
Solo, Februari 1999
Awal Mei menjadi awal bulan bahagia bagi Gina. Hal itu sangat beralasan, karena Tuan Rasya, Nyonya Elisabeth dan Gina sendiri berulang tahun di bulan Mei. Meskipun tidak bersamaan tanggalnya, tetapi berturutan dalam waktu dekat. Yang lebih dulu Nyonya Elisabeth, Mama Gina, beliau lahir di tanggal sembilan Mei. Tuan Rasya, papanya yang kedua, beliau berulang tahun di tanggal sebelas Mei. Yang terakhir adalah Gina sendiri yang berulang tahun tanggal limabelas Mei. Hati Gina remaja sangat bahagia, sebentar lagi mereka akan mengadakan syukuran ulang tahunnya bersama dengan teman-temannya. Gina dan kedua orang tuanya sudah mempersiapkan hadiah-hadiah yang akan di bagikan. Makanan-makanan kecil, permen warna warni, lollipop dan alat-alat sekolah sudah dibungkus. Gina senang sekali, saat tahu ide ulang tahun yang diusulkan pada papa mamanya di terima dengan sangat terbuka. Bahkan teman-teman dekat Gina sangat ingin membantu.
"Mama, apakah kira-kira mereka akan senang
dengan hadiah dariku?" tanya Gina sambil membungkus buku, pena, pensil, penghapus dan penggaris menjadi satu kado yang cantik.
"Tentu saja, Sayang," jawab Nyonya Elisabeth. Bahagia menyaksikan anak gadisnya tumbuh menjadi anak yang cantik tidak hanya parasnya, tapi juga hatinya.
"Aku takut Ma, bagaimana nanti jika yang kita siapkan ini tidak cukup?" Gina kecil merasa was-was karena ini pertama kalinya dia diijinkan oleh orang tuanya mengurus semua hal yang menjadi idenya tersebut.
"Kenapa tidak cukup? Gina kemarin sudah bertemu dengan Ibu Pengelola Panti Asuhannya kan? Jadi sudah tahu berapa yang harus Gina siapkan," jawab mama Gina.
"Baiklah kalau begitu. Ma, kata Sinta dan Maya, mereka ingin ikut kita ke Panti Asuhan. Boleh ya Ma? Mereka pengen ikut merasakan berbagi ke Panti Asuhan," pinta Gina dengan mata yang memancarkan harapan yang akan dikabulkan.
"Tentu saja boleeeeh, Sayaaaang. Malah bagus dong kalau sahabat-sahabat Gina mau menemani saat Gina bahagia," balas Nyonya Elisabeth sambil tangannya yang lentik mencubit sayang dagu Gina.
"Terima kasiiih, Ma," Gina berteriak dan melonjak memeluk Mama nya dengan sayang.
.....
Everyone can see
There's a change in me
They all say
I'm not the same kid I used to be
Don't go out and play
I just dream all day
They don't know what's wrong with me
And I'm too shy to say
It's my first love
What I'm dreaming of
When I go to bed
When I lay my head upon my pillow
Don't know what to do
My first love
Thinks that I'm too young
He doesn't even know
Wish that I could show him what I'm feeling
Cause I'm feeling my first love
Mirror on the wall
Does he care at all?
Will he ever notice me
Could he ever fall?
Tell me, teddy bear
Why love is so unfair
Will I ever find a way
And answer to my pray
For my first love
What I dreaming of
When I go to bed
When I lay my head upon my pillow
Don't know what to do
My first love
Thinks that I'm too young
He doesn't even know
Wish that I could show him what I'm feeling
Cause I'm feeling my first love
My first love
.......
Gina dan mamanya menanti Tuan Rasya di ruang tamu. Mereka bersantai sembari mendengarkan lagu First Live-nya Nikka Costa dari radio. Tuan Rasya adalah seorang pebisnis lokal yang usahanya bangkrut saat tragedi Mei 1998. Peristiwa kelam yang terjadi satu tahun yang lalu. Pada saat itu, Tuan Rasya adalah seorang pengusaha batik sukses di Kota Solo. Pengrajin-pengrajin batik yang dikelola oleh Tuan Rasya tidak hanya di Solo, tapi juga di kota sekitar Solo, antara lain Sragen, Kalioso dan Sukoharjo. Sejak tragedi 1998, Gina sekeluarga tidak lagi tinggal di kawasan Kauman, rumah mendiang nenek Gina. Rumah tersebut dijual karena untuk menutupi kerugian yang di tanggung oleh keluarga Tuan Rasya akibat krisis moneter dan prahara Mei 1998 tersebut.
