
Solo, Februari 1999
Suasana pagi hari Rabu itu ramai seperti hari-hari biasanya. Sahut-sahutan para tukang menjajakan segala jenis dagangan.
"Solopos.. Solopos.. Solopos... Jawa Pos... Jawa Pos," teriak tukang koran dari sepeda onthelnya.
"Lele..lele.. kakap.. bandeeeeng Buuuuu." sahut tukang ikan tidak kalah keras, berusaha untuk menarik minat warga sekitar.
"Pik..pik..piiiiiiiiik," tukang kerupuk tidak kalah seru menawarkan kerupuk yang dibawanya.
Masih terdengar kencang nyanyian dari kaset horn tukang gethuk yang tadi dibeli Nyonya Elisabeth untuk suaminya.
..........
Sewu kuto uwis tak liwati
Sewu ati tak takoni
Nanging kabeh
Podo rangerteni
Lungamu neng endi
Pirang tahun anggonku nggoleki
Seprene durung biso nemoni
Wis tak coba
Nglaleake jenengmu
Soko atiku
Sak tenane aku ora ngapusi
Isih tresno sliramu
Umpamane kowe uwis mulyo
Lilo aku lilo
Yo mung siji dadi panyuwunku
Aku pengin ketemu
Senajan sak kedeping moto
Kanggo tombo kangen jroning dodo
Wis tak coba
Nglaliake jenengmu
Soko atiku
Sak tenane aku ora ngapusi
Isih tresno sliramu
Umpamane kowe uwis mulyo
Lilo aku lilo
Yo mung siji dadi panyuwunku
Aku pengin ketemu
Senajan wektumu mung sedhela
Tak nggo tombo kangen jroning dodo
Senajan sak kedeping moto
Tak nggo tombo kangen jroning dodo
.......
Suara Mas Didi Kempot tak kalah nyaring menyanyikan Sewu Kuto, tembang campur sari yang sedang laku pada saat itu.
"Pagi Ma." sapa Tuan Rasya kepada istrinya yang sedang sibuk di dapur.
"Selamat pagi Pa. Kopi dan gethuknya di atas meja ya" balas Nyonya Elisabeth.
"Terima kasih istriku." jawab Tuan Rasya sambil duduk menikmati kopi panas dan gethuk yang telah dihidangkan istrinya pagi itu.
"Pa, nanti kita kan ke rumahnya Pak Sumedi?" tanya Nyonya Elisabeth.
"Iya Ma, jadi kok. Nanti sekitar jam setengah delapan ya kita berangkat kesana" jawab Tuan Rasya sambil menikmati gethuk yang ada di tangannya.
"Kalau begitu, nanti mampir ke Pasar Nusukan ya Pa. Mama mau bawakan oleh-oleh buat Pak Sumedi sekeluarga." pinta Nyonya Elisabeth. Mengingatkan suaminya agar tidak lupa memperhatikan mantan karyawannya yang setia itu.
"Baik, nanti ingatkan ya kalau sudah dekat sana," sahut Tuan Rasya.
Tak lama setelah itu, setelah mereka bersiap-siap, Tuan Rasya dan Nyonya Elisabeth berangkat untuk menemui keluarga Pak Sumedi. Sepanjang perjalanan suasana Solo yang masih tampak asri, terlihat nyaman dipandang mata. Masih banyak pohon yang menaungi sari teriknya sinar matahari.
"Ma, kemarin saat aku di rumahnya Baraka, ada pertanyaan dia yang membuat aku berpikir." renung Tuan Rasya saat mendekati daerah terminal Solo.
"Maksud Papa, pertanyaan yang mana?" tanya Nyonya Elisabeth menimpali suaminya.
"Kemarin Baraka bertanya, apakah aku sempat mencurigai ada hal aneh yang terjadi saat pabrik kita yang di daerah Kalioso itu tutup." jelas Tuan Rasya pada istrinya.
"Saat aku bilang tidak mencurigai apapun. Baraka sempat menyinggung tentang saingan bisnis kita." lanjut Tuan Rasya.
"Oh yang itu. Iya, Mama dari semalem juga sudah memutar ulang saat-saat terakhir pabrik kita masih berdiri," jawab Nyonya Elisabeth.
"Saat Mama dulu bertanya kepada Papa kenapa orang kita berturut turut mengundurkan diri. Papa bilang mungkin mau berusaha sendiri dan memberi mereka uang lebih untuk memulai usaha sendiri " lanjut Nyonya Elisabeth memutar ulang ingatannya kembali ke masa lalu. "Pa, sudah dekat pasar, jangan lupa mampir ya," Nyonya Elisabeth mengingatkan Tuan Rasya.
