
Solo, akhir Mei 1999
Banyak hal yang harus dipersiapkan Tuan Rasya dan Nyonya Elisabeth sebelum keberangkatan mereka ke London. Hari Kamis pagi, Tuan Rasya mengendarai sepeda motornya menuju Stasiun Balapan, Solo. Untuk mencari tiket kereta keberangkatan dari Solo ke Jakarta.
Nyonya Elisabeth yang tinggal di rumah, mendapat tugas dari suaminya untuk mengurus keperluan Gina selama Tuan Rasya dan Nyonya Elisabeth berada di luar negeri. Sembari duduk di kursi tamu, dengan catatan berada di pangkuannya, Nyonya Elisabeth menelepon kantor asrama Gina.
kriiiing....kriiiing..kriiiing...
Suara gema telepon terdengar dari seberang. Belum juga ada yang menerima telepon di sana. Segera di tutup kembali telepon nya dan di pencet ulang tombol-tombol nomor telepon asrama, putri semata wayangnya itu. Dengan sabar Nyonya Elisabeth menunggu jawaban dari seberang. Ditatapnya kembali catatan yang sudah di buatnya tadi, catatan tentang pembayaran uang sekolah Gina, pembayaran uang asrama Gina begitu juga dengan penitipan Guna untuk 14 hari ke depan.
"Halo, Selamat pagi. Asrama Boarding School. ada yang bisa kami bantu?" jawab sebuah suara di seberang telepon yang sudah di tunggu tunggu Nyonya Elisabeth.
"Halo, Selamat pagi. Saya Elisabeth Wilde, Mama nya Gina Wilde. Bisa saya bicara dengan Bapak Kepala Asrama Sekolah?" balas Nyonya Elisabeth.
"Oh, selamat pagi Nyonya Elisabeth. Baik Nyonya, saya sambungkan ke kantor Kepala Asrama," jawab suara di seberang telepon.
Dengan sabar Nyonya Elisabeth menunggu sambungan teleponnya tersambung kepada Kelapa Asrama. Sudah terpikirkan apa-apa yang akan di sampaikan kepada Kepala asrama nantinya.
"Halo, Selamat Pagi," suara Kepala Asrama dari seberang sambungan telepon.
"Selamat Pagi, Pak Wibowo. Saya Elisabeth Wilde, Mama nya Gina," kata Nyonya Elisabeth memulai percakapan.
"Oh ya Nyonya Elisabeth. Apa kabar? Apa ada yang bisa saya bantu Nyonya?" tanya Pak Wibowo lebih lanjut.
"Iya Pak Wibowo, saya mau bertanya, untuk 2 Minggu ke depan, apakah bisa Guna saya titipkan di asrama, Pak? Karena untuk dua Minggu ke depan, saya dan Papa nya Gina akan melakukan perjalanan ke luar negeri," kata Nyonya Elisabeth menjelaskan.
"Begitu ya Nyonya. Bisa, sangat bisa sekali. Di sini juga banyak teman-teman Guna yang jarang pulang ke rumah saat liburan," jawab Pak Wibowo
"Untuk pembayaran biaya tambahan asrama dan biaya untuk ujian Gina bisa saya tanyakan sekalian, Pak?" lanjut Nyonya Elisabeth.
"Untuk pembayarannya nanti langsung ke administrasi sekolahan langsung saja Nyonya. Nanti di sana bisa dilihatkan lebih rinci biaya biaya yang harus di bayarkan," jawab Pak Wibowo
"Oh begitu. Baiklah, Pak Wibowo. Untuk pembayaran uang asrama, makan dan ujian akhir tahun nya apakah bisa sekalian di bayarkan?" tanya Nyonya Elisabeth lebih lanjut lagi.
"Tentu bisa Nyonya. Silakan langsung ke kantor administrasi sekolahan hari ini atau besok juga bisa. Nanti saya informasikan ke bagian administrasi permintaan Nyonya Elisabeth. Biar disiapkan rincian pembayaran sampai ujian akhir besok," kata Pak Wibowo melanjutkan.
