
Jogja, Mei 2008
Deras hujan yang turun
Mengingatkanku pada dirimu
Aku masih di sini untuk setia
Selang waktu berganti
Aku tak tahu engkau dimana
Tapi aku mencoba untuk setia
Sesaat malam datang
Menjemput kesendirianku
Dan bila pagi datang
Kutahu kau tak di sampingku
Tapi aku mencoba untuk setia
Selang waktu berganti
Aku tak tahu engkau di mana
Tapi aku mencoba untuk setia
Sesaat malam datang
Menjemput kesendirianku
Dan bila pagi datang
Kutahu kau tak di sampingku
......
Sayup-sayup terdengar suara khas Pongky mengalun merdu dalam kafe Coffe sore ini. Sangat cocok rasanya karena suasana Jogja juga sedang mendung saat itu. Pekat sekali seolah-olah jaring-jaring awan tidak kuat lagi menahan air yang rindu untuk menetes ke bumi. Dan benar saja, tak lama kemudian hujan turun. Seakan-akan menepati janjinya yang sejak pagi sudah dinanti-nantikan. Gina Wilde yang sedang bersantai menikmati segelas es cappucino tersenyum tak senonoh karena pikirannya yang mengembara liar dan sempat terlintas dalam benak mengolok-olok mendung hari ini. Gina menghela napas dan kembali memaksakan diri untuk memeriksa lembar-lembar jawaban tugas kuliah sembari menunggu kue-kue yang dia pesan tadi.
"Ini Kak, kue pesanan Kakak. Strawberry cheese cake satu dan cake coklat satu," kata pelayan kafe dengan sopan.
"Terima kasih," sahut Gina sambil tersenyum.
Gina tenggelam lagi memeriksa lembar demi lembar kertas tugas di hadapannya. Tiba-tiba Gina merasakan bulu kuduknya berdiri seperti binatang buruan yang sudah lama diincar oleh seekor pemangsa. Gina pun mencoba untuk tenang dan menggosok-gosok belakang lehernya, entah untuk menghilangkan rasa tidak nyaman atau sekedar untuk membuat rileks lehernya yang kaku karena lama menunduk tadi.
"Selamat sore, apakah kursi di depan ini kosong?" tanya laki-laki yang muncul di depan Gina sambil memegang secangkir kopi.
Wow, tipe laki-laki yang sangat percaya dengan dirinya sendiri, batin benak Gina.
Sepatu kerja hitam pekat, celana halus hitam membungkus kaki jenjangnya, kemeja warna biru muda dengan lengan di naikkan sampai siku, menampakkan tangannya yang besar, kuat dan kokoh, bibir tebal, hidung mancung, tatapan mata tajam dibingkai alis tebal. Senada dengan alisnya, rambutnya yang hitam pekat sedikit panjang dan dengan jambang menghiasai wajahnya yang terlihat jantan. Terlihat gurat-gurat jantan dan anggun. Entah mengapa pikiran Gina langsung menangkap penggambaran itu untuk laki-laki asing ini.
"Sori, sudah terisi. Silakan ke meja lain saja," jawab Gina sembari mengedikkan bahu dan melemparkan tas ransel buluknya ke kursi depan. Tanda dia tidak mau diusik dan terganggu oleh laki-laki itu. Tidak peduli dengan apa yang dipikirkan oleh si laki-laki tersebut.
"Hahaha, baiklah Nona. Terima kasih ya." Suara tawanya berat menggelitik telinga Gina dan membuat perutnya seakan-akan terhantam oleh sensasi tidak nyaman. Dengan santainya laki-laki itu duduk di kursi sebelah Gina, meletakkan cangkir kopinya di meja di sebelah tumpukan lembaran tugas Gina dan menatapnya dengan sinar mata geli.
"Ap.. Apa maksudnya ini?!" seru Gina sambil melotot kepadanya.
Kacamata besarnya sedikit merosot ke hidung, pipinya terasanya lebih panas daripada sebelumnya. Menunggu jawaban dari sikap kurang ajar laki-laki itu yang telah berani mengusik ketenangan dan memasuki wilayah teritorinya. Tanpa sadar tangan Gina menggenggam erat bolpoin yang digunakan untuk mengoreksi lembar jawaban tugas dari Dosennya.
....
Aku masih disini untuk setia
Aku masih disini untuk setia
Aku masih disini untuk setia
....
Lirik-lirik terakhir lagunya Jikustik memasuki telinga Gina kembali disertai riuhnya suara hujan yang masih mengguyur di luar kafe Coffe sore itu. Baru Gina sadar bahwa tangannya menggenggam erat bolpoin. Dengan cepat dilonggarkan genggaman tangannya, dia takut mengotori lembar jawaban itu.
"Jangan sok percaya diri. Aku duduk disini karena tidak ada kursi kosong lain. Dan aku hanya menunggu seseorang," ujar laki-laki dengan suara tenang.