Sepeda motor yang dinaiki Tuan Rasya dan Nyonya Elisabeth kembali meluncur ke utara. Menyeberangi rel kereta api yang penuh dengan laku lalang truk pembawa muatan keluar masuk kota Solo. Empat puluh lima menit kemudian, sampailah Tuan Rasya dan Nyonya Elisabeth di kediaman Tuan Sumedi, di desa Tuban, Kalioso.
"Kula nuwun." salam Tuan Rasya di depan pintu salah satu rumah. Sabar menanti jawaban dari si empunya rumah.
"Nggih. Sekedap Pak." jawab seorang wanita dari dalam rumah. Segera di bukakannya pintu rumah tersebut.
Nampak lah wanita tua yang bergegas membuka pintu rumahnya untuk sang tamu.
"Oh Pak Rasya, Bu Elly.. Monggo.. Monggo Pak, Bu masuk. Monggo duduk dulu. Monggo Pak, Bu. Nyuwun pangapunten, rumahnya jelek." kata wanita tua tadi yang ternyata Bu Sumedi, istri dari mantan karyawan setia nya.
"Nggih Bu, Terima kasih. Pak Sumedi ada Bu?" tanya Tuan Rasya setelah masuk dan duduk di kursi tamu.
"Ini Bu, oleh-oleh dari kami. Sehat-sehat Bu sekeluarga?" sambung Nyonya Elisabeth sembari mengulurkan buah tangan yang di bawanya tadi.
"Ada Pak, walaah, ini malah ngerepotin Bapak Ibu sekalian. Matur nuwun Bu, Pak. Monggo silakan duduk dulu. Saya panggilkan Bapak sebentar nggih." sahut Bu Sumedi dengan sumringah.
Dari dalam rumah terdengar suara Bu Sumedi memanggil suaminya yang kelihatannya sedang berada di kamar mandi. "Pak, ada Pak Rasya sama Bu Elly datang ke rumah." kata Bu Sumedi.
"Yang benar Bu?!" balas Pak Sumedi kaget.
"Benar, beliau sudah duduk di depan itu lho. Cepat mandi nya, jangan sampai Pak Rasya menunggu terlalu lama." kata Bu Sumedi.
"Yo Bu..Aku segera keluar. Tunggu bentar yo." sahut Pak Sumedi bersemangat. Senang dan kaget sekali mantan majikannya yang baik hati dan pemurah berkunjung ke rumahnya yang tidak seberapa ini.
"Silakan di minum dulu Pak, Bu. Monggo di rasakan juga singkong dan kacang rebus nya. Maaf, di desa hidangannya ya seperti ini Pak, Bu adanya." kata Bu Sumedi lagi saat keluar menghindangkan teh hangat beserta makanan yang ada.
"Nuwun Bu, tidak apa-apa. Ini namanya makanan sehat." sahut Tuan Rasya sambil bercanda.
"Hehehehe, njih Pak. Matur nuwun." kata Bu Sumedi tidak canggung lagi.
Tuan Rasya dan Nyonya Elisabeth tanpa malu-malu lagi mengambil singkong dan kacang rebus tadi. Demi menghormati tuan rumah yang ramah itu dan menunggu Pak Sumedi keluar.
"Waaah, Selamat pagi Pak Rasya, Bu Elisabeth. Matur nuwun, sudah mengunjungi gubuk saya ini." Pak Sumedi bergegas keluar kelihatan segar setelah mandi dan keluar menyapa dan menyalami mantan majikannya tersebut.
"Ooh yayaya Pak Sumedi. Kami ingin berkunjung ke rumah Bapak. Sudah hampir setahun ya kita tidak bertemu." sahut Tuan Rasya menerima jabat tangan dari si empunya rumah. "Kelihatannya Pak Sumedi tambah sehat saja." tambah Tuan Rasya mencairkan suasana.
"Yaah, bagaimana tidak sehat Pak. Sekarang terpaksa sering olah raga. Pagi-pagi subuh sudah harus ke sawah. Buruh tani Pak." sahut Pak Sumedi menyunggingkan senyum nya.
"Hahaha, pantesan Bapak tambah bugar saja ini." canda Tuan Rasya kembali.
"Nggih Pak. Matur nuwun atas perhatiannya." sahut Pak Sumedi kembali.
"Sekarang anak-anak di mana, Bu? Rumah kok sepi?" tanya Nyonya Elisabeth kepada Bu Sumedi.
