
Jogja, Juli 2008
Waktu berlalu begitu cepat. Roda-rodanya berputar seakan meninggalkan masa lalu yang terbenam. Kembali muncul mengumandangkan masa kini yang terus dijalani dan masa depan yang harus dicita-citakan.
Tidak banyak yang diinginkan oleh seorang wanita sederhana yang bernama Gina. Dulu, apa yang menjadi kehidupannya sekarang, itulah yang dijalaninya. Dan untuk studi yang sedang ditempuhnya, ingin rasanya segera selesai dengan hasil yang memuaskan. Tetapi saat ini, setelah mengetahui bahwa papa dan mamanya meninggalkan banyak sekali tanggungan, maka mau tidak mau Gina mengubah jalan pikirannya. Tidak hanya untuk hidup sekarang dan menyelesaikan studinya. Tetapi juga sudah harus berpikir apa yang akan dilakukannya dengan peninggalan papa dan mamanya itu.
Pikiran itulah yang sejak tadi pagi mengusik konsentrasi bekerjanya hari ini. Raga Gina memang berada di toko souvenir tempatnya bekerja, tetapi jiwa dan pikirannya berada di tempat lain. Segala hal yang berkaitan dengan peninggalan mendiang orang tuanya memang membuatnya bahagia tetapi sekaligus juga membuatnya mawas.
Menjadi keuntungan Gina saat itu karena stand yang di jaga olehnya sedang banyak diminati oleh anak-anak sekolahan yang sedang berbelanja di toko souvenir.
Gina bahkan sempat mempraktekkan cara memainkan permainan tradisional itu kepada anak-anak yang belum paham cara bermainnya. Dengan lihai Gina melilitkan tali di sekeliling tubuh gasing yang menjadi barang contoh. Setelah tali terlilit sempurna, disentakkannya tali tersebut dengan keras dan menyebabkan gasingnya berputar dan mengeluarkan suara akibat angin yang masuk ke celah lubang yang memang sengaja dibuat memang untuk menghasilkan suara demi menarik perhatian itu.
Apa mereka hanya mengenal permainan Counter Strike dan DotA saja? tanya Gina di dalam hati kecilnya.
Entahlah. Apapun jawaban pertanyaan batinnya itu, hanyalah sebuah terkaan belaka. Karena melihat anak-anak sekolahan tersebut teramat girang menemukan permainan tradisional ini.
Segera dienyahkannya pikiran buruk yang masih bercokol di benak Gina. Dengan tangkas dan rapi, di tatanya kembali mainan-mainan tradisional di standnya dan merekap apa saja dan berapa jumlah barang yang hari itu terjual dari stand tanggung jawabnya.
Hati Gina lega dan bahagia, hari ini selesai sudah tugas dan kewajibannya. Langkah kakinya gontai menuju ke utara arah Stasiun Tugu Jogja. Pikirannya sedang menyusun rencana untuk dua hari masa liburnya besok. Coretan daftar pertanyaan yang ada di meja belajarnya masih tergeletak diam belum Gina sentuh kembali. Diliriknya jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Sudah menunjukkan pukul sepuluh lebih seperempat. Trotoar Jalan Malioboro tempat pedagang kaki lima berjualan juga sudah banyak yang tutup.
Karena mengingat banyak pertanyaan yang harus Gina tanyakan kepada pamannya, refleks Gina merogoh ponsel dari kantong celananya. Dipencetnya tombol hijau untuk mencari nomer telepon rumah pamannya itu.
tuuuut... tuuuut... tuuuut...
Bunyi deringan tanda sambung telepon di seberang telepon terdengar olehnya. Gina mnegerutkan keningnya, merasa sangat egois karena menghubungi pamannya pada malam hari seperti ini. Segera dimatikan ponselnya itu tanpa tahu bahwa di seberang sana pamannya sudah mengangkat panggilan teleponnya.
