
Jogja, Juli 2008
Gina perlahan membuka mata dan berusaha mengumpulkan kesadaran yang masih terserak akibat nyenyaknya tidur semalam. Diusap-usapnya mata dengan kedua tangan dan direntangkan tubuhnya sejauh mungkin. Dirasakannya kasur dan bantal empuk yang masih memeluk erat rasa kantuknya. Gina berguling kembali untuk balik tidur, dirapatkan selimut yang dipakainya.
Sedetik, dua detik berlalu dengan damai, mendadak Gina terbangun membelalakkan matanya lebar-lebar dan duduk dengan cepat. Teringat kemarin malam dia tertidur di mobil Indra setelah makan malam yang sangat larut.
Sembari menanti degub jantungnya mereda, dengan perlahan Gina mengedarkan pandangan ke sekeliling tempatnya berada sekarang. Tempat tidur kayu jati dengan kasur kapuk yang empuk ukuran besar, seprei batik warna coklat dan putih, sarung bantal dan guling yang senada. Selimut lebar yang dipakainya terasa lembut karena sering dipakai. Gina mencium aroma maskulin seorang laki-laki di atas bantal dan selimut yang dipakainya.
Pandangan Gina beralih menyapu ke semua sudut kamar yang ditempatinya. Sisi kanan dari tempat tidurnya berdiri sebuah meja kayu dan kursi yang tersampir oleh tas ransel kesayangannya. Di atas meja terdapat sebuah komputer jinjing, lampu baca dan buku-buku tulis dan sebuah tempat berisi peralatan menulis serta jam meja yang sedang menunjukkan pukul lima pagi hari. Di sampingnya ada sebuah pintu dan di depan tempat tidurnya terdapat jendela yang tertutup tirai hijau. Di samping kiri tempat Gina tidur terdapat almari baju dari kayu jati tebal dan kokoh khas di rumah orang-orang Jogja jaman dahulu.
Gina beranjak dari tempat tidur, dirapihkan selimut, bantal dan guling yang tadi digunakannya. Gina sadar, di sisi sebelah kiri, bantal yang seharusnya ada di sana, sekarang tidak ada. Setelah membereskan tempat tidur, Gina beralih melihat meja belajar, disentuhnya dengan lembut komputer jinjing yang ada di atas meja itu. Gina tersenyum memandangi benda itu.
Enak sekali seandainya dia punya komputer jinjing, mengerjakan tugas dan skripsi tidak harus ditulis tangan terlebih dahulu dan pasti akan lebih cepat selesai, batin Gina.
Gina keluar dari kamar dan melihat Indra yang masih tertidur meringkuk berselimutkan sarung di atas karpet di depan televisi. Benar saja, bantal yang tidak ada di kasur yang ditempatinya tadi, dipakai oleh Indra tidur di ruang depan. Gina melangkah berjinjit perlahan-lahan agar tidak membangunkan Indra dan menuju kamar mandi yang tadi sudah dilihatnya saat keluar dari kamar tidur.
Saat melangkah keluar dari kamar mandi, Gina mendapati Indra sudah bangun dan sedang duduk melipat kedua kakinya di atas sofa.
"Pagi," sapa Indra kepada Gina yang sudah tampak segar.
"Selamat pagi juga, Pak Indra," jawab Gina dengan kikuk. Karena penasaran, Gina melanjutkan pertanyaannya, "Kemarin bagaimana aku bisa sampai tidur di sini?"
Indra yang mendengar sapaan pagi Gina yang kembali memanggilnya dengan sebutan Pak, menaikkan alisnya dengan heran.
"Kemarin setelah masuk mobil, kau langsung tertidur. Aku bawa ke rumah kosanmu, tetapi di sana sangat gelap dan tidak ada yang membukakan pintu saat aku menekan tombol belnya," jelas Indra.
"Tentu saja, di sana hanya ada aku. Ini akhir pekan dan juga masih libur kuliah. Biasanya penghuni yang bekerja, mereka langsung pulang kampung setelah pulang dari bekerja. Bu Suryo sendiri sedang mengunjungi saudaranya di Purworejo." Gina mendesah saat menjelaskan kepada Indra suasana rumah kontrakannya.
Karena lelah berdiri, Gina melangkah menuju sofa di samping Indra. Dihempaskan badannya untuk duduk di atas sofa empuk di sebelah Indra. Lama keduanya tidak berkata-kata, hanya menikmati suasana keheningan pagi di rumah tersebut yang perlahan-lahan menyambut mentari.
Indra perlahan bangkit dari posisi duduknya sembari mengalungkan sarung melingkar di pundaknya.
"Ehh, mau kemana, Pak?" tanya Gina karena mendapati Indra yang beranjak dari duduknya tadi.
