
Jogja, Juli 2008
Alunan suara jangkrik dan binatang-binatang malam terdengar jelas pada dini hari yang sunyi malam itu. Menemani Gina yang masih terjaga membaca berkas-berkas yang ada di hadapannya. Akan tetapi pikiran Gina tidak bisa fokus kepada baris-baris tulisan yang ada di dalam berkas-berkas tersebut. Pikiran Gina masih melayang-layang pada kejadian yang baru terjadi beberapa jam yang lalu.
Gina sedang melamun dan memiringkan kepalanya. Ditopangkan kepalanya itu dengan tangan kiri. Rambut panjangnya dikuncir dan dikumpulkan di atas kepala. Mata Gina menatap ke dinding yang penuh dengan tempelan catatan di depan meja belajarnya. Tangan kanannya memegang pulpen yang sedari tadi Gina main-mainkan diantara jari-jari. Di dengarnya detik jam yang berada di meja, suara detikannya yang konstan seakan tidak berpadu indah dengan suara jangkrik dan binatang malam yang saat itu terdengar olehnya.
Gina memutar kembali percakapan di angkringan pinggir jalan tadi. Banyak hal yang di katakan oleh Indra kepadanya. Tetapi anehnya, mengapa Indra menceritakan semua itu kepadanya? Gina mendecakkan mulutnya, keningnya berkerut masih belum memahami alasan Indra meminta pendapatnya untuk suatu masalah yang sebenarnya bisa di selesaikan Indra sendiri. Bukankah Indra sudah jauh usianya di atas Gina? Bukankah Stevani--teman masa kecil Indra--juga sudah dewasa dan cukup umur untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya sendiri.
Apa yang maksud Indra yang sebenarnya dengan meminta pendapat Gina dalam hal yang sama sekali tidak berhubungan dengan Gina? Apa sebenarnya maksud Indra tadi? Mengapa dia bertanya hal itu dengan serius kepadaku? tanya Gina di dalam hati kecilnya. Gina teringat bagaimana Indra memandang matanya dalam-dalam dan serius menanti jawaban darinya. Serta masih teringat jelas mata hitam Indra yang dalam bagai mutu manikam menatap matanya, seolah-olah memerangkap seluruh tubuh Gina, sehingga Gina tidak bisa bergerak dan hanya bisa menatap balik biji mutu manikam itu.
Aduh, kenapa aku jadi seperti ini? Aneh sekali aku tidak bisa konsentrasi dan hanya terbayang-bayang semua percakapan dan semua tindak tanduk Indra, malam ini, gumam Gina sambil menggeleng-gelangkan kepalanya. Memang benar, setelah tadi Gina pulang diantarkan oleh Indra ke rumah kontrakannya, Gina tertidur dengan lelap, karena akumulasi kepenatan seharian terjaga dan mengalami berbagai hal sekaligus. Saat ini Gina sudah sepenuhnya terjaga. Seolah-olah ada tenaga lebih yang membuat dirinya menjadi penuh semangat. Entah energi darimana, menggerakkan Gina untuk bangun dan mulai membaca berkas-berkas yang diberikan oleh Professor Baraka kemarin sore.
Waktu merangkak mendekati subuh hari, Gina masih berkonsentrasi membaca berkas-berkas peninggalan mendiang Ayah dan Ibunya. Sudah waktunya Gina tahu semua tanggung jawab properti yang ditinggalkan kepadanya. Selama ini, Gina mengira hanya sebuah rumah yang ditinggalkan oleh orang tuanya. Tapi ternyata, orang tuanya masih memiliki sebidang tanah di kawasan Kalioso, yang ternyata diatas namakan dirinya. Gina juga melihat surat kepemilikan bangunan yang pastinya itu dahulu adalah bekas butik Ayah dan Ibunya. Ini harus aku tanyakan kepada Paman. Bagaimana sekarang keadaan bangunan toko itu, guman Gina di dalam hati.
Dibukanya kembali berkas tersebut, di halaman selanjutnya rapi tercatat pengeluaran dari rumahnya yang di Solo. Mulai dari pembayaran listrik dan telepon sampai pembayaran kewajibam bulanan lainnya. Darimana Paman mendapatkan uang untuk membayar semua ini? hati Gina semakin bertanya-tanya. Karena Gina tahu orang tuanya tidak meninggalkan banyak uang untuk mengurus semua ini dan dalam waktu yang selama ini.
