
Solo, Juni 1999
Suasana sore di kota Solo kala itu sangat cerah. Matahari masih sangat terik. Di teras rumah Tuan Rasya, sudah tersusun rapi 2 koper yang di gunakan Tuan Rasya dan Nyonya Elisabeth unruk bepergian ke luar negeri. Dan sebuah mobil sudah terparkir di pelataran rumah tersebut. Mobil kijang biru gelap tersebut sengaja dibawa oleh sahabat Tuan Rasya, Professor Baraka untuk membawa sahabatnya tersebut ke Stasiun Balapan.
Di dalam rumah, terdengar suara Nyonya Elisabeth dengan lembut berbicara kepada Yu Narti, tetangga belakang rumah yang mau dititipi untuk mengurus rumah Nyonya Elisabeth selama Tuan Rasya dan Nyonya Elisabeth keluar Negeri
"Maaf ngerepotin ya Yu. Nyuwun tulung rumah saya di tengoki dan tolong di bersihkan ya Yu. Lampu depan dan belakang tolong dinyalakan kalau malam," kata Nyonya Elisabet kepada tetangganya tersebut.
"Nggih Bu. Besok saya dan Sumi yang jagain rumahnya. Sumi pasti senang membantu rumahnya Non Gina. Dia suka sama Non Gina, Bu. Suka sekali kemarin dikasih tas dan alat-alat sekolah itu," sahut Yu Narti.
"Terima kasih ya Yu Narti. Kami pergi rencana nya hanya dua minggu saja. Jadi mungkin Gina besok liburannya tidak pulang ke rumah. Yu Narti kalau mau beresin kamar Gina juga, tidak apa-apa. Ini untuk jaga-jaga, jika ada iuran ronda ya. Saya nitip sekalian," kata Nyonya Elisabeth sembari memberikan amplop berisi uang untuk keperluan selama tuan rumah di luar negeri.
"Baik Bu," jawab Yu Narti menerima amplop yang di berikan kepadanya.
"Sudah selesai Ma? Ayo segera berangkat ke stasiun. Lebih baik kita datang duluan daripada nanti kita desak-desakan dengan banyak orang," ajak Tuan Rasya.
"Iya, iya Pa. Ini sudah selesai pamitan dengan Yu Narti," sahut istrinya sembari mengunci pintu dan menyerahkan kunci tersebut kepada Yu Narti.
"Terima kasih ya Yu Narti sudah bersedia menjaga rumah kami," kata Tuan Rasya kepada Yu Narti.
"Nggih Pak. Sama-sama, dengan senang hati," kata Yu Narti.
"Ayo Rasya, ini kopernya sudah semuanya? Contoh-contoh batikmu sudah di bawa? Presentasinya sudah di siapkan?" tanya Profesor Baraka lebih lanjut. "Mrs. Katherine kemarin bilang lebih suka melihat langsung kainnya. Jadi apabila kalian bersedia, bisa langsung proses untuk ikut London Fashion Week."
"Sudah. Sudah siap semuanya. Sudah ada di dalam kopor-kopor itu," jawab Tuan Rasya kepada Profesor Baraka.
"Ayo Ma, kita berangkat sekarang. Sudah terlalu sore ini. Nanti di stasiun takutnya tidak bisa masuk karena sesak," ajak Tuan Rasya kepada istrinya.
"Iya Pa. Mari Yu Narti. Kami berangkat dulu. Titip rumah ya," pamit Nyonya Elisabeth kepada tetangganya tersebut.
Setelah Nyonya Elisabeth masuk ke dalam mobil, Profesor Baraka langsung menjalankan mobilnya ke arah Stasiun Balapan. Sepanjang jalan menuju ke stasiun, mereka melihat kota Solo sudah kembali bangkit. Peristiwa setahun sebelumnya masih bisa di lihat dengan jelas dampaknya, dengan banyaknya bekas coretan coretan di dinding rumah-rumah di pinggir jalan agar rumahnya aman tidak dirusak oleh massa yang mengamuk. 'Rumah Pribumi' 'Jawa Tulen' 'Wong Jowo Asli' dan beberapa tulisan sejenis mewarnai dinding-dinding dan pintu-pintu toko di sepanjang jalan. Namun, saat ini sudah banyak orang-orang yang kembali berjuang, kembali menggelar lapak jualannya di pinggir jalan.