"Ke kamar mandi. Mau ikut?" goda Indra kepada Gina.
"Ehh, tidak... tidak. Silakan lanjutkan," gagap Gina malu dengan pertanyaannya yang dinilai terlalu privasi.
"Di sana ada dapur. Anggap saja rumah sendiri. Ada kopi dan teh kalau mau buat." tunjuk Indra dengan memajukan dagunya ke arah dapur.
Gina mengikuti arah pandang dari Indra. Benar saja, di sebelah kamar yang ditempatinya tadi terdapat dapur kecil.
"Pak Indra mau teh apa kopi?" tanya Gina dengan basa basi.
"Kopi saja, Di tambah susu jauh lebih enak," jawab Indra langsung ngeloyor masuk ke kamar mandi.
Gina tidak paham apa yang dimaksud Indra tadi. Dikedikkan bahu dan dicebikkan mulutnya tanda tidak mau memikirkan lebih lanjut. Dengan segera Gina masuk ke dalam dapur dan melihat tata letak dapur dan peralatan yang ada di sana. Diambilnya cerek untuk memasak air. Disiapkannya dua cangkir untuknya dan Indra. Gina tersenyum, cangkir yang diambil dari rak perkakas tidaklah sama motif dan modelnya. Satu cangkir warna hitam polos yang sepertinya sering dipakai oleh Indra diisi dengan bubuk kopi yang tersedia di rak bahan makanan. Sedangkan cangkir satunya yang Gina peruntukkan untuk dirinya sendiri berwarna biru lembut bercorak abstrak diisinya dengan teh celup rasa lemon yang ditemukannya disamping tempat kopi tadi.
Dibawanya kedua cangkir tersebut ke meja di depan sofa. Dibukanya gorden jendela yang mengarah ke samping rumah tersebut. Udara pagi yang masih bersih masuk ke dalam rumah. Angin sejuknya juga menyelusup ke dalam rumah. Mengganti udara rumah yang pengap akibat terperangkap tadi malam. Gina berjalan kembali ke sofa, kemudian duduk dan mengambil cangkir tehnya. Diseruput teh buatannya tersebut dengan mata memandangi berkas-berkas sinar mentari pagi memasuki ruangan itu.
Indra yang baru saja memasuki ruang tamu itu tertegun mendapati Gina yang sedang duduk di sofa dengan tenang, memandang berkas cahaya masuk melalui jendela rumahnya. Tangan Gina yang memegang cangkir seakan terhenti dalam perjalanannya menuju bibir yang siap untuk menyambut kehangatan minuman yang sudah dibuatnya itu. Indra terhipnotis akan semarak rumahnya pagi ini. Secangkir kopi untuknya sudah tersedia di meja, kopi hitam polos. Pikiran jail Indra langsung hinggap di benak dan tanpa berbasa-basi langsung menghampiri sofa tempat Gina duduk dan mengambil cangkirnya sendiri. Indra duduk di samping Gina, menyeruput kopi pahit bikinan Gina untuknya. Diamatinya Gina yang masih menikmati berkas cahaya di jendela dengan hati yang bahagia. Dicondongkan badan Indra ke telinga Gina sambil berbisik dengan lambat, "Mana susunya?"
Gina terbeliak kaget mendadak ada suara yang masuk dalam Indra pendengaran dan membuyarkan lamunannya. Segera saja Gina menoleh ke arah Indra yang masih mencondongkan tubuhnya ke arah Gina. Reflek Gina memundurkan badannya karena melihat wajah Indra terlalu dekat dengannya. Gina mengerutkan keningnya berkata, "Aku tidak menemukan susu di manapun di dapur tadi."
"Ada, medan pencarianmu kurang luas dan kau tidak teliti," sergah Indra melihat kebingungan di wajah Gina.
"Tidak ada. Di rak bahan makanan tidak aku temukan susu sebotol pun. Di rak perkakas juga tidak ada." Gina bersikeras mengatakan hal yang pasti sudah diketahuinya dengan jelas.
"Siapa bilang susunya ada di dapur. Susunya ada di gerbang depan rumah ini. Hahahaha," sahut Indra tergelak lepas menyaksikan kejengkelan Gina atas kejailannya. Indra bergegas bangkit dan mengacak rambut Gina saat berjalan keluar rumah.
Menyebalkan sekali dia pagi-pagi sudah bikin orang jengkel, sungut Gina.
Tak ada gunanya bagi Gina berdebat dengan Indra di pagi hari itu. Mengingat perlakuan Indra kemarin malam yang sudah bersedia menjemputnya bekerja dan mengijinkannya tidur di kasur, sedangkan Indra sendiri rela tidur di atas karpet di depan televisi.
