Wait For Me, Professor!

Wait For Me, Professor!
Teman Masa Kecil



"Aduh, siapa yang menelpon saat aku mau mendekatkan diri dengan Gina, sih," batin Indra dengan gemas.


kriiing.. kriiing.. kriiiing


Blackberry nya terus saja berdering, mengingatkan akan penelpon yang masih menunggu jawabannya di seberang sana. Rambut yang tadi dipegangnya, ditatik kembali oleh si empunya. Tidak ada alasan lagi baginya untuk tidak menjawab deringan telepon tadi.


"Halo, selamat siang. Dengan siapa saya bicara," kata Indra pada benda yang sekarang berada di dekat kuping dan mulutnya.


"Ini Stevani. Masih ingatkah kamu denganku?" jawab suara merdu seorang perempuan di ujung teleponnya.


Indra yang berjalan keluar dari kantor mendadak berhenti dan mengerutkan dahinya mengingat siapa yang dimaksudkan suara tadi.


"Stevani siapa ya? Maaf apakah salah sambung?" lanjut Indra karena tidak menemukan jawaban dari ingatan yang di galinya tadi.


"Astaga Indra, masih tidak ingat kepadaku? Dulu waktu kecil, kita sering bermain bersama di rumah Pakde Hadijoyo," sambung suara yang mengaku bernama Stevani tadi.


"Stevani? Seingatku, aku tidak punya teman bernama Stevani. Dulu aku saat kecil hanya bermain dengan Anik," sangkal Indra dengan penuh keyakinan.


"Hahahaha, Indraaa, Indra. Anik adalah nama panggilan dari keluargaku yang tidak bisa aku pilih sendiri. Sekarang aku sudah dewasa dan nama panggilanku adalah Ste-va-ni," jelas Stevani lebih lanjut.


"Ya ampuuun. Ternyata beneran Anik, eh maaf Stevani. Bagaimana kabarnya? Bagaimana bisa tahu nomerku? Sekarang lagi di mana?" cerocos Indra memberondong twman kecilnya itu dengan berbagai macam pertanyaan.


"Kamu lagi ada di mana? Kita ketemuan yuk. Nanti aku jelaskan semuanya saat kita bertemu," ajak Stevani kepada Indra.


"Sekarang aku belum bisa. Nanti sebelum makan siang aku baru bisa longgar. Sekarang kamu dimana ini?" tanya Indra kembali.


"Sekarang lagi ada di perpustakaan fakultas hukum. Di kampusmu," jawab Stevani sambil tertawa geli.


"Astaga, bagaimana kau tahu.. ahh, sudahlah. Nanti saja jawabnya. Tunggu di sana sampai jam sebelas an siang ya. Aku masih ada tugas di kantor dan sebentar lagi selesai," pinta Indra riang.


"Baik, aku akan tunggu disini. Kebetulan ada banyak buku-buku yang bisa aku baca disini," Stevani menyetujui permintaan Indra untuk menunggunya.


Setelah menutup telepon, Indra kembali lagi masuk ke kantor. Dan melihat Gina tekun sekali mengerjakan tugasnya, senyum senangpun terkembang di bibirnya. Dengan perlahan Indra menuju ke mejanya dan duduk sembari melihat Gina yang sedang mengangguk-angguk mengikuti lagu entah apa yang terdengar di telinganya itu.


"Hahaha, kamu ngapain, nona cantik?" tanya Indra karena melihat Gina bersorak senang sekali.


"Aduuh, lucu sekali reaksinya tahu aku sudah masuk lagi disini. Jadi tambah suka dengan kepolosannya itu," guman hati Indra yang menyandarkan tubuhnya semakin ke depan untuk melihat ekspresi Gina.


"Pak Indra, saya sudah selesai mengerjakan tugas untuk Profesor Baraka. Jadi saya pamit dulu ya. Tolong sampaikan ke Profesor Baraka, kertas-kertasnya sudah sesuai dengan nomer urut absensi, jadi lebih mudah untuk memberi penilaiannya. Terima kasih ya. Selamat siang," kata Gina memasuki telinga Indra.


