Wait For Me, Professor!

Wait For Me, Professor!
Tinggal Kenangan Yang Melekat



Solo, awal Juni 1999


Masih teringat jelas kata-kata terakhirku ke Mama kemarin saat Papa dan Mama menelepon dari bandara dan mengabarkan tentang keterlambatan Papa Mama pulang ke rumah. Saat itu kecewa dan kesal yang kurasakan terhadap Papa dan Mama. Hanya kata-kata kasar yang terakhir aku ucapkan. Sekarang, lidahku kelu, tatapanku nanar memandang kedua orang tuaku sudah terbujur kaku di dalam peti mati. Kecelakaan mobil fatal yang menyebabkan kedua orang tuaku meninggal dunia, kata mereka. Mereka meninggal dengan masih bergandengan tangan, kata mereka. Akupun hanya bisa diam termangu dan air mata mengalir deras di pipiku. Mama, Papa, apakah Mama dan Papa sepakat bergandengan tangan meninggalkan Gina disini sendirian?


Aku melihat kembali ke arah peti mati berwarna putih itu. Teringat kembali ucapan-ucapan terakhirku kepada Mama. Hatiku semakin sakit dan sakit, hanya penyesalan yang mampir dalam dadaku. Kenapa kata-kata kasar itu yang terucapkan di saat-saat terakhir Papa dan Mama. Apakah Papa dan Mama kecewa karena aku ternyata bukanlah anak yang baik, tapi anak yang egois dan hanya mementingkan diri sendiri. Apakah aku tidak boleh merasa kecewa karena rasa rindu yang sangat tapi masih harus menunggu juga.


Mama, Papa, Gina sayang sekali dengan Mama dan Papa. Kata Mama dulu, Mama dan Papa pasti pulang dan menjemput Gina di asrama. Kata Mama dulu kita akan selalu bersama. Kata Mama dulu, Papa dan Mama akan terus ada sampai Gina kuliah, sampai Gina kerja, sampai Gina menikah bahkan sampai punya anak. Mama, mengapa Mama bohong? Mengapa Mama tidak menepati janji? Apakah Papa dan Mama tidak mau menemani Gina lagi? Gina nanti ikut siapa Ma? Gina maunya ikut Mama dan Papa. Gina tidak mau ditinggal sendirian. Gina tidak mau.


Isak tangisku semakin histeris di samping peti mati kedua orang tuaku. Yang aku tahu hanyalah aku harus memanggil Mama dan Papa. Agar Mama dan Papa mendengarku, agar tahu kalau aku sendirian di sini. Dan dengan baik hati Tuhan akan mengijinkan Mama dan Papa pulang kembali di sisiku.


"Maa, Mama sama Papa jangan pergi, Gina takut Ma, Pa.. Tolong sampaikan pada Tuhan agak Gina bisa ikut Mama dan Papa. Gina tidak mau sendirian." isak tangis Gina sangat memilukan.


Tetangga-tetangga yang melayat juga ikut tersedu sedan melihat Gina histeris. Hati mereka ikut merasa tersayat dan sangat iba melihat anak gadis Tuan Rasya dan Nyonya Elisabeth terpuruk dalam kesedihan yang teramat sangat. Saat takziah juga, Gina tidak mau beranjak dari sisi peti mati kedua orang tuanya. Hanya bisa menangis dan terus menangis. Setiap kali memanggil-manggil Mama dan Papa nya tersebut.


"Sabar Non, sabar. Ini ujian buat Non. Relakan Mama dan Papa Non Gina. Biar Mama dan Papa tenang di sana" Yu Narti berusaha menghibur Gina meskipun hatinya sendiri sangat sedih.


"Maa, Paa, jangan tinggalin Ginaaa.Gina gak mau sendirian di sini. Gina takuut.." ucap Gina di sela-sela tangisnya. Tidak mendengar sepatah katapun apa yang disampaikan tetangga dekatnya tersebut.


Di luar rumah banyak sekali pelayat yang berdatangan untuk mengucapkan salam perpisahan terakhir mereka dengan pasangan suami-istri yang sangat baik hati tersebut. Pak Sumedi beserta istri dan anaknya, Anto. Serta Pak Saino, adik Pak Sumedi juga hadir saat itu. Rekan-rekan bisnisnya dahulu juga hadir. Banyak sekali karangan bunga yang ada di pekarangan rumah duka tersebut, yang mewakili teman-teman Tuan Rasya yang tidak bisa hadir langsung.


