Wait For Me, Professor!

Wait For Me, Professor!
Sedikit Terkuak



Jogja, Juli 2008


Semburat sinar mentari datang menyapa setiap pejuang kehidupan yang telah terjaga jauh sebelum subuh tiba. Kegiatan itu tak melekang oleh perkembangan jaman yang semakin bergerak cepat. Pejuang-pejuang subuh selalu terjaga lebih pagi dari yang lain sekedar mencari recehan rejeki demi menyambung hari demi hari.


Hiruk pikuk pagi ini juga dirasakan oleh gadis muda nan ayu yang sedang mengayuh sepeda tuanya dengan penuh semangat dan senyuman manis menghiasi bibirnya. Disambutnya pagi dengan semangat baru, tak dihiraukannya anak-anak rambut yang berhasil lolos dari bawah topinya. Meski rambutnya sudah di ikat kencang membentuk ekor kuda kencang, tapi masih saja ada yang lepas darin ikatannya dan membingkai wajah manis gadis itu.


kring kring kring...


Gina membunyikan bel sepedanya setiap Gina berhenti di depan rumah. Dan setiap itu pula selalu si empunya rumah keluar menemuinya demi sebotol maupun dua botol susu yang selalu Gina antarkan setiap pagi ke rumahnya.


"Mba Gina, minta dua botol ya, rasa coklat dan strawberry," pinta gadis kecil yang keluar menyambutnya.


"Ya, tapi sudah bilang Ibu belum, Sasa minta dua botol?" tanya Gina menanggapi permintaan pelanggannya.


"Ibu bilang boleh kok, Mba. Dikasih Ibu uang sepuluh ribu," kata Sasa mengulurkan uangnya ke Gina.


"Baik, Sasa yang manis. Ini susu rasa coklat dan strawberry nya," sambung Gina sembari mengulurkan dua botol susu pada Sasa.


Begitulah kegiatan pagi Gina hari demi hari ini. Gina tahu meskipun Profesor Baraka yang menanggung semua biaya hidupnya sejak orang tua nya meninggal, tetapi Gina tidak mau menggantungkan hidupnya terus menerus pada Profesor Baraka yang sudah sejak kecil Gina anggap sebagai pamannya sendiri.


Sudah hampir satu bulan lamanya Gina bekerja di toko souvernir milik keluarga Raka. Dan dalam satu bulan itu sudah dilihatnya laki-laki paruh baya yang pernah Gina tabrak saat pertama kali Gina mulai bekerja, keluar masuk dan mengecek kain-kain batik di sana. Pada awalnya, Gina tidak merasakan hal janggal dalam kedatangannya tersebut.


Tapi melihat merk batik yang selalu di awasinya, Gina teringat akan kenangan masa lalu saat papa dan mama nya masih hidup. Dahulu kala, saat Gina masih sekolah dasar, Papa nya pernah bercerita, bahwa eyang Gina adalah salah satu pengrajin batik yang besar di Solo. Banyak sekali pembatik tulis tradisional yang bekerja pada eyang, baik itu datang langsung ke pabrik maupun membawa pulang selembar dua lembar kain mori untuk di canting.


Gina teringat pula papa dan mama nya selama dia bersekolah mengelola beberapa pabrik batik dan banyak pembatik tulis tradisional yang datang ke workshop di rumahnya. Ingatan tersebut memunculkan banyak sekali pertanyaan pada dirinya sendiri. Gina ingat sebelum meninggal, papa dan mama Gina sempat berbicara tentang kesempatan kelangsungan bisnis mereka setelah pulang dari London.


"Apa Paman Baraka tahu hal ini ya?" gumam Gina sembari melajukan sepedanya ke arah kos-kosan yang di tempati olehnya. "Coba kalau Paman ada waktu, Gina akan tanya tentang itu." putus Gina dalam hatinya.


Matahari sudah merangkak naik ke peraduannya. Sinar teriknya sudah menyibak gugusan awan dan menyapu pekatnya kabut dari puncak Gunung Merapi. Sehingga pagi itu Gunung Merapi terlihat berdiri dengan gagah dan indah tanpa tertutupi oleh gumpalan-gumpalan awan.


Sesampainya Gina di kamar kos-kosan, langsung dicarinya nomer telepon rumah Profesor Baraka. Tak sanggup lagi membendung segala pertanyaan yang bercokol di dalam kepalanya.


Kriiiiiing.... Kriiiing.... Kriiiing...


Dengan sabar ditunggunya dering telepon diangkat di seberang sana. Di ingat-ingatnya lagi segala hal di akhir-akhir Gina bersama dengan papa dan mama nya.


"Halo, wilujeng sonten," jawab suara ibu-ibu tua dari seberang telepon sana.