"Tapi, Profesor Baraka sedang...." seru Indra yang sepertinya tidak di dengarkan oleh Gina yang telah berlari keluar ruangan.


Indra geleng-geleng kepala menyaksikan polah Gina, segera Indra meneruskan pekerjaan yang tadi tertunda karena Gina memasuki ruangan kantornya. karena tidak ada yang memecah konsentrasinya, pekerjaannya pun segera bisa di selesaikan. Akhirnya, setelah beberapa saat, bisa mematikan juga laptopnya dan memasukkannya ke dalan tas. Di cek kembali meja Profesor Baraka sekali lagi untuk memastikan pekerjaan Gina tadi beres dan sudah di susun sesuai dengan absensi.


Setelah itu Indra berjalan ke luar ruangan dan melihat jam tangan di pergelangan tangan kirinya. Sudah jam sebelas kurang lima menit. Indra bergegas melangkahkan kakinya ke perpustakaan, menemui teman masa kecilnya yang menunggu di sana.


Dibukanya pintu perpustakaan, dan diedarkan pandangan matanya ke seluruh ruangan perpustakaan. Di sana, di salah satu deretan meja dilihatnya seorang wanita dengan rambut hitam dipotong pendek di bawah telinga, memakai anting bundar besar, mengenakan blouse warna marun dan celana panjang warna hitam. Dipadankan dengan jam tangan bundar kecil bertali kulit hitam, tas hitam dan sepatu marun yang serasi dengan pakaiannya. Sangat cocok sekali dengan kulitnya yang putih bersih.


Dialah wanita yang di cari oleh Indra tadi, teman masa kecilnya, Anik yang sekarang berganti nama panggilan menjadi Stevani. Indra berjalan memasuki perpustakaan langsung menuju Stevani, disapanya sambil lalu Bang Jack yang selalu ada di meja jaga perpustakaan.


"Hai Stevani, akhirnya bertemu. Sudah lama menunggu ya?" sapa Indra setelah sampai di samping meja Stevani.


"Tidak lama. Tapi aku jadi bisa membaca sebentar buku hukum yang ada di sini. Lumayan lengkap juga perpustakaan fakultasmu ini," jawab Stevani riang.


Indra mengangguk membenarkan kata-kata Stevani tadi. Memang perpustakaan fakultas hukum di sini bisa dibilang lebih lengkap daripada di perpustakaan pusat Universitas. "Kita keluar cari makan yuk, kebetulan sudah waktunya makan siang," ajak Indra kepada Stevani langsung.


"Oke, kamu yang pilihkan tempatnya ya. Aku tidak tahu wilayah ini," kata Stevani sambil menutup buku yang ada di hadapannya dan langsung mengangkat badannya dari kursi tempatnya duduk tadi.


"Siap. Bakalan enak dan murah. Nyaman untuk ngobrol juga," sombong Indra seolah-olah Indra yang paling mengenal kawasan kampus ini.


Indra mengajak Stevani ke sebuah kafe tempatnya ketemu Gina untuk pertama kalinya dulu. Benar, suasana kafe nya tidak terlalu rame dan nyaman untuk berbicara.


"Selamat siang. Silakan menu nya, apa yang mau dipesan?" tanya waiters yang langsung datang melayani saat melihat tamu sudah mengambil tempat duduk.


"Ayo, pilih saja, tidak usah malu-malu. Banyak piliham disini. Nasi goreng, mie goreng, mie ayam, steak, kue-kue enak," kata Indra kepada Stevani sambil membuka menu yang ada di tangannya.


"Mba, saya pesan nasi goreng ayam crispy satu sama es jeruk manis satu ya," pesan Indra kepada waiters yang langsung menuliskan pesanannya.


"Saya ini aja deh Mba, minta salad buah satu dan air putih satu ya," sambung Stevani memesan makanannya juga.


"Wanita ya, makannya cuma dikit aja. Apa sih yang kamu takutkan Stev?" selidik Indra heran melihat pesanan temannya tadi.