"Tenang Ma, semoga perjalanan ini menjadi berkah untuk keluarga kita," kata Tuan Rasya menenangkan istrinya. Karena Tuan Rasya yakin Nyonya Elisabeth duduk diam termenung memandang ke luar jendela mobil yang dinaikinya.
"Iya Pa, Mama hanya sedih mengingat peristiwa tahun kemarin. Kita tidak bisa menyelamatkan toko kita sendiri," jawab Nyonya Elisabeth dengan menghembuskan napasnya seolah-olah peristiwa tersebut masih sangat mengganggu hidupnya.
"Sudah, jangan bersedih. Ini sudah sampai stasiun. Biar kita parkir dulu, nanti aku bantu bawakan kopermu naik ke kereta," timpal Profesor Baraka.
Benar saja, setelah masuk ke dalam stasiun, suasana tumpah ruah orang-orang ingin masuk ke dalam kereta. Para pengantar pun dengan bebas masuk ke dalam peron dan mengantar sampai ke dalam gerbong-gerbong kereta.
"Keretamu yang mana Rasya?" tanya Profesor Baraka kepada Tuan Rasya.
"Kami pakai kereta eksekutif jurusan Jakarta. Di rel yang sebelah selatan sini Baraka," Tuan Rasya menunjuk ke kereta yang terparkir di rel paling selatan.
"Ayo, aku bantu bawa kopermu ke dalam kereta," ajak Professor Baraka kepada suami istri tersebut.
Setelah Tuan Rasya dan Nyonya Elisabeth masuk ke dalam kereta dan sudah menemukan tempat duduknya, Profesor Baraka segera pamit dan turun dari kereta. Karena kereta sudah bersiap memanaskan mesin untuk berangkat ke tujuannya. Dan tinggal menunggu jam untuk segera berangkat.
"Terima kasih Baraka. Kami pamit berangkat ya. Nitip Gina. Kalau kamu ada perlu ke Solo, tolong tengoklah dia," pinta Tuan Rasya kepada sahabatnya tersebut.
"Baik, tenanglah. Aku akan mengunjungi Gina kalau ada perlu ke Solo lagi. Dia sudah aku anggap ponakanku sendiri," sahut Profesor Baraka meyakinkan sahabatnya tersebut.
........
Pulang ke kotamu
Ada setangkup haru dalam rindu
Masih seperti dulu
Tiap sudut menyapaku bersahabat,
penuh selaksa makna
Terhanyut aku akan nostalgi
Saat kita sering luangkan waktu
Nikmati bersama
Suasana Jogja
Di persimpangan langkahku terhenti
Ramai kaki lima
Menjajakan sajian khas berselera
Orang duduk bersila
Musisi jalanan mulai beraksi
Seiring laraku kehilanganmu
Merintih sendiri
Ditelan deru kotamu ...
Walau kini kau t'lah tiada tak kembali
Namun kotamu hadirkan senyummu abadi
Ijinkanlah aku untuk s'lalu pulang lagi
Bila hati mulai sepi tanpa terobati
.........
Alunan lagu dari Kla Project itu yang terngiang-ngiang di ingatan Tuan Rasya saat mengingat sahabatnya yang berasal dari Jogjakarta itu. kesepakatan yang berhasil ini juga berkat peran dari sahabatnya tersebut. Kalau sahabatnya tersebut tidak mengenakan baju batik darinya, entah apakah hal ini bisa dicapainya.
Sudah dua belas hari lamanya Tuan Rasya dan Nyonya Elisabeth berada di London. Ada banyak hal yang sudah disepakati dalam rentang hari-hari tersebut. Ternyata jenis kain dan motif batik-batik yang di bawa oleh Tuan Rasya dan Nyonya Elisabeth sangat di sukai oleh Mrs. Katherine. Mereka sudah sepakat untuk memperbanyak produksi batik tulis sutra dan batik di bahan yang lain untuk perhelatan fashion show tahun depan. Banyak pertanyaan yang diajukan oleh Mrs. Katherine kepada Tuan Rasya dan Nyonya Elisabeth. Mulai dari pemilihan kain, pembuatan batik tulisnya, proses pengerjaan sampai menjadi sehelai kain yang indah. Hal-hal yang bisa dijadikan materi yang bisa di sajikan dalam booklet fashion show tahun depan.
kriiiiing.....kriiiing...kriiiing...