Siapa malam-malam seperti ini iseng memainkan telepon? Profesor Baraka mengernyitkan dahinya.
Profesor Baraka melongokkan kepalanya melihat jam dinding. Sudah jam sepuluh malam lebih. Pikirannya langsung tertuju kepada Gina. Seketika Profesor Baraka merasa was-was, apakah Gina yang meneleponnya barusan. Apa Gina terkena musibah? Ah, anak itu rasa mandirinya sangat besar. Segala hal ingin dilakukannya dengan usaha sendiri. Tanpa pikir panjang, jari jemari Profesor Baraka segera memencet tombol-tombol teleponnya.
Disisi lain, Gina berjalan pulang dan melangkahkan kakinya dengan bergegas karena merasa masygul. Entah mengapa perasaan tidak enak, ditolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri mencari siapa yang melihat dan memperhatikannya. Di depannya, sepanjang trotoar menuju ke tempat tujuannya sudah sepi, pedagang kaki lima sudah tidak terlihat lagi.
Toko-toko di sepanjang trotoar juga sudah tutup, walaupun ada pegawai yang masih ada di dalam toko, tetapi pintu toko sudah hampir tertutup dan pegawai-pegawainya merapikan kembali dagangannya. Bulu kuduk Gina berdiri, kewaspadaannya semakin meningkat. Dipindahkannya tas ransel yang semula digendong di belakang punggungnya, segera dialihkan ke depan. Dan didekapnya erat-erat di depan dada. Langkah kakinya semakin cepat, entah mengapa ada yang seakan berbisik untuk segera lekas-lekas keluar dari jalanan ini.
"Gina, tunggu dulu!" teriak suara seorang laki-laki dari arah belakang.
Gina yang sedang panik dan takut, tidak bisa berpikir lagi. Adrenalinnya memacu jantung untuk bekerja lebih cepat, keringat dingin keluar dari dahi dan tubuhnya, mata Gina terbuka lebar dan melirik ke kanan dan ke kiri, kakinya melangkah bak kesetanan. Tangan Gina semakin memeluk erat tas yang ada di depan dadanya, kepalanya ditundukkan. Tiba-tiba ada tangan besar yang memegang pundak Gina.
"Aaarrgghh!" teriak Gina secara otomatis karena merasakan ada yang memegang pundaknya. Reflek Gina berbalik ke belakang dan menendangkan kakinya kearah tengah tubuh dari orang itu.
"Gina, stop! Hentikan!" rintih orang itu sembari memegang kedua pundak Gina dan menundukkan tubuhnya condong ke depan.
Gina yang masih dikuasai oleh adrenalinnya, segera membuka mata dan melihat orang yang menundukkan tubuh di hadapannya itu mempunyai suaranya yang tidak asing di telinganya. Penasaran karena tadi orang tersebut juga memanggil namanya, Gina menundukkan badan untuk melihat siapa gerangan laki-laki itu.
"Astaga, ternyata Mas Indra! Sedang apa di sini? Mengapa menakutiku seperti tadi? Apa itu sakit?" tanya Gina bertubi-tubi setelah menyadari bahwa orang yang dia tendang tadi, tidak lain dan tidak bukan adalah Indra.
"Aduuuh, bagaimana menurutmu?! Baru kali ini aku di tendang dengan keras di wilayah pribadiku! Bagaimana besok nasib anak-anakku? Apa kau mau bertanggung jawab, seandainya aku tidak bisa memberimu anak?!" tanya Indra yang masih menunduk dan bersungut serta sedikit meringis menahan sakit.
"Maafkan aku, Mas Indra." Gina bergegas ingin membantu Indra berdiri tegak.
"Tunggu, biarkan aku seperti ini sedikit lebih lama," kata Indra tidak bersedia dibantu berdiri tegak oleh Gina.
"Apakah itu sakit?" tanya Gina prihatin karena melihat kondisi Indra yang pucat dan mengeluarkan keringat di dahinya. Mata Indra masih memejam menahan rasa sakit disekitar bagian tengah tubuhnya itu.