"Baiklah Pak Wibowo. Kalau begitu besok saya ke sekolahan untuk menyelesaikan urusan pembayaran sekalian menjemput Gina pulang, sebelum kami bertolak ke luar negeri," kata Nyonya Elisabeth lebih lanjut.
"Baik Nyonya, silakan. Kami tunggu kehadirannya besok," kata Pak Wibowo.
"Baik Pak. Terima kasih. Selamat pagi," tutup Nyonya Elisabeth mengakhiri sambungannya
"Selamat pagi, Nyonya Elisabeth," Pak Wibowo pun menutup telepon nya.
Nyonya Elisabeth meletakkan telepon nya dan langsung mencoret beberapa baris di notes nya. Tandanya hal yang akan di lakukan ya sudah terlaksana. Sekarang tinggal menunggu Tuan Rasya, suaminya pulang dari stasiun Balapan. Setelah itu ingin dia ajaknya Tuan Rasya ke bank untuk mengambil uang untuk pembayaran biaya sekolah dan biaya asrama putri mereka. Pikir Nyonya Elisabeth, sekalian saja melunasi pembayaran sekolah Gina sampai ujian akhir besok. Toh, tinggal menghitung hari sampai akhir tahun di bulan Juli besok.
......
*There's a hero
If you look inside your heart
You don't have to be afraid
Of what you are
There's an answer
If you reach into your soul
And the sorrow that you know
Will melt away
And then a hero comes along
With the strength to carry on
And you cast your fears aside
And you know you can survive
So when you feel like hope is gone
Look inside you and be strong
And you'll finally see the truth
That a hero lies in you
It's a long road
When you face the world alone
No one reaches out a hand
For you to hold
You can find love
If you search within yourself
And that emptiness you felt
Will disappear
And then a hero comes along
With the strength to carry on
And you cast your fears aside
And you know you can survive
So when you feel like hope is gone
Look inside you and be strong
And you'll finally see the truth
That a hero lies in you, oh, oh
Lord knows
Dreams are hard to follow
But don't let anyone
Tear them away, hey yeah
Hold on
There will be tomorrow
In time you'll find the way
And then a hero comes along
With the strength to carry on
And you cast your fears aside
And you know you can survive
So when you feel like hope is gone
Look inside you and be strong
And you'll finally see the truth
That a hero lies in you
That a hero lies in you
Mmm, that a hero lies in you*
........
Yah, benar sekali. Memang pahlawan itu tidak harus seseorang mengenakan topeng dan jubah. Terbang kesana kemari hanya menggunakan dalaman diluar bajunya. Ataupun menggunakan topeng untuk menutupi identitasnya. Pahlawan itu ada dalam diri kita masing - masing. Ada di dalam setiap kita yang masih terus hidup dan berjuang apapun keadaan kita saat ini. Apapun yang kita hadapi, kita berjuang untuk orang - orang yang kita sayangi dan orang - orang yang masih setia bersama kita dalam setiap langkah kita.
Nyonya Elisabeth tersenyum ringan saat mendengarkan lagunya Mariah Carey diputar di saluran radio favoritnya. Lagu tersebut mengingatkan dirinya untuk terus berjuang dan berusaha bersama dengan suami tercintanya demi masa depan anak gadis mereka. Agar kelak, bisa lebih nyaman dan mudah dalam menjalani hidup. Tidak lagi merasakan bersusah payah berjuang dari bawah lagi.
Ah, betapa cepatnya waktu berlalu. Sudah lebih dari 17 tahun yang lalu Nyonya Elisabeth datang ke Indonesia dan belajar di kampus Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Surakarta. Dari sanalah pada saat acara di kampung Kauman, Nyonya Elisabeth bertemu dengan Tuan Rasya Wilde. Seorang pria muda yang blasteran separo Jawa dan separo Inggris sudah memenuhi hatinya saat pandangan pertama. Tuan Rasya mewakili keluarga ibunda nya di acara tersebut dan pada akhirnya bisa berkenalan dengan Nyonya Elisabeth. Saat itulah Tuan Rasya ternyata juga tertarik dengan seorang gadis cantik dari negara ayah nya yang mau belajar tentang budaya Indonesia di Kota Solo.
tiiin tiiin... brrrmmm...
