benar kain batik Solo yang berwarna dasar coklat dan hitam. Warna khas kain batik Kota Solo. Warna dasar coklat yang diambil dari warna dasar tanah, memiliki filosofi bahwa yang memakai kain batik berwarna coklat ini menjadi pribadi yang penuh dengan kehangatan dan sederhana, memiliki sifat rendah hati dan bisa membumi. Sedangkan warna dasar hitam mempunyai filosofi bahwa yang memakai batik berwarna dasar hitam ini mempunyai kewibawaan, keberanian, kekuatan, ketenangan dan menjadi pribadi yang kuat dan didominasi dengan sifat-sifat baik.
Hasil belajar Gina beberapa waktu ini sangat berguna untuk meningkatkan pengetahuannya tentang batik. Gina sangat takjub, karena dari satu lembar kain, terdapat banyak filosofi yang terkandung di dalamnya. Dan Gina juga baru mengetahui pemakaian kain batik di jaman dahulu itu bisa juga melambangkan kedudukan seseorang berdasarkan dari motif-motif batik tersebut. Karena motifnya sendiri juga memiliki filosofi dan makna tersendiri. Ini baru satu warisan budaya yang berada di Indonesia. Sangat sayang sekali apabila kekayaan nenek moyang sampai hilang diakui oleh negara lain.
Gina sudah tiba di tempatnya bekerja. Hari ini, sesuai dengan breafing pagi tadi bahwa selama dua minggu ke depan, Gina akan menjaga di stand batik-batik tulis, di pojok eksklusive di toko ini. Kesempatan Gina untuk melihat dan mempelajari langsung batik-batik tulis yang ada di toko souvenir ini lebih besar. Hal baik akhir-akhir ini selalu menghampiri Gina, maka dia memanfaatkan kesempatan ini dengan sebaik-baiknya. Waktu untuk mempelajari tentang perbatikan terbuka lebar. Karena Gina tidak bisa belajar dari pengalamannya sendiri, maka dia dengan perasaan was-was membumbung menanti orang yang selalu memasok dan memantau perkembangan batik-batik tulis itu datang rutin setiap satu kali seminggu. Gina menantikan hal tersebut, menantikan kesempatan bertanya tentang segala hal yang berhubungan dengan batik.
"Gina, bisakah bantu aku memeriksa stok batik yang ada di kontermu itu? Aku butuh untuk memeriksa ulang semua barang yang terjual kemarin," pinta Mbak Beti kepadanya.
"Boleh Mbak. Sini daftarnya, Gina bantu untuk memeriksanya lagi," jawab Gina mengulurkan tangan meminta catatan daftar stoknya.
"Terima kasih ya. Aku sangat terbantu," jawab Mba Beti dengan lega. Dia melanjutkan perkataannya lagi, "Akhir-akhir ini toko sedang ada sedikit masalah, Gina. Harus sering-sering di periksa stoknya."
Mbak Beti bergegas meninggalkan stand Gina dan menuju stand barang lainnya. Meminta tolong setiap pegawai yang bertanggung jawab atas barang-barang stand mulai pagi ini. Gina juga bergegas mengecek batik-batik yang menjadi tanggung jawabnya mulai hari ini. Dengan tekun Gina menghitung stok batik yang ada di almari display. Nama-nama motif dan warna yang ada di catatan yang diberikan Mbak Beti tadi di cocokkan dengan yang ada di depannya. Tidak lama sebelum toko buka, Gina sudah menyerahkan catatan stok yang sudah di periksa ya kepada Mba Beti.
"Ini Mbak, stand Gina aman. stok kemarin malam dan pagi ini cocok. Untuk batik cap maupun batik tulisnya sama persis jumlahnya," kata Gina saat mengulurkan catatan kepada Mba Beti.
"Terima kasih ya Gina. Untuk stand kain batik sepertinya aman ya," kata Mba Beti setelah menerima catatan dari Gina.
"Maaf Mbak, sebenarnya ada apa ya? Dua hari kemarin Gina libur, jadi tidak tahu apa yang terjadi," tanya Gina yang dipenuhi dengan rasa penasaran.
"Selama dua hari kemarin, banyak barang stok yang tidak sama antara stok dan catatan," terang Mbak Beti berbisik kepada Gina.
Sebenarnya Gina heran mengapa Mbak Beti harus berbisik kepadanya. Bukankah setiap karyawan juga di serahi tanggung jawab untuk memeriksa stok saat sebelum tutup dan saat buka toko. "Nanti aku kasih tahu. Sekarang kembali ke standmu dulu sana," usir Mbak Beti sambil mendorong punggung Gina untuk kembali ke tempat tanggung jawabnya.