"Yaah. Setelah beberapa lama berlalu dan sudah tidak bekerja lagi di pabriknya Bapak. Anak kami memilih untuk merantau Bu." sahut Pak Sumedi menjawab pertanyaan Nyonya Elisabeth.
"Iya Bu, si Anto, anak sulung kami lebih memilih ke Jakarta ikut teman-temannya. Katanya di sana banyak pekerjaan. Ikut-ikut di proyek gitu katanya Bu." sambung Bu Sumedi.
"Oh jadi Pak Saino membuka warung bakso ya." tanya Tuan Rasya penasaran.
"Betul Pak, dengan uang yang Bapak dulu berikan, bisa kami buat modal usaha. Bagian saya, saya bagi dua ke anak-anak saya. Untuk tambah-tambah mereka merantau Pak. Kalau saya disini, lebih memilih jadi buruh tani saja. Sudah cukup untuk kami berdua" tutur Pak Sumedi.
"Syukur Pak kalau berguna uangnya. Kami ikut bahagia untuk Bapak sekeluarga." senyum Nyonya Elisabeth terkembang mengetahui kelanjutan hidup keluarga dari mantan karyawan suaminya yang setia itu.
"Tapi, Pak Sumedi, bukankah dulu saat karyawan banyak yang ijin keluar dari pabrik itu, katanya mereka mau berusaha sendiri. Tapi saat kami masuk kampung ini tadi, kok tidak ada tanda-tanda usaha batik ya?" pancing Tuan Rasya yang saat itu memang ingin tahu.
"Yaah, itulah Pak. Akibat tergiur dengan iming iming upah yang lebih tinggi dari tempat Bapak dulu. Mereka lebih memilih menggigit tangan orang yang memberi mereka makan. Akhirnya sekarang mereka juga jadi buruh tani seperti saya. Bedanya, banyak dari mereka yang tidak berkembang dengan uang yang Bapak berikan dulu sebagai modal untuk hidup mereka." lanjut Pak Sumedi menceritakan masa lalu.
"Lho memangnya ada yang mengiming imingi upah lebih ya Pak?" tanya Tuan Rasya semakin penasaran.
"Iya, ada Pak. Kata mereka, ada juragan yang mau buka pabrik di kampung sebelah. Jadi mencari orang-orang yang sudah berpengalaman sebagai karyawan dengan upah lebih tinggi dari di tempat Bapak. Antek-antek itu datang malam hari Pak, setelah semua sudah di rumah selepas pulang dari pabrik." jelas Pak Sumedi.
"Siapa Pak yang dulu menghasut anak-anak pabrik untuk keluar?" tanya Tuan Rasya semakin penasaran dengan jawaban Pak Sumedi.
"Saya sendiri juga tidak begitu tahu Pak. Karena saat mereka datang kesini dan bilang mau menawarkan upah lebih tinggi dari pabrik yang sekarang. Langsung saya tolak sambil marah-marah. Saya usir mereka," kenang Pak Sumedi melanjutkan ceritanya. "Saya merasa aneh, mengapa tiba-tiba di datangi oleh orang yang tidak saya kenal membujuk untuk meninggalkan pabrik tempat saya bekerja." lanjut Pak Sumedi
"Jadi, dulu benar-benar ada yang membujuk anak-anak untuk meninggalkan pabrik ya Pak?" Tuan Rasya kaget bukan kepalang. Selama ini Tuan Rasya menyangka mereka ingin keluar karena ingin memajukan kehidupan mereka dengan berusaha sendiri.
"Ada Pak. Tapi saya tidak tega menyampaikan ke Bapak langsung karena anak-anak di pabrik sudah memutuskan untuk pindah dan mereka juga bilang kalau ada yang membocorkan hal ini, maka akan dikucilkan, kata mereka" jawab Pak Sumedi merasa bersalah.
"Kami sekeluarga tetap memutuskan untuk bertahan di pabrik Bapak karena kami percaya, apa yang datang tiba-tiba dengan iming-iming luar biasa, biasanya tidak berlangsung lama. Dulu saat di pabrik, mereka juga dengan semangat menanti hari Sabtu untuk meminta ijin Bapak keluar setelah menerima upah. Mereka bilang pabriknya lebih besar karena pemiliknya itu pemilik batik yang terkenal di Solo." lanjutnya menjelaskan detail yang muncul setelah bercerita.
"Apa Pak Sumedi tahu kira-kira siapa nama pemilik pabrik baru itu? dan bagaimana kabar pabriknya sekarang?" selidik Tuan Rasya.