Suara motor Tuan Rasya terdengar dari depan rumah. Nyonya Elisabeth bergegas ke depan untuk menyambut suaminya. Melihat suaminya turun dari motor dan melepas helmnya, Nyonya Elisabeth tersenyum penuh cinta. "Ah, inilah dia sosok pria muda yang sudah mengambil cintaku dulu," suara hati Nyonya Elisabeth masih bernostalgia.
"Bagaimana Pah? dapat tiket kita ke Jakarta?" tanya Nyonya Elisabeth setelah suaminya masuk ke rumah.
"Syukur Ma, kita dapat tiket. Kita dapat yang berangkatnya malam. Jadi masih bisa bersama Gina sebelum kita berangkat Ma," jawab Tuan Rasya
"Siap Ma. Papa istirahat dulu ya. Bagaimana untuk persiapan contoh batik dan presentasi untuk Mrs. Katherine besok? Apa sudah siap Ma?" tanya Tuan Rasya.
"Sudah Pa, sudah Mama masukkan ke koper - koper kita," jawab istrinya sambil berjalan ke dapur untuk mengambilkan teh masih dan sosis solo buatannya sendiri.
Keesokan harinya, Tuan Rasya dan Nyonya Elisabeth bersiap berangkat ke sekolahan Gina. Tadi pagi sudah ada telepon dari pihak sekolahan menginformasikan besaran biaya yang musti di bayarkan oleh orang tua Gina.
"Pah, Mama sudah mendapatkan biaya untuk sekolahan Gina pagi tadi. Bayaran uang sekolah, uang gedung dan uang asramanya sampai tahun ketiga Gina sekolah. Untuk uang makan dan uang jajan Gina bisa kita pikirkan sambil jalan." Nyonya Elisabeth meminta pertimbangan suaminya.
"Maksud Mama bagaimana? Kenapa harus dibayarkan sekalian?" tanya Tuan Rasya.
"Mama hanya memikirkan ke depan nya Pa. Misalnya kita jadi deal dengan Mrs. Katherine, kita bakal lebih terfokus di usaha Papa. Jadi sebaik nya untuk pembayarannya Gina di dahulukan, supaya tidak terganggu nantinya," jelas Nyonya Elisabeth lebih lanjut.
"Oh, begitu ya Ma. Boleh kalau begitu. Memang harusnya pendidikan Gina di nomer satukan daripada yang lain nya ya," Tuan Rasya pun menyetujui usulan istrinya tersebut.
Sesampainya di sekolahan Gina, Nyonya Elisabeth dan Tuan Rasya masuk ke dalam ruang administrasi. Menyelesaikan semua pembayaran Gina sampai akhir tahun ke tiga nya kelak. Beserta dengan biaya asramanya dibayarkan sekaligus. Keluar dari ruang administrasi, Nyonya Elisabeth dan Tuan Rasya diantarkan Bu Widia menemui Gina yang sudah selesai menyelesaikan sekolahnya minggu ini dan bersiap pulang ke rumah.
"Mama, Papa, mengapa Gina dijemput berbarengan seperti ini?" tanya Gina setelah melihat Mama dan Papa nya datang ke asrama diantarkan oleh BU Widia.
"Kamu suka tidak sayang, dijemput Mama dan Papa?" tanya Tuan Rasya kepada Gina
"Tentu saja, Gina bahagia," lanjut Gina sambil memeluk Papa dan Mamanya.
"Yuk sayang, kita pulang ke rumah," sahut Nyonya Elisabeth.