Ngeeeeeeeng.. tin tin tiin..
Klakson motor Tuan Rasya memasuki halaman rumah mungil kediaman baru mereka.
"Papa datang," sapa Tuan Rasya kepada Gina dan mamanya.
"Capek Pa?" tanya Nyonya Elisabet menerima tas dan jaket Tuan Rasya.
"Bagus, sayang. Semoga kebahagiaan kita abadi selamanya," kata Tuan Rasya melihat antusias Gina.
.....
Panjang Umur nya
Panjang Umur nya
Panjang umurnya serta mulia
serta mulia
serta muliaaaa
.......
plok...plok...plok....plok...
Tepuk tangan riuh rendah dan tawa canda membingkai acara pesta ulang tahun Gina di Panti Asuhan. Gina dan kedua sahabatnya, Sinta dan Maya bahagia sekali bisa membuat teman-teman mereka di Panti merasakan kebahagiaan yang sama. Makanan ringan dan kue-kue beredar di aula panti. Wajah-wajah bahagia memenuhi benak dan pikiran Gina.
"Terima kasih Tuhan, Engkau masih memberiku umur panjang dan Papa Mama yang menyayangiku. Papa Mama yang masih komplit dan masih menyayangiku," kata Gina dalam hatinya.
Senyum Gina masih mengembang setelah sampai rumah. Malam itu Gina duduk di depan rumah, di samping Mama dan Papanya.
"Pa, Ma, terima kasih ya sampai sekarang masih menemani Gina. Gina harap Papa dan Mama sehat selalu. Dan bisa menemani Gina sampai Gina kelak dewasa." Sikap manja Gina ke mamanya.
"Putri tunggal Mama dan Papa tercinta. Kita akan bersama selamanya, Sayang. Mama dan Papa akan terus bersama dengan Gina sampai Gina besok lulus kuliah, kerja, menikah sampai punya anak nanti," sahut Mamanya. Tuan Rasya mengulurkan tangan mengelus rambut Gina dengan sayang.
"Aamiin. Aamiin. Aamiin," sahut Gina dan Tuan Rasya berbarengan.
kriiiing... kriiiing.. kriiiing..
"Tolong angkat teleponnya, Ma," pinta Tuan Rasya kepada istrinya.
Melepaskan pelukan anak gadis nya, Nyonya Elisabeth segera menghampiri telepon di ruang duduk.
"Halo. Selamat malam," sapa Nyonya Elisabeth.
"Selamat malam Nyonya Elisabeth. Tuan Rasya Wilde ada di tempat?" tanya si penelepon.
"Aah. Profesor Baraka. Ada Profesor. Tunggu sebentar ya," sahut Nyonya Elisabeth meletakkan gagang telepon di meja.
"Pa, ada telepon dari Profesor Baraka tuh. Kelihatannya ada kabar gembira. Suara Professor Baraka terdengar riang." Panggil istri Tuan Rasya sambil tersenyum.
Diajaknya Gina masuk ke dalam untuk beristirahat. Karena besok pagi-pagi sekali, Gina harus kembali ke asramanya untuk melanjutkan sekolah.
"Profesor Baraka.. Bagaimana kabarmu sobat?" sapa Tuan Rasya hangat di telepon.
"Hahaha, baik Rasya. Aku ada kabar baik untukmu sekeluarga. Kemarin saat aku terbang ke London untuk menghadiri seminar, aku membawa contoh-contoh kain batik milikmu dan tentu saja aku memakai baju yang kau buatkan untukku. Aku perlihatkan kepada kolega-kolegaku di sana. Dan ada yang tertarik menerima batikmu di butiknya," tutur Profesor Baraka lewat telepon.