Reflek Gina menengok ke seluruh penjuru kafe, benar saja. Semua kursi sudah penuh. Terisi oleh anak-anak muda yang sedang asyik bersenda gurau. Banyak juga dari mereka yang membuka laptop dan buku-buku di sampingnya.
"Lanjutkan saja pekerjaanmu. Aku tidak akan mengusikmu, Nona," sahutnya setelah dia melihat Gina mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kafe.
Menghela napas kesal, Gina duduk lagi menghadap lembar-lebar jawaban di hadapannya.
"Terserah saja," gumam Gina kepada laki-laki yang memaksa duduk di sebelahnya itu.
Dengan memaksakan dirinya sendiri untuk fokus mengerjakan tugas mengoreksi lembar-lembar jawaban tadi, Gina menghela napas lagi dengan keras. Sengaja agar laki-laki itu tahu bahwa dia masih terusik dan terganggu oleh kehadirannya. Masa bodoh apabila dia menilai Gina sombong dan kekanak-kanakan karena helaan napas keberatannya.
Laki-laki itu balik mengedikkan bahunya seraya berkata "Oke, aku menunggu disini."
Dikeluarkan Blackberry dari sakunya dan dengan segera, dia tenggelam dalam kesibukannya sendiri.
Gina yang sudah tidak peduli lagi di sampingnya ada orang atau tidak, kembali mengejar keterlambatan dalam mengoreksi lembar-lembar jawaban tugas dari Dosennya itu. Karena besok pagi-pagi sekali, lembar-lwmbar jawaban itu harus diserahkan sebelum Profesor mengajar mahasiswanya. Dengan kalut Gina kembali memaksakan konsentrasi dalam membaca jawaban-jawaban di lembar tugas tersebut.
.......
Bila
Kau sanggup untuk melupakan dia
Biarkan aku hadir dan menata
Ruang hati yang telah tertutup lama
Jika
Kau masih ragu
Untuk menerima
Biarkan hati
Kecilmu bicara
Karena kutahu kan datang saatnya
Kau jadi bagian hidupku
Kau jadi bagian hidupku
Takkan pernah berhenti
Untuk selalu percaya
Walau harus menunggu
Seribu tahun lamanya
Biarkanlah terjadi
Wajar apa adanya
Walau harus menunggu
.......
Bahagia karena tugas mengoreksi sudah selesai dan akhirnya malam ini bisa istirahat sejenak dan mengerjakan tugasnya sendiri. Dengan hati riang Gina minum es cappucino dan mulai makan potongan kuenya.
"Huh, bodoh sekali!" Ada suara berat yang mengagetkannya.
Gina sudah lupa di sampingnya duduk laki-laki menyebalkan tadi.
Dan sekarang apa? Dia mengataiku bodoh tadi, batin Gina.
"Apa kau bilang?" tanya Gina ketus. "Aku bodoh? Apa maksudmu?" semburnya langsung sebelum dia sempat menjawab.
Terlupakan sudah niatnya untuk makan kue enak sambil sedikit memanjakan diri menikmati waktu santai yang baginya sangat langka.
"Bodoh sekali, ada orang yang mau menunggu sampai seribu tahun demi seorang wanita," kata laki-laki itu masih dengan mata terpaku pada layar Blackberrynya.
"Hah? Apa maksudmu?" tanya Gina marah karena merasa dia yang dikatai oleh laki-laki tadi.
"Jangan marah. Bukan kamu yang bodoh, Nona," katanya geli.
Dimatikannya Blackberry nya dan memandang pada Gina langsung. Disodorkannya tangan yang kuat dan kokoh tadi ke arah Gina.
"Aku Indra. Namamu siapa Nona judes?" tanya laki-laki tadi yang ternyata bernama Indra. Indra Kusumoningrat panjangnya.
Gina hanya memandang tangan yang terulur itu dan kemudian mendengkus sebal. Tidak menyambut ukuran tangan tanda perkenalan ataupun menyebutkan namanya. Masih kesal tiba-tiba Indra mengganggu kesendiriannya dan mengucapkan bodoh meskipun Gina tahu itu bukan untuknya. Dengan tenang kembali Gina memakan kue yang tadi belum sempat masuk ke mulutnya. Sesekali menyeruput es cappucino nya yang tinggal setengah gelas itu. Waktu berlalu beberapa detik, tapi Indra belum juga menurunkan tangan dan masih menatapnya.
"Gina. Gina Wilde," jawab Gina dengan nada ketus.
"Baik Gina. Maafkan aku tadi mengganggumu. Bukan karena kemauanku. Tapi terpaksa. Kamu tahu sendiri tadi kursi penuh. Dan di luar hujan masih turun. Mau tidak mau aku duduk di tempat duduk yang masih kosong," jelas Indra berpanjang lebar.