"Halo, Mbok Nah. Ini Gina, Mbok yang telpon. Mbok Nah apa kabar?" tanya Gina kepada wanita tua pengurus rumah dari Profesor Baraka itu.


"Ooh nok Gina. Simbok baik nok. Nok sehat juga kan? Makan teratur yo nok. Sering-sering mampir ke sini. Ini sudah seperti rumah nok sendiri," jawab Mbok Nah dengan hati bungah dan terus menyerocos karena bahagia Gina tidak melupakannya.


"Baiiik, Mbok Naaah.. Gina akan kesana kalau kangen masakannya Mbok Nah," janji Gina pada wanita tua itu. "Mbok, paman ada di rumah?" tanya Gina lagi.


"Ada nok, tunggu Mbok panggilakan dulu ya," jawab Mbok Nah dengan penuh semangat.


Gina mendengar suara gagang telepon di letakkan di meja. Dalam diam menanti gagang telepon itu diangkat di seberang sana, Gina menyusun pertanyaan-pertanyaan yang akan ditanyakan pada Profesor Baraka nanti.


"Halo, Gina. Ada apa? Pagi-pagi sudah telpon ke rumah?" Profesor Baraka mengangkat telepon Gina setelah dipanggilkan Mbok Nah tadi.


"Paman, Gina tiba-tiba pagi ini kepikiran tentang usaha yang papa dan mama dulu jalani. Bolehkah Gina tahu bagaimana sebenarnya usaha papa itu hancur dan menjadikan papa bangkrut?" kata Gina membuka percakapan.


"Akhirnya... Paman menunggu Gina bertanya tentang hal ini," ucap Profesor Baraka. "Paman sebenarnya sudah lama ingin membahas ini denganmu, Gina. Tapi selama ini Paman lihat Gina masih fokus kuliah dan lebih suka berjuang sendiri mencari uang untuk hidup sehari-hari. Jadi, paman menunggu Gina untuk mengangkat topik ini," ujar Profesor Baraka.


"Maafkan Gina, Paman. Gina tidak mau terlalu merepotkan Paman. Gina tahu Paman yang mengurus rumah Gina dan selalu mengurus makam mama dan papa di Solo. Jadi, Gina pikir, Gina harus bisa mandiri untuk meringankan beban Paman," sambung Gina dengan perasaan bersalah.


"Sebenarnya dulu, papa dan mama mu sudah mewasiatkan kamu ke Paman. Papa dan mama mu sebelum pergi ke London, sudah meminta Paman untuk mengurusmu. Itulah yang Paman lakukan sampai sekarang, memenuhi wasiat papa dan mamamu, Gina. Dan kamu tidak merepotkan sama sekalu." Profesor Baraka menjelaskan hal tersebut kepada Gina.


"Iya Paman, Gina paham kok. Gina amat sangat tahu tanggung jawab Paman mengambil alih pengurusan harta papa atas nama Gina selama ini," kata Gina penuh rasa terima kasih.


"Baiklah.. Baiklah.. Paman mengerti. Sekarang, apa yang ingin Gina tanyakan tentang usaha keluargamu itu?" tanya Profesor Baraka kepada Gina.


"Paman sore ini apa ada waktu? Gina ke rumah paman bisa?" Gina memutuskan untuk langsung bertemu dengan Profesor Baraka untuk bertanya hal sepenting ini.


"Paman di rumah seharian ini. Datang saja kapanpun Gina bisa. Paman tunggu ya," jawab Profesor Baraka mengetujui keputusan Gina.


"Terima kasih Paman. Sore nanti setelah selesai kerja, Gina akan ke rumah," sahut Gina.


Setelah menutup teleponnya, Gina bergegas menuju kamar mandi untuk bersiap-siap bekerja. Minggu ini Gina jadwal masuk pagi, jadi jam 8 harus sudah sampai di toko untuk membantu persiapan buka toko. Dikenakannya kemeja seragam toko berwarna merah marun, dengan lis batik kawung di lengan dan di kantungnya. Di dada kiri bertuliskan identitas toko souvenir dan di bawahnya ada bordiran namanya. Dikombinasikanmlnya dengan celana jeans panjang warna hitam dan sepatu tanpa hak warna marun juga. Rambut panjangnya diikat sedikit di belakang kepala. Dan sisanya dibiarkan bebas terurai. Dikenakannya sedikit bedak dan dioleskannya lipstik warna nude di bibir lembutnya. Tak lupa jam tangan hitamnya dilingkarkan di pergelangan tangan kirinya. Disemprotkannya sedikit parfum untuk menambah kepercayaan dirinya sebelum berangkat bekerja. Di raihnya tas ransel warna hitam kesayangannya dan bergegas untuk berangkat ke toko.


......