Setelah acara takziah selesai dan saat peti mati tersebut diangkat untuk diberangkatkan ke makam, Gina menangis histeris. Sampai tidak kuasa menahan diri dan akhirnya jatuh pingsan. Yu Narti lah yang mengurus Gina di rumah saat warga memakamkan Tuan Rasya dan Nyonya Elisabeth.


Gundukan tanah itu masih berwarna merah saat keesokan harinya Gina mendatangi makam, setelah kemarin siang Gina pingsan sampai terbangun pagi ini. Dengan penuh tangis, Gina meminta kepada Yu Narti untuk mengantarkan ke makam orang tua nya. Sesampainya di makam Mama dan Papa nya, diciuminya nisan kedua orang tuanya. Dielusnya tanah merah tersebut seolah-olah mengelus Mama dan Papa nya langsung. Gina menangis sesenggukan memikirkan nasibnya ke depan.


Setelah Mama dan Papa pergi meninggalkan Gina selama-lamanya, tidak ada lagi sanak saudara yang tersisa. Gina benar-benar merasakan kesepian. Kesepian yang sampai menusuk ulu hatinya.


Dalam proses tepekur nya di samping makam Mama dan Papa nya itulah, Gina teringat masa-masa bahagia bersama dengan kedua oramg tuanya. Saat Mama dan Papa nya tersenyum bahagia waktu Gina lulus SD, tersenyum bangga saat Gina masuk SMP dan bisa masuk ke SMP bermutu dengan nilai yang lebih dari diatas cukup. Senyum saat merayakan ulang tahun nya di panti asuhan kemarin dan saat tersenyum lega mendapatkan kabar bahagia dari Om Baraka.


Saat itu pula lah, Gina bertekad untuk terus membuat Mama dan Papa nya tersenyum di surga. Gina akan jadi anak mandiri. Gina akan jadi anak pintar. Gina akan jadi anak yang baik. Gina tidak akan menyusahkan orang lain. Jadi Mama dan Papa hanya perlu melihat Gina dari sana dan tersenyum bahagia.


Hari sudah beranjak siang saat Gina dan Yu Narti pulang dari makam orang tua Gina. Sepanjang jalan pulang ke rumah, Gina masih tetap diam dan terlihat sekali berpikir keras. Sesampainya di rumah, tetangga-tetangga dekat masih menani Gina di rumahnya. Hatinya hangat karena melihat tetangga-tetangga rumahnya begitu peduli dengannya. Tidak membiarkan dia sendirian di rumah.


...........


Look into my eyes


You will see


What you mean to me


Search your heart


Search your soul


And when you find me there


You'll search no more


Don't tell me it's not worth tryin' for


You can't tell me it's not worth dyin' for


You know it's true


Everything I do


I do it for you


Look into your heart


You will find


There's nothin' there to hide


Take me as I am


Take my life


I would give it all


I would sacrifice


Don't tell me it's not worth fightin' for


I can't help it, there's nothin' I want more


You know it's true


Everything I do


I do it for you


Like your love


And no other


Could give more love


There's nowhere


Unless you're there


All the time


All the way, yeah


Look into your heart, baby


Oh you can't tell me it's not worth tryin' for


I can't help it, there's nothin' I want more


Yeah, I would fight for you


I lie for you


Walk the wire for you


Yeah, I'd die for you


You know it's true


Everything I do


Oh


I do it for you


Everything I do, darling


And we'll see it through


Oh we'll see it through


Oh yeah


Yeah


Look into your heart


Look at your soul


You can't tell me it ain't worth dying for


Oh yeah


I'll be there, yeah


I'll walk the wire for you


I will die for you


Oh yeah


I would die for you


I'm going all the way, all they way, yeah


............


Setelah mengucapkan terima kasih kepada tetangga-tetangga nya, Gina kembali masuk ke kamar. Air mata yang ditahannya sejak di jalan tadi, tumpah kembali setelah mendengar lagu Bryan Adam tersebut. Gina teringat Mama nya dulu, Mama nya bilang bahwa Papa dan Mama akan melakukan semua hal untuk Gina. (Everything I Do) I Do It For You.


..........


Hanya kenangan manis yang menjadi semangat kita untuk terus mengingat setiap jiwa-jiwa yang sidah berpulang.