"Hmmm...," sahut Gina yang masih sebal.
kriiiing...kriiiing..kriiiing..
Telepon Indra berbunyi, setelah melirik siapa yang menelepon, Indra buru-buru mengangkatnya.
"Ya Profesor. Saya sudah berada di kafe dekat kampus. Baik, saya tunggu," jawab Indra di teleponnya.
Tak lama kemudian, dari luar masuklah seseorang dengan payung yang masih dipegangnya. Indra buru-buru menghampiri orang tersebut. Sambil membantu menerima payungnya, Indra berkata,
"Professor, Anda sudah tiba. Saya pesankan kopi ya? Kopi hitam seperti biasanya?"
Gina dengan santai menghabiskan kue dan es cappucino nya. Tanpa mau peduli siapa yang di tunggu oleh Indra tadi. Sampai Gina mendengar seseorang menyapanya hangat.
"Gina, kamu di sini juga. Sudah lama?" tanya orang tersebut.
Begitu Gina mendongak melihat siapa yang datang.
"Huufff.. uhuk uhuk.. Prof.. uhuk.. Proffesor..." Es cappucino Gina menyembur keluar. Gina kaget bukan main. Profesor Baraka, dosen baik hati yang dibantu mengoreksi soal jawaban tugas tadi berdiri di depannya.
"Silakan duduk Prof," gagapnya sambil mengulurkan badan untuk menarik tas ransel butut dari kursi di depannya.
"Ini Prof, kopi hitam nya. Tanpa gula. Seperti kesukaan Profesor," kata Indra sembari menyerahkan secangkir kopi hitam yang masih mengepul panas.
"Hahahaha. Terima kasih, Indra," ujar Profesor Baraka demgan senang.
Dengan tenang Professor meminum kopi yang di berikan oleh Indra. Sepertinya beliau sangat menikmati secangkir kopi panas tadi. Dengan gugup tapi tidak berani berbicara maupun bertanya, Gina hanya menanti Profesor Baraka berbicara. Gina begitu gugupnya seakan ketahuan bahwa dia mencuri waktu mengoreksi lembar jawaban tugas mahasiswa Profesor Baraka di sebuah kafe, bukannya di ruang administrasi kampusnya.
****** aku, ketahuan Proffesor Baraka mengerjakan tugas diluar kampus. Beliau marah tidak ya? gumam Gina tenggelam dalam pikiran takut-takutnya.
Dhuuaaaaaaar....
Suara petir mengagetkan semua orang di kafe itu, tapi Gina yang tenggelam dalam pikirannya sendiri itu tidak mendengarkan jeritan orang-orang di kafe tadi. Gina kaget karena tiba-tiba teringat suatu hal. Tadi saat Profesor masuk kafe, yang menyapa beliau dulu adalah Indra, jadi bukan dia yang akan ditemui Profesor Baraka. Dengan tatapan kesal tapi juga penasaran, dia melirik Indra, bibir Gina bergerak-gerak seakan mengumpat dan mau bertanya pada Indra tapi tidak jadi, kalah dengan gengsinya.
"Apakah kalian sudah saling kenal?" tanya Professor Baraka tiba-tiba.
"Apa?!"
"Apa?!" jawab Indra dan Gina berbarengan.
"Ah! Tidak Prof. Saya tidak kenal dia. Dia..saya.. kami baru bertemu sore ini," jelas Gina buru-buru.
Indra yang melihat reaksi Gina tertawa kecil dan menjawab dengan tenang.
"Kami baru saja bertemu di sini, Prof. Nona Gina ini dengan baik hati mengijinkan saya duduk di sini. Karena kursi yang lain sudah penuh," sahut Indra, sambil mengedipkan mata ke Gina.
Berang sekali Gina diolok-olok seperti itu. Ingin sekali dia menampar mulut laki-laki itu, tapi tidak berani karena di depan Profesor. Takut imej yang dibangun nya selama ini rusak di mata dosen yang di hormati Gina. Karena selama ini, Gina di kampus dikenal sebagai mahasiswi yang cerdas, ramah, rajin dan berakal sehat.
"Hahaha. Kalau begitu, kuperkenalkan saja kalian di sini," ujar Professor Baraka.
"Gina, ini Indra Kusumoningrat. Beliau dosen muda yang akan menggantikanku mengajar di sebagian kelas di jurusan kita," kata Professor Baraka kepada Gina. "Kau nanti yang akan menjadi asisten dosen beliau selama semester depan. Indra pastinya punya metode mengajar yang berbeda denganku, jadi tolong dibantu baik-baik ya untuk menyesuaikan diri dan mengenal kampus kita," pinta Professor Baraka pada Gina.
"Baik Prof," sahut Gina menurut.
