
Jogja, Juli 2008
Malam hari semakin merambat naik, menyelubungi hiruk pikuk Kota Jogjakarta. Suara kereta api datang dan pergi selalu terdengar di Stasiun Tugu Jogjakarta, semakin meningkat jumlahnya. Sirine juga nyaring terdengar saat palang kereta turun, mengirimkan sinyal dan menghentikan kendaraan-kendaraan yang melintasi rel untuk mendahulukan kereta yang lewat.
Lalu lalang kendaraanpun tidak pernah sepi melalui jalanan kota ini. Kehidupan malam semakin bangkit. Warung-warung tenda semakin banyak berdiri, pelanggan-pelangganpun mulai banyak berdatangan, sekedar berkumpul sesama teman ataupun memang bertujuan untuk memanjakan perut, setelah seharian penat mencari nafkah.
Begitu pula dua sosok anak manusia yang duduk di pinggir jalan menikmati hidangan yang ada di depan mereka. Tak ketinggalan kopi hitam kental yang ditambah arang yang membara, seakan menjadi pelengkap malam itu.
"Jadi, bagaimana? Apa yang mau Pak Indra katakan?" tanya Gina memecah kebisuan diantara mereka setelah Indra selesai menyantap makanannya.
"Pertama, jangan panggil namaku dengan sebutan Pak. Ini bukan di kampus," kata Indra memperingatkan Gina sembari kedua mengambil gelas berisi kopi jossnya.
"Kalau begitu, bagaimana aku harus memanggilmu?" tanya Gina dengan heran. "Kamu jauh lebih tua dari aku dan aku tidak bisa memanggil namamu langsung." Gina menambahkan alasannya.
"Terserah padamu, nona judes. Mau panggil aku Indra saja atau pakai sebutan. Asal jangan Pak, terdengar terlalu formal. Dan itu mengingatkanku terus pada kewajibanku besok untuk mengajar di kelas saat semester dimulai," jelas Indra panjang lebar di sela-sela menikmati setiap sruputan kopinya.
"Ya, Mas Indra. Puas?" seringai Gina mengikuti senyuman persetujuan yang diberikan oleh Indra.
"Nah, ceritakanlah. Kupingku siap untuk mendengarkan," ucap Gina lagi membenahi duduknya supaya lebih nyaman mendengarkan cerita Indra.
Diletakkan gelas kopi yang tadi sempat Indra nikmati, tangannya beralih menyomot mendoan dan lombok sebelum memulai berkisah.
"Kamu ingat tidak dengan teman wanita yang pernah datang bersamaku untuk menjemput seseorang di tempat kerjamu dulu?" tanya Indra memulai ceritanya.
Uhuk.. uhuk.. uhuk..
Gina menyemburkan kopi yang baru saja dia minum karena kaget mendengar pertanyaan Indra yang tidak di sangka-sangkanya itu.
"Tentu saja aku ingat. Dia wanita yang sangat cantik," jawab Gina sembari mengelap kopi yang menetes di dagunya.
Hati Gina gelisah, seakan-akan ada pusaran amarah yang mendesak keluar. Gina heran sendiri, ada apa gerangan dengan hati dan perasaannya. Pertama kalinya merasakan emosi jahat kepada seseorang yang bahkan tidak dikenalnya sama sekali. Untuk menenangkan perasaannya, Gina mengambil napas dalam-dalam dan dengan diam-diam membuangnya saat memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Ada apa memangnya dengan dia? Siapa wanita itu? Apa dia yang mau kamu ceritakan kepadaku?" cerocos Gina memberondong Indra dengan banyak pertanyaan.
"Iya, dia yang mau aku ceritakan ke kamu. Karena ini masalahnya dia dan tentu saja pola pikir wanita secara kemungkinan lebih banyak persamaannya. Jadi aku mau minta pendapatmu, nona judes," jawab Indra dengan santainya tanpa mengetahui gejolak perasaan yang dialami oleh Gina di sampingnya.
"Eh tunggu dulu. Namaku Gina, bukan nona judes. Terlebih lagi sekarang aku sedang tidak judes padamu," sungut Gina mendengar panggilan Indra kepadanya.
"Aiih, iya iya. Jangan marah, Gina. Kalau marah nanti jadi nona judes lagi lho," goda Indra pada Gina.