Gina membuat catatan dengan terperinci tentang apa saja yang akan ditanyakan kepada pamannya keesokan harinya. Agar Gina lebih jelas memahami apa saja yang Gina lewatkan selama ini. Pena Gina masih menari-nari di atas selembar kertas putih, menggoreskan kata demi kata membentuk rangkaian pertanyaan yang nantinya akan ditanyakan pada sang empunya jawaban.
Tanpa Gina sadari surya beranjak naik di batas cakrawala, membagi-bagikan kehangatan sinarnya kepada semua makhluk yang ada di muka bumi ini. Kehangatannya memberikan janji lestari sepanjang pagi itu. Goresan pena Gina sudah sampai pada ujungnya. Yah, akhirnya Gina tidak hanya mencatat pertanyaan saja. Tetapi juga membuat perencanaan untuk masa depannya sendiri.
Diletakkannya pena itu setelah dirasa cukup apa yang direncanakan oleh Gina di kertas tersebut. Di regangkan tubuhnya untuk melenturkan ototnya yang kaku setalh semalaman menulis dan berpikir. Kemudian dibacanya kembali tulisan rapi yang sudah tergores di kertas itu.
Kriiiing... kriiiing.. kriiiing...
Tangan Gina meraih ponsel yang yang berada di atas meja kerjanya. Dilihat nama yang tertera di layar ponsel, Raka Rahardian. Kening Gina berkerut dan berpikir dengan heran, ada apa gerangan manajernya menelpon sepagi ini? Enggan sebenarnya Gina mengangkat panggilan dari Raka sepagi ini. Tetapi karena ada kemungkinan membicarakan masalah pekerjaan, akhirnya Gina mengangkat panggilan tersebut.
"Halo, Selamat pagi," sapa Gina setelah memencet tombol menerima panggilan.
"Halo, Gina. Selamat pagi juga. Apa ada waktu pagi ini?" tanya Raka dengan ceria di telinga Gina.
Kerutan kening Gina semakin dalam, diliriknya jam dibatas mejanya. Jarum jam masih menunjukkan ke angka enam dan duabelas.
"Sepagi ini tentu saja aku masih belum ada rencana Pak," jawab Gina dengan suara waspada.
"Baik, kalau begitu, keluarlah dari kamar. Aku tunggu di depan, ya," jawab Raka. Dan tanpa menunggu persetujuan Gina, Raka menutup panggilan teleponnya.
Tercengang Gina memahami kalimat terakhir yang diucapkan oleh Raka. Raka menunggunya di luar? Maksudnya, Raka sudah disini? Suara hati Gina bertanya-tanya. Dengan bergegas, Gina mengganti pakaian tidurnya menjadi celana batik katun panjang berwarna coklat yang sudah pudar karena seringnya dipakai dan kaos lengan panjang.
Setelah selesai berganti pakaian, segera Gina keluar kamar untuk menemui Raka, yang ternyata sudah berada di depan pagar. Dilihatnya dari pintu rumah, Raka sedang menghadap ke jalanan, membelakangi rumah yang Gina tempati. Pagi itu Raka terlihat sudah segar, rambutnya sudah tersisir rapi, mengenakan kaos oblong khas Jogja warna abu-abu tua, jam tangan hitam di pergelangan tangan kanannya, celana hitam selutut dan sepatu olahraga berwarna putih. Dari belakang Raka terlihat sama gagahnya dengan Indra. Sama-sama tinggi mendekati seratus delapan puluh sentimeter. Bedanya, bahu Indra lebih lebar dibandingkan dengan Raka.
Gina tertegun sebelum meneruskan langkahnya. Apa yang Gina pikirkan sampai membandingankan Raka dan Indra dari sisi jasmaninya? Mengapa harus Indra yang menjadi bahan perbandingannya? Ah, apakah karena semalaman Gina tidak bisa tidur memikirkan perkataan Indra kemarin malam? Entahlah, Gina sendiri tidak mengerti jalan pikiran dan perasaannya saat itu.
"Pak Raka, ada apa pagi-pagi datang kesini?" tanya Gina setelah sampai di pagar rumah kos-kosannya.