"Oh, jadi ini Prof, Mahasiswa yang akan menjadi asisten dosen saya, yang kata Profesor cerdas, ramah dan menyenangkan itu?" sahut Indra dengan nada yang mengejek. "Tapi tadi dia sama sekali tidak menyenangkan lho Prof," kata Indra menggoda Gina.
Bukan main geramnya Gina di perlakukan seperti itu. Apa-apaan orang ini? batin Gina dongkol bukan main.
"Bukankah dia tadi yang mengganggu kesendirianku? Dia yang memaksa duduk di sampingku," Gina masih bergumam tidak jelas.
Setelah diperkenalkan dan sejenak berbasa-basi, Profesor Baraka dan Indra sedang membicarakan sesuatu dengan serius. Gina dengan tenang melanjutkan makan kue dan menghabiskan es cappucinonya.
Hujan di luar sudah berhenti, awan gelap sudah menyingkir tergantikan oleh sinar matahari yang cerah. Gina melirik jam tangan yang dipakainya. Dan kaget karena waktu sudah menunjukkan pukul 15.00. Gina buru-buru memasukkan semua kertas-kertas tadi, mengumpulkan alat tulis dan memasukkan semua ke dalam tas sembari berkata kepada Professor Baraka.
"Maafkan saya Profesor. Saya undur diri dulu. Sudah jam 3 sore," kata Gina terburu-buru.
Gina buru-buru membayar apa yang di makannya tadi dan berlari keluar kafe. Dan dengan terburu-buru menaiki sepedanya melaju ke selatan.
Di dalam kafe, Professor Baraka dan Indra bengong menyaksikan Gina sangat tergesa-gesa untuk pergi setelah melihat jam tangannya.
"Anak itu, selalu seperti itu. Bekerja keras untuk bisa kuliah dan bertahan hidup," ujar Professor Baraka dengan nada sayang.
"Apa maksud Professor?" tanya Indra heran.
"Gina, satu-satunya mahasiswi di jurusan kita yang mungkin bekerja lebih keras dari siapapun. Dia harus menopang hidupnya sendiri dan masih berkeras menyelesaikan kuliahnya. Ini tahun ketiga nya di kampus, dan dia sudah mengajukan judul skripsi kepadaku," terang Professor Baraka panjang lebar.
"Sebelum subuh dia sudah bangun, sudah ke pasar mengambil susu yang akan diantarkan ke pelanggan. Selesai mengantar susu jam setengah enam pagi dia sudah siap untuk mengantar sekolah anak yang jadi langganan dia. Setelah itu, jam tujuh pagi dia biasanya sudah berada di kampus, kadang-kadang membantuku menyiapkan berkas-berkas pelajaran atau kalau tidak dia di perpustakaan. Membaca buku, tapi lebih seringnya ketiduran di sana. Jam delapan pagi sampai siang, biasanya dia ada jadwal kuliah. Sore harinya dia mengambil pekerjaan part time di restoran sampai malam. Malam-malam biasanya jam sebelas biasanya baru masuk rumah. Seakan hidupnya tidak bisa sejenak beristirahat," tutur Professor Baraka dengan bangga.
"Bagaimana Profesor tahu semua kondisinya dia?" tanya Indra.
Profesor Baraka menatap Indra lama sekali. Dan berujar "Orang tua Gina adalah sahabatku, Indra. Kedua orang tuanya sudah meninggal. Mereka meninggal karena terburu-buru menengokku di rumah sakit kala itu. Gina masih SMP kalau tidak salah ingat. Aku pingsan saat menjadi pembicara di sebuah seminar di Jakarta dan dilarikan ke rumah sakit. Orang tua Gina yang baru saja mendarat di Jakarta dari kunjungan bisnisnya di London, kala itu mereka langsung ingin menengokku. Naasnya karena mau cepat-cepat sampai ke rumah sakit, Rasya, ayah Gina, tidak mau pakai sopir. Pasti karena kelelahan yang sangat sehingga Rasya tidak fokus di jalan dan tergelincir menabrak pagar pembatas jalan. Rasya dan Elisabeth meninggal saat itu juga," cerita Profesor Baraka.
..........
Setiap manusia mempunyai cerita hidupnya masing-masing. Alangkah lebih indahnya saat kita tidak hanya menghakimi orang saat bertemu, melihat ataupun membaca tentangnya sekilas. Ada banyak sekali cerita yang di bawa olehnya sehingga dia bisa sampai pada tahap ini.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Hai Reader Budiman,
Terima kasih sudah berkenan meluangkan waktu untuk membaca novelku yang belum seberapa ini.
Mohon dukungan untuk Favoritkan ❤️ novel ini, klik Like 👍 di setiap episodenya dan jangan lupa tekan ⭐⭐⭐⭐⭐ nya ya.
Banyak-banyaj terima kasih 😘😘😘
Regard,
-Arindra-
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=