Segera dihabiskan secangkir teh yang tadi dibuatnya dan bergegas kembali ke kamar untuk mengambil barang-barang pribadinya. Gina ingin segera kembali ke kamarnya di rumahnya sendiri. Keinginan untuk mandi mengalahkan segala prioritasnya pagi ini. Keinginan Gina untuk mandi memang berdasarkan pada kenyataan bahwa Gina kemarin malam selepas bekerja tidak sempat membersihkan diri dan langsung jatuh tertidur dengan pulasnya sampai pagi tadi.
Setelah mengambil tas ransel dan memakai sepatunya, Gina hampir keluar dari kamar Indra, tetapi terhenti karena dari luar rumah terdengar suara Profesor Baraka yang sedang berbincang dengan Indra. Malu rasanya apabila Gina sampai didapati oleh pamannya menginap di rumah kontrakannya Indra. Secara naluri, Gina mendampingkan telinganya ke daun pintu untuk lebih jelas mendengar apa saja yang diperbincangkan oleh pamannya dan Indra.
".... tentu saja ...," jawab Indra yang terdengar samar di teliga Gina.
"Bagus sekali, tolong ......... ya." suara Profesor Baraka terdengar hanya separo sampai di telinganya.
Tidak lama berselang, Indra memasuki rumah kembali dengan menenteng satu botol susu putih di tangan kanannya.
"Paman tadi berkata apa?" serbu Gina setelah melihat Indra masuk ke rumah.
Tidak langsung menjawab, Indra melihat Gina yang sudah siap pergi, menaikkan alisnya memberikan pertanyaan tersirat.
"Aku ingin pulang. Pengen rasanya segera mandi. Badanku lengket karena keringat, semalam tidak sempat mandi dulu," celetuk Gina menanggapi pertanyaan tersirat dari Indra tersebut.
"Kau bisa mandi di sini. Ada handuk baru dan sikat gigi baru dalam rak di dekat pintu kamar mandi itu," imbuh Indra dengan datarnya.
"Mana bisa. Aku membutuhkan lebih dari sekedar handuk dan sikat gigi baru," sanggah Gina dengan tampang yang merah padam. Gina menambahkan, "Aku juga memerlukan pakaian ganti. Tidak sudi aku memakai kembali pakaian yang sudah melekat di tubuhku begitu lama."
"Kau bisa memakai kaos dan celanaku. Aku ada kaos dan celana training yang sudah kekecilan," ujar Indra dengan tampang tengil.
"Astaga, Pak Indra. bukan hanya baju ganti yang penting," ucap Gina terperangah. "Sudahlah, laki-laki tidak bakal mengerti," tukas Gina dengan kesal.
Gina berderap menuju pintu keluar, tetapi Indra jauh lebih cepat sampai ke pintu untuk mencegah Gina keluar.
"Jangan marah, cantik. Aku antarkan kau pulang ke kosan. Tunggu, aku masukkan susu dulu ke dalam kulkas," usul Indra kemudian.
"Apa kau tidak penasaran apa kata Profesor Baraka tadi?" pancing Indra kembali, yang mengusik keingintahuan Gina.
"Baiklah, aku beri waktu lima belas detik untuk bersiap. Kalau lebih dari itu, aku pulang sendirian," putus Gina karena kalah dengan rasa penasarannya yang besar.
"Yes! Tunggulah, tidak sampai lima belas detik aku sudah ada di sini lagi," lanjut Indra bergegas menuju dapur untuk meletakkan botol yang tadi di bawanya masuk.
Indra bergegas masuk ke kamar untuk bersiap-siap mengantarkan Gina kembali ke rumah kos-kosannya. Tak berapa lama, Indra sudah berjalan di samping Gina, mengantarkan Gina pulang ke rumah kontrakannya.
"Apa yang di katakan paman tadi Pak?" tanya Gina memecah keheningan mereka.
"Beliau mencarimu, karena di rumah Bu Suryo seperti tidak ada tanda kehidupan, Profesor Baraka ke rumahku," jawab Indra dengan kalem.
"Lalu, apa yang Pak Indra katakan?" Gina masih penasaran dengan jawaban Indra yang masih menggantung.
"Pertama, sudah berkali-kali aku bilang. Di luar kampus, aku bukan dosenmu. Jadi jangan panggil Pak," tegas Indra. "Apa kau lupa?" tanyanya kembali kepada Gina.
"Ti... tidak Pak. Mas. Ingat, saya ingat kok. Hanya sedikit rasanya canggung saja setelah tadi saya terbangun bukan di kasur sendiri," gagap Gina menjawab pertanyaan dari Indra.