Bertiga memasuki taksi yang akan membawa pulang ke rumah. Di dalam taksi, Gina hanya memeluk erat Mama nya, seakan-akan tidak ingin melepaskan Mama nyabuntuk sekejap saja. Nyonya Elisabeth tidak mengolok kelakuan anak nya tersebut. Hanya balas memeluknya dan mengelus rambut Gina tersayang.
Sesampainya di rumah, Gina langsung berganti pakaian dan duduk makan siang bersama dengan Mama Papa nya. Bahagia rasanya berada kembali di rumah, di tempat ternyaman sepanjang kehidupannya.
"Sayang, besok Professor Baraka akan mampir ke rumah setelah mengisi kuliah umum di kampus. Kamu mash ingat Profesor Baraka tidak, Gina?" tanya Tuan Rasya kepada Gina.
"Ya pastilah Pa, Gina ingat. Teman Papa yang baru pulang dari luar negeri itu kan? Dulu pernah memberi Gina hadiah bagus," jawab Gina sambil makan.
"Gina kalau mau menginap di rumah Profesor Baraka saat liburan besok, mau tidak?" tanya Nyonya Elisabeth.
"Liburan besok? Memang Mama dan Papa mau kemana?" selidik Gina penasaran kenapa Mama nya menyarankan hal yang tidak biasa itu.
"Begini Gina sayang, Gina tahu kan setahun yang lalu usaha ayah sudah habis - habisan?" pancing Tuan Rasya mulai menjelaskan kepada anaknya.
"Tentu saja, saat ini Gina masih di kelas 1 SMP. Dan Gina tidak diperbolehkan pulang ke rumah dulu sebelum suasana kembali tenang. Kata Papa saat
berkunjung ke asramanya Gina dulu, toko kita sampai di rusak orang kan," jawab Gina sambil mengingat - ingat kejadian setahun yang lalu.
"Kamu masih ingat dengan baik sayang. Lalu bagaimana menurut Gina kalau kita punya kesempatan untuk memulai kembali bisnis Papa yang dulu sempat hancur?" tanya Nyonya Elisabeth kembali.
"Tentu saja Gina mau. Pabrik batik Papa dan toko batiknya biar bisa ada lagi. tidak hanya mangkal di pelataran Pasar Klewer lagi Pa," kata Gina sambil menyelesaikan makan siangnya.
"Kalau begitu, Gina pasti mengerti kalau Mama dan Papa besok Minggu harus berangkat ke Jakarta untuk melanjutkan terbang ke London. Mama dan Papa akan menemui Mrs. Katherine yang tertarik dengan produk batik nya Papa," Nyonya Elisabeth memberitahu putrinya dengan hati-hati.
"Apa... Apa maksud Mama? Gina akan di tinggal di denga Profesor Baraka selama Papa dan Mama melakukan perjalanan bisnis besok?" tanya Gina mulai memahami ucapan Mama nya.
"Betul sayang, tapi hanya selama dua Minggu maksimal. Kami harus berangkat ke London besok Senin, karena Papa dan Mama diundang dan tiketnya sudah disediakan," terang Tuan Rasya sambil mengelap mulutnya tanda selesai makan.
"Gina akan tinggal di asrama saja Ma. di asrama Gina tidak bakal kesepian, karena teman-teman Gina jiga ada yang tidak pulang ke rumah. Tapi janji ya hanya dua Minggu, tidak boleh lebih!! Gina bakalan tidak mau ditinggal terlalu lama sendirian," sahut Gina dengan suara sendu.
"Tentu sayang, seandainya Gina libur sekolah, pasti Papa dan Mama akan mengajak Gina ikut serta. tapi apalah daya, kali ini perjalanan ini bukan untuk piknik, tapi untuk memulai kembali usahanya Papa," kata Nyonya Elisabeth sembari tersenyum. Rasa bangga mengalir di sekujur tubuhnya, melihat anaknya sudah dewasa dan sudah bisa memahami kepentingan orang lain. Tidak menjadi remaja egois yang hanya mementingkan kesenangannya sendiri.
.......
*Kau satu terkasih
Kulihat di sinar matamu
Tersimpan kekayaan batinmu
Ho-o ...