"Tentu saja. Ini asetku yang paling berharga. Bagaimana bisa kau merusaknya?" tanya Indra yang masih jengkel terus ditanyai oleh Gina.
Gina menjadi salah tingkah. Digaruk-garukkan tangan ke kepalanya. Bibirnya meringis penuh penyesalan, dahinya berkerut karena melihat hasil berbuatannya. Ditepuk-tepuknya kedua tangan Indra yang masih mencengkeram kedua pundaknya dengan keras itu.
"Lepaskan tanganmu dari pundakku dulu, Mas Indra. Sini aku bantu papah kau untuk duduk di undakan anak tangga depan itu," pinta Gina kepada Indra dan menawarkan sedikit solusi untuk mengurangi rasa bersalahnya.
Karena merasa aneh terus berpose di tengah trotoar berdua seperti itu, Indra menyetujui usul Gina. Dilepaskannya cengkeraman tangannya dari pundak Gina dan dirangkulkan tangan kanannya ke bahu Gina. Bibir Indra tersenyum bahagia dan matanya berkilat jenaka. Melihat Gina yang masih khawatir dan berusaha keras memapah tubuhnya yang tentu saja lebih berat daripada tubuh Gina. Tangan kanan Gina yang memegang tangan kanannya dan tangan kiri Gina merangkul di sekeliling pinggangnya. Perasaan Indra melayang ke angkasa yang penuh dengan bintang-bintang. Siapa sangka penderitaan yang harus dilaluinya tadi akan sepadan dengan apa yang ditawarkan oleh si pembuat derita itu sendiri.
Indra masih terus melihat wajah Gina yang kepayahan memapah dirinya. Butiran keringat yang muncul di dahi Gina dan kerutan keningnya menandakan bahwa Gina benar-benar bertanggung jawab untuk menjadi sandaran bagi Indra seperti apa yang telah Gina ucapkan tadi.
Cantik sekali gadisku ini. Dia bertanggung jawab dan penuh dengan dedikasi, batin Indra masih dengan senyum simpul bahagianya.
"Sudah puas melihat wajahku?" tanya Gina membuyarkan gelembung lamunan Indra.
"Belum dan tidak akan pernah puas aku melihatnya," sahut Indra menjawab pertanyaan Gina.
Dengan kesal, Gina berhenti. Dilepaskannya tangan Indra dari pundak Gina dan ditariknya kembali tangannya yang tadi merangkul pinggang Indra.
"Kalau sudah baikan, lebih baik kau berjalan sendiri. Tidak perlu terus bersandar kepadaku lagi." Gina melangkahkan kaki meninggalkan Indra yang berdiri kaget.
"Eh, tunggu Gina. Jangan tinggalkan aku!" teriak Indra berusaha menyusul Gina yang tiba-tiba saja melepaskan sandaran untuknya dan berjalan menjauh.
"Tidak perlu lagi mengikutiku Mas Indra. Aku sudah hampir sampai di tempat tujuanku," kata Gina menghiraukan Indra yang menjajari langkahnya. Gina melanjutkan, "Katakan, apa yang membawamu kesini, Mas Indra? Dan tolong sampaikan dengan jelas tanpa ada yang disembunyikan."
"Aku kesini memang mau menjemputmu pulang kerja. Aku khawatir karena Jogja sedang tidak aman saat ini. Banyak berita tentang klitih beberapa hari terakhir," jawab Indra yang menghentikan langkahnya. Indra melanjutkan keterangannya, "Aku sudah menunggu di luar toko sebelum jam pulangmu, tetapi mendadak ada telepon masuk dan aku harus menerima telepon itu terlebih dahulu. Ternyata percakapannya cukup lama. Sampai setelah selesai aku menutup teleponnya dan berbalik badan melihat ke arah toko tempatmu bekerja, ternyata sudah gelap. Aku langsung meneleponmu, tapi jaringanmu sedang sibuk."