"Eeh Mbak.. Mbak.. Iya.. Iya.. Gina akan kembali ke tempat tugas. Jangan dorong-dorong," ujar Gina sambil berlari demi melepaskan diri dari dorongan Mbak Beti.
Waktu bergulir semakin lama semakin siang. Gina masih menanti dengan hati was-was namun bahagia. Menanti seseorang yang selalu memasok dan mengganti batik-batik yang sekarang di jaganya. Gina merapikan kembali kain batik yang tadi sempat dilihat-lihat dan dipilih oleh calon pembeli tadi. Lalu lalang orang di toko souvenir tersebut membuat Gina sibuk melayani pertanyaan demi pertanyaan yang diajukan oleh pelanggan. Tiba-tiba dari belakang ada yang memanggil namanya. Gina menoleh dan memutar balik badannya untuk menghadap Raka yang tadi memanggilnya.
"Selamat sore, Pak Raka. Hari ini penjualan batiknya lumayan jumlahnya," kata Gina menyambut atasannya itu.
"Benarkah? Bagus sekali, Gina. Hari ini sepertinya suasana hatimu sangat baik ya," ujar Raka melihat binar mata dan raut wajah Gina yang masih bersemangat.
"Tentu saja. Dua minggu kedepan Gina menjaga stand batik cap dan tulis di pojok sini. Biasanya pelanggan-pelanggannya tidak hanya membeli satu buah, jadi bulan ini pasti komisi Gina banyak sekali," terang Gina dengan mata berbinar.
"Hahaha, kau semangat sekali kalau tentang hal itu Gina," kata Raka menggeleng-gelengkan kepalanya. "Oia, hari ini pemasok kain-kain batik yang kau jaga datang. Beliau nanti akan mengganti stok batik-batik kita," kata Raka.
"Pak Raka, maaf. Nanti apakah saya bisa bertanya-tanya kepada beliau? Kebetulan saya sangat tertarik dengan batik khas Solo," tanya Gina. Dia berharap bisa bertemu dengan seseorang yang sangat mengerti tentang batik dan sudah berkecimpung di dunia batik sepanjang hidupnya.
"Bisa, beliau sudah ada di sini," kata Raka senang melihat antusias Gina. "Sebentar, saya jemput dulu beliau. Katanya tadi lagi mencari parkiran," lanjutnya kembali.
Setelah Raka berlalu dari stand Gina, dia kembali merapikan kain-kain batik yang tadi ditinggalkan karena dipanggil oleh Raka. Ditatanya ulang kain-kain tersebut dengan tatanan yang cantik sehingga menarik minat calon pembeli. Dirapikannya kain yang berada di gantungan kain agar semua motif dan warna batik-batiknya terlihat dengan jelas.
"Silakan Pakde. Hari ini penjualan kain batiknya lumayan banyak. Pegawai kami yang hari ini bertugas menjaga stand kain batik sangat pintar dalam menawarkan. Dan dia juga ingin bertemu dengan Pakde untuk menimba ilmu," kata Raka mengiringi tamu tadi ke arah stand Gina.
Sesampainya di stand Gina, kebetulan masih ada pelanggan yang bertanya-tanya, sehingga Gina tidak bisa langsung bertemu dengan pemasok batik dan atasannya. Beberapa saat kemudian, barulah Gina sudah bebas karena jam istirahat sudah tiba. Gina berlari ke kantor Raka di lantai dua dengan harapan masih bisa bertemu dengan orang yang memasok batik-batik di toko souvenir ini. Dilihatnya Raka dan sang tamu sudah keluar dari kantor dan akan berjalan keluar.
"Pak Raka, maaf saya tadi masih melayani pembeli sehingga tidak bisa berbincang-bincang dengan Bapak dan tamu Bapak," kata Gina saat sudah di hadapan Raka dan tamunya.
"Ini Gina, Pakde. Dia yang hari ini bertanggung jawab atas display dan penjualan batik dua Minggu ke depan," kata Raka memperkenalkan Gina kepada orang di sebelahnya.
Orang yang di panggil Raka dengan sebutan Pakde itu hanya berdiri kaget memandang Gina. Wajahnya putih pias dengan mata melotot dan mulut ternganga. Dengan terbata-bata, Pakde berucap lirih, sangat lirih, "Elisabeth..."
Gina mengerutkan kening. Mendengar nama mamanya di sebut oleh beliau. Dengan penasaran Gina memiringkan kepalanya sambil bertanya, "Maaf, apakah Pakde mengenal mama saya"
"Ah.. Apa? Mamamu? Elisabeth?" tanya beliau dengan bingung. Pandangan matanya tidak fokus dan seakan kaget mengetahui hal itu.