"Lanjutkan saja ceritamu, Pak Indra," pinta Gina karena tidak mau berlama-lama mendengarkan godaan Indra.
"Oke. Nama wanita cantik itu adalah Stevani. Dia teman masa kecilku, saat aku dibawa Ibu kembali ke rumah eyang di Solo, Stevani lah teman pertama yang selalu main ke rumah eyang. Stev ikut pindah bersama dengan orang tuanya saat ke masih SD dulu," cerita Indra memulai dari asal mula bertemu dengan Stevani.
Gina yang tadinya berniat untuk mendengarkan, akhirnya malah mencebikkan bibirnya dengan rasa sebal. Rasanya aneh sekali mendengarkan Indra memulai kisahnya.
"Terus, apa masalahnya? Ada hubungannya dengan masa kecil kalian?" tanya ketus Gina memutar matanya sembari tangannya mengambil gelas kopi miliknya.
"Ya sedikit banyak biar kamu tahu, kenapa aku bersedia membantunya. Murni karena dia adalah teman di masa kecilku. Dia dulu anak tomboi yang keras kepala. Maka dari itu aku meminta pendapat dari sudut pandangmu," kata Indra menimpali perkataan Gina yang sepertinya mulai enggan mendengarkan.
"Kemarin baru saja dia bercerita, kalau dia pulang ke rumah di Solo itu karena dia sedang kalut pikiran. Beberapa hari sebelumnya, Stevani baru tahu kalau dirinya hamil. Kekasih hatinya adalah adek tingkatnya yang menyelesaikan tesisnya tahun ini juga. Dan mereka memutuskan untuk wisuda bersama. Setelah wisuda, kekasih Stevani akan langsung terbang ke Inggris untuk mengambil beasiswa yang diterimanya." Indra berhenti sejenak. Tampak di wajahnya gurat-gurat pikiran yang tercetak di sana.
"Lalu, apa Stevani tidak mengatakan pada kekasihnya saat mengetahui dia hamil?" tanya Gina spontan saat Indra jeda bercerita.
"Belum, kata Stevani. Saat menemui kekasihnya, kekasihnya itu sedang merencanakan untuk berangkat ke Inggris setelah wisuda. Stevani tidak melanjutkan ceritanya. Akhirnya hanya bilang mau pulang sebelum wisuda. Dan di iyakan oleh kekasihnya," jawab Indra.
"Kalau begitu, apa masalahnya sih. Tinggal bilang saja pada kekasihnya. Dan nanti bisa dibicarakan baik-baik. Apa ada yang belum kamu ceritakan yang menyebabkan masalah itu rumit?" tanya Gina dengan kening berkerut.
"Tentu saja ada. Tadi siang, Stevani mengabari aku ternyata kekasihnya tersebut sudah bertunangan dengan orang lain di kota kelahirannya. Gadis yang di jodohkan oleh orang tua mereka berdua," kata Indra menjawab pertanyaan Gina sembari menatapnya lama.
"Ya ampun. Kekasihnya mau? Bukankah mereka sedang berhubungan. Mengapa kekasihnya Stevani mau menerima pertunangannya dengan orang lain?" tanya gemas Gina mendengar semakin rumitnya permasalahan yang ada.
"Itu dia. Aku juga tidak habis pikir pada Stevani. Saat tadi ditelepon oleh kekasihnya, mereka bicara panjang lebar. Tapi tetap saja dia tidak mengatakan kondisinya saat ini." Indra mendesahkan udara dari paru-parunya yang terasa sesak.
"Sekarang bagaimana kabar Stevani?" tanya Gina penasaran dengan kelanjutan cerita Indra.
"Tadi sudah aku tenangkan sebelum bertemu denganmu. Semoga malam ini Stevani bisa tenang dan berpikir jernih," jawab Indra.
Semakin malam keramaian semakin terasa di sudut Kota Jogja itu. Suara tawa pengunjung yang kebanyakan mahasiswa itu menggema diantara lingkaran-lingkaran posisi duduk mereka. Tak ketinggalan pula suara musisi-musisi jalanan yang masih hilir mudik menggendong gitar maupun kentrung menjajakan suaranya, yang adakalanya bersuara emas tapi kebanyakan bersuara apa adanya.