"Pabriknya tidak bertahan lama Pak. Setelah mereka mengundurkan diri, hanya bertahan selama beberapa bulan. Lebih lama bertahan pabrik Bapak dulu itu. Pabrik baru yang katanya di bangun di kampung sebelah, ternyata dengan semena-mena langsung menghentikan produksi setelah ada isu kenaikan bahan baku produksi. Dan memecat semua karyawan pabrik tanpa pesangon yang berarti." kabar Pak Sumedi menceritakan kejadian yang terjadi hampir setahun yang lalu itu.
"Iya Pak. Dulu saat mereka sudah diberhentikan dari pabrik di kampung sebelah, banyak yang kemari untuk mengadu untung minta tolong pada Bapak supaya Bapak mau menyampaikan kepada Pak Rasya agar menerima mereka kembali ke pabrik. Bapak ingatkan si Marno dan Ngadi dulu itu." sambung Bu Sumedi mengingatkan suaminya.
"Oh iya, benar juga Bu, aku lupa itu." jawab Pak Sumedi membenarkan istrinya. "Benar Pak, dulu Marno dan Ngadi datang kesini bilang begitu. Saya bilang saja, lha wong kerjaan di pabrik sekarang juga gak tiap hari ada. Kalau ada baru kerja kalau gak ada paling cuma membersihkan pabrik dan mengolah malam lagi" tutur Pak Sumedi.
"Hmm, jadi begitu ya Pak sebenarnya dulu itu. Tapi untung juga mereka meminta keluar sebelum terjadi krisis. Kalau belum keluar saya juga yang semakin tekor. Hahaha." canda Tuan Rasya.
"Bapak bisa saja to bercandanya." sambung Bu Sumedi ikut tertawa. "Dulu kami juga ikut prihatin mereka yang keburu-buru keluar itu seperti nya tidak di kasih pesangon memadai lho Pak. tidak bisa melanjutkan usaha seperti adik saya dan anak-anak kami. Syukur kami tidak mau mengkhianati Bapak untuk ikut keluar." sahut suaminya.
"Betul Pak Rasya, Bu Elisabeth. Dulu kami sekeluarga sempat dikatain bodoh karena tidak ikut pindah bersama dengan mereka. Tapi kami yakin, kalau kami ikut mengkhianati Bapak yang selama ini memberi kami pekerjaan dan kehidupan, hasilnya tidak akan baik." lanjut Pak Sumedi dengan rasa haru.
"Sudah, sudah Pak, Bu. Jangan bersedih lagi. Sekarang yang penting sudah lebih makmur kan ya kehidupan sekeluarga. Kami ikut senang Pak." tambah Nyonya Elisabeth kepada Pak Sumedi dan istrinya.
Setelah itu mereka melanjutkan mengobrol santai menanyakan banyak hal sambil memakan hidangan yang dikeluarkan Bu Sumedi tadi. Teh hangat, singkong dan kacang rebusnya. Setelah puas berbicara dan mengenang masa lalu, Tuan Rasya dan Nyonya Elisabeth berpamitan pulang. Dengan mengendarai motornya Tuan Rasya bersama dengan istrinya kembali menyusuri jalan Kalioso ke Solo untuk pulang ke rumah.
Sesampainya di rumah, pasangan ini segera berdiskusi tentang apa yang didapatkannya tadi di rumah mantan karyawan ya di Kalioso. Tuan Rasya masih tidak percaya mengetahui bahwa ternyata di balik keluarnya karyawan di pabriknya dahulu, ada orang yang menyabotase karyawan karyawannya. Nyonya Elisabeth tahu bahwa suaminya juga sedih. Karena ternyata kehancuran pabriknya tidak hanya di sebabkan oleh krisis moneter yang melanda Indonesia tahun lalu. Tapi juga karena ulah curang segelintir orang yang tidak suka dengan kesuksesan pabriknya. Saingannya kah? Ataukah hanya orang yang tidak suka pabrik Tuan Rasya berkembang dan menjadi penyokong kehidupan masyarakat di desa Tuban, Kalioso.
.....
Tetes air mata basahi pipimu
Di saat kita 'kan berpisah
Terucapkan janji padamu kasihku
Takkan kulupakan dirimu
Begitu beratnya kau lepas diriku
Sebut namaku jika kau rindukan aku
Aku akan datang
Mungkinkah kita 'kan selalu bersama
Walau terbentang jarak antara kita
Biarkan kupeluk erat bayangmu
'Tuk melepaskan semua kerinduanku
Lambaian tanganmu iringi langkahku
Terbersit tanya di hatiku
Akankah dirimu 'kan tetap milikku
Saat kembali di pelukanku
Mungkinkah kita 'kan selalu bersama
Walau terbentang jarak antara kita
Biarkan kupeluk erat bayangmu
'Tuk melepaskan semua kerinduanku
O-oh
Begitu beratnya kau lepas diriku
Sebut namaku jika kau rindukan aku
Aku akan datang
Mungkinkah kita 'kan selalu bersama
Walau terbentang jarak antara kita
Biarkan kupeluk erat bayangmu
'Tuk melepaskan semua kerinduanku
Kau kusayang, selalu kujaga
Takkan kulepas selamanya
Hilangkanlah keraguanmu
Pada diriku
Di saat
Kujauh darimu
..........