"Benarkah?? Ada yang mau menerima batik kami di butiknya?" sahut Tuan Rasya tak percaya.
"Betul, bahkan kau dan istrimu diundang langsung untuk datang ke butiknya dan membicarakan bagaimana kelanjutannya," lanjut Professor Baraka.
"Woooow. Terima kasih Baraka. Kau benar-benar teman yang baik," kata Tuan Rasya tulus. "Kapan kami bisa terbang ke Inggris?" lanjutnya.
"Mrs. Katherine menunggu kedatangan kalian sampai Minggu depan," jawab Professor Baraka.
"Baik Baraka. Besok kita bertemu ya? Masih di Jakarta atau sudah di Jogja nih kamu?" tanya Tuan Rasya yang ingin segera memperjelas kabar baik yang diterimanya.
"Aku sudah di Kalasan, Rasya. Datanglah kemari besok. Dan kita bicarakan langsung untuk lebih jelasnya ya " Professor Baraka mengiyakan. "Kalau begitu, besok aku tunggu di rumah ya. Selamat Malam, Rasya. Titip salam buat Gina dan tolong ucapkan Selamat Ulang Tahun untuknya," lanjut Professor Baraka.
"Ya, nanti aku bilang ke anaknya. Malam Prof." Tutup Tuan Rasya.
Hati Tuan Rasya lebih ringan saat meletakkan gagang telepon ke tempatnya. Akhirnya beban pikiran dan beban usahanya mendapat jalan terang. Selama ini ternyata Tuan Rasya menyimpan rapat-rapat masalah pelik dari usaha yang bangkrut tersebut dari anak dan istrinya.
Berjalan menghampiri keluarganya yang duduk di dapur, Tuan Rasya berkata pada istrinya,
"Ma, akhirnya doa kita terjawab. Kolega Profesor Baraka ada yang bersedia menerima batik-batik kita."
"Syukur Pa. Usaha keras Papa selama satu tahun ini akhirnya mendapat titik terang. Terus bagaimana selanjutnya Pa?" tanya Nyonya Elisabeth bahagia melihat secercah harapan dan sinar bahagia di wajah suaminya tersebut.
"Besok aku akan ke Jogja Ma, ke rumahnya Baraka, di Kalasan. Mau menanyakan lebih lanjut bagaimana lebih jelasnya. Besok Papa berangkat langsung ya Ma. Setelah mengantar Gina ke Asrama," imbuh Tuan Rasya ke istrinya.
Gina yang sudah mengantuk tidak memperhatikan percakapan kedua orang tuanya. Dengan kepala terkulai di meja makan, Gina sudah hampir tertidur. Samar-samar Gina mendengar sepenggal kata dari percakapan orang tuanya. Batik. Profesor dan kabar baik. Entah orang tuanya membicarakan tentang apa. Tiba-tiba dirasakannya bahunya di goyang-goyangkan. dan didengar suara lembut Mama nya di telinga.
"Gina, bangun sayang. Ayo, pindah tidur di kamar," ajak mamanya dengan lembut.
Dengan enggan Gina melangkahkan kaki ke kamarnya. Sebenarnya Gina tidak ingin kembali ke asrama lagi karena masih kangen dengan kedua orang tuanya. Di dalam kamar, tanpa menarik selimut, Gina ambruk di kasur. Dan merasakan badannya ditutupi selimut oleh mama tercintanya.
"Selamat tidur, Sayang. Mimpi indah." bisik Mama nya di telinga Gina.
.....
Percayalah, setiap masalah pasti mempunyai jalan keluar. Kita hanya perlu berdoa dengan sungguh-sungguh dan melakukan yang terbaik yang bisa kita lakukan.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Halo Reader Budiman,
Terima kasih aku ucapkan kepada reader sekalian yang berkenan meluangkan waktunya untuk membaca novelku yang masih butuh pembelajaran ini.
Mohon bantuan dukungannya dengan cara Favoritkan❤️ novel ini, Like 👍 juga disetiap episdenya dan jangan lupa klik ⭐⭐⭐⭐⭐ nya ya.
Banyak-banyak terima kasih
Regard,
-Arindra-
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=