Raka yang terpaku menatap jalanan, terkejut mendengat sapaan Gina dibelakangnya. Raka berbalik menghadap suara yang memanggilnya tadi, "Hai. Maaf mendadak mampir. Kebetulan hari ini aku ada acara di Klaten. Dan karena kebetulan juga aku lewat di dekat kos-kosanmu, jadi mampir."
"Mau masuk?" tanya Gina kepada Raka dengan wajah kebingunan dengan kedatangan Raka pagi ini.
"Tidak, aku kesini ingin menitipkan sesuatu untuk toko," tolak Raka dengan sopan. "Ini, aku titip kunci kantor ruang manager kepadamu. Tolong nanti sampaikan ke Pak Supri--pegawai kebersihan--untuk membersihkan kantor," kata Raka sambil meraih tangan kanan Gina dan menyerahkan satu kunci berbandul Tugu Jogja ke tangan Gina.
Gina yang tidak menyangka, Raka mempercayakan kunci ruangan kepadanya. "Tapi, Pak," gagap Gina ingin menolaknya.
"Dan ini, sarapan untukmu." Raka memberikan bungkusan plastik hitam kepada Gina dengan tersenyum. "Oia, satu hal lagi, di luar toko, aku hanyalah kakak tingkatmu. Jadi jangan panggil dengan sebutan Pak, oke?" pinta Raka selanjutnya.
"Baiklah kalau begitu," jawab Gina dengan sembari tersenyum. Dan Gina bertanya kembali, "Ini plastik buatku ya, Pak, eh Mas Raka?"
"Haha, iya. Itu bubur kacang ijo hangat untuk sarapan. Tadi aku mampir sarapan di warung burjo di dekat sini," jawab Raka. "Enak ternyata dan karena aku mau merepotkanmu, jadi aku belikan saja satu untukmu. Buat timbal baliknya," kata Raka kemudian.
"Jadi begitu, baiklah. Terima kasih ya buburnya. Segera aku makan, Mas. Dan kuncinya nanti aku serahkan ke Pak Supri," jawab Gina menanggapi perkataan Raka.
"Tolong juga, nanti diminta balik ya kuncinya dari Pak Supri. Pastikan sudah terkunci kembali. Nanti malam atau besok pagi, baru aku ambil lagi," minta Raka kembali.
"Baik, Pak bos. Siap delapan enam! Laksanakan," seloroh Gina menanggapi permintaan bos sekaligus kakak tingkatnya itu.
"Terima kasih. Kalau begitu aku langsung pergi," kata Raka setelah melihat jam tangan dan mengucapkan pamitan kepada Gina.
"Ya, hati-hati di jalan," jawab Gina mengantarkan Raka dengan pandangannya.
Setelah Raka berbalik dan berjalan menyusuri jalanan depan rumah kos dan tidak terlihat lagi, Gina bermaksud untuk masuk ke dalam rumah.
"Gina! Tunggu sebentar," panggil seseorang dari belakangnya.
Serta merta Gina menghentikan langkah dan berbalik melihat siapa yang memanggilnya. Setelah berbalik badan untuk melihat siapa yang memanggilnya tadi, Gina heran. Ada Indra yang berhenti di depan pagarnya. Menggantikan Raka yang baru saja menconcong. Mau tak mau Gina menghampiri Indra di depan pagar.
"Ya, Pak. Ada apa?" tanya Gina dengan hati berdebar kencang. Mata Gina sedikit terbelalak tidak menyangka akan secepat ini bertemu dengan orang yang dipikirkannya semalaman. Jari jemarinya gugup memain-mainkan kunci titipan Raka.
"Mau mengajakmu sarapan, yuk!" ajak Indra bersemangat dengan senyum merekah lebar.
"Aku sudah punya sarapan, Pak. Ini." Gina mengangkat plastik kacang hijau pemberian Raka tadi.
"Itu disimpan saja buat nanti. Ayo, aku traktir sarapan." Indra bersikeras mengajak Gina keluar.
Sambil menggigit bibir bawahnya, mata Gina melirik ke kanan dan kekiri, berusaha mencari alasan bagaimana caranya untuk tidak menerima ajakan Indra ini.
"Nanti mubazir Pak, kalau tidak dimakan ini, masih hangat juga," tolak Gina dengan halus. Sambil menenangkan debaran jantungnya yang semakin meningkat melihat senyum cerah Indra.