Lagu Stinky mengalun merdu keluar dari radio di ruang tengah. Tuan Rasya dan istrinya sengaja menunggu kabar dari sahabat Tuan Rasya yang telah berjanji untuk menelepon pada sore hari. Sembari menikmati kopi panas dan sosis solo buatan Nyonya Elisabeth, Tuan Rasya merenungkan banyak hal yang baru saja diketahuinya.
Kriiing...kriiiing...kriiiing...
"Halo, Selamat sore." Nyonya Elisabeth mengangkat telepon.
"Selamat sore Nyonya Elly. apakah suamimu ada?" ternyata Professor Baraka yang menelepon.
"Tentu saja. Telepon anda sudah ditunggu-tunggunya dari tadi." Nyonya Elisabeth menjawabnya sambil tersenyum senang dan menyerahkan gagang telepon kepada suaminya yang sudah berada di sisinya.
"Halo Baraka, ini Rasya. Bagaimana?" tanya Tuan Rasya buru-buru ingin mengetahui jawaban dari Profesor Baraka.
"Hahahaha, kau sudah cemas ya menunggu jawaban dari Mrs. Katherine," goda Professor Baraka. "Tentu saja beliau masih tetap ingin bekerja sama denganmu. Dan Mrs. Katherine ingin sekali bertemu denganmu. Katanya sekalian ingin membicarakan ajakannya untuk ikut dalan pameran fashion awal tahun depan di London." lanjut Professor Baraka.
"Benarkah? Jadi kapan kami bisa bertemu?" tanya Tuan Rasya antusias.
"Mrs. Katherine sudah menjadwalkan kalian untuk berangkat ke London Hari Senin depan. Lebih cepat lebih baik, kata beliau. Tiketnya segera aku kirim ya ke kamu." sahut Professor Baraka pada sahabatnya.
"Baik, Terima kasih Baraka. Kami masih punya waktu untuk berpamitan pada Gina kalau begitu. Biar dia tidak merasa ditinggalkan." kata Tuan Rasya.
"Yayaya, betul. Gina pasti sangat sedih bila ditinggal tanpa pamitan ya." Professor Baraka mengiyakan. "Oke, kalau begitu aku tutup dulu ya. Sabtu pagi aku ke Solo, Rasya. Dipanggil untuk mengisi Kuliah Akbar di Universitas Sebelas Maret. Sabtu sekalian aku mampir ke rumahmu." imbuh Professor Baraka.
"Ya Baraka. Kami tunggu kehadiranmu ya Sabtu besok." kata Tuan Rasya menutup telepon setelahnya.
Bahagia terpancar dari wajah Tuan Rasya saat memberi tahu istrinya apa yang disampaikan sahabatnya tadi. Bersyukur karena istrinya sudah menyiapkan apa yang akan di bawanya dalam koper koper bepergiannya.
"Ma, kita sudah dijadwalkan berangkat ke London Senin besok. Jadi kita bisa memberi tahu Gina dan bisa berpamitan padanya. Anak itu, kalau di tinggal sendiri tanpa pemberitahuan pasti mengamuk. Apalagi tahu bahwa kita akan ke London tanpa mengajak dia." Tuan Rasya memberitahu istrinya.
"Benar Pa? Senin besok ya? Syukurlah masih ada waktu untuk Gina sebelum kita berangkat." senyum Nyonya Elisabeth saat membicarakan anak semata wayangnya. "Yasudah Pa, jangan lupa membawa lembar presentasi yang Mama persiapkan ya untuk Mrs. Katherine." imbuhnya kembali.
"Ayo, kita makan dulu Pa. nasi dan lauknya sudah matang." ajak Nyonya Elisabeth
"Baik Ma, setelah makan Papa akan masukkan koper hasil kerja Mama." sahut Tuan Rasya.
.............
Percayalah di dunia ini masih ada orang-orang yang baik. Jika di sekelilingmu tidak ada orang baik, maka jadilah orang baik tersebut. Untuk diri dan orang lain.