Pagi itu telepon asrama Gina berdering beberapa kali belum ada yang mengangkat. Dari arah dapur bergegas datang Mbok Sarmi, juru masak asrama saat akhir pekan.
"Halo. Ini Rasya Wilde, apakah Gina ada di kamarnya Mbok? Kami ingin bicara dengannya," kata orang diseberang yang ternyata itu orang tua Gina, Tuan Rasya.
"Oh bisa Tuan. Saya panggilkan dulu Nak Gina nya ya. Tunggu sebentar," kata Mbok Sarmi bergegas meletakkan gagang telepon ke meja dan bergegas ke kamar Gina.
"Halo Tuan, Nak Gina nya kelihatannya sedang di luar, karena tidak ada di kamar ini tadi. Apa ada pesan yang akan disampaikan? Nanti setelah Nak Gina pulang, saya sampaikan," Mbok Sarmi bergegas menyampaikan berita tersebut kepada Tuan Rasya.
"Yasudah Mbok, nitip sampaikan ke Gina ya, kalau Mama dan Papa nya pulang hari ini. Jika tidak ada halangan dan rintangan, kami sampai di rumah hari Minggu pagi waktu Indonesia," dengan sedikit rasa kecewa, Tuan Rasya menyampaikan berita tersebut lewat Mbok Sarmi.
"Oh, nggih Tuan. Nanti kula sampaikan ke Nak Gina. Nak Gina pasti sangat senang Papa dan Mama nya pulang," sahut Mbok Sarmi.
Sementara itu, di belahan bumi lain, Nyonya Elisabeth dan Tuan Rasya sedang bersiap-siap untuk penerbangan pulang kembali ke Indonesia. Setelah menyiapkan segala sesuatu nya. Koper pun sudah berganti isi. Yang tadinya di isi oleh kain-kain batik contoh, sekarang sudah diisi oleh-oleh sederhana untuk Gina. Kain-kain batik tersebut sudah berpindah ke tempat produksi butik Mrs. Katherine
"Tidak apa-apa Pa. Gina mungkin saja masih ada kegiatan bersama teman-temannya. Di sana masih sore," kata Nyonya Elisabeth menenangkan suaminya.
"Papa pengen sekali ngobrol dengan Gina, Ma. Sejak 10 hari di sini, kita jarang sekali bisa ngobrol dengan Gina. Entah kenapa Papa kepikiran Gina terus. Pikiran Papa jadi tidak tenang. Maka dari itu, selagi masih di sini dan masih bisa menelepon, Papa ingin tahu kabar Gina," jelas Tuan Rasya kepada istrinya tersebut.
"Jangan dituruti perasaan tidak enaknya. Jangan percaya tahayul, Pa. Gina baik-baik saja di asrama. Ada yang menjaga dan mengawasinya di sana," Nyonya Elisabeth menenangkan suaminya.
"Betul sekali apa katamu, Ma. Mungkin Papa yang kelewat kangen dengan Gina. Sudah hampir dua minggu kita meninggalkan Gina sendirian," Tuan Rasya masih merasa gelisah.
*Tenangkan pikiran Papa. Lebih baik Papa fokuskan pikiran untuk membuat motif-motif batik kita selanjutnya. Mrs. Katherine rupanya menginginkan batik yang klasik tapi ada sentuhan masa kini nya. Supaya bisa di padu padankan dengan tema baju yang akan di tampilkan tahun depan," kata Nyonya Elisabeth sembari menyandarkan dagu di kepala Tuan Rasya yang masih terduduk di pinggir telepon.
"Benar juga Ma. Aaah, aku terlalu khawatir dan terlalu kepikiran. Makasih ya sayang," ungkap Tuan Rasya kepada istrinya saat tangannya memeluk erat pinggang istrinya tersebut.
Nguuuuuuuuuuuuuuuuuuung...
Suara mesin pesawat terbang terdengar menandakan pesawat sudah bersiap untuk segera terbang kembali membawa puluhan penumpang di dalamnya. Di pesawat itu pula pasangan Wilde duduk dengan penuh suka cita. Karena sebentar lagi, mereka akan bertemu dengan putri mereka tercinta. Mereka tersenyum bahagia seolah-olah sudah merasakan pelukan putrinya dalam dekapan mereka. Oh tentu saja, orang tua mana yang tidak akan bahagia bertemu dengan buah hatinya setelah sekian lama berpisah.