"Tidak akan. Rejeki tidak boleh ditolak. Apalagi rejeki yang berupa traktiran. Ayolah!" Indra masih bersikeras untuk mengajak Gina keluar.
"Baiklah kalau begitu. Tunggu saya simpan bubur ini dulu di lemari es," ujar Gina menyanggupi ajakan Indra. Langsung Gina berbalik dan berjalan cepat ke arah rumah. Sesekali di geleng-gelengkan kepalanya karena menyanggupi ajakan Indra yang pasti nanti membuatnya tidak nyaman.
"Nok*, mau kemana? Isuk-isuk wes rapi?**" tanya Bu Suryo karena melihat Gina sudah menyisir rambutnya dengan rapi dan menenteng dompet ditangannya.
"Di ajak teman sarapan, Bu. Tidak bisa menolak," jawab Gina gugup seakan tertangkap basah melakukan sesuatu.
"Lenang opo wadon?***" tanya Bu Suryo sambil mengulas senyum karena melihat tingkah laku Gina yang serba salah.
"Laki-laki, Bu. Itu anak didiknya Paman Baraka di kampus. Dosen Gina juga," jawab Gina dengan muka memerah dan menggigit bibir bawahnya serta menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal itu dengan tangan kiri.
"Ooh, Nak Indra. Tidak apa-apa kalau mau pergi dengan Nak Indra. Ibu hanya berpesan, witing tresno jalaran saka kulino****, lho Nok," kata Bu Suryo sembari tersenyum dan tersirat nasehat yang berada di dalam ucapannya tersebut.
"Haah? Tidak Bu, Gina tidak begitu dengan Mas Indra. Gina merasa tidak bisa menolak ajakan Mas Indra karena alasan yang logis," jelas Gina berpanjang lebar kepada Bu Suryo yang dilihatnya masih mengulas senyum menggodanya.
"Iya, Ibu paham. Sana, segera temui Mas Indra. Kasihan terlalu lama menunggu di depan. Jangan sampai nanti Ibu menaruh ulekan di jendela,"***** kata Bu Suryo masih saja menggoda Gina yang dilihatnya semakin memerah telinga dan pipinya. Bu Suryo sengaja memanggil Indra dengan sebutan Mas setelah sebelumnya tadi memanggil Nak.
"Nggih Bu, Gina pamit," kata Gina langsung melesat keluar dari dapur. Tidak kuat lagi menghadapi godaan Bu Suryo.
Sesampainya Gina di depan rumah dan bertemu dengan Indra, segera saja Indra mengajak Gina menyusuri jalanan kampung di depan deretan rumah-rumah kos itu. Jogja pagi hari di saat itu masih segar. Udara masih belum banyak polusi. Matahari belum sepenggalah tingginya dan suara cicit burung masih ramai terdengar. Indra memimpin Gina berjalan ke arah warung soto favoritnya, yang sepagi ini tentu saja buka dan melayani siapa saja yang akan sarapan di sana.
Begitu memasuki warung soto yang di tuju, benar saja, sudah ada beberapa orang yang sedang menikmati menyantap makanan di hadapan mereka. Gina bergegas mencari tempat duduk yang belum terisi. Sedangkan Indra, langsung memesan dua mangkok soto ayam yang langsung dibawa ke meja, menawari Gina mau minum apa dan mengambilkan apa yang diinginkan oleh Gina serta mengambil tempe mendoan yang di goreng setiap kali habis ditempatnya.
"Ayo, makanlah. Sudah pernah makan kesini?" tanya Indra sambil menambah sambal dan perasan jeruk nipis kedalam mangkok sotonya yang masih mengepulkan uap panasnya.
Gina hanya bisa menggeleng karena terlanjur menyuapkan nasinya ke mulut. Sebal sekali Gina diajak bicara saat sudah mulai menyuapkan sotonya kemulut. Mau menjawab pertanyaan Indra, tetapi soto yang dimakannya masih panas, bisa-bisa Gina tersedak apabila memaksakan untuk menjawabnya.
"Tidak perlu dijawab, aku tahu kau belum pernah kesini. Karena harus berhematkan untuk menunjang hidupmu,kan?" kata Indra menebak dengan benar.