"Hahaha kamu tidak tahu wanita saja. Aku makan salad hanya untuk menemanimu makan siang saja. Nanti aku sudah ada janji makan siang dengan Pakde Hadijoyo," kata Stevani menertawakan tudingan Indra.


"Lho, pakde mau ke Jogja? Kenapa tidak bilang padaku ya? Kan bisa aku temui," heran Indra mendengar informasi dari Stevani tersebut.


"Kata Pakde sih tadi mau ke toko souvenir. Menindak lanjuti kerja sama untuk memajang batik-batiknya di sana. Tapi dimana tempatnya, aku kurang tahu juga," jelas Stevani panjang lebar.


Tak lama kemudian, pesanan makanan mereka pun datang. Dibiarkannya waiters menata pesanan mereka dahulu sebelum melanjutkan untuk bercakap-cakap.


"Terima kasih, mba," kata Indra kepada waiters tadi.


Setelah semua pesanan keluar dan di tata di meja depan mereka, obrolanpun mereka lanjutkan kembali sembari menyantap apa yang telah terhidang di meja.


...........


*Tersadar didalam sepiku


Setelah jauh melangkah


Cahaya kasihmu menuntunku


Kembali dalam dekap tanganmu


Terima kasih cinta untuk segalanya


Kau berikan lagi kesempatan itu


Tak akan terulang lagi


Yang pernah menyakitimu


Tanpamu tiada berarti


Tak mampu lagi berdiri


Cahaya kasihmu menuntunku


Kembali dalam dekap tanganmu


Terima kasih cinta untuk segalanya


Kau berikan lagi kesempatan itu


Tak akan terulang lagi


Yang pernah menyakitimu


Terima kasih cinta untuk segalanya


Kau berikan lagi kesempatan itu


Tak akan terulang lagi


Kesalahanku


Yang pernah menyakitimu*


.............


Alunan lirih lagu Afgan yang berjudul Terima Kasih Cinta tadi menemani semua orang yang sedang makan siang di kafe itu. Panas terik yang menyengat di luar, tidak mempengaruhi suasana sejuk di dalam ruangan kafe.


Pun begitu dengan Indra dan Stevani, mereka masih bicara tentang banyak hal meskipun setelah selesai makan. Ternyata ada banyak hal yang terjadi setelah tidak bertemu sejak kecil dahulu.


"Aku sebenarnya dapat nomer handphonemu dari Pakde Hadijoyo. Kemarin saat aku liburan dari pekerjaanku di Jakarta, aku main ke butiknya Hadijoyo, ternyata bertemu dengan Pakde disana," terang Stevani teringat atas pertanyaan Indra di telepon tadi.


"Jadi Pakde yang memberikannya. Tidak apa-apa, Aku hanya terkejut karena sudah sangat lama kita tidak bertemu," jawab Indra sambil manggut-manggut.


"Karena Pakde bilang kamu kerja di Jogja, jadi ya iseng aja aku pergi kesini, pengen bertemu denganmu langsung," ucap Stevani sambil menyeruput air putih yang tadi dipesannya.


kriiiing....kriiing... kriiiing..


"Ini pasti Pakde. Beliau bilang kalau siang ini mau mengajakku makan siang setelah urusannya selesai," Stevani bicara saat mengeluarkan blackberry dari dalam tasnya.


Diangkatnya panggilan tadi dan dengan kata, "Sebentar ya," tanpa suara yang ditujukan pada Indra di seberang meja.


"Halo Pakde, selamat siang. Ya, ini aku sedang bersama dengan Indra. Oh gitu, baik. Coba saya tanyakan dulu ya," kata Stevani melirik pada Indra.


Ditutupinya handphone dengan tangannya dan berkata, "Apa kau sudah selesai tugas hari ini? Pakde minta kita jemput di toko souvenir nih," tanya Stevani pada Indra yang asyik minum es jeruknya.


"Oke, aku bisa jemput Pakde," jawab Indra sambil mengajungkan jempolnya tanda setuju.