*Hidup ini takkan indah


Tanpa kau ada di hati


Ceria ini takkan ada


Tanpa kau ada di sisi


Kekasihku, kau bunga mimpiku


Tiada yang lain hanya dirimu


Yang kusayang dan selalu kukenang


'Kan selalu bersama dalam suka dan duka


Dirimu satu yang kumau


Takkan lagi ada selain dirimu


Cinta suci hanyalah untukmu


Dengarlah kasih, kaulah dambaanku


Kita 'kan selalu bersama


Tetap satu dalam cinta


Tiada yang mampu merubah


Dirimu satu yang kumau


Takkan lagi ada selain dirimu


Cinta suci hanyalah untukmu


Dengarlah kasih, kaulah dambaanku


Wajah manis yang lembut dan ayu


Bagaikan untaian mutiara


Takkan kulepas hingga akhir masa


'Kan selalu bersama dalam suka dan duka


Dirimu satu yang kumau


Takkan lagi ada selain dirimu


Cinta suci hanyalah untukmu


Dengarlah kasih, kaulah dambaanku


Dengarlah kasih, kaulah dambaanku*


.......


Headset di telinga Gina mengalunkan lagu Cinta Suci nya Stinky. Gina sengaja memakai headset untuk mendengarkan Radio Swaragama Fm dari handphonenya, karena hiruk pikuk dalam bus trans Jogja, sangat padat. Antusias warga Jogja dengan moda transportasi baru, yang ada sejak bulan Februari tahun ini bisa dibilang sangat tinggi. Dengan disediakan bus yang nyaman dan berpendingin udara dan dengan sistem bayaran yang mudah serta murah, membuat warga masyarakat lebih memilih mencoba moda transportasi Trans Jogja ini.


Waktu pun terasa berjalan dengan sangat cepat, hari ini Gina sudah menyelesaikan shif jam kerja hariannya. Meski banyak hal yang Gina pikirkan, tetapi Gina harap performa kerja nya hari ini tidak begitu mengecewakan. Jam di tangannya sudah menunjukkan pukul setengah lima sore, Gina bergegas menuju area Stasiun Tugu untuk mencari ojek yang bisa mengantarkannya langsung ke rumah Profesor Baraka. Setelah Gina dan bapak ojek setuju tentang harga, Gina langsung diantarkan sesuai dengan alamat yang diberikan.


Jalanan Jogja sore hari memang selalu penuh dengan kendaraan bermotor. Padat dan merayap seiring dengan perkembangan kehidupan ekonomi Kota Jogja. Setengah jam berlalu sebelum akhirnya Gina sampai di rumah Profesor Baraka.


"Kula nuwun, selamat sore," teriak Gina di depan pendapa rumah tua itu.


"Sudah datang, Gina? Ayo.. ayo langsung masuk saja," ajak Profesor Baraka menyambut Gina tanpa beranjak dari duduknya di kursi kayu jati tua di pendapa depan rumahnya.


"Sedang apa Paman, sibuk banget kelihatannya," tanya Gina kepada Profesor Baraka yang terlihat masih duduk dan memegang banyak bundel kertas.


"Ayo, sini masuk dulu. Mbok Nah sudah menyiapkan teh hangat dan jadah serta tempe bacem. Istirahat dulu, makan minum. Nanti baru katakan apa yang mau Gina ketahui," sahut Profesor Baraka dengan nada kebapakan.


"Hehehe, matur nuwun, Paman. Tahu aja Gina lagi lapar," jawab Gina sembari cengengesan dengan malu-malu.


Gina berjalan menuju kursi di depan Profesor Baraka. Dihempaskannya dengan lega badannya ke kursi dan di raihnya secangkir teh lemon hangat buatan Mbok Nah khusus untuknya.


"Paman, Mbok Nah kemana? Kok sepi di depan sini?" tanya Gina menoleh mencari-cari keberadaan wanita tua yang dikenalnya dulu saat awal-awal Gina di rumah ini, yang selalu memperhatikannya itu.


"Jam segini biasanya duduk santai sambil nunggu drama radio di RRI." Profesor Baraka langsung menjawab Gina karena memang sudah tahu kebiasaan Mbok Nah, pengurus rumahnya sejak Profesor Baraka masih muda.


"Waah, Mbok Nah masih suka mendengarkan drama radio ternyata." kekeh geli Gina yang juga tahu kebiasaannya Mbok Nah. "Paman, maaf tadi pagi Gina ingat sesuatu dan berniat bertanya pada Paman," kata Gina membuka percakapan dengan Profesor Baraka.


"Paman tahu, tanyakan saja apa yang menjadi pertanyaanmu." dengan tenang Profesor Baraka menyusun bundel kertas-kertas di depannya dengan rapi.


"Sudah sejak beberapa waktu lalu, Gina bekerja di toko souvenir di kawasan Malioboro. Suatu saat Gina diminta oleh manajer untuk membantu display kain-kain batik tulis dari Solo. Saat Gina membaca merk kain batiknya, Gina terasa tidak asing dengan merk itu," tutur Gina memulai ceritanya.