"Tidak juga. Kadang aku ke kafe dekat kampus untuk sekedar minum kopi dan makan kue." Gina menimpali perkataan Indra yang tadi hampir menebaknya dengan benar. Diangkatnya bahu tanda tidak peduli dan dilanjutkan kembali menikmati soto yang ada dihadapannya. Di warung ini khas sekali makanan untuk mahasiswa. Dengan porsi nasi yang besar tetapi harganya murah. Air putihnya pun gratis tidak membayar.
"Pak, eh Mas Indra, mengapa tiba-tiba mengajakku sarapan? Tidak ada kerjaan?" selidik Gina disela-sela suapan makanannya.
"Ada, pagi ini ada rapat bersama dekan di kampus," jawab Indra dengan santainya.
"Lantas, tidak bersiap-siap ke kampus? Tetapi malah mengajakku sarapan disini. Ada apa?" tanya Gina lagi karena masih penasaran alasan Indra yang tiba-tiba menghampirinya dipagi ini.
"Pengen bertemu saja denganmu, non," ujar Indra sembari menghabiskan soto di mangkoknya. Melihat mangkok Gina sudah tandas, Indra bertanya, "Mau tambah lagi? Aku ambilkan kalau mau."
"Tidak, sudah cukup satu mangkok saja," tolak Gina bergegas.
Pagi itu suasana hati Indra terlihat sedang bagus. Sejak tadi menjemput di rumah kos-kosannya, selalu mengumbar senyum bahagia. Gina penasaran apa yang menyebabkan Indra bahagia, tetapi niatnya untuk bertanya diurungkan segera. Tidak ingin terlihat terlalu mencampuri urusan Indra.
Gina terdiam menghabiskan minumannya dan mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru warung itu. Tatanannya begitu unik, mulai masuk di pintu depan sudah tersedia tempat cuci tangan, sabun dan kain lapnya, masuk ke ruangan warungnya ada banyak kursi dan meja yang tertata, lebih dalam lagi ada tempat penyajian makanannya. Mangkok-mangkok soto yang sudah di isi nasi, daging dan pelengkapnya ditata berjejer banyak sekali. Siap diberi kuah apabila ada yang membelinya. Di depan penjualnyatersedia berbagai macam lauk dan gorengan yang selaku hangat disajikan. Di samping meja makanan tadi terdapat banyak sekali gelas-gelas yang sudah diisi teh dan jeruk separuh gelas dan disediakan es batu, tinggal ambil saja dan sesuaikan es batu yang diinginkan. Di pojok atas warung, alih-alih televisi yang ada, tetapi radio tua besar yang masih bagus bunyinya. Sekarang sedang mengumandangkan siaran dari Swaragama Fm dan rupanya sedang memutar musik-musik pagi. Lamat-lamat di dengarnya lagu Rahasia Hati, yang dinyanyikan oleh band Element, salah satu band yang lirik-liriknya enak didengarkan.
..............
Waktu terus berlalu
Tanpa kusadari yang ada hanya aku dan kenangan
Masih teringat jelas
Senyum terakhir yang kau beri untukku
Tak pernah ku mencoba
Dan tak ingin ku mengisi hati ku dengan cinta yang lain
Kan kubiarkan ruang hampa di dalam hidupku
Bila aku harus mencintai dan berbagi hati itu hanya denganmu,
Namun bila kuharus tanpamu,
Akan tetap kuarungi hidup tanpa bercinta
Hanya dirimu yang pernah tenangkanku
dalam pelukmu saat ku menangis
.............
* Nok \= panggilan kepada anak perempuan di Jogja.
** isuk-isuk wes rapi \= pagi-pagi sudah rapi
*** lenang apa wadon \= laki-laki apa perempua
**** witing tresno jalaran saka kulina \= bisa jatuh cinta karena sering bertemu
***** menaruh ulegan di jendela, dalam pandangan masyarakat Jawa, melakukan hal tersebut itu tandanya mengusir tamu untuk cepat pulang. Karena orang Jawa tidak sampau hati mengusir tamunya kalau sudah lelah, sudah malam ataupun sedang repot. Tandanya sampai menaruh ulegan di jendela itu si empunya rumah masih memiliki pekerjaan yang harus diselesaikan, jadi harap mengerti dan silakan berpamitan
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Terima kasih sekali karena sudah sabar menanti perjalanan Indra dan Gina sampai ke titik ini.
Mohon dukungannya dengan cara klik favorit, klik bintang lima, klik like dan komennya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=