Di dalam senyummu
Kudengar bahasa kalbumu
Mengalun bening menggetarkan
Kini dirimu yang selalu
Bertahta di benakku
Dan aku 'kan mengiringi
Bersama
Di setiap langkahmu
Percayalah
Hanya diriku paling mengerti
Kegelisahan jiwamu, kasih
Dan arti kata kecewamu
Kasih, yakinlah
Hanya aku yang paling memahami
Besar arti kejujuran diri
Indah sanubarimu, kasih
Percayalah
Di dalam senyummu
Kudengar bahasa kalbumu
Mengalun bening menggetarkan
Kini dirimu yang selalu
Bertahta di benakku*
......
Senang sekali Nyonya Elisabeth mendengarkan lagu Bahasa Kalbu dari Titi DJ yang baru saja di rilis ini. Lirik-liriknya indah sekali, pas menggambarkan secara nyata rasa cinta Nyonya Elisabeth kepada keluarga kecilnya. Entah kenapa akhir-akhir ini Nyonya Elisabeth menjadi sangat sesak dan sedih saat melihat anak remaja nya yang duduk bersama Papa nya itu. Dihelanya napas berat untuk melegakan hatinya yang sedang tidak tentram.
"Pa, kapan jadinya Profesor Baraka mampir ke rumah? Mama sengaja masak rawon kesukaan nya Papa sama Profesor Baraka nih," tanya Nyonya Elisabeth mengalihkan perasaannya dengan memulai percakapan dengan suaminya.
"Sebentar lagi paling Ma. Katanya ngisi kuliah umumnya pagi, ini sudah menjelang siang. Mungkin dia akan makan siang di sini bersama kita," jawab Tuan Rasya dengan tenang.
"Gina sayang, bantuin Mama menata meja makan yuk, Nak. Sembari menunggu teman Papamu itu," ajak Nyonya Elisabeth kepada putrinya.
"Okeee Ma, siap sedia," jawab Gina dengan cepat melompat bangun dan memberikan sikap hormat kepada Mama nya.
Tak lama kemudian, terdengar suara mobil berhenti di depan rumah. Diikuti dengan suara yang tidak asing berkata "Kula nuwun, selamat siang. Apa ada orang di rumah?" tanya suara tersebut dengan bercanda.
Tentu saja bercanda, jelas sekali ada orang di dalam rumah karena pintu depan sudah terbuka lebar.
"Monggo, silakan masuk kawan. Kami sekeluarga sudah menantimu," sahut Tuan Rasya yang segera bergegas bangkit dari kursi dan segera memeluk sabahatnya tersebut dengan hangat. "Ayo.. Ayo masuk ke rumah. Mamanya Gina sudah membuatkan rawon untuk kita makan siang."
"Waaah, Nyonya Elisabeth, terima kasih lho sudah mau aku repotkan. Sering-seringlah seperti ini. Hahahaha," canda Professor Baraka menyahuti sahabatnya itu.
"Ini bukan hal yang besar Prof, dibandingkan dengan bantuan Professor kepada kami. Masakan ini bisa dibilang hal terkecil yang bisa kami lakukan untuk menyambut Profesor di rumah kami," Nyonya Elisabeth pun menjawab dengan riang.
"Selamat siang, Om. Selamat datang ke rumah kami," Gina pun tidak mau ketinggalan menyapa Professor Baraka. Gina sudah menganggap Profesor Baraka sebagai pamannya sendiri.
"Waah, Gina. Sudah besar ya sekarang. Sudah 13 tahun. Ini ada hadiah dari Om untuk Gina. Semoga semangat belajar ya Gina cantik," kata Profesor Baraka menjawab salam Gina. Professor Baraka mengeluarkan bungkusan besar dari dalam tasnya. "Ini dia Gina, diterima ya."
"Terima kasih Om," senyum Gina kecil terkembang menerima hadiah dari orang yang di kaguminya tersebut.