Sedangkan anak yang dipikirkan oleh pasangan tersebut, juga sedang mengalami penyesalan yang amat sangat. Karena terbujuk oleh ajakan kawannya untuk keluar membeli jajanan sebentar di seberang asrama, dia tidak bisa berbicara kepada ayah dan ibunya yang ternyata hari ini menelepon. Air mata kerinduannya keluar tidak terbendung. Rasa rindu yang di tahannya selama hampir dua minggu, ternyata harus menunggu lagi untuk diungkapkan. Di dalam kamar, Gina tidak bisa membendung air matanya. Tangis sesenggukannya semakin lama semakin terdengar memilukan, terasa sampai menyesakkan dada. Entah kenapa tangisnya seperti itu, seperti seakan-akan Gina melewatkan kesempatannya berbicara kepada orang tuanya untuk yang terakhir kalinya. Padahal seharusnya dia bahagia, karena kata Mbok Sarmi, Papa dan Mama nya dalam perjalanan kembali pulang ke Indonesia. Gina pun sudah menyiapkan hadiah untuk Papa dan Mama nya. Hadiah yang pasti akan disukai oleh orang tua nya. Karena Gina tahu Papa dan Mama nya sangat menyukai sosis Solo. Gina belajar memasak dengan Mbok Sarmi di sepanjang akhir pekan kemarin. Dan malam ini, Mbok Sarmi sudah bersedia membantu Gina untuk membuat sosis Solo, karena kemungkinan besok malam, Papa dan Mama nya sudah menjemputnya pulang ke rumah. Tapi Gina tidak kuasa menahan tangisnya. Tetesan deras air matanya seperti mengungkapkan betapa dia sangat menyesal dan sedih tiada tara melewatkan momen yang sangat dinanti-nantikannya itu.
Pada siang hari setelahnya, meski cuaca mendung, di Bandara Halim Perdana Kusumah sudah sangat ramai. banyak orang yang sudah berlalu lalang di dalamnya. Penerbangan yang dijadwalkan berangkat dan tiba di Indonesia juga sudah bersiap di jalurnya masing-masing. Siang itu juga Tuan Rasya dan Nyonya Elisabeth sudah sampai di Indonesia kembali setelah penerbangan yang sangat panjang. Bahagia karena sudah kembali ke tanah Indonesia lagi, langsung menghampiri telepon umum yang tersedia di bandara dan menghubungi ke rumah sahabatnya, Profesor Baraka di Jogjakarta.
kriiiiing.....kriiiing...kriiiing....
Suara dering telepon masing menggema di gagang telepon yang di pegang oleh Tua Rasya. Dan deringan tersebut berulang kembali saat Tuan Rasya memencet lagi nomer rumah Profesor Baraka.
"Halo, Selamat siang," sapa suara di seberang telepon.
"Halo Mbok Nah, ini Rasya. Apa Baraka ada?" tanya Tuan Rasya kepada penerima telepon dengan senyum terkembang di bibirnya.
"Woalah, nak Rasya to ini. Apa nak Rasya ndag tau kalau Den Baraka ada di rumah sakit sejak dua hari yang lalu," sahut Mbok Nah kepada Tuan Rasya.
"Lho Mbok, Baraka sakit apa? Di rumah sakit mana?" Tuan Rasya terkejut dengan informasi yanh di sampaikan Mbok Nah, pengasuh dan pembantu di rumah temannya itu.
"Di Jakarta nak. Kemarin den Baraka itu katanya mau jadi pembicara apa gitu, terus tau-tau ada telpon ke rumah, ada yang ngabari kalau den Baraka tiba-tiba pingsan dan dilarikan ke rumah sakit. Tadi pagi baru ada kabar lagi kalau ternyata den Baraka kena serangan jantung dan di sekarang masih di ruang icu. Apa ya namanya, Mbok Nah kok ya lupa. Bentar ya, Mbok tanya dulu sama Marni," kata Mbok Nah terburu-buru meletakkan teleponnya.
"Mbok... Mbok Nah.. Halo.. Di rumah sakit mana Mbok?" Tuan Rasya melihat ke istrinya, Nyonya Elisabeth yang juga panik mendengar sahabat suaminya ada di rumah sakit. Dengan isyarat mata, istrinya bertanya kepada suaminya bagaimana keaadaan sahabatnya rersebut. Dan Tuan Rasyapun mengangkat pundaknya tanda belum mendapatkan jawaban dari Mbok Nah.