Melihat Indra terdiam cukup lama, Gina tidak berani membuka suara untuk memecahkan keheningan yang Indra ciptakan diantara mereka.
"Menurutmu, apa yang akan kamu lakukan jika berada di posisi Stevani, Gina?" tanya Indra dengan mendadak dan menoleh pada Gina.
Ditanya hal seperti itu oleh Indra dan melihat pandangan Indra yang menatapnya dengan tajam dan dalam, seolah menanyakan jawaban kebenaran yang sesungguhnya dari pertanyaan yang Indra lontarkan tadi.
"Maaf, aku bukannya tidak mau menjawab, tapi aku tidak pernah mengalami kesulitan seperti yang Stevani hadapi. Bagiku, masalah terberat dalam hidup itu adalah bagaimana aku bisa hidup, bertahan dari hari ke hari, dari waktu ke waktu. Hanya Paman yang sebenarnya bukan saudaraku yang mau menampungku saat aku kehilangan semua duniaku. Jadi, tidak pantas rasanya bagiku menyamakan pengalamanku dengan situasinya Stevani," terang Gina panjang lebar kepada Indra.
"Sebenarnya menurutku, lebih baik sarankan pada Stevani untuk menjelaskan kepada kekasihnya itu. Dia juga berhak tau akan calon jabang bayi yang ada di kandungan Stevani. Untuk ke depannya seperti apa, tinggal mereka berdua menghadapinya bagaimana," kata Gina menatap nanar ke depan, tidak berani menatap kepada Indra. Hatinya sedih dan iba, calon jabang bayi yang belum tahu apa-apa, sudah terseret dalam permasalahan dua orang manusia dewasa.
"Apakah kamu akan melakukan hal seperti itu, Gina? Kamu akan mau membagi masalahmu kepada orang yang menjadi kekasih hatimu?" tanya Indra kembali. Masih penasaran dengan reaksi Gina tentang masalah yang diceritakan kepadanya.
"Mas Indra, aku tidak bisa memberikan solusi pasti suatu masalah itu dengan A dan B. Karena aku sendiri tidak memahami kedua belah pihak yang memiliki masalah. Kalau pendapatku dan saranku kalau mau mendengar, ya itu tadi. Bicarakan berdua, jangan menghindar dan jangan menyembunyikan sesuatu. Karena itu hasil perbuatan berdua, mana ada kalau sendirian jadi calon orok," ketus Gina menjawab pertanyaan Indra tadi.
"Lagipula, kalau aku memiliki pasangan, aku akan jujur mengatakan apa yang terjadi padaku. Aku tidak mau memberikan hatiku kepada orang yang tidak benar-benar serius untuk menghabiskan hidup bersamaku. Kamu boleh bilang bahwa aku kolotan, kuno dan ketinggalan jaman, Mas. Tapi aku sudah melihat bagaimana mesranya, bagaimana sayangnya kedua orang tuaku dalam menjalani rumah tangga. Saling membantu saat susah dan saling menghibur disaat sedih. Aku tidak mau menerima kurang dari itu," lanjut Gina mengemukakan apa yang dipendamnya di dalam benaknya.
Hati Indra berdesir, rasa senang, bahagia dan gembira yang dulu dirasakannya saat berdekatan dengan Gina di bus dulu kembali merambati hatinya. Indra baru menyadarinya, malam ini, baru pertama kalinya Gina memperlihatkan pemikiran dan keinginan hatinya yang paling mendasar. Indra melihat wajah Gina yang berbicara tentang keinginan mendapatkan cinta dan kasih sayang mutlak dari pasangannya, memancarkan cahaya lembut yang membuatnya terlihat lebih cantik.
...........
Di daun yang ikut
Mengalir lembut
Terbawa sungai ke
'Ujung mata
Dan aku mulai takut
Terbawa cinta
Menghirup rindu
Jalanku hampa
Dan kusentuh dia
Terasa hangat
Oh didalam hati
Kupegang erat dan
Kuhalangi waktu
Tak 'urung jua
Kulihatnya pergi
Tak pernah kuragu
Dan s'lalu kuingat
Kerlingan matamu
Dan sentuhan hangat
'Ku saat itu takut
Mencari makna
Tumbuhkan rasa yang
Sesakkan dada
Kau datang dan pergi
Oh begitu saja
Semua 'ku terima
Apa adanya
Mata terpejam dan
Hati menggumam
Di ruang rindu
Kita bertemu ...