"Ayo Baraka, kita langsung makan saja. Sudah dimasakin rawon ini," ajak Tuan Rasya kepada Professor Baraka.
Mereka langsung menuju ke meja makan untuk makan bersama. Nasi putih hangat terhidang di tenggok nasi, sayur rawon yang berwarna hitampun masih mengepulkan uap panasnya, tanda baru saja matang dan diangkat dari kompor. Rawon yang di dalamnya berisi potongan daging sapi dan dimasak dengan kuah bumbu kluwek yang membuat warna hitam alami khas rawon Solo. Di meja juga terhidang kecambah mentah untuk campuran rawonnya, perkedel kentang yang dimasak bundar bundar pipih, tempe goreng dan telur bebek asin, juga tersedia kerupuk udah sebagai pelengkap hidangannya. Tak lupa bagian paling penting cita rasa Jawa, sambal terasi dengan perasan jeruk nipis di dalamnya, menambah aroma sedap dan mengundang untuk segera di santap.
Hari Sabtu berlalu dengan tenang. Setelah Profesor Baraka berpamitan pulang, Tuan Rasya, Nyonya Elisabeth dan Gina menghabiskan waktu bersama sebelum keberangkatan Tuan Rasya dan Nyonya Elisabeth ke Jakarta sebelum bertolak ke London.
Hari Minggu sore, Tuan Rasya dan Nyonya Elisabeth mengantarkan Gina kembali ke asramanya kembali. Gina sebenarnya tidak rela melepaskan Papa dan Mama nya untuk berangkat. Tanpa dia sadari, air mata mengalir dari kedua matanya. Sambil memeluk Mama nya, Gina berujar, "Mama, janji ya setelah selesai urusan dari luar negeri, langsung pulang menjemput Gina."
"Tentu saja sayangnya Mama. Mama dan Papa juga berat meninggalkan Gina di sini sendirian. Tapi ini kesempatan emas yang datang untuk usaha kita sayang," kata Nyonya Elisabeth memeluk putrinya dan mengelus rambut panjang Gina dengan kasih sayang.
"Betul, Nak. Papa dan Mama amat sangat berat meninggalkan Gina di sini. Tapi Gina harus ingat, sebentar lagi Gina ujian. Gina tidak boleh membolos sekolah ya sayang. Belajar untuk ujian akhir kenaikan kelas besok. Gina harus terus belajar apapun yang terjadi kelak.Janji ya, Sayang," kata Tuan Rasya ikut memeluk putrinya tersebut.
Sambil menangis penuh kesedihan, Gina mengangguk untuk mengiyakan perkataan Papanya tersebut. Masih belum puas hatinya memeluk kedua orang tuanya tersebut. Entah kapan lagi bisa berjumpa dengan Mama dan Papa nya lagi kelak. Mengingat hal itu, air mata semakin deras bergulir ke pipinya. Berat sekali hatinya melepaskan orang tuanya berangkat ke Jakarta dan bertolak ke London.
"Ya Tuhan, lindungilah kedua orang tua Gina. Lindungilah sampai kembali ke rumah lagi," doa Gina di dalam hatinya.
Dengan perlahan Papa dan Mama nya melepaskan pelukan Gina. Mengantarkan Gina ke kamarnya dan akhirnya Tuan Rasya dan Nyonya Elisabeth berpamitan untuk segera pulang dan bersiap menuju ke Jakarta. Dengan hati perih dan bagai tertindih batu besar, Gina melambaikan tangan mengantarkan kedua orang tuanya keluar dari komplek asrama. Melihat Mama dan Papa nya masuk ke dalam taksi yang mengantar Gina kembali ke asrama tadi.
"Hati-hati Ma, Pa. Gina sayang sekali dengan Mama dan Papa. Semoga perjalanan Mama dan Papa berhasil. Dan segera kembali pulang berkumpul dengan Gina lagi," ucap Gina dalam hati masih dengan melambaikan tangannya melihat taksi yang membawa orang tuanya berbelok keluar dari pandangan Gina.
............