Indra dan Stevani berjalan kembali ke kampus setelah keluar dari kafe. Mengarah ke parkiran untuk mengambil mobil Indra dan melaju ke tempat Pakde Hadijoyo meminta untuk di jemput.


Tak berapa lama kemudian Indra dan Stevani sudah ada di luar toko souvenir di Jalan Malioboro. Dibiarkannya Stevani yang menghubungi Pakde Hadijoyo, karena Stevani lah yang tadi ditelpon oleh pakdenya itu.


"Yuk, kata Pakde langsung masuk saja ke dalam," ajak Stevani kepada Indra dan lamgsung memasuki area toko souvenir tadi.


Memasuki toko souvenir tadi, suasana nya berubah jadi suasana Jogja asli. Hiasan-hiasannya, lantai, dinding dan tangganya yang terbuat dari kayu di bersihkan secara cermat. Indra menyapukan pandangannya ke semua penjuru toko. Dilihatnya sekelebat sosok yang sangat dikenalnya dengan baik.


Konsentrasi Indra pecah saat tangannya di tarik oleh Stevani untuk menaiki tangga menuju lantai atas. "Ayo kita naik langsung," Stevani menyeretnya menuju tangga.


"Tidak Stev, kamu naiklah dulu. Bilang pada Pakde aku tunggu di bawah," jawab Indra sambil matanya masih mencari-cari sosok berkuncir kuda tadi.


Dilepaskannya tangan yang menggamit lengannya tadi dan Indra bergegas menuju ke area belakang toko. Senyumannya semakin jelas tercetak di bibirnya. Ternyata benar, sosok tadi adalah sosok yang sangat dikenalnya, Gina Wilde. Kali ini Gina mengenakan baju putih, celana panjang hitam, sepatu hitam tanpa hak, jam tangan masih melekat di pergelangan tangan kirinya. Yang berbeda kali ini adalah bahwa dia menggunakan kain batik untuk tapian di sekeliling pinggang rampingnya.


Dihampirinya Gina dengan langkah perlahan-lahan, sampai mata Gina bersiborok dengan matanya. Senang sekali Indra saat mata Gina semakin membeliak lebar mengetahui Indra yang menuju ke arahnya.


"Mau apa kamu kesini?" tanya Gina masih dengan mata melolot dan dengan jari menunjuk pada Indra karena tak percaya.


Indra sama sekali tidak menjawab, hanya berdiri diam di depan Gina. Memasukkan kedua tangannya kedalam saku celana panjangnya. Senyum Indra melebar melihat reaksi Gina yang terlalu berlebihan tadi. Dengan jahil dinaik-naikkannya kedua alis Indra untuk menambah godaannya pada Gina.


"Takdir memang selalu mempertemukan kita," jawab Indra sekenanya.


Mendengar jawaban ngawur dari Indra, bergegas Gina berbalik dan dengan sigap dirapikannya barang-barang dagangan yang menjadi tanggung jawabnya di toko tersebut. Tak di hiraukannya Indra yang masih merendengi setiap pergerakan Gina yang sedang merapikan barang-barang tanggung jawabnya di rak-rak display.


"Indra, sedang apa kamu disana. Ayo kita pergi," tegur suara berat pria yang ternyata milik Pakde Hadijoyo.


"Ya Pakde, Indra datang," jawab Indra. "Nah, aku pergi dulu ya, nona cantik," bisik Indra kepada Gina yang berada di dekatnya.


Indrapun berlalu dari sisi Gina untuk menemui laki-laki yang memanggilnya tadi. Gina membalik badannya dengan sedikit mengerucutkan bibirnya. Dilihatnya laki-laki yang tadi siang di tabraknya di lantai tiga. Dan dilihatnya pula lengan Indra digamit seorang perempuan berparas cantik, berkaki jenjang dan berambut pendek.


Ada sedikit rasa cubitan di hatinya. Tapi karena Gina tidak mau memikirkannya lebih lanjut, maka dikedikkan bahunya untuk membiarkan masalah itu berlalu. Kembali Gina melayani pelanggan yang bertanya-tanya tentang barang yang dijaganya itu.