"Halo, nak Rasya. Rumah sakitnya itu di rumah sakit cipto mangun kusumo. Ini Mbok Nah dan Marni siap-siap kesana untuk gantian menjaga den Baraka," jawab Mbok Nah terburu-buru memberitahu.
"Oh di RSCM, kira-kira hanya 15 km dari sini Mbok. Aku dan Elisabeth akan kesana duluan. Sembari menunggu Mbok Nah tiba besok hari. Siapa tahu nanti di rumah sakit Baraka butuh apa-apa. Aku tutup ya Mbok teleponnya," kata Tuan Rasya kembali.
Setelah meletakkan gagang telepon kembali ke tempatnya, Tuan Rasya melihat istrinya untuk minta pendapat.
"Mah, Mamah langsung pulang ke Solo ya, untuk segera menemui Gina. Gina pasti sudah menunggu nunggu kedatangan kita," ucap Tuan Rasya lembut. Nyonya Elisabeth iba melihat suaminya terbelah antara ingin segera pulang menemui putri semata wayangnya agay pergi menemui sahabatnya yang sedang sakit. "Tidak Pa, aku akan tetap bersamamu. Pulangoun kita harus bersama juga. Papa telponlah dulu asrama Gina. Bicara baik-baik dengan Gina, kalau kita akan pukang terlambat untuk menemuinya.Kemudian, ayo kita tunggu Baraka terlebih dahulu," Nyonya Elisabeth menenangkan suaminya tersebut.
Dengan berat hati, Tuan Rasya mengangkat gagang telpon kembali dan memencet nomer telepon asrama Gina, putrinya. "Halo, Selamat siang, ini Rasya Wilde. Apakah saya bisa berbicara dengan Gina?" ujar Tuan Rasya setelah deringan telepon diterima.
"Papaaa, Mamaaa.. Gina kangeeeeeen sekali dengan Papa dan Mama. Kapan sampai rumah dan menjemput Gina?" celoteh putri kecilnya dengan riang.
"Halo sayang, Papa dan Mama juga sangat sangat sangat kangen denganmu. Gina cantik, pintar, bagaimana kabar Gina di sekolahan?" Tuan Rasya bertanya dengan suara haru.
"Yaaa, biasa saja. Gina kangen Papa dan Mama. Di asrama kalau hari minggu sepi. Gina gak suka. Pah, Mama mana? Gina kangeeen banget pengen meluk Papa dan Mama," seru Gina.
"Hai sayangnya Mama. Papa dan Mama sudah sampai Jakarta. Gina, Mama juga kangeeen dengan Gina. Mama pengen segera memeluk anak gadis Mama," jawab Nyonya Elisabeth dengan mata berkaca-kaca.
"Gina tunggu ya sampainya Papa dan Mama di Solo dan menjemput Gina," ujar Gina dengan suka cita karena dia sudah menyiapkan hadiah selamat datang kejutan untuk Papa dan Mama nya.
"Nak, sepertinya Papa dan Mama akan tertunda balik Solo nya, mungkin baru besok Selasa Papa dan Mama baru bisa ketemu dengan Gina," Nyonya Elisabeth buru-buru mengusap air matanya. "Gina, Nak... apa Gina mendengar Mama?"
"Kenapa Ma? Kenapa harus ditunda lagi pulangnya??!! Gina gak mau Papa dan Mama pulangnya ditunda! Gina mau Papa dan Mama pulang sekarang jiga!" tukas Gina karena kaget dan sedih karena rencana hadiah kejutannya berantakan.
"Sayang, Om Baraka di rumah sakit. Om Baraka tidak punya keluarga keciali kita sayang. Papa dan Mama akan ke rumah sakit dulu untuk menengok Om Barakan. Nesok saatbok Nah sampai ke rumah sakit, Papa dan Mama langsung balik ke Solo ya," bujuk Nyonya Elisabeth kepada putri tunggalnya tersebut.
"Gina gak mau Paa, Maa.. Pokoknya Papa dan Mama harus pulang hari ini juga! Tititk! Gina akan marah kalau Papa dan Mama tidak pulang sekarang!" tukas Gina langsung menutup telepon dan segera berlari ke kamarnya dengan berlinangan air mata.