"Teruskanlah, apa merk batik itu dan kenapa Gina merasa tidak asing dengannya," sambung Profesor Baraka memberi semangat kepada Gina untuk terus bercerita.


"Gina merasa pernah mendengar papa dan mama berbicara tentang masalah ini duluuuuu sekali saat setelah bencana anarki reformasi waktu Gina masih kecil dulu." Gina menggali ingatan lagi di saat papanya sedang dalam cobaan.


"Kalau tidak salah ingat, mama pernah bertanya pada papa, suatu pabrik batik yang baru berdiri apa menjadi sebab ditutupnya pabrik papa. Apa Paman bisa memberitahu Gina apa yang sebenarnya terjadi sebelum mama dan papa Gina meninggal dulu? Paman pasti tahu apa yang terjadi pada saat itu," tanya Gina pada sahabat karib papa nya.


Profesor Baraka yang sudah menduga pertanyaan tersebut cepat atau lambat keluar dari mulut Gina, tersenyum sambil mengulurkan tangan mengambil cangkir kopi di hadapannya. Diminumnya kopi tersebut perlahan-lahan sebelum menjawab pertanyaan Gina tadi.


"Sebelum sampai jauh ke permasalahan itu, ini dilihat dulu daftar inventaris peninggalan mendiang papa dan mama mu," kata Profesor Baraka mengambil amplop manila hitam sebesar kertas hvs dan diserahkannya kepada Gina.


Gina menaruh kembali jadah bakar dan tempe bacem yang tadi sudah dimakannya dan bergegas mengulurkan tangan menerima amplop manila hitam dari tangan Profesor Baraka. Tanpa membuang waktu lagi, Gina membuka amplop tersebut dan menarik kertas yang ada di dalamnya.


Dibacanya perlahan-lahan kertas tersebut dari atas ke bawah dengan teliti. Mata Gina semakin membesar seiring gerakannya menurun menyelesaikan isi kertas tersebut sampai akhir.


"Apa maksudnya ini Paman? Papa dan Mama masih mempunyai aset tertanggung selain rumah yang Gina miliki di Solo dan banyak sekali batik tulis yang tersimpan di rumah Solo?" tanya Gina heran karena selama ini Gina abai sekali dengan harta benda milik keluarganya yang seharusnya sudah jadi tanggung jawabnya.


"Benar Gina, dan ini adalah rekapan yang mamamu buat untuk inventaris batik-batik tulisnya yang masih tersimpan," ujar Profesor Baraka sembari menyerahkan buku inventaris toko kepada Gina.


Bergetar tangan Gina menerima buku inventaris tersebut. Dibukanya perlahan lembar demi lembar buku tersebut dan disentuhnya tulisan tangan rapi mamanya. Gina hafal sekali tulisan tangan mamanya. Tulisan tangannya rapi, ramping dan berlekuk. Seperti karakter mendiang mama Gina yang lembut dan sangat teliti.


Air mata Gina menggenang di matanya. Masih bisa melihat peninggalan nyata dari mamanya tercinta. Bagi Gina, tulisan-tulisan itu adalah warisan berharga baginya. Di dongakkannya kepala Gina, dilihatnya ke arah Profesor Baraka dengan tatapan mata yang menyiratkan ucapan terima kasih.


"Bawalah pulang semua berkas-berkas ini ke kosanmu, Gina. Atau kalau kamu mau membacanya segera, menginap saja. Kamarmu masih di bersihkan Mbok Nah dan Surti setiap hari," ucap Professor Baraka kepada Gina.


"Bacalah semua berkas-berkas itu dulu. Nanti apabila ada yang masih ingin kau tanyakan, boleh tanyakan pada Paman," kata Profesor Baraka lebih lanjut.


"Gina ingin pulang ke kosan lebih dulu saja Paman. Biar Gina baca semua berkas ini terlebih dahulu sebelum kembali bertanya pada Paman." Gina berkata tanpa melihat kepada Profesor Baraka karena masih takjub melihat pengejawantahan mamanya dalam tulisan tangan yang baru diterimanya itu.


"Yasudah, dirapikan dulu kertas-kertasnya. Lanjutin makanmu dulu. Nanti agak malam, Paman antarkan pulang ke kosanmu," perintah Profesor Baraka mengingatkan Gina.


Karena tidak tahu mau bilang apa lagi selain terima kasih, Gina hanya bisa menganggukkan kepalanya saja dan cepat-cepat membereskan kertas-kertas dan buku inventaris warisannya. Tangannya gemetar mengusap sekali lagi tulisan tangan mamanya tercinta. Sudut-sudut bibirnya terangkat membentuk senyum manis yang terkulum bahagia.