Gina berhenti melangkah mengetahui Indra tidak lagi menjajari langkahnya. Dibalikkan badannya menghadap ke Indra yang tertinggal beberapa langkah di belakangnya.
"Aku tadi memang berusaha menghubungi paman. Tapi karena ini sudah malam dan tidak diangkat teleponnya, aku matikan kembali," terang Gina menjelaskan tentang jaringan sibuk di teleponnya.
"Mungkin karena itu, pamanmu mengkhawatirkanmu. Beliau bergegas meneleponku. Tak lama setelah aku menutup panggilanku ke nomermu, Profesor Baraka menelponku dan bilang bahwa kemungkinan kau sedang kesulitan. Setelah itu aku bergegas mencarimu ke arah sini. Melihatmu berjalan cepat, aku memanggilmu berulang-ulang. Tetapi seakan kau tidak mendengar dan semakin melangkah cepat. Aku mengejarmu dan berniat menepuk pundakmu, tapi hasilnya asetku yang sangat berharga ini kau lukai," tutur Indra panjang lebar memberikan penjelasan kepada Gina.
"Astaga, begitu rupanya. Tadi memang aku mendengar ada seseorang dari belakangku berteriak. Tapi aku tidak tahu kalau dalam teriakan itu namaku di sebut-sebut. Entah mengapa sedari tadi buku kudukku berdiri dan kewaspadaanku meningkat. Jari aku mencari jalan tercepat dan teraman untuk menghadapi hal itu. Tadi aku berniat lari ke arah kerumunan tukang ojek untuk meminta bantuan. Tetapi karena ada kejutan di bahuku, secara reflek aku berteriak dan mendendangkan kakiku untuk melukaimu," jawab Gina sambil meringis merasa bersalah.
"Bagus itu. Bagus sekali Gina. Reflekmu benar-benar mengejutkan orang yang berniat jahat kepadamu," puji Indra sambil mendekat ke Gina dan menepukkan telapak tangannya puncak kepala Gina. Indra melanjutkan wejangannya lagi, "Tapi lain kali, supaya lebih aman, telepon aku untuk menjemputmu balik kerja. Hmm."
Gina yang baru pertama kali menerima perlakukan seperti itu, tertegun. Hatinya menghangat, senang rasanya dipedulikan dan dikhawatirkan seseorang secara langsung. Mata Gina berkaca-kaca dan pandangannya melembut tatkala mendongak menatap Indra yang berdiri tepat di depannya.
...Walau badai menghadang
Ingatlah ku 'kan selalu
Setia menjagamu
Berdua kita lewati
Jalan yang berliku tajam....
Entah bagaimana Gina teringat penggalan lirik lagu yang sering mampir di ruang dengarnya. Lagu dari Ada Band itu seakan menggambarkan janji yang tidak terucap dari Indra saat menyatakan kekhawatirannya tadi.
"Apa kau sudah mengerti Gina? Lain kali, tel... pon aku saat dapat shift malam. Paham?" tanya Indra menekankan sekali lagi kepada Gina untuk langsung menghubungi Indra tatkala membutuhkan.
Gina tidak kuasa untuk berucap. Untaian kata-katanya seakan terpenjara di dalam mulutnya yang tiba-tiba menjadi gagu. Sebagai ganti untuk menjawab pertanyaan Indra tadi, dianggukkan kepalanya tanda mengerti apa yang Indra ucapkan.
"Nah, bagus kalau kau sudah paham. Kalau begitu, ayo, aku antar pulang. Sudah jam setengah sebelas malam, ini sudah lewat satu jam dari jadwal operasinya TransJogja," kata Indra menggandeng tangan kanan Gina. Dihelanya tangan tersebut untuk mengikutinya berjalan kembali ke arah utara menuju stasiun Tugu Jogja.