Kau datang dan pergi
Oh begitu saja
Semua 'ku terima
Apa adanya
Mata terpejam dan
Hati menggumam
Di ruang rindu
Kita bertemu...
Bertemu...
..............
Seorang musisi jalanan dengan merdu menyanyikan lagu miliknya Letto diiringi dengan petikan gitarnya yang apik. Alunan-alunan indahnya mengalir memasuki telinga, bersama nada-nada selaras ke dalam lingkaran Ruang Rindu yang tercipta di hati Indra untuk membuat Gina menjadi miliknya.
Di mata Indra, sosok Gina dengan pemikiran dan tindakan yang tegas serta memiliki pengalaman yang jauh lebih matang daripada gadis-gadis seusianya. Pribadi yang unik dengan sifat jeras kepala hasil dari hidup keras yang Gina jalani beberapa tahun terakhir.
"Jadi, bagaimana kalau keluargaku yang memintaku untuk menikah dengan Stevani, dengan alasan kedekatan kami di masa kecil?" pancing Indra kepada Gina.
Bruuuuuuh.. uhuk... uhuk... uhuk..
Gina kembali menyemburkan kopi yang tadi diminumnya mendengar pertanyaan serius Indra.
"Maaf, aku tadi kaget mendengar pertanyaanmu, Mas. Ya kalau kamu bersedia menerima Stevani apa adanya, silakan saja. Toh kamu juga masih sendiri. Kembalikan kepada pribafimu sendiri, Mas. Apakah kamu bersedia atau tidak," jawab Gina sembari mengelap tetesan kopi di bagian depan kaosnya, tidak berani memandang langsung kepada Indra.
Indra mengulurkan tangan dan menangkap tangan Gina yang sibuk mengelap tetesan kopi tadi. Membuat Gina menghentikan kegiatannya dengan mendadak dan matanya melirik ke kanan dan ke kiri bingung melakukan apalagi masih dengan tanpa melihat ke arah Indra.
deg deg... deg deg... deg deg...
Napas Gina memburu, hatinya berdetak kencang tak karuan. Bisa dirasakannya sendiri leher, telinga dan pipinya menghangat, untungnya saat itu penerangan tidak terlalu terang. Jadi pipi Gina yang merona bisa tertutupi oleh bias cahaya. Hati Gina merasakan kemarahan yang tidak terkontrol, ingin rasanya berteriak pada Indra dan bertanya bagaiamana Indra bisa bertanya pada Gina, bahwa keluarga Indra memintanya menikah Stevani. Apakah Indra mau? Apakah Indra memang bermaksud untuk mengatakan sepeeti itu kepadanya sehingga Indra meminta pendapat dari Gina.
Tangan Gina di tarik oleh Indra, diletakkan tangan Gina tersebut ke dada Indra. Di telapak tangannya, Gina merasakan amukan detakan jantung Indra bergemuruh. Gina mendongakkan kepalanya dan melihat pada Indra. Indra sendiri masih menatap Gina dengan pandangan mata lembut dan dalam tepat di mata Gina.
Indra dan Gina seakan dikelilingi oleh suatu gelembung kedap suara. Di sana hanya terdengar detak jantung masing-masing. Detakan jantung mereka seakan saling memburu, menemukan dan saling melengkapi. Gina melihat kembali mata Indra yang menatapnya lembut itu bergetar, apakah Indra juga merasakan amukan perasaan seperti yang di alami olehnya.
"Permisi, Mas, Mbak," kata sebuah suara yang memecahkan gelembung kedap suara tadi. Saat itu pula Gina menarik tangannya dan berpaling ke arah lain dan pura-pura mengambil uang di dompetnya untuk musisi jalanan yang tadi mengulurkan kantong uang. Karena tangannya masih bergetar, tak ditemukannya uang receh yang dicari-carinya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Terima kasih sudah berkenan membaca novelku ini. Jangan lupa klik favorite, bintang lima dan votenya ya.
Mohon maaf, jika up novelnya tidak teratur dan tidak terjadwal.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=