Raka dan Gina berpandangan dengan bingung. Entah apa yang akan mereka lakukan. Entah bagaimana reaksi yang harus mereka keluarkan melihat beliau sangat kaget dan bingung.
"Pakde, sudah siap untuk pulang?" ujar suara seseorang yang baru datang dari belakang Gina.
"Mas Indra. Kenapa kesini?" tanya Gina penasaran mendapati suara tersebut adalah milik Indra.
"Menjemput Pakde Hadijoyo. Beliau sering datang kesini untuk sekedar mengecek kondisi stok batik dan penjualannya," jawab Indra berdiri di samping Gina. "Pakde kenapa? Pakde sakit?" tanya Indra kepada pamannya yang masih terlihat kaget.
"Dia... Elisabeth...," racau Pakde Hadijoyo masih melihat Gina dengan tatapan mata aneh. Tatapan mata rasa bersalah dan tatapan rasa mendamba.
"Apa? Elisabeth siapa?" tanya Indra kepada Raka. Yang hanya mendapat jawaban kedikan bahu.
"Elisabeth itu mamaku," jawab Gina dengan tegas. "Apa Pakde kenal dengan mama saya?" tanya Gina lagi.
"Indra, ayo antar aku pulang. Aku sudah capek," kata Pakde Hadijoyo tidak mempedulikan pertanyaan Gina sejak tadi. Pakde Hadijoyo menghampiri Indra dengan langkah gontai tanpa semangat. Berbeda sekali dengan sikap yang ditunjukkan kepada Raka tadi.
"Mas Raka, sebenarnya siapa beliau?" tanya Gina yang tidak bisa menutupi rasa penasarannya melihat reaksi Pakde Hadijoyo saat bertemu dengannya tadi.
"Beliau adalah Hadijoyo Kusumoningrat. Juragan batik dari Solo. Beliau khusus menjual batik tulis dan cap yang kualitasnya selaku terjaga sejak dahulu," jawab Raka.
Dari Solo? Apakah beliau tahu papa dan mama saat masih hidup? tanya hati Gina.
"Iya, terima kasih," kata Gina berbalik untuk memanfaatkan waktu makan siangnya yang sudah lewat beberapa saat.
Lain halnya dengan Hadijoyo. Di mobil yang disopiri oleh Indra, Hadijoyo masih termenung dengan sedih. Baru saja dia melihat wajah yang sangat dikenalnya. Wajah yang dulu dia dambakan dan karenanya Hadijoyo muda melakukan banyak hal tidak masuk akal. Hadijoyo menghembuskan napas berulang-ulang dengan muka murung. Tidak disangkanya rasa bersalah dulu bercokol kembali di hatinya saat ini.
........
Sekian lama sudah kita telah berpisah
Ku rasa kini kau tak sendiri lagi
Aku pun kini seperti diri mu
Satu hati telah mengisi hidup ku
Tak perlu engkau tahu rasa rindu ini
Dan lagi mungkin kini kau telah bahagia
Namun andai kau dengar syair lagu ini
Jujur saja aku sangat merinduikan mu
Memang tak pantas menghayal tentang diri mu
Sebab kau tak lagi seperti yang dulu
Kendati berat rasa rindu ku pada mu
Biarkan ku hadang rindu ku terlarang
Biar ku simpan saja
Biar ku pendam sudah
Terlarang sudah rindu ku pada mu
Tak perlu engkau tahu rasa rindu ini
Dan lagi mungkin kini kau telah bahagia
Namun andai kau dengar syair lagu ini
Jujur saja aku sangat merinduikan mu
Memang tak pantas menghayal tentang diri mu
Sebab kau tak lagi seperti yang dulu
Kendati berat rasa rindu ku pada mu
Biar ku hadang rindu ku terlarang
Ku isi kan rindu di hati ku
Ku harap tiada seorang pun tahu
Biar ku simpan saja
Biar ku pendam sudah
Oh terlarang sudah rindu ku padamu
Terlarang sudah rinduku pada mu
........
Mungkin lagu dari Broeri Marantika dan Dewi Yull yang berjudul Rindu yang Terlarang itu bisa melambangkan perasaan hati Hadijoyo yang siang ini sangat resah dan gelisah.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Halo Pembaca Budiman,
Terima kasih sudah menyempatkan waktu membaca novel ini. Terima kasih juga sudah menunggu dengan sabar keluarnya chapter terbaru di novel ini.
Mohon Favoritkan ❤️ novel ini, klik tombol like 👍🏽 dan ketuk ⭐⭐⭐⭐⭐ ya.
Oia, jika berkenan boleh sekali untuk follow akun IG author di @arinrindra ya. Silakan difollow, dicolek untuk follback dan kita bisa berinteraksi lebih lanjut.
Warm Regard,
-Arindra-