Dengan pasrah Gina mengikuti langkah Indra. Benar apa yang disampaikan Indra, TransJogja sudah berhenti beroperasi hampir satu jam yang lalu. Tadinya Gina ingin naik ojek untuk pulang ke rumah. Tetapi karena Indra akan mengantarnya pulang, lebih praktis dan Gina bisa menghemat uangnya.
Indra yang tidak merasakan penolakan dari si empunya tangan yang digandeng, merasa terbang ke awan. Hatinya ringan dan senyumnya tidak bisa lepas dari bibirnya. Meskipun Gina sendiri berjalan dalam diam, tetapi langkahnya seirama dengan langkah kaki Indra. Dihembuskan napasnya dengan lega dan tangan kanannya dimasukkan ke dalam sakunya, menjaga untuk tidak meraih Gina dan memeluknya erat.
Masih banyak hal yang ingin Indra tanyakan ke Gina tentang keanehan perilaku Gina sebelum Indra bisa sampai kepadanya tadi. Tapi untuk saat ini, Indra menyingkirkan pikiran tersebut untuk di tanyakan di kesempatan lain. Karena firasatnya mengatakan, bahwa dia dan Gina ke depannya akan lebih sering bertemu.
Setelah beberapa saat dalam diam, Gina memecahkan keheningan, "Aku nyalakan radionya boleh?"
"Silakan saja," jawab Indra masih fokus untuk bisa keluar dari kawasan parkiran Stasiun Tugu Jogja ini.
.......
Rasa cinta
Yang dulu telah hilang
Kini berseri kembali
T'lah kau coba
Lupakan dirinya
Hapus cerita lalu
Dan lihatlah
Dirimu bagai bunga
Di musim semi
Yang tersenyum
Menatap indahnya dunia
Yang seiring menyambut
Jawaban segala gundahmu
Walau badai menghadang
Ingatlah ku 'kan selalu
Setia menjagamu
Berdua kita lewati
Jalan yang berliku tajam
Setiap waktu
Wajahmu yang lugu
Selalu bayangi langkahku
Telah lama
Kunanti dirimu
Tempat ku kan berlabuh
Cahya hatiku
Yakinlah kekal abadi
Selamanya
Seperti bintang
Yang sinarnya
Terangi s'luruh
Ruang dijiwa
Membawa kedamaian
Walau badai menghadang
Ingatlah ku 'kan selalu
Setia menjagamu
Berdua kita lewati jalan
Yang berliku tajam
.........
Lagunya Ada Band lagi yang berjudul Masih kembali hadir ke ruang dengar Gina dalam keremangan cahaya mobil bersama Indra.
"Temani aku makan malam dulu ya," pinta Indra kepada Gina yang sedang khusuk mendengarkan lagu di radionya.
"Eh.. iya.. iya.. Pak, eh Mas," gagap Gina karena lamunannya terpecahkan oleh pertanyaan Indra. Untuk menutupi sikapnya yang canggung, Gina bertanya, "Mau makan di mana malam ini?"
"Aku pengen makan gudeg mercon," jawab Indra.
"Baiklah. Gudeg mercon yang ada di daerah Cokrodiningratan itu?" tanya Gina.
"Iya, aku sedang ingin makan manis dan pedas malam ini." Indra tersenyum dan menoleh sekejap ke arah Gina. Indra bertanya kembali, "Kamu mau? Bisa makan pedaskan?"
"Bisa. Bisa kok. Ayo kita makan di sana saja," jawab Gina salah tingkah setelah melihat Indra dengan tatapan teduhnya ke arah mata Gina.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Halo reader Budiman,
Terima kasih untuk semua reader baik yang sudah berkenan meluangkan waktu untuk membaca novel yang belum seberapa ini.
Tolong bantu Favoritkan ❤️ novel ini, beri Like 👍 di setiap episodenya dan klik ⭐⭐⭐⭐⭐ ya.
Terima kasih.
regard,
-Arindra-
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=