"Yah, Profesor Baraka tadi menanyakan apakah aku mengantarmu pulang ke rumah. Tentu saja aku jawab, semalam aku mengantarmu sampai di depan pagar rumah kontrakanmu," tegas Indra.
"Jadi, paman tidak tahu semalam aku tidur di rumahmu, Mas?" tanya Gina dengan kagetnya.
Gina membuang napas dengan lega dan mengangguk setuju mengetahui jawaban yang Indra berikan. Jawaban Indra tidak sepenuhnya salah menurut dari pertanyaannya paman, tetapi Indra juga tidak mengatakan semua ceritanya. Mereka kembali berjalan menyusuri jalan kampung menuju kontrakan Gina. Sebentar kemudian, mereka sudah sampai ke rumah kosan Gina.
"Terima kasih. Sudah mengurusku semalam dan pagi ini," kata Gina berbalik kearah Indra setelah sampai di depan pagar rumah kosannya.
"Ayo aku temani masuk, paling tidak ucapkan terima kasih kepadaku dengan mentraktirku sarapan," sambung Indra.
Gina mengangkat alisnya, memberi pertanyaan dalam diam. Indra yang mengetahui arti pertanyaan itu tidak mundur dan mengambil kesempatan untuk mendekat ke Gina. Indra memegang bahu Gina dan membalikkan tubuh Gina menghadap rumah serta mendorongnya untuk terus jalan masuk ke dalam rumah. Dengan sangat terpaksa Gina menuruti masuk ke dalam rumah dan mempersilakan Indra untuk menunggu di ruang tamu.
"Iya, aku tunggu di sini. Segeralah mandi. Aku sudah lapar," ujar Indra mengibaskan tangannya pertanda Gina diminta untuk bergegas.
"Iya, tunggu lima belas menit maksimal. Aku mandi dulu," cerocos Gina sambil berlari masuk ke dalam kamarnya. Hatinya berdebar-debar, ada apa gerangan Gina tidak menolak Indra untuk duduk menunggu di dalam rumah.
Gina merasa mengambang. Hatinya antara menolak dan membuncah bahagia. Karena tidak bisa menemukan jawabannya, Gina menggelengkan kepalanya sendiri dan bergegas menyelesaikan keperluannya. Pikiran Gina entah kemana, setelah semalam dia diijinkan tidur di kasur Indra, sampai sekarang aroma tubuh Indra seolah-olah masih memeluk tubuhnya erat-erat. Bulu kuduk Gina berdigik mengantisipasi arah pikirannya sendiri. Dan membayangkan Indra yang sedang memeluknya membuat sekujur tubuh Gina menggelenyar bahagia seakan ribuan kupu-kupu berterbangan di perutnya.
........
Aku mungkin bukan pujangga
Aku mungkin tak selalu ada
Ini diriku apa adanya
Mungkin aku bukan pujangga
Yang pandai merangkai kata
Kutak selalu kirimkan bunga
Untuk ungkapkan hatiku
Mungkin aku takkan pernah
Memberi intan permata
Mungkin aku tak selalu
Ada di dekatmu
Kuingin kau tahu isi di hatiku
Ku tak akan lelah jaga hati ini
Hingga dunia tak bermentari
Satu yang kupinta
Yakini dirimu hati ini milikmu
Semua yang kulakukan untukmu
Lebih dari sebuah kata cinta untukmu untuk diriku.
Aku mungkin bukan pujangga
Aku mungkin bukan pujangga
Aku mungkin tak selalu ada
Ini diriku apa adanya
Satu yang kupinta
Yakini dirimu hati ini milikmu
Semua yang kulakukan untukmu
Lebih dari sebuah kata Cinta untukmu
Satu yang kupinta yakini dirimu
Hati ini milikmu ooo...
Satu yang kupinta
Yakini dirimu hati ini milikmu
Semua yang kulakukan untukmu
Lebih dari sebuah kata Cinta untukmu untuk diriku...
Aku mungkin pujangga
Aku mungkin tak slalu ada
Ini diriku apa adanya
Aku bukan pujangga
Aku mungkin bukan pujangga
Aku mungkin tak slalu ada
Ini diriku apa adanya
.......
Penutup lagu Bukan Pujangga dari Base Jam menemani ritual pagi Gina yang harus dilakukannya dengan tergesa-gesa.
\=\=\=\=\=\=\=\=
Halo Reader Budiman,
Terima kasih sudah menyediakan waktu untuk membaca novel saya. Terima kasih juga karena sudah setia menanti cerita ini.
Mohon bantuan untuk Favoritkan ❤️ novel ini, klik like 👍🏽 di setiap chapternya dan pencet ⭐⭐⭐⭐⭐ nya ya.
Regard,
Arindra