"Sayang... sayaaaang.. halooo," Nyonya Elisabeth sangat sedih putrinya langsung menutup telepon tanpa memberinya kesempatan untuk menghibur Gina dan menyampaikan bahwa ada oleh-oleh yang sudah di kirimkan langsung pulang ke Solo.
Setelah menutup telepon dan berunding dengan suaminya, akhirnya Tuan Rasya dan Nyonya Elisabeth menyewa mobil dari bandara. Karena taksi yang ada sudah habis dan masih harus antri pengantaran. Sehingga Tuan Rasya memutuskan untuk menyewa mobil sendiri.
Blaaaar!!
Guntur tiba-tiba menyambar dan hujan langsung turun dengan derasnya. Dengan tergesa-gesa, Tuan Rasya dan Nyonya Elisabeth memasukkan koper-koper ke belakang mobil sewaan tersebut.
"Hujannya deras sekali Pa, bukankah lebih baik menunggu hujan agak reda dulu?" tanya Nyonya Elisabet dengan khawatir.
"Tidak Ma, kita langsung saja. Jarak RSCM dari sini hanya 15 km, aku rasa kita bisa melaluinya," jawab Tuan Rasya sembari masuk ke belakang kemudi.
Nyonya Elisabeth pun mengikuti suaminya masuk ke dalam mobil. Entah kenapa perasannya semakin tidak enak. Apalagi setelah Gina mengucapkan hal yang di luar persangkaannya tadi. Sekarang hujan deras datang dinsertai dengan guntur dan petir yang menyambar-nyambar. Tapi, ditekannya perasaan itu demi menemani suaminya yang sedang kalut dan sedih mengetahui sahabatnya masuk icu.
Mobil sedan hitam itupun meluncur keluar kawasan bandara, menuju ke utara memasuki jalan Halim Perdana Kusuma. Petir masih menggelegar di langit, seakan membelah bumi untuk menumpahkan semua air yang terkandung di dalam awan. Hujan semakin deras mengguyur, jarak pandang ke depan hanya 10 meter. Sangat berbahaya sebenarnya berkendara di saat hujan deras seperti ini. Tuan Rasya mengendarai mobil dengan kecepatan sedang, tidak berani berkendara dengan kecepatan tinggi. Sesampainya di daerah Menteng, jalannan padat merayap, Tuan Rasya menginjak pedal rem nya untuk melambatkan laju mobilnya. Tapi alangkah kagetnya Tuan Rasya, saat mobil, fersebut tidak juga melambat. Dengan panik dan masih berusaha menekan pedal rem mobil, Tuan Rasya membanting setir mobil ke kiri sembari melihat istrinya terbelalak dengan wajah ketakutan dan mata penuh air mata. Seolah-olah kejadian tersebut berlangsung dengan sangat lambat, Tuan Rasya menggenggam tangan istrinya dengan erat. Dan Nyonya Elisabeth berbisik pelan "Gina, kami menyayangimu, sayaaang"
Ban mobil tersebut selip sehingga menyebabkan mobil meluncur tidak terkontrol. Setelah menabrak pembatas jalan, mobil itu berguling beberapa kali sebelum tersungkur di pinggiran jalan dengan terbalik. Warga yang menyaksikan langsung mengerumuni mobil tersebut dan melihat kedua oramg di dalam mobil tersebut sudah bersimbah darah dan penuh luka di sekujur badannya.
"Mamaaaaaaa," teriak Gina geragapan bangun sambil mengulurkan tangannya seakan-akan ingin menggapai sesuatu. "Apa yang terjadi? Kenapa aku mimpi seperti itu?" Gina ketakutan dan kembali menangis dengan keras.
Nun jauh di sana, polisi dan ambulan sudah berada di lokasi untuk mengevakuasi kecelakaan yang terjadi di daerah Menteng tersebut. Petugas medis menemukan saat kedua jasad korban kecelakaan tersebut diambil dari bangkai mobil, keduanya masih berpegangan tangan seolah-olah tidak mau terpisahkan meski maut menjemput mereka.
...........
Karena setiap yang berjiwa pasti akan menemui akhirnya. Dan akhir tersebutlah yang akan menentukan baik dan buruknya kita. Maka ingat-ingatlah untuk selalu rendah hati dan menyayangi sesama.